
"Sudah, ayo segera berangkat. Utus juga beberapa sayap kiri untuk bersiap ke kediaman Lim yang lama. Aku rasa, keponakan dan adikku ada di sana. Sisanya, utus mereka untuk mencari keberadaan kedua orang tuaku, paham?" perintah Gwen.
"Siap laksanakan, Nona."
Sudah sangat lama sekali, Gwen tidak menggenggam belati kecil miliknya. Dimana belati itu adalah warisan dari keluarga Lim yang Rebecca berikan kepadanya. "Mami, Ayah, kalian ada di mana? Tolong jaga diri kalian baik-baik di manapun kalian berada." ucap Gwen dalam hati.
Sementara itu, waktu yang digunakan Chen dan Jovan kembali ke Tiongkok juga terbatas. Ia meminta Jovan untuk pulang lebih dulu memberikan kabar kepada Tuan Wang. Sementara dirinya akan langsung menuju kediaman lama Lim untuk menemukan putra dan adiknya.
"Apa kau gila? Aku tidak akan membiarkan dirimu sendirian datang ke sana. Biarkan aku tetap menemanimu, Chen," ucap Jovan mengkhawatirkan keadaan sepupunya.
"Hm, kamu belum mengerti. Aku ada rencana, kamu pulang kabari orang rumah, Asistenku akan membawa Xia untuk menukar anak dan adikku. Dengan ini, kita tidak perlu melakukan pembalasan dengan kekerasan, bukan?" ungkap Chen.
Jovan terus menatap sepupunya dengan tatapan aneh. Ia tidak menyangka jika Chen mampu berpikir setenang itu. Yang ia ketahui, selama dirinya di sisi Chen, Chen tidak pernah melakukan perlawanan tanpa menggunakan trik kelembutan.
"Kau bilang begini demi siapa dan karena siapa? Keluarga kandungmu?" tanya Jovan.
Chen membuang muka, kemudian menegakkan badannya. "Bukan," jawabnya.
"Lantas?" sambung Jovan.
"Dulu, ada seseorang yang selalu memberiku nasihat untuk selalu menggunakan kelembutan jika ada orang yang membuat masalah padaku. Mungkin, ini waktunya aku menggunakan cara itu," jelas Chen sembari meminum anggurnya.
Jovan langsung bisa menebak jika seseorang itu adalah Puspa. Cinta Chen ternyata sudah begitu dalam. Jovan hanya bisa berharap kesehatan sepupunya itu kembali pulih dan bisa menemukan seseorang yang lebih dari gadis berusia 21 tahun itu.
Usai turun dari pesawat, keduanya keluar dengan langkah yang terburu-buru. Ternyata, Asisten Dishi sudah sampai lebih dulu dari mereka. Dengan sikap yang berusaha tetap tenang, ia segera memberitahu tentang Aisyah yang berangkat sendiri mengikuti alur yang Raza perintahkan.
"Kamu sudah ada di sini?" tanya Chen.
Asisten Dishi mengangguk. Ia memberikan dimana Aisyah berada saat itu. Pelacak dan perekam itu masih baik-baik saja. Chen dan Jovan tidak menyangka jika Raza adalah anak angkat dari Jackson Lim, orang yang memusuhi keluarganya.
"Apa rencana kalian?" tanya Chen.
"Kita sambil jalan, Tuan. Akan saya katakan rencana saya dengan Nona Aisyah. Sebelum itu, saya butuh Nona Xia untuk turut dalam kasus ini," Asisten Dishi mengatakan itu dengan tenang. Jika Asisten Dishi bersikap seperti itu, maka Chen tidak akan khawatir lagi.
Mereka sampai di mobil yang menjemput mereka. Sepanjang perjalanan, Asisten Dishi mengatakan rencana yang telah ia buat dengan Aisyah sesaat Aisyah sampai di sana.
"Tuan, Nona Xia bisa kita manfaatkan. Kita akan menukar dia dengan Ilkay, atau Tuan kecil nantinya," ucap Asisten Dishi.
"Lalu, jika mereka tidak menerima penawaran itu, bagaimana?" sahut Chen.
"Ya, Chen benar. Jika mereka tidak membutuhkan Xia, bagaimana?" imbuh Jovan.
Asisten Dishi menyeringai. Kemudian, tersenyum. Saat itu, hanya Aisyah yang mampu diandalkan. Cindy mempunyai dendam mendalam dengan Aisyah karena merusak wajahnya, lalu Raza juga memiliki perasaan kepada Aisyah.
"Kau mau mengorbankan adikku demi adikku yang lain? Apa kau gila, Asisten Dishi!" teriak Chen.
"Tuan, tenang saja. Kita percayakan semuanya kepada Nona Aisyah. Dia jauh lebih cerdik dari kita, Tuan," ungkap Asisten Dishi yakin.
Tidak ada salahnya jika mengandalkan Aisyah. Hanya saja, Chen khawatir jika kedua adiknya dan juga anaknya tersakiti oleh orang seperti Jackson Lim, Raza dan juga Cindy.
"Tapi dia adikku, aku tidak bisa kehilangan dia. Aku pernah diposisi dimana dia sedang terluka parah, dan aku tidak bisa membantunya. Jika kali ini aku begitu lagi, aku lebih baik--" ucapan Chen terhenti kala ponselnya berdering.
"Katakan!"
"𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘔𝘶𝘥𝘢, 𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘕𝘰𝘯𝘢 𝘔𝘶𝘥𝘢 𝘓𝘪𝘮 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘬𝘦𝘥𝘪𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘒𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘓𝘪𝘮. 𝘚𝘦𝘬𝘪𝘵𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘭𝘶, 𝘕𝘰𝘯𝘢 𝘔𝘶𝘥𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵,"
"Apa? Anak ini sangat keras kepala. Dia pasti kabur darin suaminya. Awasi dia, aku akan datang ke sana secepatnya!" perintah Chen dengan tegas.
"Ada apa, Chen?" tanya Jovan.
"Gwen, dia datang ke kediaman lama keluarga Lim. Mau apa dia datang ke sana. Dia juga sendiri, aku rasa otaknya sudah konslet dia," cetus Chen.
"Itu malah bagus, Tuan. Bukankah, rumah itu juga milik Nona Gwen? Nyonya dan Tuan belum ditemukan keberadaannya sampai saat ini, yang tau isi rumah itu hanya Nona Gwen, kita bisa bekerja sama dengan Nona Gwen," sahut Asisten Dishi.
"Benar, aku dengar waktu kecil … Ilmu bela diri Gwen ini sangat bagus. Bahkan, taktik penyerangan dia juga lumayan," timpal Jovan mengakui kebenaran itu.
"Tapi sudah lama sekali dia tidak berlatih. Dia juga tumbuh di dunia seperti ini hanya mencapai usia remaja saja. Aku takut dia juga akan terluka," Chen tak hanya mengkhawatirkan Aisyah dan anaknya saja. Bungsu Rifky dan Gwen juga sangat berati untuknya.
Malam itu, Chen membagi tugas. Jovan membawa Xia, dan Asisten Dishi mengawasi pergerakan Gwen dan Aisyah yang masih dalam tawanan Raza. Sementara dirinya, menyiapkan beberapa orangnya untuk melakukan perlawanan terhadap Jackson Lim, karena hanya pertumpahan darah yang ia inginkan.