Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Permohonan Xia



"Anak itu makan apa? Ohh, mengapa tangisannya begitu nyaring sampai telingaku sakit, ya?" batin Tama. 


Tama tidak menduga jika Chen memiliki adik yang menggemaskan sampai dirinya saja tidak mau bertemu dengannya lagi. Perlahan, Tama mengecek semua barang yang hendak di lelang malam nanti. 


Ketika Tama sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba ada pesan masuk dan itu dari Feng. 


[Aku lupa tentang Xia. Kita terlalu fokus dengan mental Aisyah, jadi aku lupa memberitahumu tentang Xia. Nanti setelah aku senggang, aku akan carikan dia tempat tinggal. Sementara ini, kau saja yang mengurusnya. Bukankah kau ahli dalam mengurus wanita?] - Feng. 


[Matamu ahli. Awas kamu, ya. Jika kau tidak selesai tentang bocah itu. Aku akan membuatmu terjun bebas dari lantai 52, paham!] - Tama.


[Galak, bawel, menyebalkan, hidup pula. Iya crewet. Nanti aku akan pikirkan lagi. Sementara kau urus saja dia.] - Feng. 


Maklum saja Tama tidak tahu soal Xia karena memang tidak pernah bertemu dan tidak mengetahui keberadaannya. Tama tidak begitu dengan Chen. Jadi, tidak tahu keluarga yang lainnya bagaimana. 


***


Di kamar, Xia mengatakan kepada Sachi jika dirinya begitu sedih karena sudah tidak memiliki keluarga. Xia hanya ingin di peluk dan di sayangi. Sejak kecil, dirinya selalu saja diasingkan dari keluarga, tidak menerima kasih sayang selayaknya dan selalu dibenci karena tingkah Ibunya. 


"Kak, lalu aku harus bagaimana? Kakak dan kakak sepupuku pergi meninggalkan aku sendirian. Padahal, kakak sudah mulai baik kepadaku. Dia malah pergi meninggalkan aku," ujar Xia dengan air mata berderai. 


"Tenanglah, jangan bicara seperti itu. Kamu masih ada keluarga dari pihak kakakmu, bukan? Keluarga Tuan Chen pasti mampu menerimamu dengan baik," Sachi mencoba menghibur gadis berusia 15 tahun itu. 


"Tidak mungkin, kak. Mereka tidak mengenaliku. Bagaimana bisa mereka menerimaku begitu saja. Jika aku bisa meminta, aku ingin menyusul Kak Chen dan Kak Jovan. Aku sangat merindukannya, aku kesepian__" Xia terus saja menangis. 


Ketika Xia mengeluh, Tama yang mendengarnya langsung mengetuk pintu kamar Xia. Merasa tidak tega, Tama pun mencoba bicara dengan Xia. Berharap Xia mau tinggal di asrama sekolah baru di Tiongkok. 


"Kakak!" seru Xia langsung berdiri kala melihat Tama membuka pintu seraya mengetuknya. 


"Um, aku … ada hal yang ingin aku katakan padamu. Aku ingin kau masuk ke asrama sekolah. Di sana, nantinya kau tidak akan merasa kesepian, bagaiman? Apakah kau mau? Aku mohon kau harus mau, ya?" Tama memang tidak ahli dalam membujuk.


Memang ucapan Tama membuat Xia menjadi semakin sedih. Dirinya sudah merasa hidup hanya sendiri di dunia. Dengan lirih, Xia ingin sekali menyusul keluarganya pergi. 


"Kamu ingin mati? Ya sudah, sekarang saja!" ketus Tama.


"Kakak!" teriak Xia terkejut. Di luar ekspektasi Xia, dikira Tama akan membujuknya, malah ternyata Tama mendukungnya. 


Xia kembali menangis. Gadis berusia lima belas tahun itu benar-benar belum siap hidup sendiri. Meski tahu siapa ayah kandungnya yang sebenarnya, Xia tidak dekat dengannya. Dia pun menangis sekencangnya sampai membuat Tama harus menyomot bibirnya. 


CUP! 


Seketika Xia diam karena di comot bibirnya oleh Tama. "Diam dan tenang. Jika kamu tidak mau diam, aku akan membuangmu ke Amerika lagi, mau!" ancam Tama dengan wajah yang serius. Xia mengangguk paham. 


"Tuan, kenapa anda begitu kasar kepadanya? Dia masih kecil, tidak bisakah anda bicara lebih lembut lagi padanya?" protes Sachi. 


"Kecil? Dia kecil?" sahut Tama.


"Dia pernah membunuh banyak orang menggunakan racun racikannya. Apa itu yang di maksud kecil? Tubuh dan usianya memang masih kecil. Tapi otaknya begitu licik!" Tama memang bicara tanpa menggunakan rem. 


Mendengar pernyataan dari Tama membuat Xia sedih. Air matanya menetes sampai membasahi tangan Tama yang sebelumnya masih mencomot bibir Xia. Ucapan Tama mengingatkan Xia kepada masa lalu, dimana dirinya selalu diperalat oleh Ibu kandungnya sendiri untuk berbuat jahat. 


"Mmmmm ...." ucap Xia dengan lirih. 


"Ngomong apa kamu?" tanya Tama dengan ketus. 


Sachi menampik tangan Tama yang saat itu mencomot bibir Xia sedikit erat. Tama baru sadar jika dirinya menyentuh seorang gadis kecil. Dalam hatinya, dia langsung beristighfar. 


"Xia, kamu tinggallah bersamaku. Aku akan merawatmu dengan baik. Aku akan mengurus pindahan sekolahmu, bagaimana?" begitu lembut Sachi mengatakan itu. 


Xia menggeleng. 


"Semua orang meninggalkan aku, tidak menginginkan aku. Pantas sekali jika aku mati. Seperti yang kakak ucapkan tadi, aku akan mati hari ini agar aku tidak menjadi beban siapapun__" 


Tama tidak menyangka jika ucapannya direspon oleh Xia. Dia bingung sendiri karena itu. Tama hendak pergi sebelum hatinya luluh kepada gadis kecil itu. 


"Kakak ...," suara Xia menghentikan langkah Tama. "Aku ingin ikut tinggal bersama kakak," lanjutnya. 


Baru saja Tama merasa iba, sekarang dibuat kesal lagi. Tama menghela napas panjang dan mengusap-usap dadaa nya dengan pelan. Sabar memang adalah kunci utama dalam menghadapi segala masalah. Pria berusia 24 tahun dengan tataan rambut rapi itu pun menoleh ke arah gadis kecil berambut lurus di sana. 


"Apa yang kau katakan?" tanya Tama. 


"Ah, tidak! Dia mengatakan jika dia akan tinggal bersamaku. Bukan begitu, Xia? Kau akan tinggal bersamaku, bukan? Hm? Katakan iya, ayo!" Sachi mulai membela Xia. 


Tak sekalipun Tama menggubris apa yang dikatakan oleh Sachi. Dia hanya menatap mata Xia yang dimana Xia juga menatapnya dengan tatapan tajam. 


"Karena sementara harta Kak Chen kau yang urus, jadi aku harus tinggal bersamamu sebagai bentuk tanggung jawab," jelas Xia. 


"Bocah! Tanggung jawab apa yang kamu maksud itu? Kau memiliki Ayah kandung yang masih wajib menjagamu. Untuk apa kau mau tinggal bersamaku?" desis Tama, masih berbicara dengan aman. 


"Aku, Xia Wang. Mulai saat ini, kakak lah yang harus menjadi waliku. Jika tidak ...," 


"Jika tidak apa? Kau akan mengancam mati lagi? Jika kau ingin mati, aku akan mengantarmu ke gedung dan melemparmu dari sana. Apa susahnya? Menjauhlah dariku!" Tama sudah habis kesabaran menangani Xia yang manja, keras kepala dan banyak bicara. 


Saat Tama berbalik, Xia memeluknya dari belakang. Xia sampai memohon untuk jangan meninggalkan dirinya. Gadis berponi itu mengatakan jika Feng tidak pernah menyukainya. Dia yakin Feng pun tidak akan mau menjadi tempat bernaungnya. 


"Kakak, jangan tinggalkan aku. Selain sekolah, aku akan menjadi pembantu di rumahmu. Aku bisa memasak, aku bisa mencuci dan aku bisa membersihkan rumah. Tapi kumohon jangan tinggalkan aku, aku harus kemana, hua ...," tangisan Xia membuat Sachi tidak tega. 


Sachi berusaha menyakinkan Tama untuk membawa Xia sementara waktu sampai Xia bisa mandiri. Tama hanya tidak mau mengambil keputusan yang salah demi masa depannya. Dengan menerima Xia di sisinya, itu hanya akan membuat masalah dikemudian hari. 


Apakah Tama mau menerima Xia?