
Di sepanjang perjalanan, Gwen terus saja meracau, dirinya mulai kesakitan saat itu. Pandangannya mulai kabur, badannya mulai merasa dingin. "Kak Aisyah, kamu di mana?" bahkan yang selalu disebut oleh Gwen terus saja Aisyah.
"Dek, kamu jangan tidur, ya. InsyaAllah kamu akan baik-baik saja. Lihatlah, kita sudah hampir selesai, loh!" seru Agam berusaha membuat Gwen tetap terjaga.
"Kak Aisyah, maafkan aku. Aku mengambil pulpenmu kemarin," kata Gwen dengan suaranya yang melemah.
"Dek, jangan tidur!" Agam sampai harus mencubit Gwen agar istri nakalnya itu tidak pingsan.
"Hih, Kak Aisyah, Mas Agam nakal, dia cubit aku. Ini namanya kdrt, menepilah!" mood Gwen berubah lagi.
"Yah, cosplay jadi bocil sekarang. Baguslah, yang penting masih tersadar dia," gumam Agam mempercepat kemudinya.
Sesampainya di rumah sakit, Gwen baru saja pingsan. Membuat Agam semakin panik, tapi lebih tenangnya, Gwen sudah dalam perawatan. Tak lama kemudian, di susul Chen masuk ke UGD dengan keadaan juga tidak sadarkan diri.
"Haduh, aku melupakan bule lokal ini. Ya Allah, dipikiranku hanya Gwen saja. Maafkan aku Tuan Chen," ucap Agam dengan napas terengah-engah.
Kemudian, datanglah Ustadz Khalid yang sudah berganti pakaian. "Assalamu'alaikum, bagaimana keadaan Tuan Chen dan istrimu, Agam?" tanyanya.
"Belum ada pernyataan dari dokter yang memeriksa, Mas. Semoga saja mereka baik-baik saja," ucap Agam juga khawatir mengenai nyawa istri dan iparnya.
"Ini semua karena aku, Gam. Jika saja istrimu tidak membantuku~" ucapan Ustadz Khalid terhenti.
"Astaghfirullah hal'adzim, Mas. Jangan bicara seperti itu. Semuanya sudah takdir, loh. Jika bukan Gwen dan Kakaknya yang di sana, mungkin malah Mas Khalid yang ada di dalam sana, na'udzubillah," tutur Agam dengan suara lemah.
Tak lama kemudian, dokter yang memeriksa Chen sudah keluar. "Loh, kok?" Agam merasa heran karena Chen masuk lebih lambat dari Gwen, tapi dokternya sudah selesai lebih dulu.
"Dokter, apa yang terjadi dengannya? Apakah lukanya sangat serius?" tanya Ustadz Khalid.
"Apakah Anda keluarganya?" tanya dokter itu.
"Dia kakak dari adik ipar saya. Di sebelah sana adik ipar saya di periksa. Ini suaminya, dan pria yang dokter periksa sebelumnya adalah kakak dari istri adik saya," terang Ustadz Khalid kebingungan, sehingga memberikan penjelasan yang sedikit memutar.
Dokter mengatakan bahwa luka Chen tidak terlalu serius, hanya mengalami luka goresan saja. "Pasien juga sudah sadar, bisa kalian temui sekarang. Tapi harus melakukan rawat inap kurang lebih satu malam sampai besok hasil rontgen keluar,"
"Saya permisi, setelah ini akan ada perawat yang memindahkan pasien." tukas dokter mengakhiri peryataannya.
Segera Ustadz Khalid masuk melihat keadaan Chen sekaligus mengucapkan kata maaf dan terima kasih kepada Chen. Sementara Agam masih menunggu hasil pemeriksaan istrinya dengan cemas.
"Assallamu'alaikum, Tuan. Apakah benar Anda baik-baik saja?" tanya Ustadz Khalid khawatir.
"Iya, wa'alaikumsallam. Em, biasa saja, sih," jawab Chen menaikkan alisnya. "Tapi ngomong-ngomong, Anda ini siapa, ya?" tanya Chen dengan terus mengingat wajah Ustadz Khalid yang masih asing baginya.
"MasyaAllah, Tuan. Anda menolong saya agar tidak tertimpa lampu gantung tadi. Begitu sudah lupa?" ungkap Ustadz Khalid.
Chen berusaha mengingat siapa pria yang ada di depannya itu. Beberapa saat kemudian, ia baru ingat jika Ustadz Khalid adalah kakak ipar adik nakalnya. "Oh, mempelai pria. Apa kabar dirimu? Baik-baik saja, 'kan? Tidak ada yang terluka? Lalu, bagaimana dengan adik saya?" Chen terus bertanya tanpa henti.
Ustadz Khalid dibuat takjub. Bagaimana tidak, Chen bahkan tidak menyalahkan dirinya atas kejadian pagi tadi. Chen malah menanyakan keadaannya yang jelas-jelas baik-baik saja. Hanya saja, Gwen yang belum sadarkan diri dari pingsannya.
"Ah tenang saja. Gwen itu kuat, dia akan sadar sebentar lagi. Bisakah Tuan mengajak saya melihatnya?" pinta Chen menoel-nole perban di kepalanya sendiri.
"Dia belum sadarkan diri, Tuan. Tapi jika Tuan mau, kita bisa temui Agam untuk menenangkan kecemasannya," usul Ustadz Khlaid.
Krik, krik, krik.
Ustadz Khalid yang sebelumnya merasa takjub dibuat heran dengan tingkah Chen yang tidak mengenal siapa Agam. "Dia suami adik Tuan-lah. Suaminya Gwen, apakah Tuan lupa?" jelas Ustadz Khalid dengan sabar.
Chen kembali berusaha mengingat. Chen memang sulit mengingat nama seseorang yang belum penting dalam hatinya. Namun, ia tetap ingat seperti apa wajah suami dari adiknya itu. "Hoalah, iya tau. Haha aku suka lupa soalnya," celetuknya.
"Mari, saya bantu Tuan duduk di kursi roda," ucap Ustadz Khalid.
"Dih, enak saja. Anda kira saya orang cacat? Yang terluka kepala, bukan kaki saya. Har--" ucapan terhenti kala mendengar suara salam dari Puspa dan Abi Darwin datang.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Siapa yang datang menjenguk? Ini kan UGD," gumam Ustadz Khalid setelah menjawab sala,. "Mari Tuan, saya tuntun ka--"
"Nggak jadi sehat kakiku. Ayo, bantu aku duduk di kursi roda. Sekalian, jika gadis itu bertanya, bilang saja lukaku parah, oke?" Chen sampai lupa jika dirinya saat itu sedang menggunakan bahasa Mandarin.
"Tuan, Anda bicara menggunakan bahasa lain. Jika Tuan hendak bicara bahasa asing, Tuan bisa menggunakan bahasa yang saya pahami. Bahasa Inggris misalnya," tutur Ustadz Khalid.
"Astaga, hahaha …,"
Chen tertawa sendiri, menertawakan dirinya yang konyol. Hanya demi mendapatkan perhatian lebih dari Puspa sampai melakukan kebohongan. Chen menjelaskan apa yang ia katakan tadi kepada Ustadz Khalid, dan lebih konyolnya lagi, Ustadz Khalid mau terlibat dalam kekonyolan Chen.
"Dengar, jika anak dan bapak itu bertanya. Katakan yang sedetailnya dan buat sesedih, semalang mungkin, oke?" pinta Chen.
"Siap, Tuan!" seru Ustadz Khalid.
"Assallamu'alaikum, Kak Chen. Kamu--" ucapan Puspa terhenti saat melihat Chen duduk di kursi roda dengan wajahnya yang lesu.
"Ustadz, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Abi Darwin tidak percaya jika Chen terluka parah.
Dengan konyolnya Ustadz Khalid menceritakan sesuai dengan keinginan Chen. Mereka tidak berbohong yang berlebih, hanya saja melebihkan perkara agar Puspa semakin perhatian dan Iba dengan Chen.
"Haduh malangnya ini bocah. Nek cacat, njenengan mawon sing gantos posisi lare niki dados mantu kulo, Ustadz," bisik Abi Darwin kepada Ustadz Khalid. (Jika cacat, kamu saja yang menggantikan posisi anak ini menjadi memantu saja, Ustadz)
"Abi!" kesal Puspa.
"Wah, ini nih. Sungguh tidak sopan dan tidak beretika. Bicara menggunakan bahasa daerah untuk mengatakan sesuatu tentang orang yang dihadapannya itu apakah sopan, Tuan Wiwin?" sulut Chen tidak terima jika Puspa mau diberikan kepada Ustadz Khalid.
"Wiwin, Wiwin. Darwin!" sentak Abi Darwin tak terima.
"Ya, Abi pikir kamu tidak paham dengan apa yang Abi katakan," masih saja Abi Darwin membela diri.
"Heleh, Tuan Wiwin pikir saya ini tidak mengerti bahasa Jawa? Nih, putri Anda yang cantik nan manis ini telah mengajari saya selama dia tinggal bersama saya di Tiongkok," tunjuk Chen dengan bangga. "Bukan begitu, cantik?" tanya Chen kepada Puspa.
"Tentu saja!" seru Puspa keceplosan.
"Puspa, Nduk, Ya Allahu anak ini…."
Ustadz Khalid mulai mencerna apa yang terjadi diantara ketiga orang itu. Sejak saat itu, Ustadz Khalid dan Chen akrab satu sama lain. Ustadz Khalid juga membantu Chen mengarang cerita lagi, agar Puspa semakin perhatian kepadanya.