Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Detik Sebelum Acara



Aisyah dan Dishi menikmati jalan-jalan berdua sebelum resepsi malam nanti. Dia membeli banyak sekali barang-barang yang nantinya akan ia berikan juga kepada Bora dan Tuan Jin.


"Bagaimana? Sudah puas membeli pernak-perniknya?" tanya Dishi.


"Hehe, sudah. Aku juga sudah kenyang, setelah ini, kita mau kemana?" Aisyah sangat senang karena suaminya begitu memanjakannya.


"Kita akan pergi ke suatu tempat. Ayo, sebelum gelap menjemput, kita harus segera pulang. Jadi, kita harus sampai cepat di tempat itu," ucap Dishi, menggenggam erat tangan istrinya.


Berlarilah mereka seperti dua remaja yang sedang dimabuk cinta. Mereka masuk ke mobil dan menuju tempat yang dikatakan oleh Dishi. Tempat itu tidak jauh dari Kota. Jadi, waktu juga akan banyak yang tersisa sampai malam nanti tiba caranya.


Sesampainya di sana, Aisyah merasa heran mengapa suaminya membawanya ke gedung yang menjulang tinggi di pinggir Kota. "Gedung ini milik Wang group. Suatu saat nanti, akan menjadi milik keturunan Wang yang lain. Mungkin bisa anak dari Tuan Chen, atau mungkin salah satu dari keturunan Wang yang lainnya," terang Dishi.


Kembali Dishi menggenggam tangan istrinya dengan erat. Lalu, mengajaknya masuk dengan pelan. Mengenalkan seluruh ruangan yang ada pada gedung tersebut. Gedung itu adalah kantor pusat yang selama ini di incar banyak sekali musuh keluarga Wang.


Bangunan yang megah di dalam itu membuat Aisyah begitu takjub. Memang dari luar terlihat begitu menyeramkan, namun di dalamnya penuh dengan furnitur yang begitu fantastis harganya.


Hingga sampailah mereka ke atap. Meski di atap, tapi Dishi sedang berusaha menunjukkan betapa indahnya pemandangan dari sana. "Duduklah, kita menikmati pemandangan indah dari sini, berdua--" ajak Dishi dengan mengulurkan tangannya.


"MasyaAllah, indah sekali pemandangan dari atas sini," ucap Aisyah takjub.


"Benar," sahut Dishi. "Setiap kali aku lelah setelah bekerja keras, aku selalu datang ke sini. Tempat ini hanya milikku, Sayang. Jadi, tidak ada siapapun yang bisa masuk ke area ini," terangnya.


"Ini kunci pintu tadi. Aku akan serahkan kunci ini kepadamu," lanjut Dishi, memberikan sebuah kunci kepada istrinya.


"Kenapa diberikan padaku? Bukankah ini adalah tempatmu?" tanya Aisyah heran.


"Milikku, berarti milikmu juga. Siapa tahu, di saat aku pergi jauh nanti, untuk sebagai pengobat rindumu, kamu bisa datang ke mari," ucap Dishi menggenggam tangan Aisyah dengan erat.


Aisyah merasa aneh saat Dishi mengatakan itu. Tapi, tak ia hiraukan karena pada saat itu, dirinya sedang bahagia. Sayangnya, kebersamaannya dengan suami di atas bangunan hanya terbatas. Mereka harus segera kembali karena harus membantu yang lainnya menyiapkan resepsi pernikahan Chen dan Lin Aurora di malam nanti pukul 9 malam.


Tiba di rumah, Chen langsung menyambut kedatangan adik kesayangannya itu. Namun, Aisyah menolak pelukannya. Chen pun sedikit murung.


"Kenapa kau menolak pelukanku? Aku sangat merindukan dirimu, Ai," ucap Chen.


Aisyah masih membuang muka.


"Aku rela kehilangan harta bendaku, tapi aku tidak mau kehilangan senyumanmu untukku. Ai, kenapa marahmu sangat lama?" lanjut Chen.


"Ai, bahkan Puspa dan Lin Aurora saja sudah sampai berteman. Masa kamu mau mendiamkan aku. Tidak enak di diamkan kamu seperti ini_"


Ucapan Chen membuat Aisyah sakit telinga. Dia pun kalah dan akhirnya memeluk sang kakak dengan pelukan kasih sayang. "Sudahlah, aku tidak marah padamu. Aku hanya sedikit kesal saja, jadi jangan sedih seperti ini, dong!" seru Aisyah menepuk-nepuk bahu Chen.


"Kau tidak marah lagi?" tanya Chen.


Aisyah tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Kemudian, Aisyah juga mengeluarkan nomor Chen dari daftar kontak hitam yang ada di ponselnya. Sangat bahagia rasanya jika Aisyah sudah memaafkan Chen dalam waktu yang lama.


"Lihatlah, Chen ini sangat berbeda. Jika di depan istri dan keluarga lain, pasti selalu arogan, menyebalkan dan dingin sekali. Tapi dengan adiknya …. Ckckck, seperti anak kucing yang haus akan sentuhan," ledek Tuan Wang.


"Bagiku, Aisyah dan Gwen adalah segalanya. Bahkan adik kecilku Rif, Rif, Rif …," ucapan Chen terhenti karena sulit mengucapkan nama Rifky.


"Rifky," sela Aisyah.


"Ah, iya. Aku rela mati demi meraka. Jadi, Lin Aurora. Kau jangan senang dulu, cinta suamimu masih terbagi dengan ketiga adiknya. Jangan cemburu kepada mereka juga," celetuk Chen.


Semua orang pun tertawa.


Sebelum pernikahan, memang keluarga ini sing tertawa bersama dengan canda rianya. Masih belum ada tanda-tanda negatif dari musuh. Mereka juga sudah bersiap ke gedung pernikahan malam itu. Mobil yang dikendarai Tuan Wang, berisikan Nyonya Wang, Yusuf dan juga Rebecca.


Sedangkan Aisyah, Dishi, Puspa dan juga Mas Ijal berada di mobil lain. Begitu juga dengan Chen dan Puspa. Jovan harus di tinggal karena keadaannya belum pulih sepenuhnya.


"Pasti acaranya akan mewah, ya? Lihatlah pakaian yang kita kenakan ini. Serba hitam seperti mau melayat saja," Aisyah sampai heran dengan pakaian yang ia kenakan.


"Bayangkan saja, kita makan steak mengenakan baju putih. Maka jika baju kita terkena noda, akan sulit membersihkannya," sahut Dishi dengan candaan.


Mas Ijal ikut tertawa. Tapi tidak dengan Puspa yang sejak tadi berangkat hanya diam saja. Dia hanya menunduk dan tidak tahu apa yang dipikirkannya.


"Puspa, kamu kenapa?" tanya Aisyah. "Kulihat, sejak tadi kamu terus saja murung. Ada apa?" lanjutnya.


"Um, tidak ada masalah. Aku hanya gugup saja. Pernikahan yang kita hadiri, bukan seperti pernikahan pada umumnya di tempat kita. Jadi, aku gugup bertemu dengan orang baru," jawab Puspa ragu.


Meski jawaban Puspa adalah jawaban yang tepat, tapi Aisyah merasa jika jawaban itu bukanlah jawaban sepenuhnya yang hendak Puspa katakan.


Tak lama kemudian, sampailah mereka ke gedung tersebut. Segera mereka mengambil peranan mereka yang sudah di atur oleh Chen dan Lin Aurora.


Ketika Aisyah masuk, dia merasa ada yang tidak beres dengan resepsi yang diadakan malam itu. Selain diadakan malam sekali, pernikahan itu juga nampak tenang dengan wajah tegang dalam setiap tamu undangan.


"Sayang, kita masuk dulu di ruang istirahat. Aku ingin bicara hal penting kepadamu," ajak Dishi dengan berbisik.


Aisyah mengangguk. Dishi membawanya ke ruangan tertutup. Di sana hanya satu ranjang besar nan mewah dengan furnitur unik.


"Sayang, kamu harus pakai ini," ucap Dishi memberikan senjata di lengan Aisyah. "Belati ini juga jangan sampai kamu lepas. Dan ini, racun yang mematikan. Gunakan saat dibutuhkan saja. Ini adalah penawar segala racun, hanya sedikit, jadi jangan gunakan jika tidak diperlukan," ucap Dishi dengan memasang dan memberikan benda yang ia sebutkan sebelumnya.


"Soal dress kamu malam ini, memang sudah sangat bagus. Kami sangat cantik, Aisyah. Tapi, bisakah kamu mengganti pakaianmu?" lanjut Dishi.


Aisyah semakin tidak paham kenapa suaminya bersikap aneh malam itu.