Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Gembok Cinta



Liburan kali itu membuat Gwen sangat senang. Awalnya, dirinya tak ingin jalan-jalan ke tempat wisata di Kota itu. Akan tetapi, setalah Gwen memikirkan dengan baik-baik, akhirnya ia memutuskan untuk mengajak Agam ke gembok cinta yang tak jauh dari tempat ia tinggal saat itu.


"Kita akan ke Namsan itu naik Cabel Car biar seperti di drama-drama, bagaimana?" ujar Gwen. 


"Ada tempat beli gembokkan juga di sana. Aku mau pasang satu. Ih, senangnya--" sambungnya bersemangat.


"Percaya begituan?" tanya Agam. 


"Hish, udah sampai sini. Kenapa bertanya lagi? Anggap saja hiburan, yang lain ya … Wallahu'alam!" seru Gwen merangkul lengan suaminya. 


Berada di Gunung Namsan, menara ini bersalin nama pada tahun 2005 dari Seoul Tower menjadi Seoul N Tower. Bangunan ini merupakan menara pemancar gelombang radio dan televisi pertama di Seoul, yang dibangun pada tahun 1969 dan selesai dua tahun kemudian.


Menara setinggi 236,7 meter ini dibuka untuk umum pada 15 Oktober 1980, dan sampai saat ini masih berfungsi sebagai menara pemancar bagi radio dan televisi, seperti KBS, MBC dan SBS. Huruf N pada nama tower ini bermakna new (baru), Namsan, ataupun nature.


"Kamu tahu banget tentang menara ini? Pernah datang ke sini, kah?" tanya Agam masih kaku ketika diajak kencan. 


"Pernah, dong! Waktu itu kami berlibur di akhir semester. Berhubung dulu nenek kami juga pernah tinggal di sini, makanya jadi spot liburan kita deh!" jelas Gwen dengan mata berbinar melihat pria tampan di sekelilingnya. 


Gwen bergegas mengajak suaminya masuk ke dalam gift shop, mencari gembok. "Mau beli yang seperti apa?" tanya Agam.


"Um, aku pengan cari yang tidak terlalu mahal tapi cantik," jawab Gwen. 


"Banyak pilihannya, Dek," ujar Agam ikut melihat-lihat. 


"Iya, makanya cari bener-bener, Mas. Aku cari sebelah sini, Mas cari di sebelah sana, oke?" pinta Gwen dengan menempelkan jempol tangannya di pipi Agam. 


Bagi Agam, senyum istrinya mampu membuatnya tenang serta ikut bahagia. Tak ingin membuat sangat istri sedih, ia pun mau di sibukkan dengan mencari sepasang gembok di toko itu. 


Toko yang berada di lantai dasar tower ini menjual beragam cindera mata khasnya N tower. Mulai dari gantungan, tas, keramik hingga beragam tempelan kulkas. Harga yang ditawarkan cukup bervariasi.


Beberapa menit kemudian, Gwen memberitahukan kepada suaminya, jika dirinya telah menemukan gembok yang pas baginya. 


"Mas, aku dah nemu!" seru Gwen memberitahukan kepada suaminya. 


"Itu?" tanya Agam. 


Gwen mengangguk semangat. "Hooh," jawabnya. 


"Ya sudah, cepat nulis," 


"Ini mau menulis dulu," kata Gwen setelah menemukan gembok tersebut. 


Ia memilih duduk di pojok sebuah kafe yang tak jauh dari kedai oleh-oleh. Ia memesan minuman dan mulai menulis. Agam terus mengamati gerak-gerik istrinya yang lucu seperti anak taman kanak-kanak itu.


Gwen terlihat kesal sendiri kala salah menulis, lalu tersenyum sendiri kala malu menulis yang memiliki makna cinta-cintaan. "Ternyata susah juga ya cari kata-kata yang muat digembok ini. Mana aku nggak bisa cinta-cintaan pula!" ungkapnya dengan menyeruput boba-nya. 


"Memang, selama ini kamu belum pernah cinta-cintaan ya, Dek?" tanya Agam mengelus kepala istrinya dengan lembut. 


"Hahaha, duit lebih penting dari pada cinta. Duit bisa ngenyangin perut, untuk apa lagi cinta? Jatuh cinta aja cuma sama Mas Agam doang!" Gwen begitu ceplas-ceplos. 


Selesai menulis, Gwen lalu mencari lokasi yang cocok untuk memasang goresan tinta cintanya. Hampir seluruh area pagar di sekeliling tower penuh gembok. Setiap tahunnya, ada saja area baru yang dibuka dan langsung penuh.


"Haih, penuh banget. Aku mau pasang di sini saja ah! Eh, tapi ini rahasia, Mas Agam menjauhlah!" celetuknya mengusir sangat suami. 


"Hey, kan itu buat Mas juga. Mas pengen lihat dong," 


"Allahu Ya Rabb, kedekut! Lihat aja, Mas juga akan  buat sendiri, dengan doa yang lebih indah darimu! Hmph!" 


Agam kembali ke toko membeli gembok miliknya sendiri. Menulisnya dengan tulisan yang tak bisa Gwen pahami. Saking penasarannya Gwen, ia sampai memberi usul untuk menukar rahasia doa diantara mereka. 


"Apa yang Mas tulis?" bisik Gwen kala Agam hendak menggantung gemboknya. 


"Kenapa? Penasaran? Rahasia dong!" jawab Agam dengan sinis. 


"Hih, pendendam!" Gwen mulai merajuk. 


"Yahh … bukannya kamu sendiri yang bilang rahasia? Mas kan hanya ikuti apa yang kamu lakukan saja. Kenapa malah sekarang jadi kamu yang marah, Dek?" Agam mencoba menghibur istrinya dengan mencubit pipinya. 


Masih saja Gwen memasang wajah kesalnya. Tak perlu bujuk rayu yang banyak, Agam hanya memperbolehkan Gwen melihat dan membaca apa yang ia tulis di gembok miliknya. 


"Ya sudah, nih kamu boleh baca doa yang Mas tulis," Agam luluh oleh kekesalan istrinya. 


Betapa senangnya Gwen bisa membaca doa apa yang suaminya tulis di gembok tersebut. Sebelumnya masih senyum-senyum bahagia. Hingga pada akhirnya, wajahnya berubah menjadi datar saat melihat tulisan suaminya yang tak biasa. 


"Apa ini?" tanya Gwen dengan wajah datarnya. 


"Mas curang!" imbuhnya dengan sedikit menyulut. 


"Lah, curang dari mananya?" Agam pun tak terima atas tuduhan itu. 


"Ya Mas lihat aja dong! Nulis pakai huruf hijaiyah begini. Gundulan pula! Dikira mau pelajari kitab kuning?" tunjuk Gwen dengan rasa kecewanya. 


Agam tak kuasa menahan tawa. Ia pun tertawa melihat pipi sangat istri yang memerah karena marah. Belum lagi, di saat Gwen kesal, hidungnya kembang kempis seperti bunga teratai dalam pandangannya. 


"Apaan ketawa? Nggak lucu!" ketus Gwen memalingkan wajahnya. 


"Hidung kamu seperti bunga teratai kalau sedang marah," bisik Agam masih menahan tawanya. 


"Hih, jelek banget! Gede, mlembung, ngathang-ngathang, gitu?" Gwen mulai tak terima. Semakin kesal lah dia. 


Agam meminta maaf pada Gwen dengan tulus. Ia mengaku salah saat mengejek hidung istrinya seperti bunga teratai. 


"Dek, udah dong ngambeknya. Maafin, Mas, ya?" Agam masih berusaha. 


"Mas jahat! Ngeselin!" umpat Gwen berjalan cepat meninggalkan Agam. 


Meninggalkan kemesraan pasangan yang sedang dalam rayu-merayu, ngambek-mengambek, Chen kembali bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada Feng. 


Tanpa Feng jelaskan lebih detail, Feng akhirnya membuka mulut kalau Ilkay dalam bahaya dan meminta Asisten Dishi untuk tetap bersama mereka di Negeri gingseng tersebut. 


"Apa? Bagaimana mungkin? Aku masih membutuhkan Asistenku itu di kantorku," tolak Chen. 


"Kau ada Jovan, bukan? Dia juga memenuhi kualifikasi sebagai tangan kananmu. Biarkan Asistenmu itu tetap tinggal!" tegas Feng. 


Chen menyeritkan alisnya. Pekerjaannya belum sepenuhnya tuntas. Jovan sudah ia rekrut ke departemen. Tak mungkin baginya untuk menambah pekerjaan sepupunya lagi. 


Lalu, apakah permintaan maaf Agam diterima oleh Gwen?