Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Dipelukan Sang Dokter Tegas



Di samping tempat tidur Aisyah, ada Rafa yang selalu menunggunya membuka mata malam itu. Setelah mendengar tawa Gwen, Aisyah memang membuka matanya, ia langsung mencari saudarinya itu dengan memanggil namanya. 


"Gwen …," suaranya terdengar lirih dan gemetar. 


"Gwen, kamu di mana?" sambungnya. 


"Assalamu'alaikum, cantik," sapa Rafa dengan senyuman manisnya. (Btw mereka selisih berapa ya? Rafa dengan saudari kembarnya selisih 5 tahun. Saudari kembarnya dan Aisyah silih 9 tahun)


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, jomblo. Bang Rafa beneran di sini?" jawab Aisyah dengan tertawa melihat Rafa tersenyum seperti itu. 


"Abang tahun ini menikah, Aisyah. Masih aja dikatain jomblo. Kamu ini yang jomblo, umur udah 22 tahun, belum pernah ada lelaki yang nyantol di hatimu juga," ledek Rafa. "Kriteriamu seperti apa, sih? Ustadz Khalid?" kembali Rafa meledek adik sepupunya yang terbaring lemah itu. 


Aisyah mencubit lengan Rafa karena malu. Sebab, sudah sering kali Aisyah dijodohkan, tapi Aisyah tak pernah ingin menikah muda seperti Ibu dan neneknya dahulu.


"Kak Aisyah, kami sudah sadar? Aku mendengar suara kalian bicara tadi dari luar!" Gwen yang yang tak sabar melihat kondisi saudarinya itu pun langsung masuk ke kamar begitu saja. 


Kemudian, si susul oleh Chen dari belakang. Perlahan, Aisyah merentangkan tangannya dan menahan lukanya, berharap bisa dipeluk oleh saudari dan saudara kembarnya. 


Gwen memeluk Aisyah. Lalu, Chen juga memeluk kedua saudarinya seraya mengecup kening Aisyah dengan memejamkan matanya. Tak terasa air matanya kembali menetes dan sempat menetesi hidung Aisyah. 


"Are you crying?" tanya Aisyah kenapa Chen. 


"Jika aku tak bisa mencintaimu sebagai kekasih hidupku, maka izinkan aku mencintai kalian berdua sebagai cinta dalam hatiku," ucap Chen mempererat pelukannya kepada kedua saudarinya. 


"Alhamdulillah, akhirnya kalian bertiga bisa berkumpul lagi setelah terpisah 22 tahun lamanya. Aku akan memberikan kabar bahagia ini kepada orang tua kalian." ujar Rafa ikut tersentuh. 


"Apapun itu … Abang harap, ini keputusan yang terbaik untuk kalian. Abang akan siapkan makan malam dulu, kalian manfaatin waktu untuk kebersamaan kalian, ya. Assalamu'alaikum," pamit Rafa meninggalkan ketiga adiknya di kamar tersebut. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh." 


"Di bagian mana kau tertembak, Aisyah?" tanya Chen melepaskan pelukannya. 


Gwen dan Chen duduk diantara kanan kiri Aisyah saat itu. Aisyah mengatakan jika yang tertembak bahunya bagian belakang lagi dan di lengan yang sama. Chen merasa bersalah karena hanya bisa diam saja ketika melihat Aisyah tertembak mengorbankan dirinya. 


"Kenapa dengan wajah kalian? Lihatlah, aku baik-baik saja, masih hidup dan tak ada yang kurang. Jangan menatapku seperti itu lagi," Aisyah sedikit kesal. 


"Kak Chen," panggil Gwen. 


"Panggil saja aku Chen. Ada apa dengan kalian ini? Kita hanya selisih menit saja, haruskah kalian memanggilku dengan sebutan, kakak?" protes Chen mengusap-usapkan wajahnya ke lengan Aisyah seperti anak kecil yang hendak minta ice cream. 


"Setuju! Aku sangat setuju denganmu, Chen ... em, maksud aku Kak Chen," nada bicara Gwen langsung menurun melihat lirikan maut Aisyah. 


"Kalau kalian tidak mau sebutan sayang itu ... sudahlah, lebih baik kalian jangan menganggapku sebagai saudari kalian lagi!" tegas Aisyah membuang pandangan dari keduanya. 


"Baiklah, apapun itu .. asalkan kau tak marah," Chen kembali memeluk Aisyah, begitu juga dengan Gwen. 


Chen tak ingin pertemuan itu berlalu terlalu cepat. Dua Mafia bringas yang pernah melenyapkan orang dan kejahatan lainnya itu berhasil di takhlukkan seorang dokter yang tegas dengan kasih sayang yang melebihi kedua orang tuanya. Antara Gwen dan juga Chen terlihat seperti tengah memeluk Ibunya yang sangat menyayangi keduanya.