Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Terjalin Hubungan Baik



Malam harinya, Lin Aurora sedang duduk sendirian di luar. Memandang langit yang bertabur bintang, cuaca malam itu sangat baik untuk dirinya menghirup udara malam. 


"Tuhan, katakan padaku. Kenapa Engkau memberiku perasaan ini kepada pria angkuh itu? Hatiku sesak tak bisa aku kontrol," gumamnya. 


"Dia membuatku tak enak makan, tak fokus dan juga selalu membuat jantungku berdebar saat bersamanya. Itu sangat mengganggu, Tuhan!" 


"Tapi, dia tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Ini tidak adil!" 


Lin Aurora terus menggerutu. Kemudian membuka ponselnya, dan bermain game di bawah terangnya sinar rembulan. "Hey, akhir bulan tahun pun ada sinar bulan? Jika di Tiongkok, pasti sulit melihat bulan seperti ini," gumamnya.


Datanglah Rebecca menemuinya. "Kamu belum tidur, Nona Lin? Apakah tempat tinggal Chen tidak nyaman untukmu?" tanya.


"Eh, Bibi. Anda belum tidur? Mengapa Anda keluar? Ini sudah malam, ayo segera masuk dan istirahat," ucap Lin Aurora segera berdiri. 


"Um, kamu masih memanggilku dengan sebutan, Bibi? Bukankah, kamu akan menikah dengan Chen? Itu sama saja, sebentar lagi kamu akan menjadi putriku, 'kan? Jadi, panggil saja seperti Chen memanggilku, bagaimana?" tutur Rebecca. 


Rebecca merentangkan tangannya, tanda jika dirinya ingin memeluk Lin Aurora. Tanpa ragu lagi, Lin Aurora pun memeluk Rebecca. Tak terasa, buliran air mata membasahi pipi Lin Aurora. 


"Mengapa rasanya begitu hangat. Seakan Ibuku sendiri yang telah memelukku, apakah … semua pelukan seorang Ibu itu sama?" gumam Lin Aurora. 


"Dengar, Nak. Ibu tau rasanya kehilangan orang yang kita sayangi. Apalagi orang tua yang telah melahirkan kita. Tapi, meski begitu, kita tidak boleh terus selalu berduka untuk kepergian mereka. Kita harus lebih bisa maju, dan melanjutkan hidup kita, karena pada dasarnya, orang yang sudah tiada, tidak lagi bisa ikut campur dalam urusan kita yang masih hidup," tutur Rebecca. 


"Orang yang sudah meninggal, memang sudah hancur badan. Tapi, tidak dengan kenangan di hati kita. Mereka akan selalu bisa kita rindukan di hati kita, hm? Mendoakan mereka, adalah jalan terbaik," lanjut Rebecca. 


Tiba-tiba Lin Aurora menangis, ia menangis dipelukan Rebecca. Tak bisa ia bendung lagi. Rebecca berusaha menenangkannya dan memintanya untuk bercerita. 


"Bagaimana, jika malam ini sebelum tidur, kita bercerita? Kita akan jadi teman cerita mulai sekarang, hm?" ajak Rebecca. 


Lin Aurora mengangguk, mereka pun masuk ke rumah dan segera membuat camilan untuk mereka bercerita. Lin Aurora membuatkan beberapa kue bulan untuk Rebecca dan Rebecca membuatkan kue bolu kesukaan kedua putrinya. Mereka benar-benar saling melengkapi satu sama lain. 


Selesai membuat makanan, lelah mereka terbayarkan dengan hasil yang memuaskan. Mereka segera ke kamar dan mulai bercerita. Pada malam itu, Chen dan Yusuf sedang pergi ke suatu untuk menghadiri acara lain. 


"Bagaimana rasanya, Ibu?" tanya Lin Aurora penuh harap. 


"Kue bulan yang kamu buat, sangat enak. Ini mengingatkan Ibu dengan almarhum kakek Ibu dk Tiongkok. Terima kasih, Nak," ucap Rebecca. 


"Kue bolu yang Ibu buat juga sangat lembut. Mungkin ini sebabnya, kedua putri Ibu sangat menyukainya," sahut Lin Aurora. 


Mereka mulai menceritakan kisah mereka masing-masing, dimulai dengan pertanyaan Rebecca, tentang kepergian Ibu Lin Aurora. Tanpa kesedihan lagi, Lin Aurora menceritakan jika Ibunya kecelakaan ketika naik helikopter saat akan kembali ke Ibu Kota. 


Waktu itu, Lin Aurora masih berusia 10 tahun. Ibu kandung Lin Aurora ini jelas sangat menyayangi Lin Jiang, meski Lin Jiang adalah anak sambungnya. Itu sebabnya, Lin Jiang juga sangat menyayangi Lin Aurora. 


"Namun, saat itu Lin masih ragu, Ibu. Lin seorang muslimah, mana mungkin bisa menikah dengan Chen, yang Lin ketahui, dia bukan dari kalangan orang muslim," ujar Lin Aurora. 


"Ketika Lin mendengar bahwa Chen bertunagan dengan wanita lain dan ingin memutuskan perjodohan itu, Lin sangat senang. Itu ta dan ya, Lin tidak perlu menentang Ayah," lanjutnya. 


"Tapi, entah mengapa. Tiba-tiba saja, Chen menerima perjodohan itu dan kami bertunangan. Setelah beberapa kali pertemuan, ada sesuatu yang berbeda dalam diri Lin ini terhadap Chen, Ibu. Tapi Lin tidak tau, apa artinya semua ini," tukas Lin, mengakhiri kisahnya. 


Rebecca terdiam. Tak mungkin baginya ingin  ikut campur urusan pribadi putranya. Yang Rebecca ketahui, takdir itu telah berpihak kepada Chen dan Lin Aurora untuk bersama. 


"Sejak lahir, Chen adalah seorang muslim hanya saja, dia besarkan oleh keluarga lain. Jadi, ya begitulah. Ibu tidak ingin memaksa Chen untuk kembali," ucap Rebecca menjadi murung. 


"Ibu, bisa ceritakan tentang Chen kepada, Lin?" pinta Lin Aurora dengan menggenggam tangan Rebecca. 


Rebecca tersenyum, kemudian mengangguk. 


"Tak banyak yang Ibu ketahui mengenai Chen. Sebab, sejak dia lahir memang bukan Ibu yang merawatnya," ungkap Rebecca. 


"Lin tidak tau tentang masau Chen, Ibu. Semua informasi di blokir oleh Tuan Wang. Sekalipun mengulik tentang Chen, yang didapat hanyalah kenyataan bahwa Chen adalah anak angkat Tuan Wang saja, tidak ada alasan lain dibalik itu," sahut Lin Aurora.


Rebecca membuka album lama milik Aisyah dan Gwen. Di sana, Lin Aurora juga sama sekali tidak dapat melihat potret Chen saat kecil. Hanya ada Aisyah dan Gwen. Itu saja, kebersamaan mereka juga sudah besar. 


"Ini, kenapa ketika mereka balita tidak ada foto bersama, Ibu?" tanya Lin Aurora. 


"Sebentar lagi, kamu akan menjadi bagian dari hidup Chen. Akan ku ceritakan sedikit kisah kedua saudari Chen, nantinya kamu pasti akan mengerti mengapa Chen sangat menyayangi mereka," ujar Rebecca. 


"Kebersamaan Aisyah dan Gwen di mulai sejak usia mereka sembilan tahun. Sebelum itu, mereka hidup terpisah. Ibu dan Ayah bercerai, kami membawa satu-satu anak kami,"


"Ayah membawa Aisyah, dan Ibu membawa Gwen. Itu kami lakukan juga demi Chen, supaya dia tidak merasakan ketidak adilannya sendiri,"


"Diusianya yang ke sembilan, mereka kembali dipertemukan. Chen tahu jika Aisyah dan Gwen adalah saudari kembarnya. Ia memberikan tanda kasihnya kepada mereka,"


"Setelah usia meraka 22 tahun, mereka dipertemukan kembali di Thailand. Mereka sempat terlibat cinta segitiga. Hampir dan semua itu tersadar saat mereka tahu, bahwa mereka adalah sedarah dan sekandung,"


"Aisyah, selalu berkorban untuk mereka bedua. Chen dan Gwen memang begitu mirip, tapi tidak dengan Aisyah,"


"Meski begitu, Ibu sangat mencintai anak-anak Ibu. Tapi, Ibu merasa belum bisa menjadi Ibu terbaik bagi mereka. Itu sebabnya, Ibu tidak pernah mengengkan apapun tentang keputusan yang mereka pilih," tukas Rebecca, di tutup dengan foto terakhir kala sekeluarga berkumpul. 


Lin Aurora tidak menyangka jika hidup Chen begitu banyak ketidak adilan. Rebecca hanya berpesan, untuk menjaga Chen selalu. Sebab, ia pernah dipatahkan cinta oleh Puspa. Meski Rebecca tidak menyalahkan takdir itu, hanya saja ia tidak ingin melihat Putra sulungnya menderita lagi.


Nanti akan up lagi. Bentar, aku keluar beli bakso dulu. Maaf juga kalau jarang balas komentar, sibuk buat setoran up novel lain. tapi selalu aku baca dan like kok.