Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Tegak Bukan Keadilan.



Dishi makan malam dengan lahap. Aisyah terus melirik kearah suaminya dengan tangan dan kaki tak tenang. Jantungnya berdebar kembali, bayangan malam pertama bersama suaminya membuat Aisyah sedikit takut. (Kebiasaan pakai Asisten Dishi. Sekarang mencoba hanya Dishi aja) 


"Ada apa?" tanya Dishi menyadari kegelisahan istrinya. 


"Ha? Tidak ada apa-apa," jawab Aisyah gugup. 


Dishi menunjuk tangan dan kaki Aisyah yang sedari tadi bergerak menandakan bahwa dirinya sedang gelisah. "Tuh, jika ada yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja!" seru Dishi kembali melahap santap malamnya. 


Tak hanya menemani makan malam saja, bahkan Aisyah meninggi Dishi selesai mencuci piring dan gelasnya. 


"Loh, belum tidur?" tanya Dishi terkejut ketika berbalik badan, Aisyah masih ada di belakangnya. 


"Mau nanya," ujar Aisyah malu-malu. 


"Tanya saja. Bukankah tadi aku bilang begitu? Kenapa, ada apa, istriku," ucap Dishi dengan lembut. 


"Um, malam ini kamu mau tidur di kamar aku?" tanya Aisyah. 


Pertanyaan Aisyah membuat Dishi bingung. Sampai Dishi mengetahui jika istrinya sedang gugup. Melihat sang istri gugup, membuatnya semakin ingin menggodanya. 


"Aduh, kenapa aku seperti orang mabuk begini. Apa yang kamu tambahkan dalam masakan kamu ini, Ai?" tanya Dishi berpura-pura seperti orang yang sedang mabuk. 


"Mana ada? Aku memasak seperti biasa, kok!" jawab Aisyah. 


Kesempatan itu, dimanfaatkan oleh Dishi mendekati Aisyah secara perlahan. Aisyah yang panik pun berjalan mundur, seraya bertanya kepada suaminya. "A-ada apa denganmu? Ja-jangan mendekat!" 


"Ai, kenapa kamu terlihat sangat cantik sekali? Huh, kenapa juga aku meninggalkanmu selama hampir sebulan, aku benar-benar ing--"


"Menjauhlah!" Aisyah mendorong keras Dishi sampai Dishi terpentok meja. 


"Aduh," keluh Dishi. 


Sementara Aisyah sudah berlari lebih dulu masuk ke kamarnya. Ia mengunci kamarnya, takut jika Dishi mengejarnya. 


"Ai, buka pintunya! Aku minta maaf, aku hanya main-main saja,"


"Ai, buka pintunya," mohon Dishi. 


"Allahu Akbar, aku bercanda Ai. Tolong buka pintunya!" 


Dishi terus mengetuk pintu, meminta maaf dan memohon untuk segera dibukakan pintunya. Dishi sampai memelas agar Aisyah mau membukakan pintu. 


"Ai, aku ngantuk. Bolehkan aku tidur di kamar. Tolong lah suamimu ini," pinta Dishi. 


Klek! 


Suara pintu di buka. Aisyah mengintip dan meminta Dishi untuk tidak bersikap seperti itu lagi. Dishi pun berjanji tidak akan melakukan candaan itu lagi. Pada akhirnya, Aisyah pun membiarkan Dishi masuk ke kamar. 


"Yang tadi itu--"


"Sudahlah, jangan di bahas! Lain kali jangan seperti itu lagi, aku tidak suka! Kalau mau, bilang!" sela Aisyah sebelum Dishi menyelesaikan permintaan maafnya. 


Seketika, Dishi bangkit dari rebahannya dan mendekat ke arah Aisyah, hingga membuat Aisyah terkejut lagi. "Hih, jangan begini. Aku belum terbiasa tau!" seru Aisyah menahan dada Dishi. 


"MasyaAllah, dadanya bidang banget. Eh, kenapa denganku ini. Kenapa pikiranku kotor sekali, sih?" gumam Aisyah dalam hati. 


"Kamu bilang takut, tapi sejak tadi kamu sendiri yang menyentuhku. Sama saja ini memancing hasratku, Ai," celetuk Dishi menyentil hidung Aisyah. 


Dishi pun mengalah, ia kembali rebahan di sisi Aisyah lagi. Tapi, tak lama kemudian, Aisyah meraih tangan Dishi dan merangkulkannya di pundaknya. Lalu, Aisyah menyandarkan kepalanya di dada sang suami. 


"Eh, apa ini?" goda Dishi. 


"Kangen," ucap Aisyah membenamkan wajahnya di ketiak suaminya. 


"Aku juga. Sangat merindukanmu. Baiklah, ayo kita istirahat, besok baru kita kejutkan Ilkay, hm?"


Pada akhirnya, mereka hanya tidur bersama. Berpelukan dan saling menggenggam tangan sepanjang malam. Meski keduanya 'ingin', tapi Aisyah sendiri belum siap ingin di unboxing secepat itu. Apalagi, memang kedatangan Dishi mendadak, dan membuatnya belum siap. 


Begitu juga dengan Dishi, ia menghormati keinginan istrinya, meski sudah tak mampu menahannya lagi. Perlahan, tegak yang bukan keadilan itu akhirnya turun sendiri tanpa penyesalan. (Astaghfirullah author) 


Aku lanjut nanti, ya...