Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Berharganya Anak Perempuan



Berjalan menelusuri Kota dengan menikmati pemandangan di sana. Banyak muda-mudi yang sedang memadu kasih juga di sana. Gwen sepertinya juga mulai menyukai Kota itu. 


"Hm, di sini banyak yang pacaran. Lihat fashion mereka, keren banget tau!" ujar Gwen mengamati beberapa perkumpulan gadis dengan badan yang bagus dan fashion yang menarik. 


"Iya, bagus untuk mereka. Tapi tidak bagus untuk mata saya. Ayo, sebaiknya kita cari makan terlebih dahulu. Ada hal yang harus kita bicarakan juga nantinya," tutur Agam. Ia begitu tak nyaman melihat para gadis memamerkan ketiak dan juga pahanya. 


Agam berusaha tetap tenang dengan keyakinannya. Menikah memang bukanlah hal yang mudah, namun dirinya yakin jika Gwen adalah jodohnya yang sudah Allah atur untuknya. 


Setelah sampai di restoran halal, Agam memberikan selembar kertas beserta pulpennya sekalian. Agam meminta Gwen untuk menulis apa yang ia inginkan setelah pernikahan nanti, lalu hal apa yang tak ia sukai agar dirinya mampu memberikan jaminan hidup yang layak untuk Gwen dikemudian hari.


"Hish, saya percaya padamu, Mas Agam. Jangan ada beginian lah." ucap Gwen dengan sedikit kesal. "Saya akan menerima apapun kekurangan dan kelebihan Mas Agam, karena saya memiliki banyak kekurangan haha." tawa Gwen membuat Agam ikut tertawa. 


Agam mengulurkan niatnya untuk menuliskan kebaikan maupun keburukan satu sama lain. Alhasil, mereka malah bercerita banyak mengenai keluarga. 


"Lalu, dimana kamu tinggal, Dek?" tanya Agam.


"Um, Mas tau Ponpes Darusallam, nggak?" Gwen malah bertanya balik. Dijawab lah oleh Agam dengan satu anggukan pelan. 


"Nah, rumahku di sebelah Ponpes itu, Mas. Hanya terhalangi oleh tembok besar Ponpes aja, sih." jelas Gwen. 


Celoteh Gwen tentang masa kecilnya juga membuat Agam tertawa tanpa henti. Selama ini, Agam adalah pria yang pendiam dan juga jarang tersenyum. Akan tetapi, bersama Gwen dirinya malah lebih bisa menjadi pria berbeda. 


"Mulai saat ini, aku tak lagi akan menggunakan kata saya ah! Terasa seperti Kak Aisyah aku jadinya haha," celetuk Gwen menepuk-nepuk meja makan. 


"Oh iya, apa pekerjaanmu, Mas?" tanya Gwen di sela humornya. 


"Saya memiliki usaha kecil. Tapi insyaAllah cukup untuk menjamin masa depan keluarga kecil kita nanti," tutur Agam.


"Sekecil apapun itu pekerjaannya, Mas tetaplah bosnya. Sama seperti Ayahku, Mas. Beliau juga hanya tukang masak aja, sih," celetuk Gwen.


"Tukang masak?" dipikiran Agam, calon Ayah mertuanya mungkin hanya seorang pengusaha kecil juga atau bekerja untuk orang lain.


Hari berlalu dengan baik. Urusan Gwen dengan Agam juga berlangsung dengan baik. Sementara itu, Aisyah yang baru saja menghabiskan waktu jalan-jalan ditemani Asisten Dishi pun sampai juga di tempat rumah singgah anak yatim piatu yang dibangun oleh Chen. 


"MasyaAllah, ini tempat itu?" ucap Aisyah mengagumi bangunan yang sangat megah nan cantik dari luar. 


"Mari, saya akan memperkenalkan Nona dengan anak-anak di sana," ajak Asisten Dishi mempersilahkan dengan sopan. 


"Nona? Bukankah sejak tadi … kamu memanggil aku dengan kata kamu dan dokter, ya?" protes Aisyah dengan nada menggemaskan. 


"Aw, sangat menggemaskan sekali dokter ini. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta dengannya." gumam Asisten Dishi dalam hati. 


Asisten Dishi menjelaskan jika dirinya tidak mungkin memanggil dengan sebutan dokter lagi karena saat itu Aisyah sedang tidak bertugas. Lalu, dirinya juga enggan menyebut dengan kata 'kamu', mengingat Aisyah adalah adik dari atasannya. 


"Dia Bosmu, kau bekerja dengannya. Tapi tidak denganku, jadi … panggil saja aku Aisyah." pinta Aisyah. 


Begitu juga dengan Aisyah yang memanggil Asisten Dishi dengan sebutan Dishi saja. Mereka juga semakin akrab kala itu. Mereka menghabiskan waktu bersama karena memang Chen masih sangat sibuk. 


Melihat keakraban Aisyah dengan anak-anak yang kurang beruntung itu membuat Asisten Dishi semakin menyukainya. Ia menjadi ingat dengan adik sepupunya yang saat ini masih di rumah sakit. Asik sepupunya sedang mengalami gangguan kejiwaan. 


"Dishi, lihatlah. Bayi ini sangat cantik sekali. Kenapa dia bisa masuk di rumah singgah ini?" tanya Aisyah menggendong bayi mungil berjenis kelamin perempuan yang baru berusia 2 minggu. 


"Aku membaca data dirinya … orang tua tidak ingin memiliki bayi perempuan," jawab Asisten Dishi.


"Kenapa seperti itu?" tanya Aisyah lagi. 


"Apa kamu pernah membaca sebuah artikel, atau film semacam apapun di Tiongkok? Orang tua memiliki anak lebih dari dua pasti tidak ingin merawat anak ketiganya lagi. Apalagi, anaknya berjenis kelamin perempuan," ungkap Asisten Dishi.


"Kenapa? Anak perempuan juga kan anugerah dari Tuhan?" sela Asiyah sedikit kesal.


"Riset menyatakan jika anak perempuan itu adalah beban dan tak bisa meneruskan usaha keluarga. Selebihnya aku tidak tahu Aisyah," jawab Asisten Dishi. 


Aisyah tak banyak berkomentar lagi. Sebab, itu memang sudah menjadi budaya di sana jika anak lelaki itu lebih diutamakan meski tidak semuanya. Aisyah menjadi sedih melihat bayi yang digendongnya menangis. Diketahui, bayi itu sedang demam. 


"Apakah kamu juga tidak akan menerima anak perempuan lebih dari 1 dalam keluarga, Dishi?" tiba-tiba Aisyah menanyakan hal itu dengan suaranya yang lirih. 


"Apa? Tentu saja tidak! Semua itu sudah Tuhan berikan kepada kita, kenapa kita menolaknya?" elak Asisten Dishi. 


"Kita?" tanya Aisyah menatap Asisten Dishi. 


"Em, iya kita semua maksudnya," jawab Asisten Dishi gugup. 


Asisten Dishi menjelaskan jika dirinya juga memiliki seorang adik perempuan yang sedang sakit. Aisyah semakin sedih karena menjadi teringat dengan Gwen. Gwen adalah adik satu-satunya baginya. Sebab, saudara seumurannya dengannya semuanya berjenis kelamin laki-laki dan sudah bisa mandiri.


"Apa penyebabnya?" Aisyah mempertanyakan tentang penyakit yang dialami adik sepupu Asisten Dishi.


"Namanya Wen Yi. Dia berusi 18 tahun. Dia mengalami gangguan kejiwaan sejak satu tahun  lalu. Dia dinodai oleh kekasihnya dan kekasihnya pergi begitu saja. Dari noda itu, Wen melahirkan seorang putri." ungkap Asisten Dishi. 


Kemudian, Asisten Dishi mengajak Aisyah bertemu dengan keponakannya yang tinggal di rumah singgah tersebut. Kekasih dari Wen tak ingin mengakui putrinya karena lagi-lagi masalah gender dari bayi itu. 


"Aku akan mengadopsinya!" seru Aisyah tanpa berpikir panjang. (Keinget Aisyah sang nenek juga dulu begitu saat mau mengadopsi Ceasy)


"Jangan, biarkan dia bersama anak-anak yang lain di sini. Jika dia ikut denganmu, aku takut jika Wen nanti akan mencarinya," ujar Asisten Dishi. 


"Ayolah, aku bercanda, Dishi." Aisyah meletakkan keponakan Asisten Dishi kembali ke ranjangnya. " Aku lapar, bisakah kau memasak untukku, Dishi?" 


Meski Aisyah adalah gadis yang bijaksana, ia tetap tumbuh menjadi gadis milenial yang tidak kolot dengan perubahan jaman. Aisyah dan Asisten Dishi melanjutkan bercengkrama nya ke dapur dan mulai memasak untuk mengisi perut mereka.


Assalamu'alaikum kakak kakak. maaf kemarin yang dikeluarkan dari grup, memang sedang ada pembersihan. Jika berkenan, bisa masuk lagi dengan beri kata-kata yang indah, ya. Terima kasih sudah mendukung karyaku