Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Chen Mulai Gila



Bruak!


Suara pintu terdengar keras dibanting oleh Lin Aurora. "Chen?"


"Apa yang terjadi padamu?" Lin Aurora datang langsung menyentuh wajah suaminya dan terus mengusap-usap wajahnya.


"Apakah kau demam? Coba aku periksa? Ah tidak, kau tidak demam. Mungkin kau hanya lemas, biarkan aku memijatmu," Lin Aurora sungguh kebanyakan tingkah.


"Hei, aku baik-baik saja. Hanya semalam aku kelelahan saja. Aku sudah makan, aku juga sudah minum obat. Jadi, jangan kau heboh seperti ini. Berisik sekali!" 


Chen memang susah diajak bercanda. Lin Aurora masih memijat kaki suaminya dengan penuh kasih sayang. Chen pun menanyakan bagaimana tentang pernikahan kakaknya. 


"Kenapa diam saja? Bagaimana acara pernikahan kakakmu? Apakah lancar-lancar saja?" tanya Chen. "Apa disana juga ada Jackson Lim dan ibu angkatku?" sambungnya. 


"Ah, tentu saja mereka ada. Yang menikah dengan kakakmu kan adalah anak angkat Jackson Lim,"


"Lalu, bagaimana wajah pria itu, suami kakakmu? Apa dia jauh lebih tampan dari Jovan?" 


"Apakah ta--"


"CUKUP!" sentak Lin Aurora sembari berteriak. 


(Meong) Chen langsung terdiam. Menatap istrinya penuh keheranan. Melihat mata istrinya yang berapi-api, membuat Chen sedikit melempem. Singa besar telah berubah menjadi anak kucing. 


"Jika aku tahu kau akan ribut seperti ini, aku tidak akan pergi tadi. Kenapa juga kau menanyakan hal yang tidak penting Chen Yuan Wang?" ketus Lin Aurora. "Jika ingin tahu segalanya, kenapa kau tidak datang bersamaku tadi?" lanjutnya dengan kesal. 


Lin Aurora menghempaskan diri ke ranjang. 


"Hash, benar-benar membuatku gila!" Lin Aurora menggerutu. 


Tak ingin melihat istirnya marah-marah tidak jelas, Chen pun melanjutkan tidurnya dan memilih untuk diam. Namun, diam-diam Chen juga telah mendapatkan informasi tentan jalannya pernikahan dadakan antara Lin Jiang dengan putra angkat Jackson Lim. 


Tiga hari lagi adalah resepsi pernikahannya dengan Lin Aurora. Tahu jika akan ada sesuatu di balik resepsi itu, Chen pun mengutus anak buahnya untuk mengatur penjagaan di harinya nanti.


*****


***


Sudah dua hari berlalu, Jovan belum juga sembuh dari sakitnya. Memang racun itu ringan, namun kekebalan tubuh Jovan pada saat itu memang sedang tidak bagus. Sehingga membuatnya langsung tidak sadarkan diri. 


"Besok adalah resepsi pernikahan kalian. Tapi, kenapa Jovan masih saja belum sembuh? Apakah jenis racun yang kakakmu berikan itu dosisnya tinggi?" tanya Nyonya Wang.


"Tidak Ibu. Selama ini, Lin dan juga kakak tidak pernah memakai jesi racun yang kadarnya tinggi. Ini karena imun Jovan tidak stabil. Dokter mengatakan jika Jovan akan sehat dalam waktu dua hari lagi," jawab Lin Aurora.


Nyonya Wang sedih melihat Jovan masih terbaring lemas di ranjang. Meski Jovan bukanlah putranya, tapi sejak kecil Jovan tumbuh bersama Chen dan dekat dengannya. 


"Bibi, kenapa anda menatapku seperti itu? Aku baik-baik saja, Bibi. Tenanglah, besok di hari resepsi, pasti aku bisa hadir," ucap Jovan.


"Jangan memaksakan diri. Istirahat dan makan obatmu dengan teratur. Bibi akan mengecek lagi nanti selama 15 menit sekali," sahut Nyonya Wang dengan tutur bahasanya yang sangat sopan sekali masuk ke telinga. 


"Bibi, ayolah. Aku bukan anak kecil lagi. Aku pasti akan segera sembuh, tenang saja," 


Meski sudah dewasa, Nyonya Wang tetap selalu menganggap jika Jovan dan Chen masih anak-anak. Begitulah orang tua ketika memandang anak-anaknya. 


Sehari sebelum resepsi membuat Chen benar-benar sibuk. Pekerjaan kantornya, tidak ada yang membantunya. Semua Chen tangani sediri karena memang tidak ada yang bisa Chen percayai selain Jovan saat itu. 


"Apa ini? Hash, Jovan! Benar-benar … lihat saja bagaimana aku akan membuatmu mendapatkan ganjaran," 


"Apa lagi ini? Haduh, segala file pribadi masuk ke sini juga?" 


Chen terus saja mengumpat. Laptop Jovan dipenuhi dengan wajah Lin Jiang dengan dirinya. Bahkan, sampai password segalanya saja menggunakan tanggal jadian mereka. Chen iseng mengganti passwordnya menggunakan hari putus mereka. 


"Haha, makan tuh. Siapa suruh kau bekerja seenaknya begini. Hahaha--" Chen tertawa puas. Suara tawanya sampai ngik-ngok tak tertolong. 


Malam yang sunyi sepi di kantor. Semua karyawan sudah pulang tiga jam yang lalu. Chen masih saja sibuk lembur karena memang pekerjaannya tidak bisa di tunda lagi. 


"Aku akan mengalihkan semuanya kepada Ai. Entah kenapa, memang Ai yang cocok sebagai pemilik dari semua usahaku," gumamnya. 


"Tapi bagaimana jika Gwen cemburu? Tapi, dia sendiri sudah memilki banyak usaha yang dia teruskan dari Ibu Rere, bukan?" 


"Ah, sebaiknya aku alihkan untuk calon keponakanku saja. Iya, hadiah kelahirannya nanti, baru semuanya akan menjadi haknya," (Anaknya Gwen)


"Oh, tidak lupa dengan si bungsu. Rifky juga harus dapat yang palin terbesar. Semua aset milik Ilkay dulu, aku akan mengalihkannya kepada nama Rifky," 


Entah apa yang Chen lakukan itu. Tapi memang dia sedang menentukan siapa yang akan menerima harta pribadinya. Dimana harta itu memang hasil kerja keras Chen sendiri, tidak dibawah naungan group Wang. 


Ketika sibuk mengetik apa yang di dalam otaknya, satu pesan masuk dan membuat Chen terhenti dalam mengetik. "Siapa yang mengirimku pesan?" gumamnya dalam hati. 


Chen memeriksa ponselnya.  Ternyata, sang istri yang mengirimkannya pesan.  Dia menanyakan kapan Chen akan pulang. 


"Halo, ada apa? Aku tidak membaca pesanmu, jadi katakan saja secara langsung. Aku sedang sibuk, kenapa malah mengirim pesan?" ketus Chen melalu telponnya. 


"Ya aku mana tahu jika kamu sedang sibuk. Sudah sangat larut tapi kamu belum kembali, apakah aku salah jika mengkhawatirkan dirimu? Kenapa kamu bicara begitu ketus padaku? Apa salahku?" kesal Lin Aurora. 


Mendengar istirnya kesal, Chen langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya. Masih dengan ekspresi dengan mata terbelalak dan seperti orang syok, Chen pun langsung menutup telponnya. 


"Apa-apaan dia? Berani sekali dia bicara seperti itu padaku?" 


Merasa tidak terima jika Lin Aurora membentaknya, Chen pun akhirnya mengirim pesan dengan balasan yang membuat Lin Aurora semakin kesal. 


{Dasar gendut. Diamlah dan jangan sok tau. Aku malas bertemu deganmu!] - Chen. 


Membaca balasan dari suaminya, Lin Aurora semakin emosi sampai membuang bantal gulingnya. Dia pun berencana untuk menyusul Chen ke kantornya. 


"Nona, malam-malam seperti ini, anda mau ke mana?" tanya pelayan rumah. 


"Ke kantor. Mau menyusul Tuan Muda-mu!" Lin Aurora menjawab dengan ketus.


"Nona, ini sudah sangat larut. Bahaya bagi Nona untuk keluar malam seperti ini," tutur pelayan Mo. 


Lin Aurora menghela napas panjang. Kemudian, dia mengatakan jika dirinya ingin menyusul suaminya yang masih berada di kantor dan membawakan makanan untuknya.


"Nona, sepertinya Tuan akan segera kembali. Mohon jangan keluar rumah di dalam waktu selarut ini, Nona. Jika bukan untuk keselamatan Nona, maka tolong pikirkan tentang nasib saya sebagai pelayan di rumah ini," ujar pelayan Mo. 


Namanya juga orang yang sedang di mabuk asmara. Pasti akan melakukan apapun yang membuatnya bisa selalu bersama orang yang selalu di sayangnya.


Harusnya bukan depan end. tapi gak cukup sampai estimasiku. malah jadinya gantung. nah, niatnya Minggu depan mau aku up sampai end sekalian banyak bab. eh, udah di tegur mulu kudu update. maaf ya membuat menunggu. Qianzy up rutin loh