
Chen dan Lin Aurora duduk di sebelah Jovan yang belum sadarkan diri sejak di temukan di depan gerbang rumah mereka. Meski memberikan racun, Lin Jiang rupanya sudah memberikan penawarannya sebelum mengembalikan Jovan.
"Kenapa kakakmu melukai Jovan? Mereka sudah bersama sejak lama. Dia juga besok sudah mau menikah, sebenarnya apa yang terjadi padanya?" gumam Chen sembari mengompres tubuh Jovan.
"Jika diizinkan, aku akan pulang menjadi mata-matamu. Aku akan mencari informasi dan--"
"Apa kau gila?" sela Chen. "Ini urusan pribadinya. Kenapa kita harus ikut campur? Jika kau ingin pulang, kau pulang saja sebagai putri dari keluarga di rumah itu, mengapa harus menjadi mata-mata bagiku?" lanjut Chen dengan sedikit kesal.
Chen pergi begitu saja keruang baca. Melihat Chen marah, membuat Lin Aurora merasa tidak nyaman. Jovan terluka karena kakaknya dan terluka di kediaman keluarganya.
"Mengapa jadi dewasa seberat ini? Jika aku tahu, aku tidak mau menjadi dewasa dan terus menjadi anak-anak yang tinggal di perbatasan," lenguh Lin Aurora.
Chen duduk di dalam kegelapan ruang baca. Dia sedang merenungi kehidupannya yang semakin hari semakin rumit. Baik bisnis maupun keluarga, semuanya membuatnya pusing.
"Jika aku tidak ada dunia ini. Apakah semuanya akan berjalan dengan baik? Sulit sekali merubah diri menjadi orang baik. Sering kali orang lain memancing emosi dan terus membuatku emosi," gumam Chen.
"Ayah, Ibu. Aku ingin sekali bisa memutar waktu. Anda saja dulu aku tidak di culik. Bisa hidup normal seperti kalian … aku sangat iri,"
Chen mengabari Dishi jika Jovan terluka. Dia akan datang sebelum hari resepsi Chen dan Lin Aurora. Pekerjaan mempersiapkan resepsi memang ia serahkan semuanya kepada Jovan. Namun, melihat luka tusukan Jovan, Chen memiliki keyakinan, jika Jovan belum sembuh sampai hari resepsi mereka.
Malam itu, Chen tidur di ruang baca. Dinginnya lantai tidak dia rasakan. Meski ada sofa, tetap saja Chen duduk di bawah dan terus menyalahkan diri karena telah lahir di dunia.
"Ayah, Ibu … Ayah Wang, aku lelah …,"
Lin Aurora juga tertidur di samping ranjang Jovan. Mereka tidak kembali ke kamarnya. Malam semakin dingin, Chen mulai bermimpi buruk. Tubuhnya mulai berkeringat, badannya menggigil dan terus menyebut nama Ayah dan Ibunya.
****
***
Keesokan harinya, Lin Aurora terbangun. Jovan masih belum sadarkan diri. Lin Aurora menatap jam yang ada di atas meja. Waktu sudah menunjukkan pukul 7. Segera Lin Aurora ke kamarnya sendiri dan bersiap untuk ke pernikahan Lin Jiang, kakaknya.
"Chen, apa kau di dalam?"
Tok, tok, tok.
"Chen, aku akan pergi ke pernikahan kakakku. Apa kau ikut?" Lin Aurora terus mengetuk pintu seraya memanggil nama suaminya.
"Chen, apa kau di dalam? Bisakah aku masuk? Aku mau izin ke pernikahan kakakku," lanjut Lin Aurora.
Tak ada jawaban, Lin Aurora semakin panik. Chen tidak ada di kamarnya. Ia pun hendak mencari Chen ke tempat lain. Di saat melangkah, Chen baru menjawabnya, "Kau pergilah. Aku tidak bisa menemanimu ke sana. Wakil aku, dan katakan kepada Ayahmu, jika aku tidak bisa hadir karena tidak enak badan," ucap Chen.
"Ke-kenapa suaramu gemetar, Chen? Apa kau sakit betulan?" Lin Aurora khawatir.
Suara Chen memang terdengar gemetar. Chen menepis pertanyaan istrinya dan memintanya untuk segera berangkat. Lin Aurora mengatakan berkali-kali, jika Chen tidak mengizinkannya untuk pergi, maka dia tidak akan pergi.
Chen memang pria yang egois. Tapi, dia tahu apa kehilangan orang yang di sayang setelah menikah. Melihat orangnya, tapi tak bisa bertemu setiap hari, itu membuatnya selalu sakit hati. Chen tidak ingin istrinya merasakan itu.
"Pergilah! Aku baik-baik saja!" teriak Chen.
"Baiklah, aku akan pergi. Jika kau butuh aku, kau bisa menghubungiku. Aku pergi dulu, Chen. Sampai jumpa nanti," Lin Aurora pergi.
Langkah Lin Aurora begitu tergesa-gesa. Dia meminta salah satu supir untuk mengantarnya. Kediaman keluarga Wang dan kediaman Ayahnya, memiliki jarak yang lumayan jauh. Itu sebabnya, Chen jarang memberikan izin kepada istrinya untuk pulang karena jika sudah masuk ke kediaman keluarganya, Lin Aurora sudah untuk dipantaunya.
Chen merasakan betapa beratnya kepalanya. Beban pikirannya semakin menumpuk saja, tanpa ada satu solusi yang muncul. Tubuhnya semakin dingin, keringat dingin juga keluar sangat banyak.
Napas Chen sudah semakin berat. Pandangan matanya mulai kabur. "Pelayan Mo!" teriaknya.
"Sial, diakan dia? Mengapa tidak segera datang?"
"Pelayan Mo!" Chen berteriak sekali lagi.
"Iya, Tuan!"
Akhirnya, Pelayan Mo menjawab panggilan dari Chen..segera pelayan Mo datang dan menemukan Chen dalam keadaan lemas tersungkur di lantai.
"Tuan!"
"Ya Tuhan, apa yang terjadi kepada anda, Tuan? Mari, saya akan membawa anda ke kamar!" Pelayan Mo memapah Chen ke kamarnya.
Pelayan Mo berteriak untuk memanggil beberapa pelayan di rumah itu. Meminta mereka segera membuatkan sup untuk Chen dan menyiapkan beberapa kebutuhan untuk mengompres tubuh Chen. Setelah membawa Chen ke kamarnya, Pelayan Mo merebahkan perlahan tubuh Chen ke ranjang.
"Tuan, dokter siapa yang ingin anda panggil?" tanya Pelayan Mo.
Chen menyeringai. "Jika sudah begini, apakah aku akan memilih-milih dokter untuk memeriksaku?" desisnya.
Pelayan Mo takut jika Chen sudah merah, maksa semuanya akan selesai. Pelayan Mo pun memanggil dokter yang paling terdekat. Sjoaya tidak memakan waktu lama ketika di perjalanan.
Pemeriksaan demi pemeriksaan di lanjutkan. Beruntung sekali, Chen hanya demam biasa, tidak ada yang serius.
"Tuan, apakah Nona harus pulang?" tanya Pelayan Mo.
"Tidak perlu," jawab Chen.
"Bagaimana dengan Jovan? Padahal dia sudah sadar?" tanyanya.
Pelayan Mo menjawab, "Belum ada perkembangan sama sekali, Tuan,"
"Racunnya tidak begitu kuat. Kenapa dia tak kunjung sadar? Apakah dia benar-benar baik-baik saja?" gumam Chen.
Bagaimanapun juga, mereka adalah keluarga. Sejak kecil, Chen dan Jovan sangat akrab. Kemanapun mereka pergi selalu bersama. Bahkan, ketika sekolah di luar negeri saja, meski berbeda sekolahan, meteka tetap akrab selayaknya keluarga.
"Pelayan Mo, jika Jovan sadar, segera kabari. Aku ingin istirahat dulu, silahkan Pelayan Mo keluar dari kamarku," perintah Chen.
"Baik, Tuan. Saya permisi dulu,"
Chen memejamkan matanya. Sakit yang di alami Chen, rupanya Gwen juga mengalaminya. Ia tiba-tiba panas demam dan mengharuskannya masuk ke rumah sakit. Kandungannya masih berusia tujuh bulan. Agam tidak ingin istri dan calon anaknya bermasalah, ia pun membawa Gwen ke rumah sakit.
Dokternya mengatakan, "Ibu Gwen mengalami stres berat, kah? Tekanan darahnya menurun. HB nya juga begitu rendah. Apakah ada masalah yang menekan pikirannya?" tanya dokter tersebut.
Agam bingung mau menjawab apa. Sebab, selama hamil memang Gwen emosinya selalu terkontrol. Bahkan agam sendiri mengatakan, bahwa selama hamil, dirinya selalu menjaga kesehatan dan mental istrinya..
"Lalu, semua laporan ini apakah berbohong? Pak, istri anda harus di rawat inap, sedikitnya satu hari satu malam saja," saran Dokter.
"Apakah ini serius?" tanya Agam.
"Sepertinya tidak. Tapi memang sebaiknya seperti itu, Pak. Ibu Gwen, harus menginap malam ini__"
Hal tidak terduga memang selalu terjadi. Meski sayangnya Chen jauh lebih besar kepada Aisyah dibandingkan dengan Gwen, tetap saja, ikatan antara Chen dan Gwen jauh lebih kuat. Bukan berarti Aisyah juga harus sakit sebagai seorang saudari kembar, hanya saja, dulu semasa di kandungan, Chen dan Gwen lah yang satu plasenta. Mereka memiliki gen yang sama. Gen mereka dominan lebih ke mirip segalanya dan saling terikat batinnya lebih kuat.