Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Saling Berkorban?



"Aku bingung akan mengatakan apa padamu, Kak Chen. Tapi, aku sungguh ikut sedih jika Puspa menikah tanpa memberitahu diriku juga," 


"Ingat, Kak. Dia belum menjadi istrimu, apapun yang dilakukannya, meski itu menyakitimu, tolong berpikir positif. Abinya sejak dahulu, selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya,"


"Saat ini, kamu mungkin belum jadi yang terbaik bagi gadis seperti Puspa. Tapi aku yakin, kakakku ini akan jauh lebih baik kedepannya, dan mendapatkan cinta yang lebih murni lagi, semangat kakakku," tutur Aisyah. 


Gwen tak mau kalah juga memberikan semangat untuk kakaknya. Ia memberikan motifasi yang ia jiplak dari suaminya sendiri. 


"Kak, bersabar dalam menanti jodoh dari-Nya sembari memperbaiki dan memantaskan diri, hm?" 


"Ada saatnya kamu akan diperjuangkan oleh seseorang. Bersabarlah dan fokuslah untuk memantaskan dirimu, Kak. Yakinlah Allah akan hadirkan dan tunjukkan penyempurna agamamu di saat yang tepat," sambung Gwen dengan bahasa qolbu yang tinggi. 


"Gwen, aku tau ini bukan bahasamu, 'kan? Di sampingmu, pasti ada suamimu," sahut Chen berhasil menebak. 


"Haih, kenapa pula Kak Chen menebak dengan benar. Ah, iya. Aku sedang bersama Mas Agam. Ayolah, jangan bersedih hati. Masih banyak stok gadis, nanti aku bantu Kak Chen cari dah!" ujar Gwen merasa seperti seorang Ibu. 


"Gwen!" seru Aisyah. 


"Haha, santai Kak Aisyah. Ayolah, kapan kamu dan Asisten Dishi maun menikah. Dosa loh, berduaan, ketemuan mulu ora di rabi-rabi (tidak cepat di nikahi)," ejek Gwen. 


"Gwen!" kali ini, Aisyah dan Chen bersamaan menyebut nama Gwen dengan keras. 


"Hadeh, iya. Aku salah, mohon maaf lahir dan batin~" 


Ucapan Gwen membuat Chen dan Aisyah tertawa. Sedang asik-asiknya tertawa, dengan santainya Gwen memalak kedua saudaranya. 


"Dek," 


"Hish, Mas Agam! Nggak ada yang gratis di dunia ini. Aku sudah membuat mereka tertawa, haris bayar dong!" celetuk Gwen dengan bangganya. 


Sedikit menahan malu, Agam perlahan menghilang dari depan kamera. Tapi, dirinya tak bisa mengengkang sang istri, karena bagaimana juga Aisyah dan Chen tak pernah keberatan jika harus memberikan Gwen sejumlah uang. 


Masing-masing dari Aisyah dan Chen mengirim sejumlah uang kepada Gwen. Bagaimanapun juga, darah lebih kental dari air. Kasih sayang dua saudarinya mampu membuat Chen melupakan rasa sakitnya sejenak. 


Barulah Chen bisa tidur nyenyak setelah bercanda dengan kedua saudarinya. Berharap, saat dirinya terbangun esok, sudah bisa melupakan apa yang Puspa lakukan padanya. 


Apa yang terjadi kepada Puspa? 


Seminggu sebelum ulang tahun kembar tiga tiba, Puspa sengaja membeli hadiah untuk ketiganya hingga larut malam. "Haduh, aku terlambat pulang. Abi pasti akan marah padaku,"


Saat di jalan, ia bertemu dengan Mas Ijal, tetangganya yang sempat ingin dijodohkan dengannya oleh Abi Darwin. "Yah, waktunya sudah jam segini. Mana ada angkutan umum jam segini?" Puspa mulai panik. 


Mas Ijal datang menyapa. "Assalamu'alaikum, Dek Puspa, ya?" 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, iya. Mas ini … Mas ijal?" jawab Puspa memperhatikan Mas Ijal. 


"Iya, Dek. Kamu ngapain masih di sini? Ini sudah sangat larut. Bagaimana jika ada bahaya mengincar kamu?" kembali Mas Ijal bertanya. 


Mereka kembali terdiam. Tak lama kemudian, Mas Ijal menawarkan tumpangan jok kosong motornya kepada Puspa. "Bagaimana kalau Mas antar saja? Nggak mungkin juga Mas tega meninggalkan kamu sendirian di sini,"


"Jalanan sudah sepi dan tidak ada angkutan umum. Kita kan satu desa, jadi akan lebih mudah untuk mengantar kamu sampai di depan rumah, bagaimana?" sambung Mas Ijal dengan senyumannya. 


Puspa terdiam. Setelah berpikir cukup lama, Puspa pun menerima tawaran dari Mas Ijal untuk pulang bersama. Tak terpikirkan jika sesuatu akan terjadi kepada mereka.


Setelah sampai di rumah, tak sengaja Puspa tergelincir di tangga yang ada di depan pintu. Dengan sigap Mas Ijal menangkapnya. Kebetulan sekali ada para pemuda dan juga bapak-bapak yang siap ngeronda, melihat keduanya. Di pandangan meraka, Puspa dan Mas Ijal terlihat tengah berpelukan. 


"Astaghfirullah hal'adzim, apa yang kalian lakukan? Ini sudah jam 11, kenapa kalian masih ada di luar berduaan seperti ini?" ujar salah satu pemuda. 


"Hooh, mana kalian pelukan lagi?" sahut yang lainnya. 


"Bukannya Mbak Puspa ini sudah memiliki calon suami, ya? Kenapa masih mau jalan dengan pria lain? Astaghfirullah hal'adzim …."


Keributan itu terdengar oleh Abi Darwin yang malam itu memang belum tidur. Beliau langsung keluar kala mendengar keributan di luar. 


"Assalamu'alaikum, ada apa ini?" tanya Abi Darwin yang baru saja keluar. 


Salah satu pemuda yang ikut ronda itu sudah memanggil Rt setempat dan juga Kadus agar bisa menyelesaikan permasalahannya. 


Meski Puspa dan Mas Ijal sudah menjelaskan yang sebenarnya, tetap saja warga desa tidak yakin. "Sebab, keduanya adalah sama-sama orang dewasa, pasti hubungannya tidak sederhana begitu saja," ujar salah satu warga paruh baya yang melihat Mas Ijal menangkap tubuh Puspa yang hendak jatuh. 


Akhirnya, keputusan terkahir yang di setuju Kadus dan RT, ialah menikahkan keduanya secara agama malam itu dengan mahar seadanya. 


Puspa terus saja mengelak, hatinya hanya untuk Chen kala itu. Tapi, ia sendiri tak bisa terus menentang keputusan warga demi nama baik Abi-nya. 


Malam itu, mereka melangsungkan ijab qobul dengan di saksikan banyak warga. Lalu memutuskan untuk ijab ulang dengan resepsi seminggu sebelumnya. 


Nasi sudah menjadi bubur, Puspa tak sampai hati mengatakan kenyataan itu kepada Chen yang sedang sibuk bekerja di luar sana. Salahnya Puspa juga tidak memberitahu hal sebesar itu kepada Aisyah maupun Gwen. Sehingga kedua sahabatnya juga tidak tahu, jika dirinya sudah menikah. 


Namun, dalam perasaannya, Puspa masih tetap mencintai Chen meski itu sudah tidak ada artinya lagi. Berharap, Chen tidak akan membenci dirinya karena merasa dirinya sudah mengkhianati ketulusan cinta Chen. 


****


Di samping itu, Aisyah tengah sibuk mempersiapkan diri untuk ke kampus. Saat itu, Asisten Dishi tidak bisa mengantarnya karena ia akan menghadiri rapat wali murid di sekolah Ilkay. 


"Kamu yakin, kami tidak apa-apa berangkat sendiri?" tanya Asisten Dishi khawatir. 


"Biasanya juga sendiri, kok. Tolong jaga Ilkay, ya. Aku berangkat dulu, assalamu'alaikum," pamit Aisyah pergi. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati, Mail!" seru Asisten Dishi. 


Rasa gundah gulana menyelimuti hati Asisten Dishi pagi itu. Tapi, ia berusaha tetap bersikap seperti biasa. Segera membawa Ilkay ke sekolah. 


Aisyah bertemu dengan Leo di jalan, tapi ia menolak tawaran Leo untuk mengantarnya ke kampus. Aisyah lebih memilih naik kereta, daripada harus membuat Asisten Dishi salah paham. Dari kejauhan, Raza terus memantau  Aisyah dengan tatapan kebencian kepada Leo, yang dikira penghalang bagi jalan Raza untuk mendapatkan Aisyah.