Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Kesalahan pahaman Gwen



Usai menjalankan kewajiban dua rakaat. Mereka antri mandi dan segera sarapan, dimana itu adalah masakan Pak Raza, tapi diakui oleh Gwen. 


"Makan, aku yang masak!" Gwen sangat bersemangat mengambilkan masing-masing sarapan. 


"Tapi kamu kan nggak bisa masak Gwen. Jadi curiga kalau masakan orang lain," Aisyah melirik kearah Pak Raza. 


"Ini masakan aku, aku belajar dari Pak Raza. Bukan begitu, Pak?" Gwen mengedipkan matanya berkali-kali. 


Rafa terus menatap Pak Raza, kemudian menatap Gwen dengan seksama. Ada hal yang membuat Rafa tersenyum mengingat keduanya bertingkah lucu di dapur. 


"Lain kali … kalau mau masak jangan berdua ya. Em, nanti cup cup cup itu terulang lagi, dan itu nggak boleh terjadi. Kalian belum jadi mahram, oke? Semangat mengajari Gwen, Pak Raza." ucap Rafa dengan senyuman mencurigakan.


Aisyah dengan segala tatapan penuh laser hijau, langsung menatap adiknya dan guru pembimbingnya itu. Pernah dengar kisah orang tuanya, dimana sangat Ibu pernah mencium lebih dulu Ayahnya, Aisyah menduga jika Gwen melakukan yang sama. 


"Gwen …,"


"Jujur, atau ingin kujadikan perkedel setelah sarapan ini?" desis Aisyah.


"Kok hanya aku? Aku kan berdua dengan Pak Raza, kenapa Pak Raza juga nggak di tanya!" Gwen mulai membela diri. 


"Oh, Gwen … kau ingin sapu atau pisau yang yang melayang. Kakakmu ini bisa menggunakan kekuatan sihir itu, loh. Kau mau lihat!" Aisyah menggebrak meja dengan tatapan mata masih mencurigai. 


"Astaga, eh, astaghfirullah hal'adzim. Kenapa pula kudu aku. Bang Rafa ini profokator sekali, ap--" belum juga Gwen membela diri, Aisyah langsung menyomot lauk pauk yang ada di piring adik nakalnya itu.


Kemudian, Aisyah memakan lauk tersebut hingga Gwen membuat keributan. Hal yang sama Aisyah Putri Handika dulu lakukan ketika adiknya membuat masalah. Aisyah, sang nenek, dulu akan menghukum Akbar, Hamdan dan Syakir menyalin semua surah dan setor hafalan. 


"Apa? Hafalan? Aku man--"


"Dilarang protes, atau setelah kita pulang ... uang jajanmu, aku potong selama sebulan? Pilih salah satu!" tegas Aisyah. 


"Dok ...,"


"Diam! Makan sarapanmu!"


Ketika Pak Raza hendak memberi Gwen pembelaan, Aisyah malah menyuruhnya untuk diam dan melanjutkan sarapannya. Entah tersihir mantra apa, Pak Raza patuh begitu saja. 


Sementara Chen, sibuk dengan pekerjaannya dan tidak sarapan bersama. Aisyah meminta Gwen untuk menyiapkan sarapan untuk Chen. 


"Kenapa harus aku? Kau kan adik kesayangan," tolak Gwen. 


"Gwen ...." suara lembut Rafa memang sangat ampuh membuat Gwen luluh.


"Baik, kakakku yang ganteng tapi jomblo," ledek Gwen membawakan teh hangat untuk Chen. 


Sementara itu, Rafa berpamitan akan keluar lebih dulu setelah sarapan. Tinggallah Pak Raza dan Aisyah di meja makan. Mereka hanya diam menikmati sarapannya. 


Sampai pada akhirnya, Aisyah selesai makan dan hendak membawa piring kotor ke dapur untuk di cuci. Namun, dihalangi oleh Pak Raza yang tak sengaja menyentuh tangannya. 


Sontak, membuat keduanya langsung menarik tangannya masing-masing dan membuat tangan Aisyah menyenggol gelas miliknya sendiri. "Astaghfirullah hal'adzim." ucap keduanya. 


Tar! 


Suara gelas jatuh dan pecah. 


"Astaghfirullah, maaf, Pak Raza saya kaget tadi saat Pak Raza tak sengaja menyentuh tangan saya," ucap Aisyah dengan lembut. 


"Sudahlah, dokter. Biarkan saya yang membereskan semuanya. Dokter istirahat saja dulu, lengannya harus di ganti perban, bukan?" Pak Raza juga lebih lembut dalam bertutur sapa. 


"Maafkan saya, Pak Raza. Saya selalu merepotkan anda," Aisyah tersenyum manis memperlihatkan lesung di kedua sisi bawah bibirnya.


"Pak Raza tak pernah tersenyum manis seperti itu ketika bersamaku. Tapi, dengan Kak Aisyah ...? Hm, tak perlu diragukan lagi. Wanita cantik ini memiliki hati yang lembut, tak seperti diriku," batin Gwen dengan tatapan murung. 


"Kenapa bisa pecah?" tanya Gwen membuat Aisyah dan Pak Raza menoleh ke arahnya. 


"Oh, aku menyenggolnya. Tolong, kau ambilkan a--"


"Jika tak bisa jangan dipaksa! Jangan berusaha menjadi wanita sempurna. Biarkan aku yang membersihkan. Sebaiknya kau istirahat saja di kamar," ucap Gwen dingin. 


"Dan kamu, Pak Raza. Sebaiknya kamu tunggu aku di depan, kita segera belajar dan menyelesaikan pekerjaanmu sebagai guru pembimbingku." tukas Gwen. 


Aisyah dan Pak Raza saling menatap. Tak lama kemudian, tangan Gwen terluka karena pecahan gelas tersebut. "Aduh." desisnya. 


"Gwen, kamu terluka?" Aisyah menyentuh jari adiknya yang terluka itu. 


Namun, Gwen malah menampik tangan Aisyah seraya berkata, "Jangan sentuh aku, ini hanyalah luka kecil! Untuk apa kau peduli denganku, kak?" 


Tentu saja jawaban itu membuat Aisyah dan Pak Raza terkejut. Tak ada yang salah jika AIsyah mengkhawatirkan adiknya. 


"Gwen, aku kan bertanya secara baik-baik. Kenapa kamu semarah ini menjawab pertanyaanku? Apakah ada salah dipertanyaanku?" tanya Aisyah berusaha menyentuh bahu Gwen. 


Lagi-lagi Gwen menepis tangan Aisyah dengan wajah yang menyulut. Rupanya, Gwen cemburu kepada saudarinya, karena mampu membuat Pak Raza nyaman dengannya. 


"Ada apa, sih?" Chen datang dan mencarikan suasana. 


Aisyah menjelaskan kenapa Gwen sampai terluka dan tidak mau dibantu. Kemudian, Chen meminta Pak Raza untuk membereskan pecahan gelas tersebut dan membawa gwen pergi bersamanya. 


"Ada apa dengan, Gwen?" batin Aisyah seraya membantu Pak Raza memungut pecahan gelas tersebut. 


"Dokter, biarkan saya saja. Bukankah dokter harus banyak istirahat? Ayo, sebaiknya ke kamar dan istirahatlah, biarkan ini menjadi pekerjaan saya," Pak Raza hanya bersikap normal seperti biasa saja. 


Sebab, memang tidak ada apapun diantara keduanya. Mereka hanya saling tersenyum saja. Semua itu karena Gwen cemburu dengan kakaknya yang mampu membuat Pak Raza tersenyum. 


Sementara itu, Gwen masih memasang wajah jutek saja ketika Chen membalut lukanya. "Ada apa, sih? Kenapa kamu seperti ini?" tanya Chen dengan menyentil hidung Gwen. 


"Kak Chen!" seru Gwen. 


"Hm?"


"Jika diantara aku dan Kak Aisyah dalam bahaya, siapa yang akan kamu selamatkan dulu? Aku ... atau Kak Chen?"


Jelas saja, pertanyaan itu membuat Chen terkejut. Pasalnya, dirinya tak akan memilih salah satu dari kedua saudarinya. Ia begitu mencintainya kedua, maka dari itu, Chen tak bisa jika harus membedakan antara keduanya.


"Pertanyaan seperti apa itu, Gwen?" tanya Chen dengan menyeritkan alisnya. 


"Jawab saja, Kak Chen ...," 


Chen terdiam sejenak, menyelesaikan pengobatan Gwen dengan baik. Kemudian, dia duduk di samping Gwen dan merangkul pundaknya. 


"Kalian adikku. Jika aku tidak bisa menyelamatkan keduanya dengan bersamaan, makan aku yang akan mengorbankan nyawaku untuk kedua saudariku," jawab Chen dengan senyuman. 


"Kenapa harus mengorbankan nyawamu?" tanya Gwen dengan mata berkaca-kaca. 


"Aku menyayangi kalian berdua, juga Ibu dan Ayah. Kalian semua adalah kehidupanku. Jika diantara kalian tidak terselamatkan ... atau kalian berdua sampai terluka dan meninggalkan dunia ini, percayalah! Aku tak mampu hidup lagi, aku juga tak bisa melihat air mata kedua orang tuaku mengalir dengan wajah sedihnya." ungkap Chen membelai rambut Gwen dengan penuh kelembutan. 


Jangan sampai persaudaraan terputus hanya karena sebuah kesalahan. Namun hapuslah sebuah kesalahan demi utuhnya persaudaraan. Sebab, sejauh apapun kaki melangkah, tetap saja, keluarga dan saudara lah yang siap menjadi bahu untuk bersandar.