
"Ceritanya panjang, Bu. Ada ju__"
"Assalamu'alaikum, Bu Rere. Assalamu'alaikum,"
Chen menduga jika orang yang datang adalah pemilik dari sawah yang baru di tanami padi. Chen meminta Ibunya menemui lebih dulu, sementara dirinya akan memanggil Puspa keluar.
"Hey, ayo keluar. Pemilik sawah sudah datang, kau juga terlibat, bukan? Ayo ikut aku!" Chen datang tiba-tiba menarik lengan Puspa.
"Kak Chen," sebut Aisyah dan Gwen bersamaan.
Puspa dan Chen keluar menemui pemilik dari sawah tersebut. Mereka berdua seperti anak kecil yang ketahuan mengambil mangga dari orang lain. Clingak-clinguk seperti anak yang sangat polos.
"Kalian berdua ini apa-apan, sih? Sudah dewasa juga kelakuannya masih seperti anak-anak. Ayo duduk, minta maaf dan baik," perintah Rebecca.
Asisten Dishi tak henti-hentinya menahan tawa karena Tuannya yang lucu itu. Bahkan, keduanya semakin lucu ketika saling menyalahkan dengan melemparkan tatapan satu sama lain.
"Chen, Puspa!" sentak Rebecca tegas.
"Iya," jawab keduanya bersamaan, segara mereka duduk dan mengatakan apa yang terjadi.
Awalnya Chen memang menyalahkan Puspa karena Puspa lah yang menyediakan motor itu. Namun, kerugian yang dilakukan Puspa, Chen yang akan mempertanggungjawabkannya. Sebab, bagaimanapun juga Chen yang meminta Puspa kabur bersamanya tanpa memberi penjelasan kepada pemilik sawah tersebut.
"Ini bukan masalah tanggung jawab karena uang, Nak Chen. Tapi, ini tanggung jawab yang kalian tinggal kabur itu tanpa penjelasan. Bapak hanya mau, kalian menanam kembali padi bapak yang rusak," pinta pemilik sawah.
"Tapi, saya tidak bisa melakukan itu, Pak," jawab Chen.
"Nak Puspa bisa, 'kan?"
Chen dan Puspa saling bertatapan. Tak lama kemudian, mereka pun mengangguk. Jadi, pagi itu juga, Puspa menanam padi, Chen yang membawa padinya.
Bapak pemilik sawah mengajarkan bentuk tanggung jawab itu tidak semuanya diselesaikan oleh uang. Keduanya sama-sama mengenakan caping, betapa lawaknya mereka sampai membuat Asisten Dishi tertawa.
"Jika kau masih saja tertawa, aku akan mengirimmu ke Afrika, Asisten Dishi!" bentak Chen.
"Tidak, maafkan saya, Tuan," masih saja Asisten Dishi menahan senyumnya seraya mengabadikan momen tersebut.
Setelah sekian lama, akhirnya mereka selesai. Keduanya juga makan dengan lahap, sampai minum saja mereka saling berebut. Image Puspa yang anggun berubah seketika ketika bersama dengan Chen.
"Puspa, kau makan seperti buto ijo saja. Aku pikir kalian se-frekuensi, jadi kau kelihatan bentuk aslinya," goda Aisyah menepuk tangannya dengan tangan Gwen.
"Jika Abi tau kelakuanku minus seperti ini, pasti beliau mengirimku ke Malaysia lagi," keluh Puspa masih sibuk mengunyah bakwan gorengan buatan Aisyah.
"Kenapa begitu? Adakah orang tua sekejam itu?" ketus Chen.
"Bukan kejam, Kak Chen. Tapi tegas," sahut Aisyah.
"Buktinya, cuma makan begitu saja langsung di kirim ke luar negri. Ayah macam apa itu?"
"Halah, buktinya kau juga di kirim ke Amerika. Nggak usah sok yes dah!" tangkas Gwen mengejar saudara kembarnya.
"Bocah tengik!" sulut Chen.
Setelah insiden itu, tak membuatmu Chen tinggal berlama-lama di rumah. Ia harus kembali ke Tiongkok bersama dengan Asisten Dishi serta Aisyah.
Aisyah akan ikut mereka untuk pengobatan herbal, juga pengobatan alternatif lainnya dengan Feng di sana. Gwen merasa akan kesepian ditinggal sendiri. Ia ingin sekali ikut, namun sedang mengalami kendala pingitan yang dilakukan oleh mempelai seminggu sebelum menikah.
"Aku ingin ikut juga," rengek Gwen.
"Kau tetaplah di sini, jaga Ibu dan calon adik kita," seru Chen.
"Pengen ikut …," Gwen makin merengek. "Aku akan kesepian di sini tau!" sambungnya dengan manja.
"Ada aku, loh. Aku akan menemanimu, sampai mereka kembali nanti," sahut Puspa.
"Dengar, 'kan? Ada ulat hijau ini yang akan menemanimu. Ulat hijau, titip adikku yang cantik setengah barat ini, oke?" ucap Chen dengan mengejek Puspa sebagai ulat hijau.
"Kakak!" teriak Aisyah dan Gwen bersamaan.
Entah mengapa Chen sulit untuk menyebut nama Puspa dan malah memanggilnya dengan nama ulat bulu. Chen dan Aisyah selesai berpamitan, mereka segera berangkat agar tidak terlalu lama bagi mereka untuk sampai di tempat tujuan.
Dua hari berlalu, Gwen sangat kesepian tanpa Aisyah. Meski Puspa bersamanya, namun Puspa tak selalunya bisa bersama dirinya. Gwen juga tidak bisa berkabar dengan calon suaminya karena masih dalam proses pingitan.
Pernikahannya akan dilangsungkan 4 hari lagi, sementara itu, Aisyah juga belum memberi kabar ketika berada di Tiongkok sana.
"Ini jaman sudah modern, ngapain pakai pingitan segala. Nikah juga di pesantren juga, nggak ada boyongan, ngapain di pingit!"
"Kak Aisyah juga ngapain sih berobat sampai ke Tiongkok. 'Kan bisa tuh obat dikirim ke sini,"
Gwen terus saja mengeluh bosan di rumah. Sedangkan Rebecca sudah mulai sibuk dengan acara pernikahan putri bungsunya itu.
Ketika Gwen sedang menikmati kebosanannya, Ayanna datang bersama dengan Gehna. Keduanya membawa hadiah untuk adik kesayangannya itu.
"Assalamu'alaikum," salam Ayanna dan Gehna bersamaan.
"Wah, siapa itu yang datang. Aku mencium aroma duit! Wa'allaikumsallam, sebentar!" Gwen langsung semangat ketika ada yang datang.
Gwen segera membuka pintu. Ia senang karena kakaknya datang menemuinya di saat dirinya sedang dilanda kebosanan. Gwen bahkan sampai memluk kedua kakaknya dengan erat.
"Aku senang sekali kalian berdua datang, apa yang kalian bawa?" tanya Gwen tanpa basa-basi.
"Soal hadiah aja, cepet banget!" dengus Ayanna.
"Kak Ay, aku emang gini. Apa itu?" sahut Gwen tak tahu diri.
"Hadiah buat kamu. Ini dari aku sama Kak Anthea. Kak Anthea nggak bisa pulang, anaknya lagi demam, nggak mungkin terbang ke sini," Ayanna memberikan sebuah kotak besar dari Anthea, saudari kembarnya yang telah menikah dengan orang Turki dan tinggal di sana.
"Makasih, terus ... dari Kak Ay sama Kak Nena, mana?" Gwen masih saja menodong kedua kakaknya meminta hadiah.
Ayanna dan Gehna hanya bisa menepuk keningnya. Meski sudah mau menikah, mereka tetap di sadarkan jika Gwen adalah adik bungsu yang akan selalu menghabiskan uang mereka.
"Hadiah dari aku, udah kirim ke rumah calon suamimu. Jadi, nanti dibukanya di sana, ya ...," tutur Gehna dengan lembut.
"Loh, dikirim ke mana? Bahkan aku nggak tau rumah calon suamiku dimana," gerutu Gwen.
"Kamu pintar banget deh pilih suami. Kakak nggak nyangka aja ada ya ... laki-laki yang sholeh dan punya latar belakang yang bagus seperti Ustadz Agam itu mendapatkan istri pecicilan kayak kamu," ejek Ayanna.
"Aku ini cerminan darimu. Kak Ay juga kan pecicilan tapi juga nikah sama orang berilmu. Kak Nena juga! Kak Nena nikah sama Habib, apa semua itu bukan keberuntungan?" ketus Gwen.
Ayanna dan Gehna hanya tertawa mendengar celoteh adiknya. Mereka akan merindukan hal itu ketika Gwen diboyong ke rumah suaminya nanti.
Aku end di pernikahan Gwen, ya...
Setelah ini publish karya baru dulu yang lebih fresh dengan kisah pesantren lagi. Tapi bukan dari keluarga besar Ruchan. Jika memungkinkan nanti, aku akan pikirkan masa depan Aisyah dan Chen. Soalnya ini sudah masuk bab ke 80. Stok aku aslinya berhenti di saat Chen sudah kembali dan mendengar Rebecca hamil. Mohon dukungannya, ya kakak kakak tercinta.