Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Gwen (Malas Belajar)



"Makanan siap, Jovan bisakah kamu kemari. Bibi dan Chen sudah selesai memasaknya!" teriak Rebecca.


"Baik, bibi. Aku akan segera ke dapur." jawab Jovan.


"Tak lama lagi Chen, kita pasti akan membuat Ibu angkatmu menjadi debu. Aku sudah muak dengan gayanya yang sombong dan selalu merendahkan keluargaku. Dia juga penyebab bibi (Istri pertama Tuan Wang) pamanku meninggal dunia. Aku akan membalas dendam bibiku kepadanya, dan kau akan kembali ke keluargamu Chen." desisnya dalam hati.


Mereka menikmati makanan yang dibuat oleh Rebecca dan Chen. Jovan juga mengamati gerak gerik mereka disaat makan, kesamaan juga banyak terjadi diantara mereka. Memang, wajah Chen dan wajah Rebecca ketika di usia yang sama sangat mirip. Hanya saja, suara Chen lebih mirip dengan ayah kandungnya, Yusuf.


"Tak salah lagi, aku harus pindah sekolah di sekolahan yang sama dengan Chen. Agar aku bisa mengamati mereka lebih lanjut." batin Jovan.


"Bagaimana Jovan, apa masakan bibi sesuai dengan seleramu?" tanya Rebecca ramah.


"Sangat, sangat sesuai bibi. Masakanmu, makanan terenak yang pernah aku makan. Apakah bibi bisa membuatkan makanan untukku lagi? Aku mungkin akan pindah ke sekolahan Chen, bisakah bibi membawakan makan siang ke sana? Setiap harinya?" Jovan memang sangat pandai bicara.


"Sayang sekali, bibi hanya mempunyai waktu dua hari lagi kesini. Tapi, saat bibi kembali lagi nanti, bibi pasti akan memasak makanan enak lagi untuk kalian berdua." jawab Rebecca.


Chen merasa sedih mendengar Rebecca hanya sampai dua hari di Tiongkok. Meski tidak mengungkapkannya, tapi ekspresi Chen sangat jelas kecewa dan sedih malam itu. Jovan sendiri merasa kecewa Rebecca akan pulang cepat.


"Sial, berarti dalam waktu dua hari ini. Aku harus sudah memiliki sempel bibi ini untuk melakukan tes DNA dengan Chen secara diam-diam." batin Jovan.


Puas makan besar, mereka berdua diantara pulang sampai di gang masuk rumahnya. Sengaja Chen dan Jovan meminta agar Rebecca tidak mengantarnya sampai ke rumah, karena pasti semua orang rumah akan marah kepada mereka.


"Yakin, hanya sampai sini saja?" tanya Rebecca.


"Iya, aku takut jika Ayahku belum tidur dan mengetahui jika aku pergi diantar pulang oleh orang lain," jawab Chen.


"Baiklah kalau begitu, selamat malam Tuan-Tuan Muda Chen yang tampan. Bibi pamit dulu, ya. Selamat berjumpa di lain waktu, oke? Tata …." Rebecca berlalu.


"Kenapa aku merasa sedih berpisah dengannya?" suara hati Rebecca dan Chen sama.


Malam di rumah Yue. Hamdan dan Yue sedang menyidang Feng melakukan keributan di sekolahnya. Apalagi, Feng menyenggol putra dari keluarga Wang. Dimana memang sejarah keluarga Wang dan keluarga Hao memiliki beberapa perselisihan dalam melakukan bisnis gelap.


"Maksudnya apa ini? Mau mengintrogasi aku?" tanya Feng dengan tatapan datar.


"Mbok ya kamu ki jadi anak yang se usiamu, Nak. Jangan sok dewasa begitulah!" tutur Hamdan.


"Iya, kenapa kami bisa bersikap seperti orang dewasa. Anak umur 9 tahun itu ya harus berperilaku seperti anak-anak selayaknya gitu. Jangan yang ada di pikiran kamu hanya membunuh, meracuni, membunuh dan meracuni terus, Feng …." sahut Yue.


"Apakah kalian sadar, kalian yang memaksaku dewasa. Kalian memikirkan ego kalian sendiri. Please, menikahlah atau aku akan tinggal dengan tante Rebecca di Australia," hardik Feng.


"Kamu berani menghardik orang tuamu?" sulut Yue.


"Yue, kamu apa-apaan, sih? Nada tinggimu itu loh, mbok ya jangan ketinggian! Anak kita benar, kita harus memikirkannya, jangan memikirkan egomu sendiri yang masih belum mau menikah denganku." ucap Hamdan.


Mulailah perdebatan kecil diantara mereka. Perdebatan kecil mereka memang lucu, tapi Feng kesal dan meninggalkan kedua dalam kamarnya. Kemudian, Feng pergi ke rumah Rebecca dengan membawa seragam sekolahnya untuk esok hari.


Di pesantren, Gwen terus saja membuat keonaran yang membuat para ustad pusing. Semua teman lelakinya juga menjadi nakal karenanya. Melihat aksi Gwen membuat Adam dan Raihan teringat akan Airy kecil dan Ayanna kecil.


"Situasi yang tidak asing, bukan? Siapa anak lelaki ini?" bisik Raihan kepada Adam.


"Aku melihat jiwa Ayanna pada anak ini. Tapi, berbentuk laki-laki, masyaAllah." sahut Adam.


Gwen terus saja menolak untuk belajar. Ia bahkan memukul siapapun yang memaksanya belajar. Sampai pada akhirnya, Adam dan Raihan yang harus turun tangan.


"Apa?" tanya Gwen menoleh dengan wajah yang seakan mengajak bertarung.


Hal itu membuat Raihan teringat akan Airy pada masa lalu. Dimana Raihan sedang menegur Airy ketika saudari kembarnya itu terlihat dalam sebuah perkelahian di sekolah. Sementara Adam, ia mengingat bagaimana cara pertama kali bertemu dengan Airy.


"Airy?" gumam Raihan dan Adam bersaman.


"Apa?" suara Airy berada di samping mereka. "Kenapa kalian menyebut namaku?" imbuhnya.


Raihan berjongkok di depan Gwen, kemudian menanyakan mengapa dirinya tak suka belajar. Sedangkan pendidikan itu sangatlah penting. Apalagi pendidikan agama.


"Memangnya kenapa kalau aku tidak mau belajar? Lagian belajar apaan nih, huruf keriting-keriting kayak begini?" protes Gwen.


"Nih bocah pengen di pites kali, ya?" kesal Airy.


"Namamu, Rifky, bukan? Kamu mau dengar ustad cerita tentang seseorang yang selalu harus ilmu di zaman Nabi, nggak?" tutur Adam dengan lembut.


"Nabi? Siapa itu dan apa itu Nabi?" tanya Gwen dengan wajah tak berdosanya.


"Astaghfirullah hal'adzim, nih anak nggak pernah ditanenim ilmu agama apa di hidupnya? Siapa Tuhanmu? Tuan Yesus, Bapa Yesus, atau Allah, atau bahkan Dewa-Dewi?" amarah Airy sudah memuncak.


Gwen hanya menatap Airy dengan tatapan menyebalkan. Sehingga membuat Airy ingin sekali mencongkel mata Gwen yang terus saja melotot kepadanya.


"Aku agnostik, aku percaya Tuhan itu ada. Tapi aku tidak memiliki keyakinan, kenapa? Salah kah?" lagi-lagi tanpa wajah bersalah Gwen menanyakan hal itu.


"Hey, agnostik percaya Tuhan. Terus kamu percaya sama siapa?" Airy masih kesal dengan Gwen.


"Kenapa tante mengintimidasi aku? Tak malu kah berdebat dengan anak sekecil aku, hah?" tantang Gwen.


"Pengen tak ihhh!" Airy di tarik oleh Raihan, agar Adam bisa memberi pencegahan sedikit dengan kisah seseorang yang selalu haus akan ilmu.


Di zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang sahabat beliau yang sudah menunjukkan keingintahuan dan kesungguhannya dalam belajar banyak hal. Dia bernama Abdullah bin Abbas atau Ibnu Abbas. Dia adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal tidak pernah bosan menggali ilmu sejak usia muda. Ibnu Abbas, si 'gila' ilmu pengetahuan.


Abdullah bin Abbas adalah sepupu dari Nabi Muhammad SAW. Ia merupakan anak dari Abbas bin Abdul Muthalib dan Ummu al-Fadl Lubaba. Ayah dari Abdullah, adalah paman terkasih Nabi Muhammad SAW. Ketika Nabi Muhammad SAW wafat, Abbas adalah orang yang paling merasa kesepian atas kepergiannya.


Sosok Ibnu Abbas sudah dikenal akrab dengan Nabi Muhammad SAW sejak kecil. Bersama beliau, ia tumbuh menjadi pribadi yang mempunyai karakter dan sifat yang kuat.


Pernah suatu ketika, Ibnu Abbas dipenuhi rasa keingintahuan yang besar tentang bagaimana cara Nabi Muhammad SAW salat. Hingga ia dengan sengaja menginap di rumah bibinya, Maimunah binti Al-Harits yang merupakan istri Nabi Muhammad SAW.


Hingga dipertengahan malam, ia mendengar Nabi Muhammad SAW bangun untuk menunaikan ibadah salat. Dia pun bergegas mengambil air untuk bekal wudu Nabi Muhammad SAW. Betapa terkejutnya beliau ketika menemukan Ibnu Abbas masih terjaga dan menyediakan air wudu untuknya.


Rasa bahagia menggelora di hati Nabi Muhammad SAW saat itu. Beliau pernah mendoakan Abdullah bin Abbas, "Ya Allah, berilah ia pengertian dalam bidang agama dan berilah ia pengetahuan takwil (tafsir)."


Dari doa tersebut, Abdullah bin Abbad pun dikenal sebagai ahli tafsir. Dia juga banyak meriwayatkan hadist, tak kalah dari sahabat Nabi Muhammad SAW sekaligus perawi hadist lainnya, seperti Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan lainnya.


"Cukup!" sela Gwen.


"Kenapa?" tanya Adam.


"Aku tidak mengerti apa yang Anda, eh ustad katakan. Lebih baik aku ikut belajar mereka saja. Dadah, semoga kamu baik-baik saja, ya?" ucap Gwen menepuk-nepuk baju Adam.