
Gwen keluar menemui Syifa di ruang tamu. Saat itu, ada dua santriwati yang sedang membantunya memulihkan keadaannya. Gwen pun duduk di antara para santri yang sedang bertamu.
"Gwen, kamu ini kejam sekali. Aku mampir mau meneduh, tapi kamu malah tidak mau membukakan pintu untukku. Sombong sekali kamu!" cetus Syifa.
Mendengar celotehan Syifa membuat Gwen kembali menguap. Agam membela sang istri tentunya. Ketika dia masuk ke kamar, Gwen memang masih tidur dengan headset menempel di telinganya. (Guys, memakai headset saat tidur itu bahaya, ya. Jadi jangan meniru Gwen)
"Sudah, sudah. Lagipula, istriku memang tidur di kamarnya. Keadaan hujan lebat, mungkin istriku tidak mendengarmu. Jadi, kamu datang ke rumah, ada hal penting apa?" Agam benar-benar pria yang penyabar.
"Apakah datang kerumah Ustadz, harus memiliki kepentingan?" tanya Syifa dengan wajah memelas.
"Tentu saja. Kamu yang istriku tidak akrab, jadi orang berpikir kamu datang untuk menemuiku. Tapi apakah itu salah? Kamu datang bukan ada kepentingan atau mengobrol dengan istriku, 'kan?" tanya Agam.
Syifa menundukkan kepala. Apa yang dikatakan Agam memang benar. Syifa datang hanya ingin menemui Agam. Bukan untuk bertemu dengan Gwen.
"Mbak Syifa, sebelumnya kamu minta maaf. Bukan maksud kami mengusir, tapi memang alangkah baiknya mbak Syifa jangan lagi datang, jika hanya untuk bertemu dengan Ustadz Agam," tutur salah satu santri.
"Bukan bagaimana bagaimana, takut ada fitnah lebih baik mbak Syifa mengurang waktu berkunjung ke rumah ustadz Agam," lanjut santri lainnya.
"Kalian jahat! Seharusnya yang menikah dengan ustadz Agam itu aku, bukan Gwen!" protes Syifa, dengan berdiri menunjuk-nunjuk Gwen.
"4 tahun yang lalu, pernikahan aku dengan ustadz Agam, sudah ditentukan. Tapi kenapa malah perempuan ini yang sekarang jadi istrinya? Aku tidak terima!" lanjutnya.
"Gwen bukan gadis baik! Dia penjahat! Masa lalunya sangat buruk, dia pembunuh dan Ibunya juga pembunuh! Bagaimana mungkin orang seperti itu menikah dengan Ustadz Agam kalian, ha?"
"CUKUP!" sentak Agam.
"Baik buruk istriku, aku sudah menutup aibnya rapat-rapat. Aku menerima dia apa adanya. Aku sangat mencintainya dan juga menyayanginya. Hal ini saja sudah sering kali aku katakan kepadamu, Syifa. Kenapa kau masih membuang-buang waktu? Kamu masih muda, kamu cantik, kamu berhak mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari aku," ujar Agam dengan suara yang sedikit gemetar, menahan emosinya.
"Tolong ... jika kamu tidak bisa menghormatiku sebagai suami orang lain, maka jangan pernah kamu mengatakan hal buruk tentang istriku. Pintu masuk dan keluar rumah ini ada di sana," Agam mengusir Gwen.
Sadar dirinya diusir, Syifa pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam. Tanya Syifa, bahkan beberapa santri yang seharusnya Agam ajak untuk membahas pekerjaan, disuruh pulang olehnya.
Setelah semua yang pergi, Agam duduk di sofa dan mahal napas panjang. Gwen pun duduk di samping suaminya dan mencoba menenangkan hatinya.
"Mas, sebenarnya kamu tidak perlu mengatakan semua itu. Semua orang tahu masa laluku. Itu adalah karma aku, di masa lalu aku begitu buruk. Membunuh orang, mencuri harta orang dan juga merampas.Semenjak hamil, hatiku jauh lebih peka. Hal itu tak perlu disembunyikan lagi dari siapapun," tutur Gwen.
"Jika bukan Mas yang kamu jadikan rumah, maka siapa lagi? Kamu sedang hamil, hatimu lebih sensitif, Mas tidak bisa membiarkan Syifa terus berkata buruk tentang kamu, Sayang," lanjut Agam membelai pipi istrinya dengan lembut.
"Masa lalu aku, semua orang sudah tahu, Mas. Jika suatu saat, aku tidak bisa mendidik anakku, berarti aku adalah wanita yang gagal dan seorang ibu yang gagal. Aku takut, anakku akan menyalahkan aku nantinya," ucap Gwen mulai ngawur.
"Kamu ngomong apa, sih? Kamu wanita yang baik, pasti kamu juga akan menjadi ibu yang baik. Apa hari ini kamu ada masalah?" tanya Agam.
Sebelum Gwen tidur, dia mendapatkan kabar tentang Jackson Lim yang mengeluarkan Cindy dari penjara. Tenaga Gwen sudah tidak sama dari sebelum dia hamil, ada satu nyawa yang harus dijaga. Gwen takut, jika suatu saat nanti Gwen sudah tak lagi bisa menemani anak dan suaminya, Syifa akan hadir kembali dan menempati posisinya.
"Kau mau berpikir terlalu jauh. Kamu baru hamil tujuh bulan. Akan akan membutuhkan waktu dua bulan lagi. Yakinlah Kalau kamu bisa menjadi Ibu yang paling baik bagi anak kita, hm?" Agam tahu, perasaan Ibu hamil selalu berubah-ubah.
Agam berencana untuk membawa Gwen ke rumah mertuanya. Supaya ada yang menjaganya ketika dirinya sedang pergi jauh. Hanya mertuanya yang saat itu bisa Agam andalkan. Lingkungan sana, juga akan jauh dari kejahilan Syifa, dengan begitu Gwen bisa lebih enjoy lagi menanti lahirnya sang buah hati.
Untuk saat itu, yang selalu mengganggu Gwen hanya Syifa. Meski Agam selalu tegas dengan Syifa supaya tidak lagi menganggu hidupnya, Syifa masih saja tidak mengerti.
********
***
Di sisi lain, Jackson Lim dan juga Cindy kembali beraksi. Mereka sedang merencanakan hal jahat lagi untuk membuat Yusuf dan juga Rebecca menderita. Sebelumnya, Cindy ingin kembali ke Negara asal karena hendak melihat kondisi Rebecca saat itu.
Hanya saja, Cindy tidak lagi bisa kembali karena semua orang telah membencinya, sampai keluarganya saja tidak mau menerima Cindy kembali. Hanya Jackson Lim yang bisa buat pelarian baginya.
"Jackson, rencana apa lagi yang ingin kita lakukan supaya bisa membuat Rebecca menderita. Beberapa rencana kita gagal, itu karena anak-anak Rebecca dan Yusuf begitu hebat. Masing-masing memiliki hal yang tak terduga di saat kita menyerang mereka," Cindy mulai emosi jika membahas keluarga pria yang mencampakkannya itu.
"Diamlah! Ini semua gara-gara kecerobohan yang kamu lakukan. Jika saja kamu tidak memerintahkan wanita bodoh Chaterine, maka kau tidak mungkin akan masuk penjara. Jika anak itu saja yang mati, itu percuma saja, Cindy!" cetus Jackson Lim.
"Target utama kita adalah Rebecca. Jika dia mati, pasti anak-anaknya akan bersedih. Di saat itu juga, mereka akan lengah. Dengan begitu, kita bisa menyerang mereka, paham?" terang Jackson Lim.
"Kita sudah mencoba beberapa cara untuk membunuh Rebecca. Tapi hasilnya apa? Rebecca ini seperti kucing yang memiliki banyak nyawa. Dia selalu saja terlepas dari segala macam bahaya yang menimpanya," sulut Cindy.
Jackson Lim menyeritkan alisnya. Masih berpikir bagaimana caranya untuk membuat kakak angkatnya itu tiada dan segera merampas harta yang ada di bawah tangan Rebecca.
Mereka sama sekali belum bisa bertaubat. Sebelum mencapai apa yang mereka inginkan, kejahatan mereka semakin bertambah gila hanya karena dendam dan harta.