
"Ail, aku akan berangkat dalam seminggu lagi. Sepertinya nanti aku akan ganti nomor. Tetap aktif dan selalu kabari aku, ya?" ucap Aisyah.
"Nanti aku akan jadwalkan untuk kita mengobrol. Selisih jam pasti makin lama, bukan?" tanya Asisten Dishi.
"Jika sibuk sekali, cukup beri kabar kepadaku saja. Tidak usah sering mengobrol, takutnya aku mengganggu pekerjaanmu di sana," ujar Aisyah.
Asisten Dishi kesal Aisyah mengatakan tidak seharusnya mereka sering mengobrol. "Tidak! Aku tidak akan mendengar kata itu lagi. Kita harus sering mengobrol, aku sudah tersiksa dengan hubungan jarak jauh ini, Mail!"
Aisyah tertawa, "Haha, baiklah-baiklah. Apapun yang kamu ingin, Ail. Aku akan siap menerima kabar darimu," katanya dengan tawa yang menggemaskan bagi Asisten Dishi.
Seseorang yang tengah jatuh cinta tidak akan mampu menahan rindu dengan hubungan jarak jauhnya. Namun, baik Aisyah dan Asisten Dishi harus lakukan itu demi tugas dan kewajiban yang mereka lakukan.
****
Puas mengobrol, masing-masing kembali ke pekerjaannya. Asisten Dishi masih belum tahu pasti kapan ia bisa pulang dan menemui Aisyah. Akan tetapi, hubungan antara Gwen dan Agam semakin mesra kala mereka pulang bersama dengan bergandengan tangan dari jalan-jalan pagi mengelilingi kampung.
"Huh, akhirnya sampai juga di pesantren," ucap Gwen lega.
"Alhamdulillah, jangan lupa mengucap syukur dengan kita yang masih bisa diberikan kesehatan pagi ini," tutur Agam mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Alhamdulillah, hehe. Ayo, kita masak bareng. Katanya Mas mau ajarin aku masak," celetuk Gwen.
"Ayok, hari ini Mas akan ada di rumah. Semua pengiriman bibit dan beberapa pekerjaan toko sudah ada yang mengerjakannya. Jadi, Insyaallah, Mas bisa menemani kamu di rumah," ucap Agam dengan menyentuh pipi istrinya.
"Oh, gitu. Sini aku bisikin!" seru Gwen berjinjit membisiki suaminya.
Entah apa yang Gwen bisikan, tapi telah membuat pipi Agam memerah. Di saat Agam ingin mencubit pipi gembul Gwen, Gwen menghindar dan berlari. Agam pun mengejarnya dan berusaha menangkap istri nakalnya itu.
Masih menjadi pertanyaan, apa yang Gwen bisikkan sehingga Agam bisa tersipu. Beberapa santri yang melihat Agam mengejar Gwen membuatnya iri sampai ada yang ingin menikah. Dari kejauhan juga, Ustadz Khalid juga melihat adik sepupunya yang sedang mengejar istrinya.
"MasyAllah, ini sudah lebih dari tiga tahun. Aku baru bisa melihat tawa adikku lagi. Adiknya Aisyah ini sepertinya memang wanita yang tepat untuk Agam," gumamnya.
"Jika saja Umi masih ada. Pasti Umi akan bahagia melihat putranya sudah bisa tertawa kembali. Seakan beban pikirannya hilang begitu saja ketika sedang bersama istrinya." imbuhnya dengan terus menatap adiknya masuk sampai rumahnya.
Dalam ingatan Ustadz Khalid, sejak batalnya pernikahan Agam dengan Syifa membuat Agam menjadi selalu diam dan murung. Apalagi, sejak saat itu kesehatan Ibunya juga menurun karena itu beliau harus enghabiskan waktunya di rumah sakit.
Sakit hati karena gagal menikah, bukan. Ada hal membuat Agam kecewa dengan perlakuan keluarga Syifa kepada keluarganya waktu itu. Dimana mereka mendesak dan memaksa Agam menikahi Syifa, namun ketik Syifa kabur, Agam lah yang disalahkan.
Sejak saat itu, hidup Agam hanya dihabiskan untuk mengajar, belajar dan bekerja saja untuk membayar biaya yang sudah dihabiskan oleh keluarga Syifa untuk membangun masjid di area pesantren.
Sesampainya di dalam rumah, akhirnya Agam berhasil menangkap Gwen dengan memeluknya dari belakang. Jantung keduanya berdebar-debar saat itu juga. Sedetik kemudian Agam melepaskan pelukannya dan mereka saling menyembunyikan wajahnya karena malu.
"Um, itu … Mas mandi dulu. Setelah itu, kita masak bersama, bagaimana?" usul Agam dengan sedikit gugup.
"Iya, Mas. Aku tak rendam pakaian dulu. Siapa tau nanti aku rajin dan bisa cuci baju," sahut Gwen tak ingin terpaku juga.
"Jadi, saat ini kamu rendam saja dulu. Nanti Mas yang akan mencucinya. Terus sa--" ucapan Agam terhenti kala Gwen mencium bibirnya.
Kali itu, Agam tidak menghindari lagi. Ia meraih pipi istrinya dan membalas ciuman bibir tersebut dengan gairahnya. Di gendongnya tubuh kecil Gwen dan merebahkannya di sofa yang ada di ruang tamu.
Ketika darah sedang mendidih dan mulai panas, Syifa datang dan mengacaukan semuanya. Akan tetapi, Syifa menjadi melihat adegan itu, membuat hatinya terluka dan menangis.
"Assallamu … 'alaikum," salam Syifa. "Apa yang kalian lakukan?" tanyanya dengan ucapan yang bernada menyesal.
Seketika Agam melepaskan ciuman bibirnya dan menunduk. Ia malu karena terciduk oleh orang lain. Yang dimana adegan seperti itu hanya boleh ia konsumsi sendiri. "Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabbarokatuh,"
"Kalian melakukan itu di ruang tamu? Kalian ini manusia, apa kalian tidak memiliki adab, ha?" kesal Syifa.
"Syifa, kami hanya melakukan yang kamu lihat saja. Selebihnya, kita hanya melakukan di kamar, itu saja karena kami ta--"
"Cukup! Apa Ustadz harus menjelaskan padaku? Apa Ustadz tidak menanyakan bagaiman perasaanku, hah? Kenapa Ustadz sekarang berubah!" sentak Syifa meletakkan rantang yang di bawanya dari rumah dengan kasar di atas meja.
"Buset, ngamok rubah betinanya." batin Gwen.
"Ustadz sudah berubah! Ustadz tidak se alim yang aku kenal dulu. Aku kecewa denganmu, Ustadz!" Syifa masih saja menyalahkan Agam atas rasa sakit hatinya.
Agam berkali-kali menjelaskan jika apa yang dilakukannya dengan Gwen tidak menyalahi aturan manapun dan tidak merusak moral apapun. Berkali-kali juga Agam mengatakan bahwa Gwen adalah istrinya, jadi wajar jika mereka berciuman dimanapun juga.
Namun, tetap saja. Syifa yang tidak tahu diri itu terus menerus menyalahkan Gwen akan sakit hatinya. Syifa mengatakan menyesal telah pergi meninggalkan Agam tiga tahun lalu dan memintanya kembali.
"Tolong, Gwen. Kembalikan Ustadz Agam kepadaku. Bukankah sejak awal beliau ini milikku? Jadi, aku memohon baik-baik padamu, untuk mengembalikan, Ustadz Agam," mohon Syifa dengan menyatukan tangannya.
"Fiks dia gila!" batin Gwen, ia masih berusaha tenang menghadapi Syifa yang baginya sudah mulai tidak waras itu. "Apa kamu masih waras, Syifa? Kok, aku takut kamu rada sakit, ya?" ucap Gwen dengan menyentuh dahi Syifa.
"Mas masuk saja, bisa mandi dulu. Biarkan Syifa aku yang menjamunya. Percayalah padaku, tidak akan lagi ada keributan, kok. Bukan begitu, Syifa?" Gwen memiliki cara lain untuk membuat Syifa pergi tanpa menggunakan kekerasan.
Saat itu, Agam memang hanya mendengarkan istrinya. Sebelum Agam pergi, Gwen sengaja mengecup pipi suaminya itu di depan wanita yang menyukainya. Membuat Syifa semakin kebakaran hatinya hingga berasap hitam.
"Dalam islam, mengumbar kemesraan itu tidak baik, Nona Gwen!" desis Syifa.
"Dalam islam, melarang suami istri bermesraan adalah kesalahan, karena mereka sudah sah. Dan dalam islam, bertamu itu harus memiliki adab juga. Ketuk pintu sebelum masuk, masuk setelah dipersilahkan dan duduk setelah di minta, Nona Syifa," balas Gwen.
Syifa terdiam. "Aku harus cari cara agar bisa mendapatkan Ustadz Agam kembali. Aku harus menemukan bukti masa lalunya yang buruk itu, harus!" gerutu Syifa dalam hati.
"Heleh, mimpi saja! Sebelum kau mendapatkan apapun dari masa laluku … aku akan membuatmu see hay ke alam lain." batin Gwen dengan tatapan menusuk kepada Syifa.
Bukan Agam tidak tegas, hanya saja Syifa yang kurang tidak tahu diri. Agam sudah melarangnya datang, tapi Syifa tetap bersikeras. Membuat Gwen harus berurusan dengan seseorang yang tidak bisa kitakan sebagai lawannya. Hal itu hanya bisa membuat Gwen terhina. Tapi Gwen puas karena sudah membuat Syifa mengetahui adegan kissingnya dengan suaminya. Itu poin penting untuk menyayat hati seorang perusak hubungan orang lain.
Apapun jalan ceritanya, mohon ambil sisi positifnya saja yes. anggap ini hiburan semata saja. cmiiw