
"Um, sebaiknya kamu duduk dulu. Saya akan panggilkan is…,"
"Baik, Ustadz. Ustadz juga bisa duduk, dan kita akan bicarakan masalah perjodohan itu," lagi-lagi Syifa menyela ucapan Agam yang hendak mengatakan bahwa dirinya akan memanggilkan istrinya.
Agam duduk di sofa yang berbeda. Ketika Syifa ingin membahas tentang perjodohannya lagi, Gwen datang dengan manjanya meminta Agam untuk menguncir rambutnya.
"Mas, tolong kuncirin rambut aku, dong. Sekalian pakaikan jilbabnya, aku belum terbiasa dengan semuanya soalnya," rengek Gwen masih dengan rambut yang terurai.
"Eh, mau gimana? Kuncir kuda atau kepang?" tanya Agam mau-mau saja.
"Kepang juga nggak papa. Yang penting kan nggak seperti punuk unta," sahut Gwen mengusap-usap kedua paha suaminya seperti anak kecil yang mau minta jajan.
Sengaja Gwen melalukan itu untuk menunjukkan bahwa dirinya bukanlah orang lain bagi Agam. Masih dengan bermain ponsel dan juga Agam sibuk dengan rambut istrinya.
"Siapa cewek ini? Rambutnya semiran, duduknya juga sama sekali tidak anggun. Kenapa Ustadz Agam menyentuhnya? Selama aku kenal dengan keluarga ini, aku tidak pernah melihatnya?" gunanya Syifa dalam hati.
Tak hanya itu, Gwen juga sangat manja meminta Agam untuk memakaikan jilbabnya. Yang hanya ia lakukan sendiri saja juga bisa, tapi hanya membuktikan jika Agam adalah miliknya ya dengan cara seperti itu.
"Alhamdulillah, sudah selesai," ucap Agam menyentuh pipi sang istri.
Dengan sabarnya, Agam memakaikan jilbab juga. Melihat keakraban Agam dan Gwen di depannya, membuat Syifa cemburu.
"Ustadz, dia siapa? Kok, kalian sentuhan, sih? Setahun aku, Ustadz Agam tidak lagi memiliki adik kandung deh, selain Esti?" tanya Syifa heran.
Gwen mengulurkan tangannya, memperkenalkan diri dengan menegakkan kepalanya. "Kenalin, Gwen Kalina Lim, putri dari kedua orang tuanya, dan aku istri Mas Agam yang sudah sah agama dan negara tiga hari lalu!"
Sontak ungkapan kenyataan dari Gwen menjadi istri Agam membuat Syifa terkejut. Bagaimana tidak? Ketika dirinya pulang, tidak ada keluarganya yang mengatakan bahwa Agam sudah menikah.
"Apa? Kamu istri dari, Ustadz Agam ... sejak tiga hari yang lalu?" tanya Syifa masih syok.
"Kami menikah di pesantren Darussalam, kenapa suamiku tidak mengundamu? Semua kerabat dekat pesantren ini datang, loh!" Gwen masih belum puas dengan apa yang ia lakukan untuk membuat Syifa menjauh. "Oh iya, kamu sendiri, siapa?" lanjut Gwen bertanya.
Syifa menjelaskan bahwa dirinya yang seharusnya menikah dengan Agam tiga tahun lalu. Hal itu membuat Syifa harus kecewa karena pria yang sudah mulai ia rindukan, rupanya sudah memiliki istri.
"Kalian menikah tanpa mengundang keluargaku? Ustadz, kenapa kamu tidak mengundang keluargaku?" tanya Syifa masih berharap.
"Saya sudah mengundang, tapi keluarga kami. Tapi, kedua orang tua kamu sedang dalam perjalanan ke luar kota," jawab Agam.
"Lalu, kenapa kalian menikah di pesantren besar itu? Apa istri Ustadz Agam ini adalah salah satu santri dari sana? Jika iya, kenapa sikapnya tidak mencerminkan seorang santri?" Syifa masih saja mencari celah keburukan Gwen.
Gwen dan Agam saling menatap. Mereka masih diam karena bingung akan menjawabnya. Syifa semakin menyombongkan diri jika dirinya juga adalah putri seorang pesohor di Kota, setara dengan keluarga pesantren Gwen.
"Ustadz, menikah itu tidak main-main. Jika kamu menikah hanya karena sakit hati denganku yang telah meninggalkan altar pernikahan tiga tahun lalu itu … tidak seperti ini caranya," ucapan Syifa semakin melantur.
"Kasihan gadis ini hanya sebagai alat pengganti saja!" imbuhnya dengan tatapan bermuka dua.
"Heh, sungguh seorang yang menjijikkan! Dia belum tau siapa aku? Baik, aku akan memperkenalkan diri dengan benar kali ini," gumam Gwen merasa tidak terima dikatakan sebagai pengganti.
"Dan lagi, penampilannya yang rambut semiran, memakai soflens dan juga bahasanya sangat kasar. Ustadz, ibu itu adalah madrasah utama bagi seorang anak. Jika ibunya saja seperti ini … lalu, bagaimana dengan anak kalian nanti?" lanjut Syifa masih ingin meracau.
"Bolehkah saya bertanya?" sambungnya.
"Tentu saja, silahkan!" seru Syifa.
"Kamu tahu almarhum istrinya Ustadz Ruchan adik dari Kyai Ikhsan?" tanya Gwen.
Syifa mengangguk. "Tentu saja saya tahu silsilah keluarga pesantren itu," jawabnya.
"Aku tanyakan lagi, jika kamu memang paham dengan silsilah keluarga pesantren itu. Siapa nama anak pertama dari pasangan Ruchan dan Leah?" lanjut Gwen.
"Tentu saja, almarhum dokter Aisyah. Beliau mengejar ilmu sampai ke Korea dan memiliki suami pengusaha kuliner," jawab Syifa benar.
"Lalu, siapa saja anaknya dari dokter itu?" tanya Gwen lagi.
"Anak pertamanya kembar, lalu anak bungsunya seorang laki-laki yang menikah dengan seorang keturunan luar negri," jawaban Syifa dibenarkan oleh Gwen.
"Siapa nama anak-anak dari putra bungsu dokter Aisyah?" tanya Gwen.
Kali itu, Syifa mengelak. Ia kesal terus ditanyai tentang silsilah keluarga pesantren yang banyak itu. "Ya siapa, jawab dulu!" tegas Gwen.
"Mereka memiliki anak kembar tiga. Tapi aku lupa nama-nama anaknya," jawab Syifa dengan ketus.
"Baik, jadi aku akan menjelaskan siapa nama-nama dari anak putra bungsu dokter Aisyah. Anak pertamanya adalah seorang laki-laki, yang hilang 22 tahun lalu dan baru saja kembali bernama Chen Yuan Wang," jelas Gwen dengan sabar.
"Anak kedua bernama, Aisyah Adelia Putri, calon seorang doktor juga yang berencana akan meneruskan studinya ke Korea tahun ini,"
"Lalu, kembar bungsu itu adalah … Gwen Kalina Lim, putri yang dibesarkan Rebecca Anastasya Lim istri dari Yusuf Ali, menantu dari Aisyah Putri Handika dan juga Muhammad Rizky di Australia selama kurang lebih delapan tahun,"
"Aku lah putri bungsu dari pesantren itu. Masih ada pertanyaan? Apakah segitu tidak layaknya aku menjadi seorang istri dari Ustadz Agam? Lalu, dimana salahku?"
"Semua itu adalah kesalahanmu sendiri jika Mas Agam menikah denganku. Kamu meninggalkannya di waktu ijab qobul akan dimulai. Tiga tahun keluarga suamiku menanggung malu karena perbuatanmu. Apa kamu masih bertanya kenapa dia menikahiku?" Gwen sampai menunjuk suaminya.
Syifa beranjak dari tempat duduknya. Masih berkelit bahwa dirinya menyesal telah melakukan itu dan memberikan penjelasan yang tidak masuk akal. Kemudian, Syifa juga menginginkan posisi Gwen saat ini.
"Haih, rupanya dia tidak punya harga diri!" gerutu Gwen dalam hati dengan tatapan datar.
"Maaf, saya mencintai istri saya. Saya menikah dengannya bukan dengan dasar sakit hati padamu, Syifa. Melainkan, memang ini sudah menjadi keputusan saya," terang Agam juga tidak mau diam saja.
"Kamu menerimanya karena dia adalah anak dari keluarga besar, 'kan?" Syifa masih ngotot saja.
"Astaghfirullah hal'adzim, jika kamu memang berpikir demikian … saya tidak akan menjelaskan lagi. Silahkan, kedepannya sebaiknya kita tidak lagi sering bertemu," usir Agam dengan halus.
Masih tidak merasa malu, Syifa mengatakan hendak kembali lagi dan meminta apa yang seharusnya ia miliki.
"Dih, malesi!" umpat Gwen.