Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Pertemuan



Chen menuju kota yang hendak ia kunjungi sesuai dengan kerjasamanya bersama dengan Willy. Jalan yang ia lalui melewati desa pelosok yang di kunjungi Aisyah, Feng dan yang lainnya penyuluhan. 


Ketika sampai di dekat desa itu, mobil yang Chen kendarai mengalami kemalangan. Ban-nya tiba-tiba saja kempes semuanya dalam hitungan detik. Otomatis sopir menghentikan kemudinya. "Ada apa?" tanya Chen. 


"Tidak tahu, Tuan. Tapi, saya merasa ban-nya ada yang kempes," jawab sopir. 


"Asisten Dishi, coba kau lihat. Bantu sopir ini memperbaikinya!"


"Baik, Tuan."


Datanglah beberapa orang dengan memakai pakaian serba hitam menodongkan senjata kepada sopir dia juga Asisten Dishi. Melihat aksi itu, Chen segera turun dan mengamati apa yang sebenarnya terjadi di luar. 


"Tuan, tolong jangan keluar!" teriak Asisten Dishi. Beberapa orang lagi mulai mengepung mereka.


"Tapi aku sudah terlanjur keluar. Apa semua barang kita ada di tanganmu?" bisik Chen. 


Asisten Dishi mengangguk. Chen berpikir tidak mungkin akan melawan orang sebanyak itu. Ia pun memberi kode kepada Asisten Dishi untuk kabur dalam hitungan ke tiga.


Belum juga menyebut angka satu dan dua, Chen langsung menghitung di angka tiga dan menarik tangan Asisten Dishi. Meninggalkan sangat sopir sendiri di sana. Ketika Chen menoleh, sopir tersebut telah tewas. 


"Tuan, bagaimana ini? Kita akan lari ke mana lagi?" tanya Asisten Dishi. 


"Berhenti bicara dan pakai otakmu untuk bekerja!" tegas Chen. 


Mereka masih terus berlari, tak ada jalan lain selain jalan raya kecil di sana. Terpaksa Chen dan Asisten Dishi harus mengecoh ke dalam hutan. Tembakan telah di luncurkan, beruntung Chen tidak terluka karena pluru yang hampir saja menembus lengannya. Asisten Dishi semakin khawatir dengan Tuannya itu. 


"Tuan, sebaiknya kita mencari tempat berlindung. Apakah kita tetap harus lari?" tanya Asisten Dishi kembali. 


"Sial! Tidak ada cara lain, kita memang harus menghadapi mereka," ujar Chen mengeluarkan belatinya. 


"Menyerahlah! Atau kau akan mati!" teriak salah satu penjahat itu. 


"Apa? Mereka bisa bahasa Mandarin? Siapa kalian ini?" Asisten Dishi heran dengan mereka yang bisa berbahasa Mandarin. 


Perkelahian terjadi, Chen memang ahli dalam bela diri. Namun, mereka jauh lebih banyak sehingga membuat Chen dan Asisten Dishi terluka. 


Dari dekat sana, Aisyah mendengar suara tembakan dan perkelahian itu. Ia mencoba mencari sumber suara di sana. Aisyah mempercepat langkahnya dan segera ingin tahu apa yang terjadi dalam hutan itu. 


"Siapa mereka? Kenapa mereka berkelahi di alam? Apakah mereka Mafia? Seperti Ibu dan keluarganya?" gumam Aisyah. 


"Mereka hanya berdua, lalu lawannya sangat banyak. Mereka berdua pasti akan kalah!" lanjut Aisyah semakin mendekati tempat perkara. "Kenapa aku peduli? Gwen bilang, jika aku menemui aksi seperti ini di negara lain, aku tidak boleh ikut campur," 


"Tapi, kedua pria itu ...."


Aisyah hanya bisa mengikuti nalurinya. Ia masuk dalam lingkaran perkelahian itu dan siap melawan. Beruntung dia membawa obat bius fan juga racun yang telah Feng racikan untuknya. Racun ia semprotkan, dan bius ia lumurkan di jarum pentulnya.


Chen tertusuk di bagian perut. Membuat Aisyah ikut merasakan sakit yang tidak ia ketahui sumbernya. 


"Tuan!" teriak Asisten Dishi. 


Aisyah kembali merasakan sakit hati yang mendalam. Segera mungkin ia menyemprotkan cairan racun itu ke wajah para pria yang berpakaian serba hitam itu. Tanpa mengatakan apa-apa, Aisyah segera menarik pengan Chen dan membawanya ke tempat lebih aman.