Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Lembah Cinta



Chen hanya diam saja saat berada di mobil. Ayyana dan Jovan juga tidak mengungkit apa yang terjadi hari itu. Hati Chen sangat sakit, bagaimana tidak? Sejak kecil hidupnya jauh dengan rasa bahagia. Sekali menemukan seseorang yang mampu membuatnya mengubah pandangannya dalam sebuah hubungan, malah terluka kembali. 


Ayyana dan Jovan saling berkontak mata. Seakan-akan mereka sedang berkomunikasi dalam dunia batin. 


"Bagaimana ini? Chen sudah seperti ini, aku takut dia akan kembali dingin dan bringas seperti dulu," kata Jovan dalam hati. 


"Lalu, aku harus apa? Aku juga tidak tahu dengan sepupumu ini," cetus Ayyana dalam hati. 


"Cih, dia juga sepupumu, bodoh! Dasar wanita tua yang menyebalkan!" umpat Jovan dalam hati. 


"Apa kau bilang? Wanita tua yang bodoh? Kau yang bodoh! Lihat saja, bagaimana aku akan membuat jamurmu menjadi lebih pendek!" sahut Ayyana kesal. 


Jovan sedang duduk di samping Ayyana saat itu. Bibir keduanya memang diam dan bungkam. Namun hatinya malah berperang panas tanpa pikiran baik lagi. 


Sesampainya di rumah sakit, Chen masih diam saat di periksa. Tak seperti biasanya yang akan memberontak saat tubuhnya di sentuh, kali itu dirinya hanya pasrah dan menerima apa yang dilakukan oleh dokter.


Mendengar kakaknya pulang dan masuk ke rumah sakit, Gwen dengan tak sabarnya langsung menjenguknya. Gwen sendiri juga tidak tahu mengapa Puspa tiba-tiba menikah tanpa memberitahu dirinya. 


"Assalamu'alaikum, Kak. Dimana Kak Chen?" tanya Gwen baru saja tiba. 


"Wa'alaikumsallam, kamu cepat sekali sampainya? Dimana suamimu?" tanya Ayyana kembali. 


"Mas Agam ada pekerjaan, kebetulan aku juga mau ke rumah Bibi Airy. Katakan, dimana kakakku?" jawab Gwen dengan terburu-buru. 


"Masih dalam pemeriksaan. Dia sakit apa sebenarnya? Kenapa juga Puspa tiba-tiba menikah, apakah dia tidak tau jika Chen sudah banyak berkorban untuk memperjuangkan dirinya!" cetus Ayyana.


"Heh, kamu juga kenapa tidak melarang kakakku saat dia mau datang ke sini? Kenapa kamu tidak mencegahnya, Jovan Wang~" kembali Jovan yang selalu disalahkan oleh orang-orang di dekat Chen. 


"Sudahlah, ini tidak asing lagi bagiku. Salahkan saja diriku, hmph!" kesal Jovan, ia sudah mulai terbiasa dengan hal itu. 


Tak lama kemudian, dokter keluar dan menjelaskan apa yang terjadi kepada semua orang yang menunggu di luar ruang pemeriksaan. Penyakit Chen tidak serius, hanya masalah kurang tidur dan gangguan pencernaan makannya. 


"Tapi, dia lebih lemas dari sebelumnya, dokter. Ada apa? Apa penyakitnya malah makin parah?" tanya Gwen dengan santai. 


"Hush, istighfar. Kalau ngomong kenapa kagak di saring, sih?" sahut Ayyana menyenggol lengan Gwen. 


"Maaf," 


"Dia mengalami syok saja. Apakah ada hal yang mengejutkan? Tolong, setelah ini jangan buat pasien merasa down lagi. Jika dia bekerja, jangan membiarkan terus bekerja tanpa istirahat. Mesin saja bisa rusak, bagaimana dengan manusia?" jelas dokter dengan sedikit lelucon agar susana tidak tegang. 


Setelah menjelaskan masalah kesehatan Chen, dokter itu juga mengatakan jika Chen sudah bisa dibawa pulang saat itu juga. Hanya saja, keadaan Chen saat itu sedang buruk. Maka dokter mengatakan harus benar-benar menjaganya dengan baik. 



Malam terasa sunyi di rumah lama. Meski Chen sudah mau makan, tetap saja ia masih selalu berdiam diri dan melampiaskan sakit hatinya ke pekerjaannya. Menulis dokumen dengan cepat sampai dua laptop telah rusak olehnya. 



"Chen, cukup. Ayo, kau istirahatlah dulu. Besok, aku akan pesankan tiket, kita akan pulang besok, bagaimana?" 



Jovan masih setia dan telaten merawat Chen. Keduanya tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Namun, persaudaraan mereka benar-benar sangat patut di contoh. Sementara di Korea, Aisyah ikut khawatir dengan apa yang menimpa kakaknya. 



Chen sulit di ajak bicara waktu itu. Ia sama sekali tidak mengangkat telpon dari adik kesayangannya. Sebab, memang Chen tak ingin berkomunikasi dengan siapapun saat itu. Jarak jauh membuat saudara kembar itu tak bisa menemani di dalam duka sang kakak. Apalagi, Gwen yang dekat dengan rumah lama juga tak bisa selalu ada di sana karena telah memiliki kehidupan sendiri. 



Meski begitu, dukungan selalu ada untuk Chen dari kedua saudarinya. Malam semakin larut, kamar yang ditempati Chen sudah gelap dengan dirinya yang masih terjaga. Seakan telah mati rasa dengan perasaannya, ia masih bekerja di waktu yang selarut itu. 



Terlintas dalam ingatannya, kala bersama dengan Puspa lima bulan lalu saat di minta oleh sang Ayah, Tuan Wang melakukan misi. Tarian tangan Chen di atas keyboard menjadi terhenti. 




"Apa yang aku lakukan, hanya sia-sia saja. Aku membatalkan perjodohanku, menghabiskan waktuku bekerja sepanjang hari, tak kenal siang dan malam hanya bisa bersamamu. Tapi, setelah aku kembali, kenapa kamu--"



"Sudahlah, dia tidak salah jika menikah dengan pria lain. Apapun itu, aku tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta dan sayang seorang wanita kecuali Ibu dan saudari kandungku. Merekalah yang tulus padaku, untuk apa aku …," 



Gumaman Chen kembali terhenti. Ia membanting laptopnya dan meninju tembok sampai tangannya berdarah akibat serpihan kayu kusen. Yang Chen pukul memang tembok dekat dengan jendela malam itu. 



"Kenapa kamu mengkhianatiku, Puspa. Apa kurangnya aku bagimu, hah. Sialan, aku tidak akan lagi mempercayai janji seorang perempuan kali ini. HAH!" teriakan Chen sampai membangunkan Jovan yang ada di kamar sebelah. 



Segera ia berlari menuju kamar Chen. Sayang, Chen mengunci kamarnya dari dalam. Membuat Jovan semakin panik dan menggedor pintu supaya Chen tidak berbuat nekat. 



"Chen!"



"Ada apa? Apa yang terjadi?"



"Kenapa kau mengunci pintunya, woy!" 



Jovan terus menggedor pintu sembari berteriak. Dengan santainya, Chen membuka pintu seperti tak ada yang terjadi. "Ada apa?" tanyanya dengan wajah datarnya. 



"Ada apa? Apa dirimu sungguh berubah menjadi bodoh? Aku mendengar kau berteriak, lalu, untuk apa aku datang ke sini? Minum bersamamu?" cetus Jovan. 



"Aku baik-baik saja. Tidur lah! Besok kita pulang, jaga dirimu baik-baik!"



Blam! 


Chen menutup pintu ya dengan kasar. Ia hanya tak ingin diganggu terlebih dahulu. 



"Cih, menyebalkan! Ini sebabnya aku malas mengurusi masalah hati." umpat Jovan kembali ke kamarnya.



Hari itu, hari patah hati bagi Chen. Di tengah malam, ia baru menerima kembali telpon dari Aisyah. Mungkin hanya kedua saudarinya yang bisa membuat Chen jauh lebih tenang dan berpikiran positif menghadapi masalahnya. 



Urusan sangat anak, Yusuf dan Rebecca tak ingin ikuti campur. Sebab, jika kedua orang tua ikut turun tangan, dengan tempramen Chen yang mudah tersinggung akan membuatnya semakin kesal karena merasa dikasihani.