
Suapan demi suapan Chen lakukan untuk menyuapi saudari kembarnya itu. Terlihat jelas jika Chen sangat menyayangi adiknya.
"Kak, mau sampai kapan kakak akan menyuapiku seperti ini? Aku sudah bukan anak kecil lagi, loh," protes Aisyah.
"Ini penebusan waktu kecil dulu, aku tidak ada di sampingmu. Jadi, jangan menolak kebaikanku lagi, ya," Chen dengan lembut menyuapi Aisyah.
Aisyah tersenyum. Melihat Chen mengingatkan dirinya dengan Ilkay yang tak kunjung datang. Hati Aisyah semakin gelisah karena waktu juga semakin siang. Resepsi akan dilaksanakan beberapa menit lagi.
"Kak," panggil Aisyah.
"Iya, Ai. Ada apa?" jawab Chen.
"Andai saja, anak kakak ada di sini. Pasti dia akan bahagia bisa berkumpul dengan keluarga kandungnya," celetuk Aisyah.
"Ai, kenapa mulut kamu tidak ada penyaringannya? Kamu mengatakan hal ini begitu saja? Bagaimana dengan keluarga nanti, pasti mereka akan membenciku, Ai!" tegas Chen.
"Keluarga ini tidak seperti itu, Kak. Keluarga kita ini, semuanya berhati besar, tak ingin ikut campuri urusan pribadi keluarga lainnya. Aku yakin jika keluarga kita bisa menerima put .., anak itu," Aisyah hampir saja keceplosan.
Chen sudah mengirim orang untuk menyelidiki keberadaan anaknya. Sampai saat ini, belum ada informasi tentang anak itu. Lain dengan Asisten Dihsi yang mampu menyelesaikan satu misi dari Aisyah meski dirinya harus berkorban nyawa.
"Assallamu'alaikum," salam seorang pria dari belakang mereka.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabbarokatuh,"
Pria itu adalah Raza. Ia juga menyempatkan diri untuk menghadiri resepsi pernikahan Gwen dengan Agam.
"Pak Raza?"
"Ai, aku ke sana dulu. Setelah ini, jangan lupa kamu istirahat dulu. Dari tadi kamu kan terus saja bekerja," ucap Chen meninggalkan Aisyah dengan Raza.
Aisyah menghampiri Raza dan menyambutnya.
"Pak Raza datang kesiangan, kenapa tidak dari tadi pas akad?" tanya Aisyah.
"Saya ada pekerjaan sebentar. Oh, iya ... soal beberapa waktu lalu mau ke Tiongkok, saya tidak bisa ikut. Ayah saya--"
Aisyah tak ingin mempermasalahkan tentang Raza yang tak jadi mengantarnya ke Tiongkok. Aisyah juga tidak tahu latar belakang keluarga Raza yang misterius. Mencari aman saja, Aisyah cukup menjadi teman yang baik dengan Raza.
***`
Acara resepsi telah dimulai. Semuanya berlangsung dengan lancar. Sambutan demi sambutan juga sudah terlaksana. Tiba di mana Aisyah mengungkapkan perasaannya untuk sang Adik yang kini telah bersetatus menjadi seorang istri.
"Harusnya, aku berdiri di sini bersama dengan putraku, Ilkay. Tapi ...," gumam Aisyah dalam hati.
"Assallamu'alaikum warahmatullahi wabbarokatuh,"
"Gwen, Gwen Kalina Lim. Seorang gadis berusia 22 tahun, yang sebelumnya menjadi kesayangan aku ... kini menjadi istri dari seorang pria yang sholeh seperti ustadz Agam,"
"Dalam keluarga ini, banyak banget kejadian di luar dugaan. Aku menganggap, ini kerajaan yang seperti ada di negri dongeng. Raja kita bapak Yusuf Ali beserta Permaisuri Rebecca Anastasya Lim, memiliki tiga bayi kembar,"
"Di mana, waktu masih bayi, salah satu dari tiga bayi kembar itu ... diculik. Aku sebut, dia adalah Pangeran dalam kerajaan ini, Kak Chen. Pangeran ini baru saja kembali setelah 22 tahun berlalu,"
"Kak Chen adalah kakak yang sangat bijaksana, baik, penuh kasih dan juga pengertian. Dia akan melakukan apapun untuk melindungi istananya,"
"Lalu, apakah aku adalah putri pertama dari kerajaan ini, dan Gwen adalah putri kedua? No! Aku adalah Ratu, aku telah menahan dua peluru demi kedua saudariku, bahkan aku menahan tajamnya belati untuk saudaraku juga. Aku yang menjalankan, menebarkan kasih agar terbagi rata dalam istana ini,"
"Ustadz Agam, tolong jaga dia, sayangi dia, cintai dia, jangan buat dia bersedih. Cukup dia merasa kurang kasih sayang dariku, tapi jangan sampai dia kekurangan kasih sayang darimu,"
"Jika kamu keberatan dengan sikapnya, kamu kesal dengan tingkahnya atau bahkan sudah tak sanggup untuk bersamanya, jangan sakiti dia. Bilang kepadaku, aku yang akan menjemputnya. Aku yang akan membuatnya mengerti, tapi tolong .... dia permata hatiku, aku tidak rela siapapun menyakitinya,"
"Gwen ... ada hal yang ingin aku sampaikan kepadamu. Ini masalah--"
Clek!
Belati menusuk kedalam luka lamannya. Disaat yang bersamaan juga, Asisten Dishi berdiri di sampingnya, ia juga menerima lemparan belati itu di lengannya.
"Dishi, kau di sini?" bisik Aisyah menatap wajah Asisten Dishi yang dipenuhi dengan luka.
"Semua orang tidak tahu jika kita tertusuk belati yang menancap di lengan belakang kita, Aisyah. Kita harus tetap santai, agar semua orang tidak khawatir atau kita merusak acara Nona Gwen dan suaminya," bisik Asisten Dishi.
Dengan menahan luka, Aisyah kembali melanjutkan ungkapan hatinya dengan suara sedikit gemetar. Ia juga memperkenalkan Asisten Dishi kepada semua orang.
Semua orang tidak mengetahui apa yang terjadi dengan mereka. Aisyah dan Asisten Dishi pandai mengecoh agar tak ada yang lihat jika keduanya sedang terluka. Sampai pada akhirnya, Chen mengetahui ada yang janggal dengan mereka.
Ia berjalan ke belakang panggung dan melihat bahwa gamis bawah yang dipakai Aisyah telah basah dengan darah yang mengalir dari lengan Aisyah dan Asisten Dishi.
"Ai,"
Chen segera berlari, meminta saudara lainnya untuk melanjutkan memberikan ungkapannya kepada Gwen dan Agam. Beruntung saat itu Airy naik ke atas panggung menggantikan Aisyah dan Asisten Dishi.
"Chen, orang yang bernama Jack Lim mengejar aku dan Asistenmu. Dia juga bekerja sama dengan Cindy untuk membunuh Asistenmu juga adikmu," ungkap Feng. "Dua belati itu dari Jack Lim, gengster permata hitam," lanjut Feng.
Tanpa dijelaskan lebih lanjut, Chen langsung tau gengster tersebut berasal darimana. Jack Lim adalah anak dari orang tua angkat Rebecca yang pernah Rebecca penjarakan beberapa tahun lalu.
"Sekarang mereka di mana?" desis Chen.
"Asiyah!" teriak Feng.
Wajah Aisyah sudah sangat pucat, begitu juga dengan Asisten Dishi. Segera Chen dan Feng membawa ke kamar anak Ayyana untuk di periksa.
"Kenapa kamu tidka langsung turun, Ai? Aku akan segera mempersiapkan mobil, kita ke rumah sakit," Chen sangat panik.
"Kak Chen," Aisyah menahan tangan Chen.
"Kenapa? Ini pasti sangat sakit, bukan? Aku akan segera menyiapkan mobil, kita ke rumah sakit," air mata Chen tak henti-hentinya menetes.
"Aku akan baik-baik saja. Aku mohon kalian semua jangan panik. Jangan rusak hari bahagia Gwen, aku mohon ...."
Dalam kamar itu juga ada Adam, Ayyana, Faaz dan juga Rafa. Mereka juga sangat menkhawatirkan keadaan Aisyah dan juga Asisten Dishi.
"Aisyah, kamu--"
"Jangan nangis, ini hari bahagia. Aku nggak papa. Coba Kak Ayyana lihat, apakah Kak Chen sudah mempersiapkan mobil untukku dan juga Asisten Dishi?"
Belum juga Ayyana mengatakan sepatah katapun, Aisyah langsung menyelanya. Aisyah hanya tidak ingin semua panik karena itu adalah hari kebahagiaan adiknya.
Tak lama kemudian, Chen dan Raditya siap membawa Aisyah dan Asisten Dishi ke rumah sakit. Dimana Aminah dan Feng sedang memeriksa denyut nadi mereka. Sebab, baik Aminah maupun Feng belum bisa mencabut belati itu dari lengan Aisyah dan Asisten Dishi.
Cindy dan Jack akan mati ditangan siapa? Kalian bisa tebak.