Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Batin Aisyah.



Di sisi lain, Aisyah dan teman-temannya telah di sibukkan dengan penyuluhan yang ia lakukan di desa terpencil itu. Ia melakukan banyak edukasi tentang kesehatan. Terutama untuk anak-anak, wanita dan juga lansia. 


Kedatangan mereka di sambut hangat oleh warga sekitar berkat Mee Noi. Dialah yang meminta kepala desa untuk menerima Aisyah dan teman-temannya. Sebelumnya, pernah ada penyuluhan seperti itu, dan tidak membuahkan hasil apa-apa karena dokternya di usir oleh semua warga. 


Sore setelah penyuluhan selesai. 


"Alhamdulillah, hari ini berjalan dengan lancar," ucap Feng. 


"Alhamdulillah, benar sekali, ko. Badanku terasa letih sekali," sahut Aisyah. 


"Ya, saya tidak mempunyai idea jika mereka menerima itu, kita semua dalam hal ini juga. Aku mendengar dari Aom, dokter lain sebelum kita, ditolak oleh mereka secara terang-terangan!" seru Syamsir merapikan alat medisnya. 


"Sstt, jangan bicara seperti itu. Jik--" belum juga Aisyah selesai menegur Syamsir, ada selembar kertas uang mengenai tangannya. 


Kertas itu bertuliskan menggunakan aksara Thai. Aisyah meminta Aom untuk menerjemahkannya. 


"Apa artinya?" Aisyah memberikan kertas tersebut kepada Aom. 


คุณหมอ,เราพบกันได้มั้ย ฉันจะตั้งทุกอย่างสำหรับการค้นหาของเราสำหรับปลูกต้นไม้ - Dokter, bisakah kita bertemu? Aku sudah menyiapkan semuanya untuk kita mencari tumbuhan. 


"Apa? Kau akan pergi? Ini sudah petang, Aisyah! Kamu perempuan dan dia laki-laki, loh!" Feng mencoba melarang.


"Ko, obat-obatan herbal, akan jauh lebih manjur jika di petik sebelum atau setelah matahari hari terbit. Sudah, ya … Aku pergi dulu. Assalamu'alaikum!" seru Aisyah pergi meninggalkan mereka. 


Feng hanya merasa jika Mee Noi ini hanya memanfaatkan Aisyah saja. Atau lebih tepat, Feng merasa ada yang tidak benar dengan Mee Noi. 


"Kau tak ada adik perempuan. Makanya kau tak tau bagaimana rasanya jika adik perempuanku ada yang mengganggunya, paham!"


Mereka kembali ke kamarnya masing-masing dan membersihkan diri. Sementara itu, Aisyah dengan ditemani oleh Mee Noi mencari tumbuhan untuk obat herbal. 


"Dokter, masih jadi dokter umum. Spesialis apa yang akan kau akhil setelah ini?" tanya Mee Noi membuka obrolan. 


"Em, belum terlalu kepikiran. Tapi, jadi dokter anak seperti nenekku bagus juga," jawab Aisyah. 


"Wah, semangat, dokter!"


Aisyah tersenyum, mereka melanjutkan perjalanannya. Sampai lah mereka di tengah hutan dan menemukan beberapa tumbuhan yang diperlukan untuk pembuatan obat herbal. 


Tiba-tiba, jantung Aisyah merasakan debaran lagi. Air matanya juga menetes dengan sendirinya tanpa sebab. "Ada apa ini? Rasa yang sama, seperti di Bandara waktu itu." gumamnya dalam hati. 


"Dokter, coba kau li ... Eh, kau menangis? Ada apa? Apa kau terluka?" Mee Noi panik sekali melihat air mata yang mengalir di pipi Aisyah.


"Entah kenapa aku merasakan sebak di dadaku. Tapi, aku tidak tahu kenapa," jawab Aisyah masih terus menyentuh dadanya.


"Istirahatlah dulu, di dekat sini ada mata air. Aku akan mengambilkannya untukmu, tunggu!"


Tanpa mendengar penjelasan Aisyah, Mee Noi pergi begitu saja. Padahal, Aisyah juga membawa botol air untuk ia minum. Tak lama setelah kepergian Mee Noi, jantung Aisyah kembali berdebar dan ia merasakan kegelisahan yang entah apa sebabnya.


Why?