Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Kejutan Dalam Kejutan



"Apa kalian ingin mati sekarang?" -pesan yang Chen kirimkan kepada kedua saudarinya dan juga Asistennya. 


Mereka baru ingat jika Chen masih ada di dalam kardus. Aisyah meminta Ayah dan Ibunya tetap berada di depan pintu dan melihat kejutan yang mereka bawa.


"Eh, tunggu! Jangan masuk dulu, kami punya hadiah untuk Ayah dan Ibu!" seru Aisyah. 


"Hadiah apa? Kulkas? Di rumah sudah ada 2, untuk apa kalian nambah lagi?" tanya Rebecca.


"Ini bukan sembarang kulkas, Mi. Yang ini lebih dingin, bisa menghasilkan uang dan sangat membahagiakan. Ayo kalian buka!" sahut Gwen. 


"Kedua saudariku memang sedang mempermainkan diriku. Lihat saja, aku akan membuat kalian menjadi anak tiri nanti!" sulut Chen dalam hati.


Mereka malah semakin lama membuka kardus tersebut. Sehingga membuat Chen lebih kesal lagi, lalu mengirim pesan kepada Aisyah yang berkata, "Apa kau ingin mengirimku ke surga? Kenapa lama sekali bukanya!" 


Perlahan, Aisyah dan Asisten Dishi membuka pita perekat di atas. Langsung saja Chen membuka dan malah marah-marah sehingga membuat Yusuf dan Rebecca terkejut. 


"Aha! Akhirnya kalian membukanya. Apa kau ingin aku mati di sini? Katakan, dengan cara apa kalian akan menyusulku, hah!" kesal Chen dengan nafas terengah-engah. 


"Kalian ini ma--" belum juga Chen meluapkan emosinya lebih jauh, ucapannya terhenti karena melihat kedua orang tuanya.


Melihat kedua orang tuanya yang masih sehat bugar berdiri di depannya, seketika membuat hatinya menjadi sakit. Selama hidupnya, ia belum pernah merasakan pelukan dari kedua orang tua kandungnya. Mereka juga mengingatkan perbuatan buruk Cindy kepadanya. 


"H-hai, anyeong .. em, halo, no! Em, Assalamu'alaikum," sapa Chen dengan senyuman yang hampir mirip dengan Gwen. 


Air mata Yusuf dan Rebecca seketika menetes. Putra yang baru mereka lihat sebentar saja, kini sudah tumbuh menjadi pria tinggi dan gagah. Bahkan, tingginya melebihi Yusuf, Ayahnya kalau itu. 


"Asiyah, dia …?" tanya Yusuf. Yusuf yang belum pernah melihat bagaimana wajah putranya setelah besar. Berbeda dengan Gwen yang pernah melihatnya saat usia Chen 9 tahun. 


Aisyah menggenggam tangan Yusuf. Kemudian menjawab, "Dia putra Ayah. Putra sulung, yang selama ini Ayah dan Ibu rindukan. Kalian hanya tahu namanya, bukan? Lihatlah, bayi yang waktu itu hanya bisa menangis, sekarang sudah bisa berdiri di depan kalian," 


"Mami, kami telah menunaikan janji misi kita untuk membawa putra kalian pulang. Dan ini, pria banyak uang ini adalah putra kalian!" timpal Gwen. "Jadi hadiahi aku dalam misi ini, Mi." imbuhnya.


Mereka belum juga berpelukan, dan bahkan Chen juga belum sempat mencium tangan kedua orang tuanya. Rebecca sudah pingsan saja, sehingga membuat semuanya panik kalau itu. Dengan gesit, Chen langsung mengangkat tubuh kecil Ibu yang melahirkannya itu seraya berteriak, "Dimana kamarnya?" 


"Ayo, masuklah, Ayah juga tidak tahu apa yang telah terjadi dengan Ibu kalian. Akhir-akhir ini, dia sering sekali pingsan begini, ketika di tanyain, pasti jawabnya hanya pusing saja," terang Yusuf. 


Perlahan Chen membaringkan tubuh Ibunya. Wajah yang sama ketika 13 tahun lalu bertemu membuat Chen hampir ingin menangis, karena tak sempat memeluk saat ia tahu siapa Rebecca yang sebenarnya. 


"Kalian keluarlah dulu, biar aku yang memeriksa Ibu," ujar Aisyah dengan wajah khawatir. 


"Yang benar saja, aku di suruh keluar?" protes Chen.


"Heh, siapa dokternya di sini?" sulut Aisyah. 


"Kau!" tegas Chen. 


"Ya sudah, keluarlah! Jangan ganggu aku selagi aku memeriksa pasien!" tegas Aisyah mendorong semua orang untuk bersedia menunggu. 


Di ruang tengah, Yusuf terus saja memperhatikan Chen dengan tatapan yang dalam. Ia masih belum percaya jika putranya dapat kembali dengan bantuan kedua putrinya. 


"Ini Aisyah kenapa lama sekali, sih? Aku akan mencekiknya jika dia tidak keluar dalam hitungan 5 menit!" pekik Chen menggunakan bahasa Mandarin. 


"Sabar, Tuan. Kita percayakan semuanya kepada Dokter Aisyah. Duduklah dengan tenang, dan buat dirimu tidak terus mondar-mandir. Saya pusing melihat anda, Tuan." Asisten Dishi bahkan memberikan Chen kursi untuk dirinya duduk. 


Yusuf tersenyum melihat raut wajah panik putranya itu. Terlihat sangat mirip dengan Rebecca dan Airy ketika sedang panik. Mata birunya juga berhasil membuat Yusuf terpukau dan ia pun mendekatinya. 


"Duduklah, Ibumu pasti ... akan baik-baik saja," ucap Yusuf seraya menepuk-nepuk bahu Chen yang kala itu, jauh lebih tinggi darinya. 


"Ayah bisa bahasa Mandarin? Tolong jangan buat dirimu terpaksa menggunakan bahasa itu, bicaralah dengan bahasamu sendiri, aku sudah belajar banyak tentang itu!" tegas Chen. 


Chen kemudian terdiam. "Maaf, aku terbiasa tegas dengan siapapun, Ayah aku benar-benar masih canggung ketika bertemu denganmu." imbuhnya. 


Yusuf meminta Chen untuk duduk bersamanya. Begitu seorang lelaki, keharuan, kesedihan, dan kegembiraan sulit terlukis dalam wajahnya. Namun, baik Yusuf dan Chen sendiri, mereka sama-sama bahagia bisa bertemu satu sama lain setelah 22 tahun berpisah. 


Tak lama kemudian, Aisyah keluar dengan wajah yang terlihat kesal. Gwen yang kala itu tengah makan langsung menghampiri dan bertanya, "Ada apa? Kenapa wajahmu seperti ini?"


"Aisyah, ada apa? Apa yang telah terjadi dengan Ibu kita?" sahut Chen juga menghampiri Aisyah. 


Aisyah berjalan ke sofa sambil menatap Ayahnya dengan sinis. Yusuf sendiri menjadi bingung kenapa putrinya terus menatapnya seperti itu. 


"Ada apa cepat katakan!" bentar Gwen. 


"Heleh, kalian duduk dulu, aku mau protes dengan Ayah," akhirnya Aisyah membuka mulut. 


"Kenapa dengan Ayah?" tanya Yusuf masih kebingungan. 


Aisyah memberikan resep obat kepada Yusuf memintanya untuk membaca. Bagian Aisyah juga memberikan alat kontrasepsi untuk bisa dijelaskan mengapa Aisyah memasang wajah jutek seperti itu. 


"Aktif sekali kalian di ranjang. Sampai tak terpikirkan berapa usia ketiga anak kalian ini!" ketus Aisyah. 


"Maksudnya?" tanya Chen, Gwen dan Yusuf bersamaan. 


"Ayah tak cukup dengan kami bertiga? Ayah dan Ibu apa tak sabar menunggu kita menikah dan memberikan kalian cucu? Kenapa ini malah buat sendiri?"


Bentuk protes Aisyah malah membuat semua orang semakin bingung. Gwen yang memang tak suka bermain tebak-tebakan akhirnya menyumpal mulut Aisyah menggunakan kismis yang ada dalam bolunya.


"Hih, Kak Aisyah ngomong yang jelas, dong!" kesal Gwen. 


"Aisyah--" belum juga Chen mengatakan sesuatu, Aisyah sudah membungkam mulut Chen menggunakan bolu dari tangan Gwen.  Hal itu membuat Asisten Dishi tertawa. 


"Dengarkan aku. Selamat untuk kita semua, 7 bulan kedepan akan lahir adik kita di usia kita yang ke 23 tahun nantinya," ungkap Aisyah dengan lemas. 


"Apa?"


"Ya, Ibu mengandung sekitar 2 bulan. Kemungkinan 7 bulan mendatang, tepat kita ulang tahun ke 23, kita akan punya 1 kado untuk selamanya." sambung Aisyah. 


"Bukankah aku kejutannya hari ini? Kenapa ada kejutan didalam kejutan?" ucap Chen. 


Ya, mereka dikejutkan ketika membawa kejutan. Bukan masalah menerima atau tidak. Tapi, Aisyah hanya khawatir jika Ibunya memiliki bayi lagi, itu akan mengganggu kesehatan orang tuanya. Begitu juga dengan Gwen yang tak ingin pangkat bungsunya digantikan. 


Lalu, bagaimana pendapat Chen? 


assalamu'alaikum, maaf baru up. Selamat Hari Raya Idul Adha. Mohon maaf lahir batin, ya. Maaf baru bisa up. Soalnya kesibukan di dunia nyata membuatku susah menulis. Anak gadisku, bajak hp mulu. Dan aku malah keasikan menjahit😅 seketika aku terlupa dengan kalian di sini. Berdosanya aku