Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Pengorbanan Gwen



   ~


Pernikahan Ustadz Khalid dan Syifa telah tiba. Pagi itu pesantren Agam dibuat sibuk oleh pernikahan yang diadakan dadakan itu. Terlihat Gwen dan Chen sedang berbisik di samping rumahnya dengan acara yang akan mereka lakukan. 


Selama seharian penuh, mata-mata Syifa sudah mengumpulkan bukti bahwa Gwen berselingkuh dengan dua orang pria. Yakni Chen dan juga Paman Chris. Kata-kata Syifa ini menduga jika Paman Chris juga sebagai sugar daddy-nya Gwen. Sebab, ia hanya melihat sekali dua kali saja ketika bersama dengan Gwen. 


Lalu, Chen juga jarang sekali bersama Gwen kala di rumah. Di setiap siang hari, Chen akan keluar dan kembali di malam hari. Itu sebabnya mata-mata Syifa hanya melihat Chen keluar dengan terburu-buru di waktu pagi.


"Apa? Kamu yang benar saja? Dia juga ada main dengan om-om? Jika kau salah info, aku akan membuatmu membayar semua, paham?" hardik Syifa. 


Di depan cermin, Syifa tengah di rias oleh perias pengantin. Membuatnya dapat menyombongkan diri menatap wajahnya sendiri. 


"Lihatlah, aku ini gadis mulia. Aku tidak munafik seperti Gwen yang ternyata ada main dengan dua pria dibelakang Ustadz Agam. Hm, kasihan sekali Ustadz Agam, andai saja saat itu mau menikah denganku," gumamnya. 


Syifa masih berharap Agam mau menikah dengannya usai berpisah dengan Ustadz Khalid nantinya. Memang pemikiran Syifa sudah dibutakan oleh keirian yang membuatnya semakin jahat dengan melakukan banyak cara untuk mempermalukan Gwen. 


Acara di mulai. Semua sudah siap menunggu ijab qobul di mulai. Gwen dan Chen juga sudah siap melancarkan aksinya. Sambutan demi sambutan telah dilakukan oleh pembawa acara pagi itu. Terlihat kedua orang tua Syifa juga turut hadir dalam pernikahan putri semata wayangnya itu. 


"Dasar licik! Lihat saja, aku akan membuat kalian semua malu karena pernikahan ini gagal. Sudah menerima uang, masih saja tidak membatalkan pernikahan," umpat Gwen dalam hati. 


Saat itu, Gwen duduk di samping Agam di dalam masjid. Di dalam masjid yang dibangun atas bantuan orang tua Syifa itu, kini menjadi pembangunan atas nama uang Gwen karena Gwen telah mengganti uang itu melalui Paman Chris. 


Di dalam masjid, tidak banyak orang yang masuk. Semua santri ada di luar, yang ada di dalam hanyalah saksi, penghulu, dua mempelai, kanit desa dan saudara saja, termasuk Chen juga ada di dalam masjid itu. 


Pandangan Syifa tak pernah terlewat kala melihat Chen. Ia menyadari jika Chen itu mirip sekali dengan seorang pria yang di foto oleh mata-mata yang dikirim untuk mematai-matai Gwen. 


"Itu bukannya selingkuhannya, Gwen? Untuk apa dia juga ada di sini?" batin Syifa. 


"Wah, Gwen. Kamu benar-benar sungguh berani. Bukan hanya berani membawa selingkuhan kamu masuk ke dalam rumah, tapi kamu juga berani membawa ke dalam masjid menjadi saksi pernikahanku dengan Ustadz Khalid." lanjutnya dengan senyum licik. 


Saat ijab qobul hendak di mulai, tiba-tiba lampu gantung di dalam masjid yang tepat di atas Ustadz Khalid waktu itu bergoyang. Suara gemercing pernak pernik lampu gantung itu terdengar jelas di telinga Gwen. 


Gwen menoleh melirik ke arah Chen. "Ini sudah waktunya?" gumamnya dalam hati. Chen mengangguk seolah tahu jika waktu beraksinya sudah tiba. 


"Bismillahirrohmanirrohim, saya ni--"


BRUAK! 


Lampu gantung itu akhirnya jatuh menimpa Gwen dan Chen. Chen tidak menyangka jika Gwen mendorong Ustadz Khalid dengan keras sehingga membuatnya sedikit tersandung dan tak ada waktu untuk menghindar. Dengan gesit, Chen berlari melindungi Chen, hanya saja … larinya telat sehingga keduanya terluka. 


"Astaghfirullah hal'adzim," 


"Bangsatttt, kenapa kau tidak langsung lari bodoh! Aku bilang setelah mendorong kau harus segera lari, agar tuh lampu tidak menimpa dirimu," bisik Chen. 


"Kau juga bodoh kakakku, kenapa kau di bawah sini bersamaku? Haih, darahku mengalir sepertinya, apakah wajahku akan cacat?" gumam Gwen dengan berbisik. 


"Lupakan saja, jika kau cacat dan suamimu tidak mau lagi denganmu, ikutlah bersamaku, bagaimana?" sahut Chen dengan senyum menyeringai, kepalanya juga terluka sampai darahnya mengalir ke pelipisnya. 


"Haha, lihatlah warna darahmu juga merah, ya? Aku pikir jika matamu biru, warna darahmu akan jadi ijo seperti dolar," celetuk Gwen mulai ngelantur. 


"Lawak, warna darahku kuning tau!" sahut Chen semakin ngelantur. 


Yang lain sedang bersusah payah membantu mengangkat lampu gantung tersebut, namun Gwen dan Chen malah sibuk ngelawak tiada henti sampai mereka tertawa sendiri. Jiwa mafia mereka muncul, luka seperti itu tidak berat bagi keduanya. Sejak kecil, mereka sudah di hadapkan oleh pertumpahan darah, perampasan, kekejaman dan juga pembunuhan brutal. 


"Apa-apaan ini? Mereka malah tertawa bersama? Gwen ini memang tidak tahu malu. Bisa-bisanya dia bersenda gurau dengan pria lain!" seru Syifa dalam hati. 


"Awas saja, saat kau sadar nanti, aku akan membongkar perselingkuhan kamu dengan pria itu dan juga om-om bule. Huh, dasar tak tahu malu!" imbuhnya. 


"Dek, apa kamu baik-baik saja? Dengarkan Mas, jangan sampai kamu tertidur, Mas akan membawamu ke rumah sakit saat ini juga!" betapa khawatirnya Agam kala melihat istrinya berlumuran darah di wajahnya. 


Agam juga menghapus darah istrinya menggunakan baju koko putihnya. Tak peduli bagaimana dengan Chen, Agam hanya fokus membawa istrinya ke mobil dan segera membawa Gwen ke rumah sakit. 


Setelah itu, Chen dibantu oleh beberapa santri lainnya dan menyusul Agam membawanya ke rumah sakit. Dengan tanpa malu, Syifa mempertanyakan bagaimana dengan pernikahannya saat itu. "Ustadz, bagaimana dengan pernikahan kita?" tanyanya. 


"Astaghfirullah hal'adzim, apa kamu tidak lihat kejadian barusan? Bahkan tempat kita untuk melakukan ijab saja banyak pecahan kaca lampu begini, Dek," jawab Ustadz Khalid. 


"Maaf, tanpa mengurangi rasa hormat … pernikahan ini, tidak akan saya lanjutkan hari ini. Saya masih harus menyusul adik ipar saya yang terluka karena menolong saya, Assallamu'alaikum," 


"Fajar, tolong kamu urus semuanya yang ada di sini, ya. Saya kerumah sakit menyusul mereka dulu," tukas Ustadz Khalid meninggalkan masjid. 


"Baik, Ustadz."


Syifa hanya bisa melongo, kedua orang tuanya tak bisa membantunya sama sekali. Mereka sudah kalah dengan adanya pelunasan dan ancaman dari Paman Chris yang rupanya ada di balik pintu masjid tidak masuk. 


"Syifa, ayo kita pulang!" seru Ayahnya Syifa menarik lengan putrinya. 


"Abi, ini tidak adil! Pernikahanku gagal begini saja? Ini sungguh tak adil bagiku, Abi!" teriak Syifa tidak terima. Ia merasa dipermalukan dengan gagalnya pernikahan. 


Rencana ekstrim Gwen dan Chen berjalan dengan lancar. Namun, kini keduanya terluka karena itu. Membuat Ustadz Khalid berhutang budi dengan Gwen, dan akan Gwen gunakan untuk membuat Ustadz Khalid membatalkan pernikahan itu sampai kapanpun. Atau lebih tepatnya, pernikahan itu tidak akan pernah terjadi. Lalu, bagaimana kondisi Gwen dan Chen saat itu?