
Keesokan harinya, Aisyah tiba di Jogja bersama dengan Chen dan Asisten Dishi. Tak ada raut wajah bahagia yang bahagia di raut wajah mereka. Bagaimana tidak, orang tuanya belum ditemukan sampai sekian lama itu.
"Assalamu'alaikum, Bang Rafa. Jemputnya sendirian?" tanya Aisyah.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Iya, Semua keluarga sudah menunggu kalian di pesantren. Apa kabar Ilkay," sambut Rafa menoel dagu Ilkay dan membelai pipi bayi mungil Rifky.
"Ayo, kita segera pulang. Anak-anak pasti sudah lelah. Begitu juga dengan kalian. Malam ini, kalian tidur saja di rumah Paman Raihan. Sementara Paman Raihan dan Bibi Laila akan tidur di rumah lama," ujar Rafa menggendong Ilkay.
Selama di perjalanan, mereka hanya fokus membahas ijab qobul yang akan dilaksanakan malam nanti. Rafa turut bahagia, sebab adik kesayangannya akan menikah juga. Hanya Aisyah, putri pesantren yang belum menikah diantara yang lain. Meski Ayyana, juga sudah menjadi seorang janda.
"Lalu, kapan kamu akan menyusul, Chen?" tanya Rafa.
"Huh, aku masih lama. Aku belum kaya!" jawab Chen sinis.
"Hah?"
Semua orang memandang Chen. "Lalu, perusahaan yang jumlahnya lebih dari satu itu, apa? Banyak usaha yang sudah menjadi atas namamu, lalu dunia hitam itu juga, apa? Angan-angan? Bukankah itu semua milikmu?" terang Aisyah.
"Au ah!" jawab Chen singkat.
Kegelisahan Chen adalah menerima kenyataan jika adiknya akan dimiliki oleh orang lain. Seperti yang ia ketahui, setelah menikah, Gwen juga tidak pernah menanyakan kabarnya dalam waktu yang ia inginkan.
"Kenapa sih cemberut terus? Yang bahagia dong, Kak. Aku mau menikah, loh!" seru Aisyah.
"Males!" jawab Chen ketus.
"Semuanya ninggalin aku. Kalian semua tidak menginginkan aku, 'kan? Hm …," celetuk Chen menyatukan tangannya.
"Siapa? Siapa yang tidak menginginkan kamu, Kak? Kita semua sayang loh sama Kak Chen," sahut Aisyah.
"Ayah dan Ibu pergi entah kemana. Gwen juga katanya janji mau selalu kasih kabar juga bohong. Terus Ilkay bukan lagi anakku, sekarang kamu pun juga mau ninggalin aku? Huft, kesal daku!" terang Chen memalingkan muka lagi.
Aisyah dan Rafa tersenyum saja melihat sifat kekanak-kanakannya Chen. Memang benar apa yang dikatakan Chen, namun tidak semua benar dalam sudut pandangnya.
"Gwen sering kok hubungi aku. Kadang kalau sibuk, pasti dia kabari tiga hari kemudian. Memangnya Gwen sama sekali tidak memberi Kak Chen kabar?"
Chen enggan menjawab. Tapi, karena Aisyah terus mendesak, akhirnya Chen pun menjawab bahwa Gwen hanya memberinya kabar tiga kali sehari. Tidak seperti yang telah di janjikan lima kali dalam sehari.
Krik, krik, krik….
Sungguh kekanak-kanakan. Chen memang kurang akan kasih sayang. Ketika dirinya mendapatkan cinta, tak lama kemudian cintanya mengkhianatinya dengan meninggalkannya dengan pria lain. Saat ini, sandaran hidupnya hanya Aisyah, jika Aisyah juga menjauh, kemungkinan dirinya akan kembali seperti dulu lagi.
Chen yang dingin, angkuh, sombong, semaunya sendiri dan bahkan tak berperasaan dalam menghukum orang. Setelah hampir satu tahun tak lagi terjun ke dunia hitam, membuatnya menjadi lebih baik.
Aisyah menatap wajah sang kakak lekat-lekat, kemudian memeluknya sembari mengucapkan, "Kak Chen tenang saja. Aku tetap akan selalu ada untuk kakak tercintaku ini. Bukankah ini hanya ijab qobul? Jika menikah secara agama, aku dan Asisten Dishi tidak boleh melakukan itu dulu, kemungkinan juga kami tidak akan tidur bersama," jelas Aisyah.
"Tuan, ini semua juga kami lakukan untuk Ilkay. Jika saya terus ada di samping Nona Aisyah, maka saya juga bisa selalu menjaga Ilkay, Tuan," sahut Asisten Dishi mulai buka suara.
"Bodo!" cetus Chen kembali membuang muka.
"Astaghfirullah hal'adzim …," sebut Rafa. "Chen, untuk apa kamu marah? Menikah itu ibadah, adikmu juga menikah karena memang ingin memperlancar semuanya, bukan? Mereka akan mendapat dosa besar jika selalu berdua, tapi belum menikah. Lain denganmu, mereka sudah cocok satu sama lain dan ingin melanjutkan langkah hubungan mereka," tutur Rafa.
"Mulailah belajar agama sungguh-sungguh, bukankah kamu ingin mempelajari agama yang keluargamu anut? Atau setelah Puspa menikah, kamu menjadi mengurungkan niat?" lanjut Rafa.
"Bang Rafa, kok ngomongnya gitu?" tegur Aisyah.
"Jahat memang dia. Lihatlah, tidak ada yang menyayangiku, Ai. Hanya kamu yang aku miliki saat ini--" rengek Chen memeluk kembali saudari kembarnya.
Aisyah menghela napas. Memang dirinya harus pelan-pelan membicarakan semuanya dengan Chen. Namun, Aisyah sendiri juga merasakan jika saudara kembarnya itu telah berubah selama seminggu tinggal bersamanya di Australia.
Dua hari lalu, Aisyah tak sengaja melihat Chen membunuh seseorang dari tawanan bawah tanah markas milik Ibunya di sana. Kemudian, sehari sebelum mereka kembali ke Jogja, Aisyah juga mendengar percakapan Chen dengan Jovan, untuk merampas markas klan lain yang ada di kawasan Negeri Sakura, atau Jepang.
"Kak Chen, ada apa denganmu? Kenapa kamu kembali ke sisi gelap lagi? Apa semua ini karena Puspa telah menikah? Tapi … bukankah kamu telah menerimanya dengan ikhlas? Ada apa denganmu?" gumam Aisyah dalam hati, sembari menepuk-nepuk kepala Chen yang waktu itu bersandar di bahunya.
~~
Setelah perjalanan dari Bandara ke rumah, mereka beristirahat di rumah lama Leah dan Ruchan yang ditinggali oleh Raihan dan juga Laila. Rumah itu telah di tata rapi untuk mereka berdua (Chen dan juga Asisten Dishi) tinggali.
"Kenapa hanya kita berdua? Lalu Ai akan tidur dimana malam ini?" tanya Chen.
"Oh, malam ini dia akan tidur bersamaku. Kenapa? Apa kamu tidak rela?" sahut Ayyana. Ayyana paling suka menggoda Chen.
"Tidak!" tolak Chen mentah-mentah. "Ai akan tidur menemaniku," lanjutnya dengan satu alis yang naik ke atas.
"Mana bisa begitu, Chen? Memang benar kalian bebas bersentuhan, tapi kan kalian sudah dewasa. Mana boleh tidur dalam satu kamar? Terlebih lagi, kalian juga tidak tumbuh bersama," ucap Airy.
"Aku tidak peduli!" ketus Chen masuk ke kamar lama Aisyah Putri Handika.
Blam!
Sampai Chen membanting pintunya karena kesal. Semua orang saling memandang, mereka tahu apa yang dialami Chen itu tidaklah adil baginya. Apalagi, memang Aisyah adalah adik kesayangannya. Jika tak rela melepaskan, itu tidak heran lagi.
"Dulu, kata Uti kalian juga begitu kakek Akbar dan Hamdan. Mereka tidak terima kakak kesayangannya menikah. Tapi harus bagaimana lagi?" terang Airy.
"Bibi tidak udah khawatir. Aku akan bicara dengannya nanti," ucap Aisyah dengan senyuman. "Paman, tolong antar Ayahnya Ilkay ke kamarnya, ya. Aku ingin ke rumah Paman Adam dulu untuk istirahat sebentar," pinta Aisyah meminta tolong kepada Raihan.
"Iya, kamu istirahatlah. Ayo, Dishi." ajak Raihan, ramah.
Aisyah menatap pintu kamar lama milik neneknya itu. Berharap, ia bisa menangani kakaknya dengan baik dan mampu merelakan dirinya menjadi milik pria yang ia cintai.