Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Entahlah!



"DIAM!" bentak Pak Raza. 


Seketika Gwen langsung diam, ia hanya menatap wajah Pak Rasa dengan tatapan yang tak seperti biasanya. Air matanya mulai berlinang, perlahan menetes membasahi pipinya. 


"Em, maaf a-aku … aku ti-- tidak ber--"


Belum juga Pak Raza mengucapkan maaf dengan benar, Gwen melepas tangan Pak Raza. Kemudian berlari ke kamarnya, seraya membanting pintu. 


Bam! 


Suaranya terdengar sangat keras, sampai Yusuf pun mendengarnya. Padahal, Yusuf baru saja ingin bicara dengan putrinya yang nakal itu. 


"Halo, Mas Raza! Kamu masih di situ?"


"Njeh, kulo tasih wonten mriki. Pripun, Pak?" sahut Pak Raza dengan sopan. (Iya, saya masih di sini. Gimana, Pak?) 


"Gwen marah, ya? Suara pintu kan itu? Tolong bilang padanya, Ayah nggak marah. Tapi segeralah pulang, Maminya sakit karena memikirkan dia. Terima kasih sebelumnya, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." tukas Yusuf memutuskan telponnya.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh."


Tanpa menunda lagi, Pak Raza mengetuk pintu kamar Gwen dengan sapaan lembut. Gwen berteriak memintanya pergi. Pak Raza menyadari bahwa pintunya tidak terkunci. Tak ada jalan lain, ia pun menerobos masuk dan melihat Gwen malah sedang makan di atas kasur. 


"Astaghfirullah hal'adzim, kamu ini, ya. Tak bisakah kamu bersikap dewasa, Gwen?" kesal Pak Raza. "Jika kamu bersikap seperti ini, saya akan pulang sendiri hari ini juga!" hardiknya. 


Alih-alih ingin membuat Gwen merenungi kesalahannya. Hardikan Pak Raza rupanya malah membuat hati Gwen terluka. 


"Kenapa? Pak Raza juga membentakku. Semua orang tidak menyayangiku, bahkan Pak Raza yang orang asing saja ikut menghakimi diriku. Apa salahku, hah?" sulut Gwen ketika Pak Raza memalingkan tubunya. 


"Aku selalu dibandingkan dengan Aisyah. Belum lagi, aku juga selalu dibandingkan dengan sepupu yang lain. Aku memang beban keluarga, tapi aku juga punya perasaan!"


"Aku bersikap seperti ini hanya ingin kelian memperhatikan aku. Kenapa semuanya tidak menyayangiku, kenapa?"


"Aku juga ingin seperti Aisyah, tapi nyatanya akhirnya tak bisa seperti dirinya. Aku ya aku, tak bisa menjadi seperti Aisyah! Aku menyayanginya, dia juga menyayangiku, tapi kenapa semua orang tetap membandingkan kami, kenapa? Bisakah kamu jelaskan kepadaku, Pak Raza?" Gwen mulai menangis. 


Ini kali pertama sejak pertemuannya dengan Gwen, melihatnya menangis. Pak Raza menjadi iba. Reflek, Pak Reza memeluk Gwen dan mencoba menenangkannya. Awalnya Gwen menolak dengan meronta. Namun pada akhirnya, ia pun bisa tenang dalam pelukan Pak Reza. 


"Semua orang menganggapku salah. Tidak ada yang pernah menganggapku benar. Apalagi Mami, apa yang aku lakukan selalu salah dimatanya," Gwen keenakan di pelukan Pak Raza. Ia terus mendalami peran sebagai gadis yang selalu mengalami kesedihan.


"Tapi yang dilakukan Aisyah selalu benar. Apakah seperti ini rasanya memiliki saudara kembar?" imbuhnya pura-pura menangis. 


Pak Raza tak mengatakan apapun, ia hanya memeluknya sebagai tanda simpatinya. Namun, pikiran nakal Gwen memang selalu begitu. Ia malah menikmati tubuh Pak Raza dengan sesuka hatinya. 


"Sial, tubuh Pak Raza kenapa bisa seharum ini, sih? Huh, cabulnya aku!" gumamnya dalam hati. 


Ponsel milik Gwen berdering lagi. Kali ini, ia mendapat telpon dari Ayahnya yang sejak kemarin malam mengkhawatirkan dirinya. 


"Ayahmu, tolong angkatlah!" pinta Pak Raza melepaskan pelukannya. 


Gwen hanya terdiam memandangi ponselnya. 


"Kenapa hanya diam saja, ayo angkat!" 


"Bapak saja yang angkat," jawab Gwen menolak ponselnya. 


"Kenapa harus saya? Dia kan Ayah kamu," tanya Pak Raza heran. Telpon itu mati, dan beberapa detik kemudian berdering kembali. 


Gwen tetap saja menolak seraya berkata, "Aku tidak bisa, aku tida bisa mengangkatnya karena aku paling nggak bisa bohong jika dengan Ayahku--"


Tentu saja Yusuf mendengar hal itu. Memang, selama ini yang paling Gwen takuti adalah Ayahnya. Ia bisa berbohong dengan siapa pun, tapi tidak dengan Ayahnya. 


"Meski Rasulullah berkata jika orang yang harus di hormati adalah Ibu, Ibu dan Ibu, baru kemudian Ayah ... tapi aku tetap tidak bisa menomorduakan Ayahku," lanjut Gwen kembali menolak ponselnya. 


"Tapi, tak sengaja jempolku menyentuh tombol hijau." ungkap Pak Raza dengan senyuman bodohnya. 


Wajah Gwen seketika datar. Ia merebut ponsel miliknya yang ada di tangan Pak Raza, lalu mulai bicara dengan Ayahnya. Gwen meminta maaf karena telah pergi tanpa berpamitan. 


Yusuf mengatakan kepadanya, bahwa Rebecca sakit dan menyuruhnya pulang secepatnya. Tetap saja Gwen menolak. Ia akan kembali jika misinya sudah selesai. 


"Tapi, Nak ... Ibumu sakit saat ini, apa kamu tidak kasihan? Aisyah juga tidak ada di rumah. Lalu, siapa yang akan menemaninya ketika Ayah bekerja?"


"Ayolah Ayah, aku datang ke sini juga karena tujuan! Aku dengar Kak Chen ada di sini. Kebetulan juga Kak Aisyah juga di sini, apa salahnya aku juga di sini?" protes Gwen. 


"Lalu, bagaimana dengan kuliahmu?"


"Ayah tenang saja. Ada Pak Raza di sini. Bukankah dia guru pembimbing yang kalian kirim untukku? Tenanglah!" jawab Gwen menyepelekan semuanya. 


"Nak, Pak Raza juga memiliki keluarga. Bagaimana jika Ibunya membutuhkannya? Apa kamu tidak kasihan melihat Ibunya sendirian di rumah?"


Gwen menoleh kearah Pak Raza yang tengah sibuk dengan laptopnya. Apa yang dikatakan Yusuf ada benarnya, Gwen memang tak seharusnya melibatkan Pak Raza dalam urusan pribadinya. Apalagi, Ibunya Pak Raza sudah mulai sepuh. 


"Ayah, aku tutup telponnya. Assalamu'alaikum, tunggu nanti aku pulang!" Gwen menutup telponnya. 


Usai menjawab telpon, Gwen mendekati Pak Raza dan menawarkan diri ingin membuatkannya makanan sebagai permohonan maaf karena sudah merepotkannya sampai sejauh itu. 


"Pak Raza," 


"Dalem," Lagi-lagi suara lembut Pak Raza berhasil membuat teduh hatinya Gwen. 


"Bapak lapar nggak?" tanya Gwen. 


"Sedikit, kenapa?"


"Em, mau aku masakin?" Gwen menawarkan diri. 


"Memangnya kamu bisa masak? Dan bagaimana dengan keadaanmu?" tanya Pak Raza mengkhawatirkan psikis Gwen. 


Gwen mengabaikan pertanyaan itu. Ia menarik lengan Pak Raza dan memintanya untuk duduk manis di ruang tengah. Berhubung Willy dan istrinya akan lama rumah saudaranya, Gwen akan menggunakan kesempatan itu untuk membujuk Pak Raza agar tetap mau menemaninya sampai misinya tuntas. 


"Tunggu di sini, aku akan masak nasi dan sayuran dulu, oke?" kata Gwen sambil merapikan sofa. 


Pak Raza tak menaruh curiga apapun, ia memberikan senyuman tipisnya dan duduk sembari melihat beberapa foto masa kecil Gwen yang masih tersimpan di album foto keluarga. 


Tak lama kemudian, terdengar suara teriakan Gwen dari dapur. "Anjiir! Baangke!"


"Astaga, kenapa syaraf motorikku sangat kotor, sih? Harusnya Astaghfirullah hal'adzim lah!" Gwen menampar mulutnya sendiri. 


Apa yang hendak Pak Raza lakukan?