Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
CA-CANGGUNG



"Lin, bu … "


"Haih kenapa dia datang, sih? Jika si dingin dan wajah menyebalkan itu sampai ke sini juga gimana aku ngadepinnya! Sial … an …,"


"Bukan Tuan Jovan," Sachi terlambat mengucapnya. 


*********************


***


Mereka bertiga masih diam saja. Sachi benar-benar blank seketika malam itu. Otaknya sudah sulit untuk berpikir lagi dengan kenyataan yang membuatnya semakin mual itu. 


"Kenapa kamu menginap? Apa kau tidak punya rumah?" tanya Chen. 


"Aku hanya tidak mau sendirian di rumah. Jadi, aku berencana menginap ke rumah Sachi. Dia adalah sahabatku selama aku bekerja jadi office girl," jawab Lin Aurora. 


"Lalu, mengapa kamu izinnya dengan Jovan, bukan padaku? Apa kau sudah tidak menganggap aku sebagai suamimu?" Chen masih saja sok ketus kepada Lin Aurora. 


"Ha? Suami?" Sachi semakin bingung. 


"DIAM!!" sentak Lin Aurora dan juga Chen bersamaan. 


Sachi langsung diam dan menonton pertunjukkan pasangan sedang berdebat hebat. Padahal, mereka juga memperdebatkan hal yang tak semestinya di perdebatkan di depan Sachi. Semakin lama, Sachi merasa kesal. Kedua pasangan suami istri di usir secara paksa oleh Sachi. 


Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Dengan saling memalingkan wajahnya, mereka jalan berdua melewati gang yang sangat sepi. Siapa lagi yang akan lewat di waktu dini hari. Ketika meraka hampir tiba di mobil, mereka dihadang oleh beberapa orang jahat. 


"Apa ini? Pasangan yang sedang dimabuk asmara?" 


"Hei, Nak. Jam berapa sekarang? Mengapa kau masih membawa anak gadis dari Ayahnya keluar sampai selarut ini?"


"Apakah kau ingin menyerahkan gadismu ini kepada kita untuk bersenang-senang?" 


Baik Chen dan Lin Aurora hanya memasang wajah datar mereka. Keduanya sama-sama memiliki kemampuan untuk membela diri. Jadi, tidak mungkin bagi mereka akan takut dengan berandalan liar seperti mereka. 


Di paha Lin Aurora juga terdapat belati, juga beberapa jarum yang di lumuri racun, sehingga mampu membuat lawannya lumpuh seumur hidupnya. Sementara Chen, ilmu bela dirinya sudah tidak diragukan lagi. 


"Apa kau takut?" tanya Chen kepada istrinya. 


"Tentu saja tidak. Kau ada di sini, untuk apa aku takut?" jawab Lin Aurora santai. 


"Um, aku atau kau yang akan maju?" lanjut Chen. 


Jawaban Chen membuat Lin Aurora menatapnya dengan sini. "Apa kau sudah gila?" desinya. 


"Kenapa? Apa kau sekarang berubah menjadi pengecut sekarang?" bisik Chen. 


"Aku istrimu, dimana suami harus melindungi istrinya, kamu malah memintaku untuk melindungimu? Apa kau sudah tidak waras?" Lin Aurora menyenggol perut suaminya menggunakan sikunya. 


"Ah, sakit bodoh!" 


Mereka kembali berdebat. Setelah merasa dekat, mereka malah semakin sering berdebat dengan alasan yang tidak masuk akal. Jika dulu mereka hanya salin diam dan masih canggung untuk bicara, dan itu saja harus Lin Aurora yang mendahuluinya, saat itu mereka malah terlihat seperti pasangan suami istri pada umumnya. 


"Heh! Apa kalian mempermiankan kami!" sentak dari sala satu gerombolan para pengangguran tersebut. 


Chen dan Lin Aurora langsung diam. Mereka menatap gerombolan yang terdiri dari empat orang itu dengan sinis. Kemudian masih berdebat, antara siapa yang hendak maju lebih dulu. 


"Lin Aurora! Kau yang membuatku datang kemari. Jadi kau yang harus maju lebih dulu!" ketus Chen. 


"Apa?" Lin Aurora sampai mendorong bahu  Chen. "Apa kau sudah gila?"


BUG! 


Satu pukulan dari Chen mengenai salah satu dari mereka. Lin Aurora mengerti apa  yang kode Chen berikan itu padanya. Seperti sebelumnya, Chen pernah berkelahi dengan berdebat bersama Jovan di tempat perkara. 


"Kau memang tidak pernah menyayangiku!"  


PLAK!


Tamparan keras dari tangan Lin Aurora mendarat di pipi salah satu dari mereka. Satu persatu pukulan, tamparan, tendangan dan juga satu jurus dari mereka berdua sembari berdebat, mampu membuat segerombolan pecundang itu tumbang. 


Sampai di dekat mobil, garis finish dari pemainan perkelahian di iringi perdebatan selesai. Chen segera meminta Lin Aurora untuk segera masuk dan mereka berdua pun kabur dengan kecepatan tinggi. Akhirnya, mereka berdua bisa bernapas  lega. 


"Beruntung saja kita bisa lolos. Aku tidak habis pikir kenapa Sachi tinggal di gang seperti itu," kata Lin Aurora mengirim pesan kepada Sachi bahwa dirinya sangat menyesal telah mengganggu malamnya. 


"Apa kau puas?" tanya Chen. 


"Maksudnya?" 


"Setelah semua ini, kau masih bertanya maksudnya?" Chen geleng-geleng kepala. "Memang dasarnya kau ini memang menyebalkan!"  ketus Chen menyentil kening istrinya. 


"Apa? Kau yang menyebalkan! Seluruh keluargamu menyebalkan! Aku berdoa agar kau tidak pernah mendapatkan minyak dalam mie instan!" Lin Aurora kesal sampai memalingkan wajahnya. 


Perjalan pulang ke rumah sedikit jauh, jadi Lin Aurora sampai tertidur dengan mulut menganga. Melihat tingkah istrinya, Chen menghentikan mobilnya dan segera meraih ponselnya untuk memotret gaya tidur istrinya yang sedang menganga. 


"Hahaha, aib dia. Aman, untuk ancaman dia nanti," gumam Chen, merasa sudah sangat puas.


Ketika baru mencapai dia kali potretannya, Lin Aurora terbangun dan langsung mengerti jika Chen sedang memotretnya. "Apa kau sedang mengambil fotoku?" tanya Lin Aurora.


"Ti-tidak, aku hanya sedang ... Um, bermain game. Kenapa? Apa kau merasa istimewa, jadi harus sekali aku mengambil fotomu? Cih, terlalu narsis!" Chen memalingkan wajahnya, kemudian tersenyum jahat di belakang istrinya. 


"Kenapa kita berhenti?" ketus Lin Aurora.


Chen memandang istrinya dengan menyipitkan matanya yang. Dengan dua bola mata birunya itu, Chen berbisik kepada Lin Aurora. Setelah berbisik, tiba-tiba saja berteriak sampai Lin Aurora terkejut.


"Em, sebenarnya ... kenapa aku mengentikan mobilnya. Sebab, sebagai ... SUKA-SUKA AKULAH!" 


"Cheeeeeeeen!"


Ketika hendak mendorong tubuh suaminya, Lin Aurora tak sengaja malah menarik kerah suaminya. Tangan Chen tergelincir, tak sengaja dia pun mencium pipi Lin Aurora. 


CUP!


Waktu seolah berhenti di sana. Mereka saling memandang dengan ciuman bibir Chen di pipi Lin Aurora yang sedang terjadi. Jantung keduanya berdebar, berdetak kencang sekali. Persis orang ketika sedang jatuh cinta. 


Ciuman itu terhenti kala ada lampu truk yang menyorot ke arah mereka dan membuat mata Chen silau. "Um, aku ... aku tidak sengaja," ucap Chen gugup. 


"Ti-tidak masalah__" jawab Lin Aurora  gugup juga. 


Mereka sama-sama gugup. Kemudian Chen segara menyalakan mobilnya. Lalu, melanjutkan perjalannya menuju rumah mereka. Malam itu, rumah sudah dalam keadaan sepi. Tuan dan Nyonya Wang beluk kembali, semua pekerja rumah sudah pulang karena memang mereka hanya akan di kediaman keluarga Wang ketika bekerja saja. Kecuali pelayan Mo dan beberapa penjaga.


Sesampainya di parkiran rumahnya, Chen belum langsung turun dan membukakan pintu untuk istrinya. Mereka masih diam saja persis seperti orang yang baru bangun tidur belum terkumpul nyawanya. 


Terlintas dalam pikiran mereka, dengan mengingat kejadian malam di penginapan dengan detail. Itu membuat keduanya canggung ketika hendak turun, dan malah duduk tegak tanpa bergerak di joknya masing-masing. 


Kakak, maaf bab sebelumnya aku lupa. Harusnya di Kota yang ada di Tiongkok, malah keketik Busan, Korea. Tapi sudah aku perbaiki, ini efek aku baru nulis novel Korea aku hahaha. Maaf, ya.