
"Apa? Lalu, kau izinkan dia menginap di rumah temannya?" tanya Chen kepada Jovan dengan ketus.
"Hah, dia sudah berada di gang rumah temannya itu. Jika dia kembali setelah mengantar temannya pulang, aku takutkan ada bahaya yang mengincarnya," jelas Jovan.
"Darimana kau tau jika tempat itu berbahaya. Apa kau memang suka membuatku marah-marah tidak jelas begini, Jovan?" cetus Chen.
"Astaga, kau marah karena perbuatanmu sendiri. Kenapa harus menuduhku? Aku pernah datang ke tempat itu, dan aku tau situasinya. Sudahlah, kita istirahat dan besok baru kita pulang!" Jovan tidak mau kalah dengan nada bicara Chen yang keras.
Chen terdiam sejenak. Kemudian, dia meraih mantelnya dan pergi begitu saja. Dia juga mengambil kunci mobilnya dan melempar kartu kreditnya ke tubuh Jovan. "Kau pulang sendiri!" ketusnya dengan menutup pintu.
BLAM!!
"Haih, cinta memang merubah segalanya. Apa hanya kau yang baru mengalami jatuh cinta, hah! Bisa-bisanya orang setampan diriku di tinggal begitu saja," Jovan menggerutu.
"Sudahlah, aku malas meladeni orang yang sedang kasmaran. Sebaiknya aku tidur dan menikmati malamku sendirian di sini," gumamnya dengan memeluk bantal yang ada di sebelumnya.
Terbesit dalam ingatannya, bahwa Lin Jiang akan menikah esok hari. Jovan pun kembali membuka matanya dan bersiap untuk kembali ke Seoul malam itu. Tentunya, dia akan memesan taksi karena Chen sudah pergi lebih dulu.
"Ahh, benar-benar hidup dewasa sangat rumit. Tahu seperti ini kehidupan orang dewasa, aku akan lebih betah menjadi anak kecil terus. Di mana aku aku dengan Chen dan juga Feng selalu bertengkar tanpa memikirkan hal lain lagi!"
Semenjak putus cinta, Jovan menjadi lebih berbeda. Dia sedikit teledor dan gampang frustasi. Begitu besar cinta yang tertanam kepada Lin Jiang, sampai move on pun susah.
Malam itu, akan menjadi malam terakhir bagi Jovan bisa leluasa bertemu dengan Lin Jiang. Jika dia memang tidak memiliki Lin Jiang seutuhnya, maka malam itu Jovan harus bicara untuk membuat Lin Jiang kembali padanya, meski tanpa menikah. (Sama aja)
Di sisi lain, Chen juga mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia terus mengumpat terhadap istrinya karena tidak mau mengubungi dirinya. Bagi Chen, Lin Aurora bersalah karena selalu menghubungi Jovan daripada dirinya.
"Dia tahu nomorku, Kenapa yang terus dia hubungi itu adalah Jovan. Kenapa dia tidak menelepon atau mengirim pesan padaku? Bukankah aku ini adalah suaminya?"
"Lihat saja bagaimana aku akan menghukummu, Lin Aurora!"
Dari luar kota membutuhkan — 4.1 jam atau 243.8 menit dengan Everton rata-rata 80km/jam. Chen akhirnya sampai di navigasi yang Jovan berikan. Malam itu, tepat tengah malam Chen membuka kontak ponselnya dan mengirim pesan kepada istrinya.
[Apa kau sudah tidur?] -, begitu pesan yang Chen kirim kepada Lin Aurora.
Saat itu, Lin Aurora baru saja merapikan tempat untuk tidur. Rumah Sachi memang tidak besar, tapi sangat bersih dan tertata rapi. Jadi, tidur di sofa saja, Lin Aurora sudah merasa nyaman.
Kling ….
Suara notifikasi masuk. Ternyata, notif itu adalah pesan dari Chen. Membaca nama Chen yang mengirim pesan, membuat Lin Aurora terkejut tidak percaya.
"Hah? Chen? Chen … mengirimku pesan?"
"Demi apa? Apakah langit akan runtuh?"
"Tidak!"
"Ini tidak mungkin!"
"Apa aku sudah di alam mimpi?"
Lin Aurora sampai mencubit pipinya untuk memastikan jika yang mengirim pesan adalah suaminya sendiri.
"Aw, sakit__"
"Ternyata bukan mimpi, ya? Untuk apa dia mengirim pesan padaku?"
Lin Aurora terus bingung antara membuka pesan tersebut atau tidak. Tangannya sampai gemetar saat memegang ponselnya. Saking gemetarnya, jempol Lin Aurora tidak sengaja membuka pesan itu.
"Apa kau sudah tidur? Heh, apa maksudnya? Apa dia merindukan aku?" Lin Aurora mulai girang.
Begitu membalas, Chen menyeringai. "Bodoh!" umpatnya. Chen bisa melacak dari pesan yang dikirim oleh istrinya itu. Tidak lama kemudian, Chen bisa menemukan tempat dimana istrinya berada.
"Ini tidak jauh dari sini. Sebaiknya aku cepat menjemput dia pulang," gumam Chen, berlari ke arah tujuan.
Di sisi Lin Aurora, dia bingung dengan suaminya. Membuka pesan, tapi tidak membalasnya. Takutnya, Chen sudah tidur dan belum mengeluarkan layar dari aplikasi pesan.
"Apa dia tanpa memencet tombol home, ya? Bisa-bisanya …," gumamnya.
Tidak lama kemudian, ada suara orang mengetuk pintu rumah Sachi. Malam itu, Sachi masih ada di dalam kamar mandi. Lin Aurora mengingat ucapan Sachi yang dimana setiap malamnya, di area gang rumahnya selalu ada orang jahat yang berkeliaran.
"Apa itu orang jahat? Bukankah Sachi hanya tinggal sendiri? Tapi, siapa tahu itu adalah keluarganya? Haduh, Sachi lama sekali di dalam sana. Dia ngapain saja, sih?" Lin Aurora panik sendiri.
Ketukan pintu itu, semakin lama semakin keras. Membuat Lin Aurora semakin panik dan takut jika orang itu adalah orang jahat. Sampai dimana, Sachi keluar dari kamar mandi.
KLEK!
Sachi keluar dari kamar mandi. Lin Aurora berlari menghampirinya dan mengatakan jika ada yang mengetuk pintu di depan. Sachi menengok ke arah jam dinding.
"Siapa yang datang di waktu tengah malam seperti ini?" gumamnya.
"Ya siapa? Kenapa bertanya kepadaku? Ya aku tidak tahu lah!" saking paniknya, Lin Aurora sampai membentak sahabatnya.
"Hish, aku tidak bertanya padamu. Aku hanya bergumam saja. Ayo, kita lihat siapa yang datang," ucap Sachi menyeret tangan Lin Aurora.
"Tidak!"
"Tidak, tidak, tidak!" tolak Lin Aurora dengan wajah ketakutan. "Bagaimana jika yang di luar itu adalah orang jahat? Aku tidak mau terluka, karena aku sudah muak untuk terluka," celetuk Lin Aurora dengan menggerakkan lubang hidungnya kembang-kempis.
Sachi pun melepaskan tangan Lin Aurora. Kemudian berjalan ke gorden dan mengintip dari jendela. Siapa yang mengetuk pintu rumahnya malam-malam.
Saat melihat jika orang itu adalah Chen, Sachi langsung menganga tak bisa berkata apapun. Lin Aurora menjadi semakin panik ketika melihat kondisi sahabatnya tersebut.
"Hey, ada apa denganmu?" tanya Lin Aurora menepuk-nepuk bahu Sachi. "Sachi! Ada apa? Siapa yang datang?"
"Apakah dia seorang penjahat?" tanya Lin Aurora mulai menebak.
Sachi menggeleng.
"Apakah dia rentenir?"
Sachi menggeleng kembali.
"Apakah hantu?" lanjut Lin Aurora.
Kembali Sachi hanya menggeleng, membuat Lin Aurora menjadi kesal. Di tampar sekerasnya pipi Sachi, baru dia bisa bicara jika yang ada di depan pintu rumahnya adalah Chen, pemilik dari perusahaan dimana dirinya bekerja.
"Tuan Muda Wang!"
Saking tak bisa bicara dan tersadar saat Lin Aurora menempuh bahunya, Sachi sampai berteriak kala menyebut nama Chen.
"Jovan?" tanya Lin Aurora. "Iya, Jovan? Buat apa sih dia datang kemari?"
Sachi mengggeleng dan memberi kode tangan seperti melambai, guna menjawab jika bukan Jovan yang datang. Suasana panik semakin menjadi panik, dan Lin Aurora malah sibuk membuka pintu tanpa mendengar dulu penjelasan sahabatnya.
Hayoo... Nungguin ya
chek typo ya kak... maaf gak nyaman bacanya.