
"Apa? Jadi mereka adalah saudari kembarnya? Hum, aku telah salah sangka rupanya. Ya Allah, maafkan aku yang telah su'udzon padanya," ucap Lin Aurora dalam hati.
Tiba dimana, Lin Aurora mendapatkan waktu bicara berdua dengan Chen di taman atas. Lin Aurora menanyakan kejelasan hubungan mereka setelah pertunangan.
"Kenapa terburu-buru? Apa kau sudah tidak sabar ingin menjadi Nyonya Muda Chen?" goda Chen.
"Um, jangan asal bicara! Kamu terlalu percaya diri!" elak Lin Aurora dengan wajahnya yang memerah.
"Benarkah? Aku yang terlalu percaya diri, apa kau yang sangat berharap?" Chen masih saja menggoda.
"Mana ada berharap? Bahkan, jika aku ingin … aku sudah menolakmu ketika pertunangan tadi terjadi," ketus Lin Aurora menyembunyikan wajahnya yang gugup.
Chen menatap wajah Lin Aurora yang memerah. Melangkah mendekatinya, dan memandang wajahnya lekat-lekat. Kini, kedua wajah pasangan tunangan itu saling berdekatan. Seolah-olah, Chen hendak mencium bibir mungil gadis berusia 22 tahun itu.
"Apa yang kau lakukan?" ucap Lin Aurora gugup.
"Apa yang ingin kulakukan? Hm, coba tebak," bisik Chen. Ia kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Lin Aurora.
Pada saat itu, Lin Aurora menggigit bibirnya sendiri. Pikirannya sudah mengarahkan jika Chen hendak mencium dirinya. Posisi itu, memang sangat mudah membuat seorang Lin Aurora jatuh cinta pada Chen.
"Kenapa, jantungku berdebar? Aku baru melihatnya sedekat ini, apa aku benar-benar mudah jatuh cinta padanya?" gumam Lin Aurora dalam hati, dengan tangannya yang mencengkram erat bajunya sendiri.
"Apa kamu gila, Chen? Menjauhlah dariku," lirih Lin Aurora.
"Hm, menjauh?" ucap Chen meremehkan.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" Lin Aurora sudah tak sanggup lagi menatap wajah Chen dari dekat.
Belum lagi, Chen malah meletakkan tangan kanannya di sisi kiri kepala Lin Aurora, tang saat itu memang sudah ke sudut dinding.
"Jika kamu ingin membatalkan pertunangan ini, maka cobalah sendiri. Tapi, aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Nona Lin," desis Chen.
"Apa maumu?" Lin Aurora mengerutkan dahinya.
"Sederhana, tetaplah seperti ini. Sampai kau benar-benar membuatku melupakan masa laluku," Chen bahkan menyembulkan napasnya ke wajah Lin Aurora, kemudian meninggalkan begitu saja.
Sampai saat itu, Lin Aurora masih bingung dengan perasaannya sendiri. Dirinya belum pernah bertemu dengan Chen sebelumnya..
Namun, ketika pertama kali melihat Chen, Lin Aurora merasa ada sesuatu yang berbeda dalam perasaannya.
"Pertanyaanku, jika kita menikah, lalu bagaimana cara kita menikah?" Lin Aurora mulai bergumam lagi.
Malam tak berlalu baik, Chen masih mengasingkan diri di kamarnya. Menatap foto keluarga kandungnya yang sempat foto bersama di saat pernikahan Gwen.
"Ayah, Ibu, kalian ada dimana? Mengapa kalian meninggalkan aku sendirian begini?"
"Kedua saudariku juga sudah menikah. Adik bungsuku masih kecil, lantas aku harus mengadu kepada siapa?"
"Apa kalian benar-benar tidak menginginkan aku sebagai putra sulung kalian?"
"Kenapa Tuhan tidak pernah adil padaku? Aku baru saja berkumpul dengan keluarga kandungku, tapi mengapa kini aku merasa sendirian lagi?"
Tak terasa, buliran air matanya membasahi pipi. Jarang sekali Chen akan menangisi suatu hal. Hanya dengan keluarga kandungnya, dan kala di kecewakan oleh Puspa saja air matanya akan terjatuh.
"Ular berbisa," (Nama yang diberikan Chen kepada Lin Aurora)
"Haih, kenapa dia meneleponku! Mengganggu istirahatku saja!" keluhnya.
Chen mengabaikan telepon dari Lin Aurora. Ia berusaha keras untuk memejamkan mata karena kelelahan dengan acara sebelumnya. Namun, Lin Aurora terus saja membuat ponselnya berdering sampai 10 kali.
"Cih, menjengkelkan!" kesal Chen.
"Apa kau tau ini sudah jam berapa? Katakan apa yang ingin kau katakan dalam waktu lima detik!" Chen sampai berteriak melalui ponselnya.
"Aku ingin bertemu besok, selamat malam." ucap Lin Aurora, dan kemudian menutup telponnya.
Chen hanya bisa menganga. Dia tak menyangka jika Lin Aurora akan bicara dalam waktu lima menit sungguhan. "Gadis gila!" desisnya.
***
Pagi hari di rumah lama, Gwen menyiapkan sarapan untuk suaminya. Hari itu, mereka akan kembali ke pesantren milik Agama. Namun, sebelum itu, Agam masih membutuhkan penjelasan tentang uang transferan dari Ustadz Khalid kepada Gwen.
"Jadi, kamu belum mau cerita tentang uang itu?" tanya Agam dengan lembut.
Glek!
Gwen meletakkan sendok dengan sedikit keras. Sampai-sampai mengeluarkan suara antara ketikan sendoknya dengan meja.
"Dek, Mas tau kalau kamu sedang hamil. Mas tau emosi ibu hamil bagaimana. Tapi, ini penting bagi, Mas," lanjut Agam.
"Mas tidak pernah berpikiran kamu ada apapun dengan Mas Khalid. Mas percaya kamu akan setia dengan Mas, karena Mas juga begitu. Tapi uang itu, uang apa?"
Gwen masih diam. Gwen tahu, ada masanya Agam akan bertanya dan mengetahui tentang uang itu. Tak terasa, air matanya mulai mengalir. Semenjak hamil, Gwen sering sekali menangis tanpa sebab.
"Dek, pelan-pelan saja. Mas nggak akan marah, yang penting kamu jujur. Mas sudah senang jika kamu mau jujur," ucap Agam lembut, sembari membelai kepala Gwen.
"Uang itu, uang yang Mas kirim kepada Ustadz Khalid sebagai cicilan ganti uang pembangunan. Aku telah membayar semua uang pembangunan itu hingga lunas," jelas Gwen.
"Saat itu, pernikahan Ustadz Khalid dan Syifa akan berlangsung. Sehari sebelumnya, aku meminta Paman Chris melalukan pelunasan itu. Aku juga meminta Kak Chen untuk menutup semua usaha keluarga Syifa. Aku jahat, tapi semua itu kulakukan demi--"
"Demi apa?" sela Agam.
"Dek, menutup usaha orang itu tidak baik. Sama saja menutup rezeki orang lain. Dendam itu tidak akan berakhir baik," tutur Agam.
"Mas kecewa sama kamu. Kenapa kamu tidak jujur dengan Mas sejak awal? Lanjutkan sarapannya, setelah ini kita segera kembali ke pesantren. Mas ke kamar dulu, assalamu'alaikum,"
"Wa'akaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"
Agam beranjak dengan kekecewaan. Ia tidak menyangkal jika Gwen melakukan hal tercela itu. Namun, masalah itu memang sudah lama, Agam memaklumi karena pada saat itu, Gwen masih dalam proses perbaikan diri.
Hanya saja, dengan mendiamkan Gwen sebentar, itu akan membuat Gwen lebih introspeksi diri lagi. Agar kedepannya, tidak melakukan tindakan di luar izin suaminya.
Satu persatu masalah selesai, hanya saja, saat ini yang ada dalam masalah adalah Aisyah dan Dishi masalah Ilkay dan Chaterine. Aisyah dan Dishi berusaha keras agar Ilkay tidak masuk dalam perangkap Chaterine.
Sebab, semenjak Chaterine menjadi guru musiknya, Ilkay sedikit berbeda perlakuannya kepada Aisyah dan Dishi. Dari sana, Aisyah dan Dishi sedang memikirkan bagaimana cara membuat Chaterine mundur dari usahanya memisahkan Ilkay dengan Aisyah, yang saat ini telah menjadi ibunya.