
"Ayah, kenapa Aisyah yang sekarang galak sekali? Apakah aku---"
"Sudah jangan mengadu dengan Ayahmu. Kau akan terlambat kuliah nanti. Cepat habiskan sarapanmu!" potong Rebecca memberikan teh hangatnya lagi.
"Hish, Mami sama aja dengan Aisyah! assalamu'alaikum!" Gwen mengambil bekalnya, salim kepada orang tuanya, kemudian berangkat kuliah.
Masih terus mengomel tanpa henti. Gwen juga mengumpat terus-menerus soal Aisyah yang selalu tegas kepadanya. Semenjak tumbuh remaja, Aisyah memang berubah menjadi lebih tegas dari sebelumnya.
Bahkan, seringkali yang menghukum Gwen ketika melakukan kesalahan adalah Aisyah. Orang tuanya hanya pasrah saja kepada Aisyah.
"Gwen ini, kapan dia akan lulus kuliah?" gumam Rebecca menyiapkan teh hangat untuk suaminya.
"Kamu itu, terlalu keras sayang. Sejak kita menikah lagi, Gwen memang tidak berubah sama sekali. Harusnya, dulu kamu jangan--" ucapan Yusuf terputus.
Ia mengerem pembicaraannya, hal sensitif bisa membuat Rebecca sakit hati kembali. Yusuf segera minum tehnya dan segera berangkat ke restoran.
"Tunggu!" cegah Rebecca merentangkan tangannya.
"Nanti saja, ya. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Yusuf sembari mengecup kening Rebecca.
Sejak penjelasan Adam dan Airy tentang pesan Chen 13 tahun lalu, setelah menjalani masa idah jadi janda dari Willy, Rebecca dan Yusuf kembali rujuk.
Perjalanan rujuk mereka juga tidak mudah. Sebab, Chen yang selama ini belum pernah diketahui oleh Yusuf, menjadi penghalang bagi pernikahan mereka.
Cindy mengetahui kabar pernikahan tersebut, ia selalu membuat rencana baru untuk menggagalkan pernikahan Yusuf dan Rebecca. Namun, semua itu digagalkan oleh Chen kalau itu.
FLASHBACK
13 tahun lalu, tepat di malam sehari sebelum pernikahan. Cindy datang ke pesantren dan membuat perkara. Ia mengaku hamil anak Yusuf, yang memang hal itu tidaklah mungkin terjadi.
Malam itu, diadakannya tahlil dan pengajian di pesantren. Dengan tangis palsunya, Cindy datang ke acara tersebut.
"Yusuf, kamu tidak boleh menikah dengan mantan istrimu ini!" teriaknya dengan suara serak.
Semua menoleh ke arah Cindy. Cindy datang membawa hasil tes pemeriksaannya yang menyatakan bahwa dirinya hamil 4 bulan. Dimana, waktu itu memang Rebecca sedang menjalani masa iddah.
"Lancang! Bagaimana mungkin kau hamil adikku, wahai lampir!" teriak Gwen menunjuk wajah Cindy.
"Jika Cindy ada di sini, apakah putraku juga ada di sini juga?" batin Yusuf.
Melihat tatapan Yusuf, Adam tahu betul jika adiknya itu sedang memikirkan putranya yang diculik oleh Cindy, yakni Chen. Seluruh pesantren dan keluarga tidak menghiraukan kehadiran Cindy, sebab mereka sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, tidak bagi orang luar atau masyarakat sekitar. Mereka tidak tahu menahu soal keturunan dari cucu pertama putra pesantren telah diculik oleh Cindy. Yang mereka tahu hanyalah bayi itu hilang ketika dilahirkan.
"Ada apa?"
"Rasanya tidak mungkin jika Yusuf mampu menghamili anak orang,"
"Apalagi, dia juga betah menduda selama sembilan tahun,"
"Halah, paling yo reko-reko wedokane wae," (Halah, mungkin ya ngada-ngada si perempuannya itu)
Airy menarik tangan Cindy, membawanya keluar dari pesantren dengan sedikit kasar. Di luar, rupanya Chen dan Jovan sudah menunggu di sana. Tatapan mereka juga sangat tajam. Semua keluarga Wang tahu, bahwa Cindy tengah hamil dengan orang lain, bukan dengan Tuan Wang.
"Kak, Kak Airy sakit, jangan tarik-tarik aku!" teriak Cindy merintih.
"Diam!" bentak Airy menaikkan jari tulunjukknya. "Jika kamu bicara yang bukan-bukan lagi, aku pastikan kamu akan kehilangan anak ini," ancamnya.
"Apa? Kak Airy mampu melakukan hal kejam itu?" pekik Cindy sok lemah.
"Na'udzubillahimindzalik, Ya Allah, hamba cuma mengancamnya aja. Bukan beneran," batin Airy Masih dengan wajah yang di sangar-kan.
"Bibi, kenapa anda di sini?" tanya Jovan dengan melipat tangannya.
Cindy menoleh, ia kaget melihat Chen dan Jovan yang mengikutinya sampai ke pesantren. Selama ini, Cindy belum tahu bahwa Chen dan Jovan sudah mengetahui siapa orang tua kandung Chen yang sebenarnya.
"Chen, Jovan?"
"Sial, kenapa mereka di sini? Jika Yusuf atau Rebecca tau kalau aku di sini ... bisa saja nanti mereka juga akan tahu kalau Chen adalah anak mereka. Ini tidak boleh sampai terjadi,"
"Yang ada nanti mereka akan bersatu bahagia, dan aku akan terus menderita melihat kebahagiaan mereka!"
Cindy terus saja bergumam dalam hati. Airy, Chen dan Jovan sepakat untuk tidak mengungkap rahasia besar itu. Tujuan mereka bertiga sama, yakni memberikan pelajaran untuk Cindy agar menuai karmanya dari Chen dan keluarga Wang lainnya.
"Siapa mereka?" tanya Airy. "Meski ini malam, tapi aku dapat melihat bahwa anak yang berambut pirang atau blonde atau kuning itu ... memiliki sepasang mata biru deh," imbuhnya.
"Gawat! Kenapa Chen tidak memakai softlens, sih?" gumam Cindy.
Tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Airy, Cindy segera menarik tangan Chen dan Jovan menjauh dari gerbang pesantren. Setelah Cindy sudah jauh, Airy tertawa terpingkal-pingkal melihat raut wajah Cindy yang tegang seperti tikus ke-gep sedang mencuri gorengan basi di meja makan.
Setelah kejadian itu, pagi pas hari H, Cindy tidak datang lagi. Pernikahan Rebecca dan Yusuf berlangsung dengan lancar. Tak lagi ada hambatan, karena Chen dan Jovan mengintrogasinya di hotel tempat mereka menginap sebelum kembali lagi ke Tiongkok.
"Ini sudah pagi, kenapa kalian masih belum tidur? Apa kalian tidak mengantuk?" tanya Cindy dengan lembut.
"Tidak!" jawab Chen dan Jovan bersamaan.
Cindy yang kaget hanya pasrah saja ketika mata kecil mereka menatap dirinya dengan aura pembunuh. Rupanya, Chen dan Jovan melakukan hal itu karena di Tiongkok, Tuan Wang tengah menikah lagi dengan Nona Besar keluarga Eliza. (nama dari Nona itu)
"Siapa ayah dari bayi itu?" tanpa Jovan sinis.
"Tuan Wang, siapa lagi memangnya?" jawab Cindy lebih sinis.
"Oh, baiklah. Kalau Bibi tidak mau mengakuinya, aku akan pastikan jika Bibi akan menyesal seumur hidup Bibi karena telah menipu keluarga kami, keluarga Wang!" hardik Jovan.
"Hey, anak sekecil dirimu harusnya diberi pelajaran sopan santun. Bagaimanapun juga, aku lebih tua darimu, Tuan Muda Jovan!" seru Cindy mencubit pipi Jovan.
Namun sayang, tangan itu langsung ditepis oleh Chen. Chen juga mengancam Cindy karena kejahatannya menculik dirinya dari rumah sakit 9 tahun yang lalu. Selama 4 bulan terakhir, hubungan Chen dengan Cindy memburuk. Hal itu sampai dicurigai oleh Tuan Wang dan akhirnya Tuan Wang memutuskan untuk menikah lagi karena keinginan Chen.
Selama 13 tahun juga, Hidup Cindy dibawah tangan Chen. Kini, anak yang dikandungnya dahulu juga berusia 13 tahun, seorang putri yang selalu nempel dengan Chen, meski Chen selalu menjauhinya. Sementara Nyonya Eliza, sebagai Nyonya kedua Wang, tidak memliki putra maupun putri, karena Tuan Wang memang tidak bisa memiliki keturunan lagi.