
"Dimana remaja itu?" tanya Tuan Zi.
"Ini hanya salah paham. Remaja itu sudah pergi karena aku menyuruhnya untuk pergi. Apakah Ibu itu menerima kompensasi dari anda?" Lin Aurora memastikan lagi.
Tuan Zi memberikan banyak sekali keperluan sehari-hari untuk Lin Aurora. Yang di mana, itu tidak akan bisa muat lagi di tempat penyimpanan makanan di rumah kediaman keluarga uang yang begitu besar.
Meski begitu, Lin Aurora tetap menerima pemberian dari Tuan Zi. Uang kompensasi dari Tuan Zi kepada Ibu tadi juga tidak sedikit rupanya. Lin Aurora berjanji akan menggantinya lain kali.
"Sudahlah, aku melakukan ini semua juga karena aku ingin membantumu. Um, Bagaimana jika kita jangan bicara formal lagi di saat kita sedang berdua seperti?" usul Tuan Zi.
Lin Aurora bukan wanita bodoh. Dia tahu apa maksud Tuan Zi itu. Dengan menerima bantuan dari Tuan Zi, juga membahayakan identitasnya sendiri. Lin Aurora meminta nomor rekening Tuan Zi, untuk mengganti semua yang yang ia keluarkan sore itu.
"Kenapa repot-repot? Aku sudah mengatakannya, bukan? Aku rela melakukan ini untukmu," ujar Tuan Zi kekeh.
"Anda melakukan hal seperti ini, malah hanya membuat saya semakin terlihat seperti seseorang yang bener-bener tidak mampu untuk berjuang sendiri. Mohon untuk pengertiannya, saya akan mengembalikan uang Tuan Zi secepatnya," ucap Lin Aurora sembari mengadahkan tangannya.
Tuan Zi baru sadar. Bukan seperti itu cara mendekati wanita seperti Lin Aurora. Dengan berat hati, dia pun memberikan nomor rekeningnya, supaya Lin Aurora bisa mengembalikan uangnya nanti.
"Baiklah, aku akan anggap ini sebagai pinjaman. Kapanpun kamu ingin mengganti uangku, maka kamu bisa mengirimnya ke nomor rekening ini," ucap Tuan Zi sembari memberikan nomor rekeningnya lewat pesan.
Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Lin Aurora pun pamit. Dia harus masuk ke dalam gang kecil untuk membuat Tuan Zi percaya jika dirinya masih akan bekerja di tempat lain. Wajah lesu Tuan Zi sangat terlihat jelas jika dia sedang kecewa.
Setelah mobil Tuan Zi berlalu, Lin Aurora kembali ke jalan utama dan melangkah menuju arah jalan pulang. Chen benar-benar marah kepada Lin Aurora, sehingga Chen pulang lebih dulu sampai tidak menunggu Lin Aurora menyelesaikan masalahnya.
"Dia benar-benar sudah pulang? Aku pikir dia menungguku. Hash, ada apa dengan diriku ini?"
"Ini memang salahku. Jika aku ingin menutupi identitasku sebagai istri seorang Tuan Muda Wang, seharusnya aku tidak mengatakan jika aku hanya memiliki seorang kakak saja," sesal Lin Aurora.
Mobil Jovan melintas dan berhenti di depan Lin Aurora. Kemudian, Jovan memintanya untuk segera masuk dan pulang bersama dengannya.
"Hey! Masuk!" teriak Jovan.
Lin Aurora segera masuk dan meletakkan belanjaannya di kursi belakang. Jovan melihat isi belanjaan Lin Aurora dan heran dengan istri sepupunya itu.
"Untuk apa kau membeli semua ini? Bukankah di rumah mertuamu sudah banyak banget bahan makanan, ya?" tanya Jovan.
"Jangan banyak tanya! Cepatlah jalan!"
Melihat Lin Aurora yang sedang badmood membuat Jovan enggan bertanya lagi. Dirinya juga sedang tidak baik-baik saja hatinya. Apalagi, diperjalanan ketika mengantar Sachi, Sachi terus saja bicara dan sampai membuat kepala Jovan semakin pusing.
Sesampainya di rumah, Jovan membawakan belanjaan milik Lin Aurora masuk dan memberikan kepada Pelayan Mo. Sungguh membuat Jovan heran sejak masuk mobil sampai tiba di rumah Lin Aurora selalu diam dan terlihat gelisah.
"Ada apa lagi dengannya?"
"Huh, dah lah. Lebih baik biarin saja! Siapa tahu, dia sedang datang bulan," Jovan meminta Pelayan Mo untuk membuatkan makanan untuknya. "Setelah itu, bawa ke kamarku, ya. Malam ini, aku mau tidur di sini," perintahnya.
"Baik, Tuan Muda," jawab Pelayan Mo.
"Ada masalah apa?" tanyanya mengagetkan Lin Aurora.
"Haduh, aku kaget!" Lin Aurora sampai mengusap-usap dadanya. "Apa-apaan, sih? Datang ya tegur atau sapa dulu. Mengagetkan aku saja!" kesalnya.
"Lah? Dia kesal--"
Jovan mengurungkan niatnya untuk bertanya. Diapun pergi ke kamarnya dan ingin rehat sejenak. Sementara Lin Aurora, masih bimbang ingin masuk ke kamarnya sendiri.
"Masih belum mau masuk?" tegas Chen dengan suara, seperti orang yang sedang marah.
"I-iya, aku masuk!" jawab Lin Aurora gugup.
Suasana kamar menjadi sunyi. Mungkin memang setiap harinya seperti itu. Hanya saja, sore itu keduanya sedang ada problema, jadi suasana sunyi semakin sunyi.
"Mau mulai dari mana dulu, nih?" gumam Lin Aurora bingung. "Ah, aku harus kasih tahu tentang urusan dengan Ibu-ibu tadi. Siapa tahu, Chen akan melunak dan lebih hangat," lanjutnya dalam hati.
Lin Aurora duduk di dekat Chen yang saat itu sedang membaca buku di sofa kamarnya. Perlahan, Lin Aurora mengambil buku dari tangan suaminya itu dan meletakkan di meja yang ada di sisinya.
"Kenapa? Aku belum selesai membaca, Lin Aurora!" cetus Chen.
"Ada hal yang ingin aku katakan padamu," ucap Lin Aurora lirih.
"Jika ini tentang pria itu ... Aku malas membahasnya!"
Chen sulit ditangani jika sudah marah. Lin Aurora pun memutar otak, berpikir bagaimana caranya dia bicara dengan tenang dan tidak membuat suaminya semakin marah.
"Aku dalam kesulitan, apa kamu bersedia membantuku? Jika mau, aku akan mulai menjauhi Tuan Zi sebagai biaya kompensasinya, bagaimana?" Lin Aurora mencoba membuka negosiasi.
Lirikan tajam Chen menandakan jika dia sedikit tertarik dengan tawaran yang Lin Aurora tawarkan padanya. Mendapat sinyal bagus, Lin Aurora mengatakan bahwa Tuan Zi mentraktir dirinya bahan makanan dan juga membayar kompensasi atas apa yang dilakukan Chen terhadap anak kecil yang ada di toko beberapa waktu lalu.
"Apa? Kamu ditraktir dan berhutang dengan pria menyebalkan itu? Apakah uang dariku tidak cukup untukmu, hah? Kemana kartu yang aku berikan padamu, Lin Aurora!" emosi Chen meluap ketika mendengar istrinya berhutang dengan pria lain.
"Aku takut menggunakan kartu itu," jawab Lin Aurora mengigit bibinya.
Melihat istrinya bermuka melas, Chen menjadi tidak tega memarahinya lagi. Dia pun meminta sang istri untuk menghubungi Tuan Zi dan memintanya nomor rekening.
"Kau minta pria itu mengirim nomor rekeningnya. Aku akan mengganti total uang yang kau pinjam itu," ucapnya dengan lembut.
"Serius?" tanya Lin Aurora seolah tidak percaya.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" ketus Chen.
Lin Aurora menggeleng. Kemudian memberikan nomor rekening milik Tuan Zi yang tadi ia minta. Menghormati keputusan sang istri untuk menyembunyikan identitasnya, Chen meminta Dishi untuk mengganti uang yang istrinya pinjam dari Tuan Zi. Kemudian Chen hanya perlu mengganti uang Dishi saja. Dengan begitu, pengirim akan menjadi atas nama Dishi, dimana Lin Aurora memperkenalkan Dishi sebagai kakaknya.
*Kakak, mohon jaga ketikannya untuk yg mengatai aku tolol dsb. Novelku mungkin memang merusak akhlak. Tapi, dengan membuat novel di noveltoon, aku mendapat uang untuk menghidupi anak yatim piatu. Adikku masih ada 4 yg terbilang yatim piatu. mereka masih dibawah umur 16th. Jika tidak suka dengan karya aku, tidak apa-apa. Berkomentar yang bijak, jika saya sudah tidak sabar lagi, saya bisa meminta hacker untuk memantau siapa anda. dan semua komentar sudah saya ss. bisa saya gunakan sebagai bukti dengan pasal ancaman. Iya saya lebay, tapi ini sudah 1 tahun lebih, anda terus berkomentar di balik akun bodong. Apakah dengan akun bodong, anda tidak bisa di lacak? bisa loh. Siapapun anda, meski orang terdekat aku, pasti tau jika saya berjuang mati-matian mengurus anak yatim piatu. Mohon di jaga ketikannya. jika novel aku memang merusak akhlak anda, mohon maaf. sebaiknya jangan di baca. terima kasih. Jujur, saya sakit hati. Semoga, anda selalu sehat dimana anda berada. jangan sampai ketika aku meninggal nanti, aku masih sulit memaafkan setiap kata-kata kasar anda, anda yg akan rugi sendiri. perkataan buruk akan kembali kepada anda sendiri. Wassalam*