Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Dilamar Tiba-tiba



Malam setelah membahas liburan, Gwen dan Aisyah makan bersama di depan tv ruang tengah. Sambil mencari pekerjaan yang tepat, Gwen menanyakan kepada Yusuf tentang keluarganya yang di Korea. 


"Yang kamu tanyakan siapa? Paman Hamdan atau Paman Gu?" tanya Yusuf.


"Paman Gu lah, Yah. Dia seorang Presdir, bukan? Kali aja aku bisa bekerja di perusahaannya yang di Korea sana," ujar Gwen. 


"Mami tidak setuju kamu ke Korea. Kamu harus terusin bisnis Mami di Australia," sahut Rebecca dari dapur. 


"No! Please, i want to work somewhere else first. That's called effort, Mi!" tolak Gwen. 


"Bu, yang dikatakan Gwen ada benarnya. Biarkan dia bekerja di lain tempat dulu, jadi dia tau yang dinamakan usaha dari bawah." sahut Yusuf. 


Rebecca tetap kekeh meminta kepada putri bungsunya untuk meneruskan usahanya yang ada di Australia. Gwen menjadi marah dan masuk ke kamarnya. Yusuf meminta Aisyah untuk membujuk Ibunya, agar mau mengizinkan Gwen ke Korea bertemu dengan Gu di sana. 


Akan tetapi, Aisyah menolak. Ia tak akan lagi membujuk Ibunya demi Gwen. Sebab, Aisyah ingin Gwen sendiri yang berjuang mendapatkan izin dari sang Ibu. Di sisi lain, Aisyah juga tak ingin Gwen salah paham dengan kasih sayang Ibunya kepadanya. 


"Maaf, aku tak ingin ikut campur. Aku tak ingin Gwen semakin salah paham denganku. Ayah, kuharap Ayah paham apa maksudku," ujar Aisyah dengan nada yang rendah. 


"Baiklah, biarlah nanti Ayah yang membujuk Ibumu. Ayo, kamu makan lagi. Ayah juga masih sibuk menghitung ini." Yusuf mengalah, selalu mengalah dengan keegoisan Gwen dan juga istrinya yang sama-sama besar. 


Ibu dan anak ini, memiliki sifat yang sama. Keras kepalanya dan juga emosinya yang tinggi pun memiliki kesamaan. Maka, pasangan Ibu dan anak ini susah untuk bisa sejalan, karena selalu bertentangan. 


~~


3 bulan selalu bersama. Diantara Aisyah, Gwen dan Raza belum menemukan titik cinta yang sesungguhnya. Mereka bertiga sama-sama akan dan selalu membantu satu sama lain. 


Hari terakhir Reza bekerja dengan Airy. Kontrak yang dijalankan tinggal menunggu beberapa hari lagi. Setelah itu, Reza sendiri juga tidak tahu dirinya akan bertemu lagi dengan si kembar tak identik itu. 


Malam di kamar Reza. Ia juga akan bersiap kembali ke luar negri dimana ia akan membawa Ibunya tinggal di sana. Tak ada lagi tempat aman bagi Ibunya di Kota itu. 


"Tujuanku adalah negri jiran. Di sana, Ibu tidak akan kesepian karena ada Bibi selaku adiknya yang akan selalu menemaninya," gumamnya sembari menatap langit-langit kamarnya. 


Raza mengirim pesan singkat kepada Gwen, bahwa ia akan menemaninya ke Tiongkok karena dirinya. Raza juga mengatakan bahwa dirinya hanya bisa menemaninya dalam dua hari saja. Setelah itu, baru ia akan kembali ke Jogja dan mengantar Ibunya ke Malaysia. 


Mendapat pesan itu, tentu saja membuat hati Gwen girang. Ia akhirnya bisa membujuk Reza yang sulit dibujuk untuk mengikutinya sampai ke Tiongkok. Sementara itu, Aisyah sedang merampungkan tugasnya dan memberikan kabar kepada Chen bahwa dirinya akan menjemputnya ke Tiongkok dalam waktu dekat. 


"Apa? Kalian akan menjemputku? Kenapa? Apakah ada sesuatu yang terjadi pada orang tua kita?" tanya Chen. 


"Apa kau akan menunggu ada sesuatu yang terjadi, Kak? Sudahlah, ini sudah lebih dari 3 bulan, aku sudah tidak bisa menahannya lagi untuk kita bisa berkumpul," jelas Aisyah. 


"Entah kenapa aku selalu tidak bisa menolakmu. Baiklah, kabari aku jika kalian sudah sampai. Ayah angkatku juga pasti senang bertemu dengan kalian." 


Lampu hijau telah diberikan oleh sang sulung. Aisyah memberitahu Gwen jika Chen setuju untuk misi terakhirnya itu. Gwen sendiri juga memberikan kabar bahwa Raza setuju untuk ikut besama mereka dengan syarat hanya akan dua hari saja.




Hari yang di tunggu telah tiba. Gwen dan Aisyah masih menunggu Reza di Bandara. Saat itu, Aisyah minta izin untuk ke toilet lebih dulu kepada Gwen. 



"Aku ke toilet dulu, kamu tunggu Pak Raza di sini, ya. Jangan kemana-mana!" seru Aisyah. 



"Iya, beres dah. Kakak pikir aku anak kecil apa, yang harus diperingati enggak boleh kemana-mana?" ketus Gwen. "Aku bisa jaga diri kok. Tenang aja, bunuh orang aja berani, apalagi--"



"Stt, jangan diteruskan. Selalu aja kamu bahas beginian di tempat umum. Udah ya, aku udah kebelet, nih. Assalamu'alaikum."



"Wa'alaikumsallam." jawab Gwen. 



Tak lama setelah Aisyah meninggalkan Gwen, seorang lelaki tak sengaja menabrak Gwen hingga tasnya terjatuh. 




"Santai saja. Buru-buru, ya? Nggak baik tau melakukan hal dengan terburu-buru," ujar Gwen menepuk bahu lelaki itu.



"Astaghfirullah hal'adim," ucap lelaki itu sedikit menjauh dari Gwen. 



"Buset, nggak nyentuh Malih. Kamu kira saya ini setan, apa? Di istighfari pula!" seru Gwen. 



"Saya sedang menjaga wudhu saya." jawab lelaki itu. 



Lelaki itu meminta maaf untuk yang kedua kalinya. Namanya adalah Agam Fauzan, berusia 25 tahun, seorang ustadz di daerah ia tinggal. Ia meminta bantuan kepada Gwen untuk membantunya membuat Ibunya senang, saat itu Ibunya sedang sakit di rawat di salah satu rumah sakit Kota di Tiongkok. 



"Ya kalau minta bantuan mah oke-oke aja. Tapi lihat mata saya ngapa! Masa ngobrol nggak melihat mata orang yang diajak ngobrol, sih?" Gwen mengintip-intip wajah Agam dengan seksama. 



"Tapi saya sedang menjaga pandangan saya dari wanita yang bukan mahram saya. Maafkan saya," jawab Agam dengan cepat. 



"Buset dah. Mas, saya bisa bantu gitkalau saya bisa bantu nih, ya. Tapi kan seenggaknya gitu, lihat saya kek kalau bicara. Sedikit aja, ya kali aja lihat mata saya Mas-nya jadi jatuh cinta sama saya, misalnya gitu." celetuk Gwen. 



Agam menghela nafas panjang kemudian ia berbalik secara perlahan dan menatap mata indah Gwen. Ternyata yang jatuh cinta pada pandangan pertama bukanlah Agam sendiri, melainkan keduanya saling berpandangan dan saling terikat satu sama lain detik itu. 



"Ya Allahu Ya Rabb, sungguh indah syekali Lee, ciptaan-Mu," gumam Gwen dalam hati. 



Agam langsung memalingkan pandangannya. Ia bertanya dimana tujuan Gwen akan pergi, setelah Gwen menjawab ke tujuan yang sama, Agam yakin jika Gwen lah wanita yang dikirimkan untuknya. 



"Iya terus Mas minta bantuan saya itu, minta bantuan yang seperti apa?" tanya Gwen seperti orang yang sudah dewasa sekali. 



"Hal tatazawajani? Sa adhzillu uhibbuka wa in thoola intidhzor fa in lam takun qodri faqod kunta ikhtiyaari," ucap Agam penuh harap. 



"Bahasa Arab? Kenapa harus pakai bahasa Arab, sih? Aku mana paham, Mas!" Gwen sungguh terkejut ketika Agam melamarnya kala itu. 



"Maukah kamu menikah denganku? Aku akan selalu mencintaimu walaupun penantian itu begitu lama jika engkau memang bukan takdirku, maka aku bahagia telah memilihmu," sahut Raza yang baru saja sampai. "Itu yang dia katakan." jelasnya. 



Gwen merasa bingung, tiba-tiba ada pria sholeh yang melamarnya saat itu juga ketika hendak terbang ke Tiongkok. Diketahui, Aisyah juga  bingung menyaksikan Agam melamar Gwen saat itu. Bagaimana reaksi Gwen, dan apa jawabannya?



Sedikit kisah dari sahabatku, dia dilamar oleh seorang pria yang tidak diketahui dan tidak dikenal. Sahabatku sudah lelah disakiti pria, akhirnya dia menerima pinangan pria asing itu. Ternyata, pria itu adalah seorang ustadz yang memiliki latar belakang yang hebat. Bayangkan betapa beruntungnya dia.