Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Bahasa Qolbu



"Assalam … mu'alaikum, kalian lanjutkan saja. Masih lama kok acaranya, hehe … kabur!" setelah mengganggu Raditya kabur begitu saja. 


Kembali membuat Agam menjauh dari tempat duduknya. Agam masih canggung saat berdua dengan Gwen meski Gwen sudah menjadi istri sah-nya. "Em, sebaiknya saya … em, saya--"


"Mas Agam gugup? Tenang aja, masing-masing dari kita masih membutuhkan waktu. Ayo sebaiknya kita keluar menemui keluarga," ajak Gwen dengan senyuman tipis. 


"Dek," panggil Agam dengan lembut.


"Iya, ada apa?" 


"Kamu … MasyaAllah, kamu cantik hari ini. Terima kasih kamu mau memakai syar'i meski itu bukan gaya berpenampilan kamu yang sebenarnya. Saya menyukainya," ucap Agam dengan lirih. 


"Astaga, aku memang cantik dari lahir. Tapi kenapa saat Mas Agam yang mengatakan itu … jantungku senam aerobik weh. Bisa mati konyol kalau kek begini!" seru Gwen dalam hati. 


Mereka segera keluar dan menemui beberapa keluarga yang sudah menunggunya di ruang tamu. Meski sudah tanpa riasan, Gwen memang terlihat lebih bercahaya dan terlihat berbeda kala dirinya memakai pakaian syar'i. 


"Bi Airy udah pulang? Gimana kabar Kak Aisyah?" tanya Gwen kembali panik. 


"Iya, bagaimana kabar Aisyah, Kak?" sahut Rebecca. 


"Alhamdulillah, Aisyah dan Asisten Dishi sudah baik-baik saja. Katanya … sebentar lagi mereka akan pulang. Kalian jangan khawatir, tenang saja!" jawab Airy.


"Aisyah memiliki hadiah untuk kita semua. Jadi, mari kita buat sambutan untuknya," Adam hendak mengusili keponakan kesayangannya itu. 


Di saat yang lain asik ngobrol di ruang keluarga, Gwen dan Agam malah asik berdua duduk berdua di ruang tamu. Keduanya sedang membicarakan banyak hal untuk menunggu kepulangan Aisyah dan juga yang lainnya. 


"Setelah ini … apakah Mas mau langsung bawa aku ke kosan tempat tinggal Mas saat ini?" tanya Gwen. 


"Untuk apa kita tinggal di kosan, Dek? Mas akan membawa kamu pulang ke rumah dan bertemu keluarga lainnya di sana," jawab Agam. 


"Heh, keluarga? Keluarga yang mana? Keluarga Mas Agam kan hanya Esti, dan dia saja masih ada di Tarim," Gwen masih belum mengetahui bahwa suaminya itu memang putra pemilik pesantren. 


Agam tersenyum dan mengatakan jika Gwen akan tahu siapa keluarga yang dimaksud olehnya. "Em, boleh tanya lagi, nggak?" lanjut Gwen. 


"Silahkan. Jika Mas bisa jawab, Mas akan jawab," 


"Ih, lucu. Udah nggak pakai kata saya," goda Gwen. Melihat istrinya tertawa lepas, membuat Agam tersipu malu karena masih sungkan jika ia tertawa di depan keluarga besar istrinya. 


Gwen menunjukkan foto masa kecilnya kepada suaminya. Dari dirinya tinggal di Australia sampai kembali lagi ke Jogja dan bahagia bisa berkumpul kembali bersama saudari kembar dan Ayah kandungnya. 


"Tapi masa laluku--" 


"Janganlah kamu menceritakan masa lalumu, Dek. Mas belum hadir di masa lalumu itu, jadi … jangan ceritakan, ya, kalau misal menyedihkan. Itu hanya akan membuat hatimu semakin terluka," sela Agam kala Gwen terlihat dengan raut wajah berbeda saat hendak menceritakan masa lalunya.  


Gwen memandangi wajah suaminya yang mampu mendamaikan hatinya. Ia tidak menyangka, jika dirinya sudah menikah dengan pria yang lembut seperti Agam. 


"Ini siapa?" tanya Gwen menunjuk foto Willy. 


"Oh, dia adalah Ayah angkatku. Suami Mami kala Mami dan Ayah Yusuf berpisah. Dengan menikah lagi, Mami akan bisa kembali menikah dengan Ayah. Aku sedih Ayah Willy tidak hadir di acara pernikahanku. Tapi … Aku selalu mendoakan dirinya, supaya dia bisa datang dan menengokku di sini," ungkap Gwen mengusap foto Willy saat masih muda. 


Sedikit demi sedikit, Agam tahu tentang keluarga besar istrinya. Keluarga paling santai dan unik. Meski dilatar belakangi agama, namun mereka masih tetap bisa menjalani hidup di era modern tanpa kaku. 


Datanglah Aisyah dan yang lainnya pulang. Chen juga menggendong Ilkay di gendongannya. Membuat Aisyah senang, melihat kedekatan Ayah dan anak yang tidak mengetahui hubungan nyata antara mereka. 


"Assalamu'alaikum,"


"Kak Aisyah!" sorak Gwen girang, seperti anak kecil yang melihat ayahnya pulang dari tahlilan membawa nasi berkat. 


Ketika semua mendekati Aisyah, Aisyah langsung mengangkat tangannya dan meminta semuanya untuk diam. 


"Stop! Jangan mendekat! Aku pengen duduk!" seru Aisyah dengan menyipitkan matanya.


"Oh, mari duduk di sini," sambut Raditya dengan menunjuk sofa di ruang tamu, rumah Airy. 


"Ehem!" kembali Airy dan Adam mendeham, ingin Aisyah segera memberikan penjelasan, mengapa ada orang jahat yang ingin melukainya. 


Asisten Dishi dan Aisyah menoleh ke arah Airy dan Adam bersamaan. Kemudian, Airy memberi kode dengan membulatkan matanya dengan sinis, untuk Aisyah menjelaskan siapa Ilkay sebenarnya. 


"Nak, minum teh hangat ini. Kamu juga Asisten Dishi. Ibu sudah buatkan teh hangat untuk kalian," ucap Rebecca membawakan dua cangkir teh hangat. 


"Aduh," lirih Aisyah dan Asisten Dishi bersamaan, kala hendak mengambil cangkir tersebut dengan tangan yang luka. 


"Kenapa, sih? Dari tadi samaan mulu! Cinta kamu sama aku!" ketus Aisyah. 


"Ha?"


Semua orang menatap Aisyah, begitu juga dengan Asisten Dishi. Mereka heran dengan tingkah laku Aisyah beberapa hari terakhir itu. 


"Astaghfirullah hal'adzim. Kenapa juga aku bilang begini?" gumam Aisyah dalam hati. 


"Aih, tertekannya aku!" imbuhnya memanyunkan bibirnya. 


"Kapan acara syukurannya di mulai?" tanya Aisyah mengalihkan topik masalah. 


"Syukuran hanya di adakan oleh santri dan ustadz saja. Keluarga hanya datang perwakilan dari keluarga Dhe May aja," sahut Gehna. 


"Heh, aku tokoh utama sekarang. Baiklah, apa yang ingin kalian tanyakan," Aisyah seolah malas hendak menjawab pertanyaan masalah Ilkay, sebab nantinya ... pasti ada pertanyaan yang lain, yang enggan ia jawab. 


"Assalamu'alaikum," 


Salam dari Puspa yang baru hadir. Semuanya menjawab, dan mempersilahkan Puspa untuk masuk. Pandangan Puspa pertama kali, jatuh pada Ilkay yang masih di pangkuan Chen. 


"Eh, siapa ini, ganteng banget, dah!" seru Puspa mencubit pipi Ilkay. 


"Jangan sentuh. Kay lagi malas di sentuh siapapun!" ketus Ilkay mengusap pipi yang baru saja di cubit oleh Puspa. 


"Ilkay, jangan gitu, Nak. Nggak boleh, loh," tegur Aisyah. 


"Iya, Ma. Bibi, maafkan aku," ucap Ilkay lirih. 


"Cuek banget seperti Tuan Chen, ya. Lihat matanya, mirip banget meski kornea matanya tidak sama. Tapi warna ijo matanya, Ilkay. Tapi wajahnya bulat seperti Aisyah, bibirnya seperti Tante Rene, anak siapa ini?" tanya Puspa dengan polos disertai dengan senyuman tipis. 


Semua keluarga jadi menatap Ilkay dengan seksama. Mereka baru ngeh jika Ilkay memang sekilas mirip dengan Aisyah dan Rebecca. Tentu saja, karena waktu Chen berpacaran dengan Ibunya Ilkay, Ibunya Ilkay mirip sekali dengan Aisyah dalam versi barat. Wajah bulat, namun kecil. Bibir tipis serta senyum yang manis, dan semua itu turun pada Ilkay. 


"Dia anakku dan Asisten Dishi. Kenapa? Harusnya mirip siapa kalau gitu?" sulit Aisyah. 


"Kok sewot, sih? Kan aku nanya doang, Aisyah. Lagipula ... kapan kamu hamil dan nikahnya? Masa iya anak langsung segede ini?" Puspa mulai memancing pertanyaan lain. Puspa sedikit jahil meski terkesan lemah lembut.


Aisyah dan Asisten Dishi saling berdebat dalam bahasa qolbu mereka. Baik Aisyah dan Asisten Dishi masih bingung harus mulai menjelaskan tentang Ilkay dari mana. Keduanya tak ingin merusak suasana bahagia pernikahan Gwen, jika di ceritakan, bahwa Ilkay di kurung di penjara bawah tanah selama hidupnya sampai berusia 5 tahun.