Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Rencana Syifa



"Dishi, ini cobaan. Kau harus kuat dan yakin, bahwa perasan ini hanya fokus kepada Aisyah saja,"


"Saat ini, musuhmu ada di depan mata. Aku yakin Ibunya Ilkay antara akan diperalat oleh Nyonya pertama dan Tuan Jackson Lim, atau malah ia akan bekerja sama dengan kedua orang ini,"


"Perusahaan belum stabil. Ini masih menambah masalah lagi. Apakah ini ujian juga yang Tuhan berikan padaku?"


Asisten Dishi kembali bekerja. Ia sangat sibuk untuk beberapa waktu ke depan. Sementara dirinya juga masih harus mencari seorang guru untuk bisa membimbingnya menjalani keyakinan barunya kelak. 


🐱🐱🐱🐱🐱


Waktu demi waktu berlalu, hari pernikahan Ustadz Khalid bersama dengan Syifa semakin dekat. Gwen dan Agam masih belum bisa membicarakan mengapa Ustadz Khalid tiba-tiba ingin menikah dengan Syifa. 


Sengaja Ustadz Khalid menjauh dari adik sepupunya itu karena tidak ingin Agam mengetahui alasannya menikah dengan Syifa. 


Senja di langit pesantren kala itu berwana orange menyala. Terlihat Gwen sedang duduk sendirian menikmati segarnya udara sembari membayangkan ketika ia kecil di Australia bersama Ayah angkatnya. 


"Ayah Willy, kenapa dia tidak pernah menanyakan kabarku? Kak Aisyah, Kak Chen, dan semua kakak sepupuku sekarang jarang sekali memberiku kabar," gumamnya. 


"Ini sangat tidak asik. Mereka yang perlahan menjauh, apa aku yang merasa jika menikah adalah pemicu kesepianku, ya?"


"Aku bahagia menikah dengan Mas Agam. Tapi kesepian ini sangat menyiksaku."


Gwen masih menatap langit. Berdoa kepada Sang Pencipta mendengarkan do'anya supaya bisa bertemu kembali dengan Aisyah meski itu hanya sementara. 


"Aku merindukan Kak Aisyah. Sedang apa dia di sana? Hm, pasti kesehariannya di penuhi oleh buku-buku dan ilmu pengetahuan!" serunya. 


Saat Gwen hendak kembali ke rumahnya, ia melihat ada seorang santri yang berjalan mencurigakan. "Kenapa dengan santri itu? Terlihat jelas jalannya mindik-mindik seperti seorang pencuri," gumam Gwen.


"Aku harus ikuti dia!"


Perlahan, Gwen mengikuti santri tersebut dengan hati-hati. Tak di sangka, ia menemukan sebuah fakta mengejutkan tentang pernikahan yang akan berlangsung beberapa hari lagi. 


"Mbak Syifa, situasi masih aman. Ustadz Khalid masih bungkam tentang masalah itu," ucap santri itu berbisik melalui telpon. 


"Mbak, tolong segera transfer uang yang Mbak janjikan. Saya tidak bisa menunggu lama lagi. Hari ini, saya sudah memberikan bubuk itu kepada pihak dapur, supaya di masukkan kedalam minuman Mbak Gwen,"


"Apa? Bubuk supaya sulit hamil?" 


"Mbak, saya tidak peduli apa yang hendak Mbak lakukan. Tapi dengan membuat seseorang celaka, apakah--" ucapannya terputus. 


"Maaf, saya tidak akan banyak bicara lagi, Mbak. Assalamu'alaikum," tutup santri itu. 


Segera santri itu keluar dari balik semak-semak dan segera kembali ke pesantren lagi. Beberapa detik selanjutnya, munculah Gwen dari arah yang sama. Gwen telah mendengar semua yang dikatakan oleh santri itu. 


"Makanan? Kenapa aku tidak menyadari ini?" gumamnya. 


"Sudah berapa lama Syifa melakukan ini padaku? Aku … Jika aku tidak bisa hamil sungguhan karena racun itu, awas saja Syifa. Kamulah yang akan menjemput karmamu sendiri dari tanganku!"


Gwen kembali ke rumahnya. Ia menggunakan beberapa dasar pelajaran sebagai ahli racun yang sudah ia pelajari dari kediaman Hao, keluarga Feng. 


"Baik, tinggal satu bahan untuk menjadi bahan lagi supaya bisa memeriksa kadar racun dalam racun yang Syifa berikan," katanya dengan merapikan kembali racun-racun miliknya kedalam sebuah plastik. 


Tidak lama kemudian, datanglah seorang santri membawakan makanan untuknya. Gwen menduga bahwa makanan itulah yang sudah ditaburi bubuk racun seperti yang dikatakan oleh santri sore itu. 


"Assalamu'alaikum, Mbak. Ini ada camilan dari dapur. Anak dari kepala dapur hari ini sedang ulang tahun, jadi beliau mengirimkan makanan ini kepada Anda, Mbak Gwen. Silahkan di coba," ucap santri itu.


"Baik, terima kasih. Tolong sampaikan rasa terima kasihku juga kepada kepala dapur. Saya menyukai kue ini, kamu mau coba?" terpaksa Gwen memakannya. 


Jika ingin membuat musuh percaya bahwa Gwen akan kenapa-napa, terpaksa Gwen memakan kue itu sampai habis. Ia memakan sedikit dan pura-pura merasa sedikit pusing. 


"Hm, enak sekali. Rugi kalau kamu tidak mencobanya," ucap Gwen kembali menawarkan kue-nya. 


"Tidak, Mbak. Saya sudah makan tadi, Mbak habiskan saja. Saya akan membawa kembali nampan ini. Assalamu'alaikum," santri itu terlihat terburu-buru hendak kabur. 


Apa yg akan dilakukan Gwen, apakah racun  itu akan berpengaruh? 


Maaf dikit dulu, next bab akan up besok. Double bab.