Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Olahraga Malam 2



Di Kota, Tuan Natt dan Jackson Lim sedang mendiskusikan sesuatu tentang pernikahan Lin Jiang dengan salah satu anak angkat Jackson Lim. Mereka terlibat kerja sama dalam menjalin bisnis baru. Meski masing-masing sudah tahu kejadian dalam keluarga besar Wang dan Lim, tetap saja keduanya bagaikan rubah licik yang hendak memanfaatkan satu sama lain.


"Bagaimana Tuan Natt? Aku dengar, pernikahan putrimu dengan putra Tuan Wang dimajukan jadi kurang lima hari lagi. Bagaimana jika lusa … kita gunakan sebagai pernikahan putri pertamamu saja?" usul Jackson Lim.


"Putri pertama? Haha, Lin Jiang bukanlah putri pertamaku. Dia putri ke sebelasku aslinya. Kemudian bungsu, Lin Aurora, yang saat ini sudah menjadi menantu keluarga Wang, dia adalah putri ke empat belas, hahaha__" tawa menggelegar dari Tuan Natt membuat Cindy kesal.


Tuan Natt ini memang laki-laki yang tidak pernah setia. Dia memiliki banyak istri dan masing-masing istrinya memiliki dua anak. Hanya ibu dari Lin Jiang dan Lin Aurora saja yang memiliki tiga putri. Namun, putri pertama dari Ibu Lin dengan Tuan Natt meninggal dunia karena di bunuh oleh Tuan Natt sendiri di usianya yang ke 23 tahun. Sama dengan usia Lin Jiang saat ini.


"Hebat sekali! Ternyata, Tuan sangat beruntung dalam hubungan asmara juga. Hebat, hebat, hebat," puji Jackson.


"Heh, tidak peduli kau memiliki istri dan anak berapa. Tapi, Lin Jiang adalah aset berharga untuk mendapatkan kuasa dari keluarga ini. Dengan memiliki kendali Lin Jiang, pasti akan lebih mudah untuk menghancurkan dirimu, Tuan Natt yang sombong!" ketus Jackson Lim dalam hati.


Perbincangan itu tak hanya cukup sampai di pernikahan Lin Jiang dan anak angkat Jackson Lim. Namun, mereka memiliki cara lain juga untuk membuat resepsi pernikahan Chen dan Lin Aurora supaya bisa menjadi pernikahan berdarah nantinya.


Rencana apa yang mereka miliki?


Di Korea, Aisyah dan Dishi sudah bersiap untuk datang ke acara resepsi Chen lima hari lagi. Saat itu, Aisyah sudah memiliki libur kuliah sebelum ujian terakhir, kemudian magang di rumah sakit yang sudah ia pilih.


Aisyah sangat senang, akhirnya kakaknya menikah dengan wanita yang baik meski penuh dengan konflik di balik pernikahan mereka. Aisyah juga tak lupa mengajak Puspa dan suaminya untuk menghadiri acara tersebut. Bagaimanapun juga, Puspa adalah sahabatnya dan sudah seperti saudari sendiri.


Mungkin, hanya Agam dan Gwen yang tidak bisa hadir. Sebab, kehamilan Gwen juga sudah besar. Agam tidak memberikan izin kepada Gwen untuk melakukan penerbangan. Apalagi, Agam tahu, akan ada orang-orang yang kurang baik di acara tersebut.


Menjaga emosi istrinya tetap stabil, demi kemanan istri dan calon buah hatinya, Agam tidak ingin mengambil resiko besar. Pihak keluarga kandung dari Chen juga hanya akan ada Yusuf dan Rebecca yang datang. Baby Rifky dan yang lainnya tidak akan ikut.


Semua itu, atas keinginan Rebecca. Di acara pernikahan keluarga Yusuf, mungkin semuanya pulang akan bertambah meriah. Namun, jika acara itu ada di pihak keluarga Rebecca dan dunia Chen, maka keluarga pesantren tidak ikut hadir, itu jauh lebih baik.


"Ibu bilang, hanya Ibu dan Ayah yang akan pergi. Aku khawatir dengan Ayah. Apakah seharusnya Ayah tidak usah ikut?" usul Dishi.


"Aku memikirkan hal yang sama. Tapi Ayah dan Ibu tidak bisa terpisahkan lagi. Mereka kemanapun selalu berdua. Lagipula, Ayah bisa bela diri, beliau cerdas, pasti akan bisa mengatasi situasi jika memang ada kesulitan," jawab Aisyah dengan lembut.


"Lalu, bagaimana sahabatmu, Sayang? Suaminya juga, bagaimana? Apakah mereka--"


"Sayang, meraka akan baik-baik saja. Meski Puspa dan suaminya tidak berbahasa Mandarin … tapi ini sudah keputusannya untuk datang," sahut Aisyah menyiapkan makan malam untuk suaminya.


"Lalu, bagaimana dengan kita?" Dishi menggoda istrinya dengan menoel-noel pinggangnya.


"Jangan seperti itu! Geli … geli tau!"


Mereka pun terlibat lari-larian dan saling mengejar seperti serial India. Keduanya belum di beri keturunan, masih menikmati masa-masa berdua meski keduanya juga merasa kesepian saat masing-masing sedang berpisah, sibuk dengan kegiatannya sendiri.


"Aku juga lelah, kita sepertinya kurang berolahraga, Sayang," celetuk Dishi. "Bagaimana jika malam ini kita olahraga, hm? Bukankah kita akan menghabiskan waktu bersama?"


Kembali Dishi mengejar Aisyah. Mahasiswi tingkat dua itu berlari ke kamarnya. Di susul eh sang suami, dan pada akhirnya, mereka pun berolahraga bersama. Saling bertukar keringat dan bercumbu bersama.


Dibawah remang-remang cahaya lampu malam, Aisyah memandang wajah suaminya yang saat itu berada sangat dekat di wajahnya. Tak ada lagi yang bisa Aisyah katakan, ia hanya bisa mengecup bibir suaminya, untuk memulai lebih dulu.


"Eh, sejak kapan kami nakal seperti ini, hm? Kita ke ranjang!" bisik Dishi. "Kalau aku tidak mau melakukan malam ini, bagaimana?" goda Aisyah dengan mengedipkan satu matanya.


"Ih, centil banget. Istri siapa ini?" Dishi sampai terkejut melihat istrinya yang begitu agresif.


Aisyah kembali mengecup bibir Dishi dengan cepat. Kecupan bibirnya membuat Dishi berekspresi lucu, apalagi ketika terkejut istrinya berubah menjadi menggairahkan. Biasanya, Dishi sampai harus merayu-rayu sebelum bisa melakukan hubungan itu. Aisyah benar-benar menjaga wudhunya.


"Apa maksudnya ini?" tanya Dishi kala Aisyah melepas kecupannya.


"Menyebalkan!" Aisyah mendorong tubuh Dishi dengan raut wajah menggoda.


Kesal karena Dishi terus bercanda dengannya, Aisyah pun ingin keluar dari kamar. Namun, ketika Aisyah hendak berlalu, Dishi pun menahan tangannya dan menyudutkannya kembali. "Kamu yang memulai, kamu juga yang harus mengakhiri," bisik Dishi dengan lirih ke telinga istrinya.


Mereka pun berciuman kembali. Ciuman itu semakin panas, tangan Dishi mulai nakal dengan menyelinap masuk ke bukit salju yang masih merah merekah itu.


"Bolehkan aku__" Dishi masih sempat untuk menanyakannya. Aisyah mengangguk. Dia masih sangat ingin hal itu. Sudah lama sekali gairahnya tertahan.


Mereka melanjutkan sampai ke ranjang dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Adegan yang sangat panas itu membuat keduanya semakin semangat untuk berolahraga di malam yang hangat. Dishi dan Aisyah semakin lincah dalam permainannya.


Jari jemari yang membuat Aisyah semakin tidak bisa bertahan lagi dalam setiap sentuhan suaminya.


"Shh__"


"Jangan tunda lagi," bisik Dishi.


"Aku akan memulainya sekarang."


Setelah beberapa step, akhirnya mereka gol juga. Keringat demi keringat menetes di setiap gerakan mereka. Suara yang terdengar sangat aneh itu membuat keduanya semakin lepas kendali. Bukan hanya sekali dua kali, bahkan mereka sampai berkali-kali melakukannya. Sampai terkulai lemas.


Malam yang sungguh berbeda dari malam-malam sebelumnya. Puncak rasa bahagia sepasang suami istri yang tak pernah lepas menikmati waktunya untuk selalu bermesraan, malam selesai olahraga, mereka saling mengucapkan rasa cintanya.


Sekali ini aja rada-radanya ya…