Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Semuanya Sudah Pergi



Ketika mereka masuk, mereka dikagetkan dengan jenazah pelayan di rumah itu. "Allahu Akbar!" Mas Ijal sampai terkejut.


"Jovan, Jovan!"


Aisyah ingat jika Jovan ada di rumah hanya berdua dengan pelayan itu. Dia segera berlari ke kamar Jovan. Melihat pintu kamar Jovan yang terbuka, Aisyah mulai berpikiran negatif.


"Tidak!"


"Tidak, tidak, tidak …."


Saat masuk, Aisyah melihat Jovan dan Lin Jiang di sana. Aisyah langsung menangis, Tuan Jin segara memeriksa keadaan keduanya dan Tuan Jin mengatakan jika mereka telah meninggal.


"Tidak, kenapa Allah begini memperlakukan aku," Aisyah tersungkur lemas.


"Aisyah, semua ini sudah takdir. Kita tidak bisa melawan takdir hidup manusia. Allah yang telah mengatur jalan hidup kita seperti ini. Kamu sabar, ya--"


"Dia satu-satunya harapan aku, Mas Ijal. Jovan adalah orang yang akan bisa membantuku mengurus semuanya," tangis Aisyah membuat Tuan Jin ikut terluka.


"Berdoa kepada Allah. Pasti semuanya akan baik-baik saja. Percaya kepada Allah, Aisyah. Pasti semuanya akan baik-baik saja," ucap Mas Ijal dengan lembut.


Kedua pria itu ingin sekali menenangkan Aisyah dengan mengusap kepalanya. Namun, ada dinding tinggi yang tidak boleh keduanya tembus.


Dalam hidup ini terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Walau begitu, hal tersebut jangan sampai membuat kita berhenti berusaha karena bisa jadi itu bukanlah yang terbaik buat kita.


Setiap orang memiliki takdirnya masing-masing. Tugas kita hanya berusaha, ikhtiar, dan berdoa. Hasilnya kita serahkan pada Allah SWT.


"Ai, ikhlas memang sulit, tapi itu harus diusahakan bisa. Terkadang, apa yang kita harapkan hanyalah sebuah harapan, bukan kenyataan," tutur Tuan Jin. "Termasuk perasaanku kepadamu," lanjutnya dalam hati.


Setelah mengambil koper kuning yang dimaksud oleh suaminya, segera Aisyah menyusul sang ayah yang masih di lokasi kejadian. Koper tersebut di amankan oleh Feng yang langsung pulang saat dikabari oleh asisten pribadi Ibunya jika gedung yang dipakai resepsi Chen dan Lin Aurora terjadi ledakan dan kebakaran setelahnya.


"Paman, dimana yang lainnya? Aisyah, Chen, Bibi Rere? Kemana mereka?" tanya Feng panik setelah sampai di sana dan menemukan Yusuf yang terlihat linglung.


"Aisyah selamat. Tapi yang lainnya …,"


"Ayah!" teriak Aisyah dari belakang.


"Aisyah?"


Aisyah langsung memeluk Yusuf. Feng menanyakan mengapa dirinya malah meninggalkan Ayahnya sendiri di lokasi. Aisyah mengatakan kepada Feng, tentang meninggalnya Jovan.


"Jovan meninggal? Lalu, apa yang terjadi lagi?" tanya Feng.


Saat itu, Feng masih mengenakan baju dinasnya. Dia masih berjaga di rumah sakit yang ada di luar kota. Hanya Feng yang berani menyentuh pipi dan tangan Aisyah. Rupanya meski tidak banyak, Aisyah pernah diberi asi oleh Yue ketika dia bayi dulu. Jadi, mau berpelukan dan bersentuhan saja, tidak akan haram bagi keduanya.


"Aisyah katakan, apa yang terjadi?" desak Feng menggoyangkan tubuh Aisyah.


"Semuanya ada di dalam, semuanya … Koko, semuanya …," Aisyah sampai tidak mampu mengatakan apapun.


"Astaga, katakan yang jelas! Kenapa kau seperti ini!" sentak Feng.


Setelah mendengar cerita yang sebenarnya, tubuh Feng menjadi lemas. Selama ini, dirinya memang selalu berselisih dengan Chen. Tapi, tidak pernah dalan benaknya membenci sepupunya itu.


"Aisyah, Paman Yusuf. Aku, aku benar-benar …,"


Sebelum Feng mengeluarkan isi hatinya, api mampu dipadamkan dan satu persatu membawa korban keluar dari gedung tersebut. Bergegas mereka mendekati korban yang baru saja di bawa keluar.


"Kami hanya akan mengambil korban yang masih utuh dulu. Setelah itu, dilanjutkan esok hari yang sudah menjadi abu dan hanya tinggal tulang," ucap komandan pemadam kebakaran.


Kantong pertama dan kedua bukanlah keluarga mereka. Lalu, kantong ketiga, setelah dibuka adalah Tuan Natt, kantong ke empat asistennya dan kantong ke lima Lin Aurora.


Aisyah terisak kala mengingat jika memang Lin Aurora sudah meninggal lebih dulu sebelum ledakan itu terjadi. Kemudian, kantong ketujuh adalah Puspa. Jenazah Puspa masih utuh, bahkan sama sekali tidak ada luka dan kotoran akibat ledakan dan kebakaran itu.


"Puspa, ya Allah. Mas tidak menyangka jika kamu pergi dengan seperti ini," Mas Ijal terlihat syok. Tuan Jin menemani Mas Ijal ke rumah sakit untuk mengurus jenazah Puspa.


"Ayah, bagaimana dengan Kak Chen, suamiku dan Ibu? Nyonya Wang, Ayah Wang? Mereka orang baik, Ayang--" tangisan Aisyah kembali tak terkendali.


Setelah kesekian kantong jenazah, tiba dimana Aisyah membuka jika kantong yang dia buka adalah kakaknya sendiri. Tak dapat lagi bersuara, tapi air mata Aisyah mengalir begitu saja. Napasnya menjadi tak beraturan, pandangan matanya mulai kabur, kepalanya mulai pusing dan akhirnya Aisyah pun pingsan.


"Aisyah!"


"Feng, kamu bawa Aisyah ke rumah sakit juga, ya. Tolong minta petugas itu untuk memisahkan jenazah Chen," pinta Yusuf.


"Baik, Paman," jawab Feng.


Segera, Feng membawa Aisyah ikut serta naik ke ambulance yang membawa kantong jenazah Chen. Setelah jenazah Chen keluar, barulah jenazah Rebecca yang keluar. Betapa lemasnya kaki Yusuf sampai dia bersimpuh di sisi jenazah istri tercintanya. Cinta pertama dan wanita satu-satunya yang selalu ada dalam setiap doanya, kini telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.


"Tuan, apakah anda mengenal jenazah ini?" tanya salah satu dari relawan.


Dengan suara lirihnya, Yusuf menjawab, "My Wife," air matanya menetes saat itu juga. Seolah dunia runtuh seketika. Tangan Yusuf sampai gemetaran menyentuh pipi istrinya.


"Tuan, sebaiknya anda jangan menyentuhnya lebih dulu. Ini jenazah terakhir yang masih utuh, tapi sebagian tubuhnya tidak utuh, jadi sebelum dokter menanganinya, maka jangan menyentuhnya lebih dulu," ucap relawan tersebut.


"Jenazah terakhir? Tapi anak saya masih ada satu lagi yang di dalam. Apakah tidak ditemukan? Lalu, kedua kerabat saya juga ada dalam kejadian itu," yang dimaksud anaknya adalah Dishi.


"Tuan, selain yang hancur, kamu tidak menemukan korban lainnya lagi," jelas relawan itu.


Yusuf langsung istighfar. Tak henti-hentinya dia berdoa untuk istri dan anak-anaknya yang mendahuluinya dengan cara tragis seperti itu. Dengan doa yang tulus, Yusuf berharap Dishi selamat dari ledakan itu. Meski itu mustahil, tapi sebelumnya Dishi lah yang sangat tahu desain detail gedung tersebut.


Di rumah sakit, Aisyah sudah siuman. Dia terus mencari kakak, ibu dan suaminya juga sahabatnya. Dengan terpaksa, Feng harus mengatakan jika mereka sudah tiada kecuali Dishi yang masih belum ada kabarnya.


"Berati suamiku masih hidup?" tanya Aisyah.


"Meski itu mustahil, tapi semoga saja--"


"Mustahil apa? Dia tahu jelas desain gedung itu. Bagaimana mungkin dia tidak sempat melarikan diri, hah!"


Aisyah masih terus meronta karena kabar yang memberatkan pikirannya itu. Baginya sangat tidak adil jika dia juga harus kehilangan belahan jiwanya.