Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Selangkah Lagi.



Tengah malam, Gwen terbangun dari tidur lelapnya. Ia menyalakan lampu penerangan dan meraih ponselnya. Waktu menunjukkan pukul 3 dini hari. Ketika Gwen menoleh ke arah samping ranjangnya, ia tidak mendapat suaminya ada di sana. 


"Jam segini, mesti Mas Agam bangun. Lagi apa dia?" gumam Gwen.


Gwen berjalan dengan pelan keluar kamarnya. Mencari dimana suaminya berada dan akhirnya ia menemukan suaminya sedang tadarus sendiri di ruang tengah. 


"Aku lupa kalau aku menikahi seorang ustadz. Harusnya aku juga bisa bangun lebih awal dan menggapai surga bersamanya. Ini, aku malah bangun selalu kesiangan," gumam Gwen dalam hati. 


Sebelumnya, Gwen memang beban keluarga. Tidak pernah melakukan hal benar dan selalu membuat keluarga pusing. Setelah menikah, banyak yang disesalkan dalam hidupnya. 


Jodoh cerminan diri itu memang benar. Saat ini, memang Gwen belum bisa mengimbangi kehidupan Agam. Akan tetapi, Gwen ini masih seperti kanvas putih yang bisa di ukir sesuai hati pemiliknya. Hatinya baik, hanya saja tingkah lakunya yang selalu minus karena cari perhatian kepada keluarganya.


Gwen masuk ke dapur, membawakan air putih untuk suaminya. Melihat sang istri datang, Agam pun menghentikan tadarusnya. "Kamu, terbangun? Apa suara Mas mengganggu tidrumu, Dek?" tanya Agam. 


"Kok, udahan? Aku ganggu, ya? Maaf, aku hanya ingin memberikan minum saja, kok," Gwen malah balik bertanya. 


Agam tersenyum, meletakkan Al-Qur'annya di tempat semula. Lalu, meraih tangan sang istri yang hendak pergi. "Tetaplah di sini jika kamu tidak mengantuk lagi," ucap Agam. 


Gwen tersenyum, dengan semangat ia duduk di samping suaminya dan merebahkan kepalanya di bahu sang suami. Bukan hanya merebahkan kepalanya saja, bahkan Gwen juga menggenggam erat tangan Agam seraya menciumi tangan suaminya. Hal itu pernah ia lihat kala Ibunya melakukan hal yang sama. 


Jika tangan kanan Agam terus diciumi oleh Gwen, maka Agam memberanikan diri membelai rambut Gwen dengan lembut. "Ka-kamu, belum mau sambung tidur lagi?" tanya Agam sedikit gugup. 


"Mas sendiri, bagaimana?" Gwen kembali bertanya. 


"Mas nanya malah balik di tanya. Kalau Mas masih mau nunggu subuh. Sepertinya akan sulit untuk Mas tidur lagi," jawab Agam masih membelai rambut Gwen. 


Gwen teringat drama yang ia tonton. Di mana dalam drama itu, sepasang kekasih saling memadu kasih di ranjang dan akhirnya bisa tertidur lelap. Terlintas dalam pikiran Gwen ingin melakukan hubungan lebih intim lagi dengan suaminya. 


"Apa aku harus lakukan itu? Tapi, tidak ada salahnya juga jika aku yang memulai dulu," gumam Gwen dalam hati. "Ah, Mami juga pernah cerita kalau Mami yang inisiatif dulu. Bisa kali aku ikuti jejak Mami," imbuhnya dalam hati. 


Di puk-puk kepala Gwen dengan lembut oleh Agam. Tidak lupa, Agam juga melantunkan shalawat untuk istri nakalnya itu. Hampir saja Gwen kembali terlelap. Tidak ingin melewatkan kesempatan baik, Gwen pun tiba-tiba beranjak. 


Duak!


"Aduh!" jerit Agam memegangi hidungnya, karena ketika Gwen bangun dari bersandarnya, kepalanya mengenai hidung suaminya. 


"Eh, mohon mangap, Mas. Maaf maksudnya, mana yang sakit?" Gwen panik.


Agam memberitahu bahwa hidungnya yang sakit. Pertama, Gwen mengelus-elus hidung Agam dengan lembut. Penerangan ruangan ketika malam memang sedikit redup. Namun, saat itu mampu membuat Agam melihat dengan jelas dari dekat wajah istrinya dengan mata cantiknya. 


Jantungnya mulai berdebar kala memandang istrinya,sementara yang dipandang sedang sibuk mengelus hidungnya. "Maafkan aku, aku benar-benar minta ma--" ucapan Gwen terhenti saat dirinya juga memandang mata Agam.


"MasyaAllah ... indahnya ciptaan-Mu, Ya Rabb," puji Gwen dalam hati. Jantungnya pun juga ikut berdebar saat itu. Kini, mereka saling memandang, cinta mulai tumbuh dalam hati keduanya. 


"Ini waktunya!" seru Gwen dalam hati. 


Tanpa aba-aba, Gwen menyergap bibir suaminya dengan cepat. Kecupan yang dilakukan Gwen membuat Agam terkejut. Ia sampai melotot karena terkejut, kecupan pertama Gwen malam itu memang singkat. Tapi mampu menyengat hati suaminya. 


Kali itu, bukanlah sebuah kecupan. Melainkan ciuman yang begitu lama, dengan Gwen memejamkan matanya, membuat Agam larut dalam suasana itu. Melihat selimut yang ada di samping sofa, Agam langsung meraihnya dan menutupi tubuhnya dan tubuh istrinya menggunakan selimut tersebut. 


Masih dengan bibir yang saling menempel, tangan Agam mulai memeluk tubuh sang istri dengan lembut. Merasa dibalas ciumannya, Gwen melanjutkan level berikutnya dengan bermain indra pengecapnya. Namun, sempat di tahan oleh Agam, dengan melepas ciuman dari sang istri. 


"Ada apa?" tanya Gwen sedikit kecewa. 


Masih dalam balik selimut, mereka mulai membicarakan hal yang terjadi. 


"Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan ini, Dek?" tanya Agam balik. 


Gwen mengangguk, "Ini kewajibanku, 'kan?" 


"Bukan, kewajiban wanita bukan seperti ini," jawab Agam. 


"Tapi aku ingin, ini sudah malam ketiga. Kenapa Mas masih menundanya?" desak Gwen. 


"Mas tidak menundanya. Hanya saja, Mas belum berani minta izin kepadamu," jelas Agam lirih. 


"Tapi aku siap, aku ingin. Tak bisakah kita melakukanya dan tidak menundanya lagi? Apa itu salah?" Gwen masih terus mendesak. 


Agam menundukkan kepala. Beberapa detik kemudian, Agam membuka selimut tersebut dan menggendong Gwen. "Jika seperti itu, mari kita ke kamar," ucapnya dengan menggendong Gwen masuk ke kamar. 


Ketika Gwen di gendong, dia memeluk suaminya dengan erat. Baginya, berada di sisi Agam adalah suatu ketenangan yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. 


Sesampainya di kamar, dengan pelan Agam membaringkan istrinya. Disusul lah ia naik ke atas ranjang. Kemudian, bertanya kembali apakah Gwen benar-benar mau atas dasar hatinya, bukan karena terpaksa. 


"Kenapa harus tanya lagi?" tanya Gwen. 


"Karena memang itu harus dilakukan dengan hati yang tulus, niat juga, bukan karena terpaksa," ucap Agam. 


Dari Abu Dzar RA sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:


Dalam ******** salah satu di antara kamu itu shodaqoh –maksudnya dalam berjima dengan istrinya- mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah salah satu diantara kita menyalurkan syahwatnya dia mendapatkan pahala?"


Beliau menjawab, "Apakah pendapat anda kalau sekiranya diletakkan pada yang haram, apakah dia mendapatkan dosa? Begitu juga kalau diletakkan yang halal, maka dia mendapatkan pahala." (HR Muslim).


"Baiklah, aku yang akan mengajak Mas Agam lebih dulu. Ehem, Mas Agam, aku siap untuk berjima dengan Mas Agam. Mengharap, jika aku bisa menjadi ibu yang bertanggung jawab atas anak-anakmu nanti. Juga, aku melakukan ini sebagai bukti, jika hatiku benar-benar sudah kamu miliki," 


Agam tertawa mendengar ungkapan istrinya. Semakin gemas dengan sang istri dan mencubit pipi Gwen. "Mas Sayang banget sama kamu. Kamu lucu, baik, juga patuh. Terima kasih, Nona Gwen. Kamu telah mau meninggalkan ambisimu untuk menjadi ratu Mafia dan beralih menjadi ratu dalam hati dan hidup Mas," Agam merentangkan tangannya, dengan begitu, Gwen menghampiri dan memeluk suaminya itu. 


Sebelum melakukan hubungan itu, mereka memang bercanda ria lebih dulu. Bahkan, Gwen berani menggoda Agam dengan candaannya yang renyah. 


Next, mau? Anu?