
Malam hari, saat ketiganya berjalan bersama. Ilkay terlihat bahagia sekali bisa menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya seperti teman-temannya.
"Apakah dia tidur?" tanya Aisyah.
"Iya, dia terlihat senang sekali malam ini. Apalagi, pas dia tahu kalau aku akan menetap sementara di sini," ungkap Asisten Dishi sembari menggendong Ilkay di bahunya.
"Lelah? Biarkan aku yang menggendong dia," ujar Aisyah di saat melihat Asisten Dishi berkeringat.
"Aku saja, Mail. Sebaiknya kita pulang, kasihan jika dia terus tidur di gendongan aku seperti ini. Pasti badannya tidak akan terasa nyaman!" seru Asisten Dishi dengan suara yang semakin lembut.
Dari kejauhan, Raza rupanya juga baru datang ke Korea. Ia melihat Aisyah bersama dengan Asisten Dishi sedang masuk ke mobil. Raza mengepalkan tangannya, kemudian kembali masuk ke mobilnya.
"Kenapa dia datang ke sini?" dengus Rasa memukul jok mobilnya.
"Aku sudah susah payah membuat dia sibuk di Amerika. Kenapa dia bisa menyelesaikan pekerjaannya secepat itu?"
"Tidak! Meski dia adalah Ayah dari anak itu, aku masih ada peluang untuk memiliki Aisyah. Aisyah, tidak boleh dimiliki oleh orang lain, apalagi oleh seorang yang hanya menjadi Asisten saja!"
Raza meraih ponselnya, kemudian menelpon seseorang untuk mengawasi gerak-gerik Asisten Dishi di saat bersama Aisyah.
"Leo bukan apa-apa bagiku. Tapi Asisten ini, sangat mambuatku muak! Dia selalu ikut campur masalah Aisyah. Aku gagal mendapatkan Gwen, maka aku tidak boleh gagal mendapatkan yang satunya lagi," desis Raza membanting ponselnya.
Apa yang terjadi sesungguhnya dengan Raza? Pria yang lemah lembut, kemana sifat itu? Mengapa Raza berubah? Apakah hanya sebuah tameng saja?
Konflik keluarga mulai masuk babak tengah. Dimana triplets akan menjalani misi sedikit berat dan menentukan dimana mereka akan bahagia atau sedih di akhir kisah.
Malam itu, Asisten Dishi harus menginap lagi di rumah Aisyah karena apartemen sebelah belum bisa di tinggali. Setelah menidurkan Ilkay, Asisten Dishi di sibukkan dengan laptopnya dan kali bekerja.
"Perusahaan sudah stabil, apa lagi yang akan kamu kerjakan?" tanya Aisyah memberikan secangkir teh hangat.
"Aku menemukan fakta baru. Jackson Lim memiliki anak angkat laki-laki. Dia mengirimnya untuk memata-matai kamu di sini,"
"Lalu, Ibu kandung Ilkay juga ada di sini. Nyonya Cindy, selaku ibu angkat Tuan Muda, dia memberontak dan mulai menyerang keluarga Wang. Putrinya, Xia, ada di penjara bawah tanah, orangku bilang dia sudah mulai gila,"
"Belum lagi, ada masalah yang akan membuat Jackson Lim semakin brutal. Yakni, kelahiran adik bungsu kalian. Masalah semakin rumit, aku bingung harus menyelesaikan yang mana dulu."
Asisten Dishi menjelaskan panjang lebar apa yang telah terjadi. Ia juga mengatakan bahwa Chen sengaja di tarik ulur dengan pekerjaan agar Nona besar dari keluarga Natt bisa mencari celah menemukan kelemahannya. Lalu, perlahan akan merebut Chen dari Puspa kembali.
"Astaghfirullah hal'adzim. Aku dan Puspa tidak pernah tahu dunia kalian itu. Kenapa mereka juga menargetkan kami?" tanya Aisyah mulai resah.
"Itulah dunia hitam, Mail. Jika lawan tidak bisa ditargetkan, maka orang berharga lawan akan menjadi tujuannya," jelas Asisten Dishi.
"Tunggu, ini siapa?" Aisyah melihat ada seorang pria dengan identitas lengkap yang dikirim oleh orang kepercayaan Asisten Dishi.
Asisten Dishi membuka dokumen tersebut dan terkejut. Rupanya, Raza adalah anak angkat Jackson Lim yang dipaksa menjadi alat untuk balas dendamnya dengan masuk ke keluarga Aisyah secara baik-baik.
"Kalau Raza? Dia adalah anak angkat Jackson? Maksudnya apa? Nggak mungkin, selama ini Kak Raza begitu baik kepadaku dan Gwen," Aisyah seolah tak percaya jika Raza terlibat dalam dunia seperti itu.
Aisyah menggeleng. Ia tidak mau tahu apa yang terjadi saat itu. Pikirannya kacau, hatinya gelisah dan seperti ingin menangis. Raza yang selama itu baik, tak pernah macam-macam, malah ternyata ada di pihak musuh Kakaknya.
"Mail, aku akan meminta mereka menyelidiki lagi. Aku juga akan mencari keberadaan Ibu kandung Ilkay selama aku masih di sini," ujar Asisten Dishi dengan lirih.
"Untuk apa mencarinya? Kamu sendiri yang mengatakan, bahwa Ilkay akan menjadi milik kita sepenuhnya, bukan?" papar Aisyah.
"Iya, tapi--"
"Ail, apa kamu akan melakukan sesuatu untukku yang mungkin akan bertentangan dengan kebaikan?" tanya Aisyah.
"Maksudnya?" Asisten Dishi mulai bingung.
"Aku ingin kita secepatnya menikah. Aku tidak ingin Ilkay diambil oleh siapapun kecuali Allah. Aku, ingin menikah secepatnya!"
Mendengar pernyataan Aisyah membuat Asisten Dishi tercengang. Bagaimana mungkin mau mengadakan pernikahan di tengah-tengah kegaduhan.
"Mail, apa kamu serius? Aku akan menyiapkan pernikahan yang indah untukmu nanti," kata Asisten Dishi dengan menyakinkan.
Aisyah menggeleng, "Tidak, Ail. Aku ingin secepatnya. Besok, kita bicarakan hal itu dengan Ayah dan Ibuku. Stop, tidak ada tawar menawar lagi, aku tidur! Assalamu'alaikum."
Mengakhiri dengan kata salam, dan kembali ke kamarnya dengan membanting pintu sedikit kasar. Membuat Asisten Dishi bingung, dengan apa yang terjadi kepada kekasih hatinya itu.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, Mail,"
"Ada apa denganmu?"
Asisten Dishi melaporkan keinginan Aisyah itu kepada Chen dan Gwen. Ia juga meminta solusi dengan permintaan Aisyah itu. Gwen setuju saja jika itu yang terbaik untuk saudarinya. Tapi tidak dengan Chen yang malah emosi menanggapi pesan dari Asisten pribadinya.
"Apa-apaan ini? Aku memintamu untuk menjaganya, kenapa sampai dia meminta kau menikahinya secepatnya, apa yang kau lakukan padanya, Asisten Dishi!" bentak Chen.
"Tuan, ini juga mendadak bagi saya. Saya tidak tahu mengapa Nona mengajak saya menikah secepat ini?"
"Kita bahas lagi nanti besok. Ada urusan yang akan aku kerjakan. Kau istirahat dulu saja." Chen mematikan telponnya.
Sementara itu, Aisyah sedang melamun sendiri di kamarnya. Melihat indahnya kelap-kerlip kota Seoul dengan hatinya yang sedang gundah.
"Semua orang berubah, hidup macam apa yang aku jalani ini, Ya Allah. Mafia, penculikan, pengkhianatan, penipuan, apa lagi nanti? Kenapa nggak bisa hidup tenang saja, seperti keluarga yang lainnya?"
"Aku merasa, dari generasi Ibu dan Ayah mulai seperti ini. Kenapa Ayah harus menikah dengan putri Mafia? Kenapa bukan yang lain aja? Astaghfirullah hal'dzim, kenapa aku seperti ini?"
"Kehidupanku dan Ayah, dulu baik-baik saja. Sampai pada akhirnya Gwen dan Ibu kembali, semuanya menjadi berubah! Aku lelah dengan semua ini,"
"Lalu, aku kembali jatuh cinta dengan seorang pria. Tapi dia malah ingin mencari Ibu kandung dari anak angkatnya. Hish, mengesalkan sekali!"
Aisyah terus saja menyalahkan diri sendiri yang telah lahir dari keluarga yang unik. Di sisi lain, dirinya seorang muslimah sejati, tapi di sisi lain lagi, dirinya dipaksa menjadi orang berbeda dengan kehidupan yang tidak jelas sebagai putri dari dunia hitam.