Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Bergetar



"Tuan, jika kita memiliki seorang putri seusia dokter Ais ini … pasti akan jauh lebih bahagia melihat pemandangan seperti ini, ya?" kata Nyonya kedua kepada Tuan Wang.


"Mari kita anggap jika adik dari putra kita sebagai putri kita sendiri, Sayang. Mereka bertiga adalah anak yang sangat manis. Cindy memang keterlaluan, dia membohongiku tentang status Chen dulu."


Tuan Wang masih menyimpan dendam kepada Cindy karena pernah merahasiakan identitas Chen yang sebenarnya. Cindy tidak pernah mengatakan jika Chen adalah bayi yang ia culik dari mantan sang pujaan hatinya dulu. 


Tentu saja bagi Tuan Wang, itu adalah perbuatan tercela dan sulit untuk dimaafkan. Namun, melihat besarnya hati keluarga kandung putra angkatnya itu, membuat Tuan Wang mengurungkan niatnya untuk memiliki Chen seutuhnya. 


___l


Meninggalkan kisah kemanisan Aisyah dan Asisten Dishi yang mencuci piring bersama, di sisi Gwen dan Agam, mereka malah sedang berdiskusi masalah pertemuannya nanti dengan Ibu dari Agam. 


"Sebelum ke rumah sakit, sebaiknya kita bawa buah tangan dulu. Ibumu suka makan apa, Mas?" tanya Gwen dengan mulut comelnya. 


"Hih, Mas Agam ini. Sejak tadi senyum-senyum mulu deh kalau saya ngomong," Gwen tersipu. (Anak gadis tersipu) 


"Tunggu!" tiba-tiba Gwen menghentikan langkah nya dengan merentangkan tangannya. 


"Ada apa?" tanya Agam. 


"Apakah ada yang aneh dengan saya? Soalnya sedari tadi, ketika saya bicara … Mas Agam selalu saja tersenyum. Apakah ada yang aneh dengan cara saya berpakaian? Atau, jilbab ini ter--"


"Kamu lucu, itu saja. Terima kasih sudah membuat saya tersenyum pagi ini." potong Agam menatap Gwen seketika, lalu memalingkan pandangannya lagi. 


Selama bertemu dengan Agam, Gwen terlihat sangat berbeda. Dari segi bahasa saja, tutur katanya sangat sopan dan santun. Selalu menggunakan kata 'saya' untuk menunjukkan dirinya. 


Bahkan, yang biasanya Gwen tidak pernah memakai jilbab sebelum Aisyah mengomel saja, pagi itu dirinya sudah mengenakan jilbab dengan rapi menutupi rambut pirangnya. 


"Sebelum ke rumah sakit, sebelumnya saya minta maaf, saya akan mengajak kamu ke rumah saya yang di kota ini dulu, bagaimana? Ada sesuatu yang ingin saya ambil soalnya, itu kalau kamu tidak keberatan, Dek," izin Agam dengan lembut. 


"Oh, it'a ok. Apapun yang Mas inginkan dah, saya turuti udah!" seru Gwen semangat. 


"Alhamdulillah, terima kasih, ya." ucap Agam tenang. 


Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah yang sederhana, namun sangat asri. Rupanya, itulah rumah Agam selama ia tinggal di Beijing. Gwen terus saja menatap potret lama keluarga Agam yang terpampang di ruang tamu. 


"Apakah ini, dia saat masih kecil? Omo, imut syekali …." batin Gwen menyentuh foto tersebut. 


Apa yang dibutuhkan Agam telah ia bawa. Selanjutnya membawa Gwen bertemu dengan Ibunya yang saat itu masih dirawat di rumah sakit besar di Kota tersebut. 


Selama diperjalanan, Agam mengungkapkan sifat dan karakter Ibunya kepada Gwen. Guna supaya Gwen tidak kaget ketika bertemu dengan Ibunya. Bukan Gwen jika tidak menerima hal terebut. Ia selalu menganggap semua itu adalah sebuah tantangan baginya. 


Setelah sampai, keduanya segera datang ke ruang rawat yang dituju. Di sana, sudah ada seorang gadis yang menunggu sangat Ibu. Gadis itu bernama Esti, adik dari Agam yang baru berusia 15 tahun. Rencana, ia akan kembali ke Yaman setelah menyaksikan kakaknya menikah. 


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,"


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, Mas Agam? Mas sudah datang? Lihatlah, Umi sudah makan banyak pagi ini," jawab Esti dengan wajah sumringah. 


"Alhamdulillah," ucap Agam. 


"Umi, bagaimana keadaan Umi sekarang?" tanya Agam dengan lembut. 


"Assalamu'alaikum, Bu. Saya ... em, bagaimana keadaan Ibu?" tanya Gwen sedikit gugup. 


"Panggil saja Umi. Kamu cantik sekali, Nduk." puji Ibunya Agam. 


Esti membiarkan kakaknya bersama dengan Gwen mengobrol bertiga. Sementara dirinya keluar sebentar dengan alasan mencari udara segar. 


Umi Farida namanya, beliau seorang orang tua tunggal sejak Esti berusia 3 bulan dalam kandungan. Suaminya meninggal karena sakit yang di deritanya. Ibu tunggal ini membesarkan sepasang anaknya dengan sangat baik. 


"Nak, siapa namamu? Em, Gwen, bukan?" tanya Umi Farida. 


"Iya, Gwen Kalina Lim. Baru saja lulus kuliah, Umi. Maklum saya anak nakal, jadi yang lain pada udah kerja, saya malah baru lulus," celetuk Gwen. 


"Kamu ini sangat lucu. Ceria sekali, Umi suka dengan gadis yang ceria seperti kamu," sanjung Umi Farida. 


"Umi bisa aja. Jangan di sanjung, nanti saya bisa terbang. Kalau jatuh kan sakit, Umi!" seru Gwen. 


Setelah sekian lama, Agam baru bisa melihat Uminya tertawa kembali. Tawa Umi Farida bisa selepas itu mendengarkan celoteh Gwen. Jika Aisyah selalu pusing mendengar celoteh adiknya, Umi Farida malah menyukainya karena kedua anaknya sangat pendiam. 


Sampai pada akhirnya, tiba di pertanyaan yang membuat Gwen dan Agam saling menatap satu sama lain."Lalu, kapan kalian akan menikah? Umi sudah tidak sabar ingin melihat putra Umi ini menikah." 


"Um, itu Umi--"


"Kami akan memikirkannya nanti. Sekarang, lebih baik Umi fokus dengan kesehatan Umi saha, ya," sahut Agam memotong ucapan Gwen. 


"Kenapa dia bicara seperti itu? Sepertinya dia belum siap menikah, deh." batin Gwen. 


Pertemuan itu sangat menyenangkan bagi Gwen. Ia mendapat pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah ia alami. Mengenal seorang Ibu yang sangat menyayangi putra putrinya dengan baik, membuatnya teringat akan sang Mami yang selalunya bersikap tidak adil dengannya. 


Namun, dibalik kisah lain, Gwen sangat terharu mendengar kisah perjuangan sang Umi Farida.  Sebelumnya, Agam tidak jujur dengan status orang tuanya. Saat Gwen bertemu dengan Umi farida langsung, Gwen bisa menyimpulkan satu kata untuk seorang Agam. Yakni, pria yang hebat. 


"Mas Agam," 


"Dalem, Dek?"


"Menikah ...," 


"Oh, kalau kamu belum siap, saya bisa memberikan waktu untuk kita ta'aruf paling lama 3 bulan, bagaimana?" usul Agam. 


"Pacaran?" tanya Gwen salah paham. 


"Maaf, saya tidak ingin pacaran. Hanya saja, jika memang kamu belum siap  ... Saya bisa datang ke rumah kamu, untuk meminta keluarga kamu supaya bisa mengizinkan saya mengajak kamu ta'aruf. Tapi, jika di rasa kita sudah siap untuk menikah, maka saya akan segera melamar kamu, Dek." tutur Agam. 


"Semoga saja Umi diberikan umur yang panjang. Entah kenapa saya merasa jika--" ucapan Gwen terputus. 


Agam menghentikan langkahnya. Ia meminta Gwen untuk bisa mengerti akan keadaan. Agam hanya tidak ingin terkesan memaksa Gwen untuk menikah dengannya. Sebab, pernikahan juga bukan hanya menyatukan dua orang saja, melainkan juga menyatukan kedua keluarga. 


"Tapi saya serius ingin menikah dengan kamu, Dek!" seru Agam memandang Gwen dengan lama untuk pertama kalinya. 


"Meleleh hati adek, Bang. Kapan lagi ye kan dapat suami soleh begini ...." batin Gwen semakin bergejolak.