Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Chen Khawatir?



"SAKIT!"


"Tolong hentikan, sakit Chen?" rintih Lin Aurora dengan air matanya yang sudah deras mengalir di pipinya.


Terbukalah perbannya. Melihat luka itu, membuat Chen sedikit iba. "Siapa yang melakukan ini?" tanyanya. 


Lin Aurora diam saja. Kembali Chen menanyakan hal serupa, namun Lin Aurora masih tetap bungkam. Sampai Chen harus menanyakan terus darimana luka itu sampai Lin Aurora dapatkan.


"Dari mana luka ini?" tanya Chen.


Lin Aurora menggeleng.


"Kau tidak bisu," lanjut Chen.


"Aku tidak akan mengatakannya," jawab Lin Aurora.


"Dari mana luka ini?" tanya Chen kembali.


"Aku bilang aku tidak akan mengatakannya!" 


"Baik, aku yang akan menanyakan hal ini pada Ayahmu," Chen mengambil ponselnya. 


"Jangan!" teriak Lin Aurora menahan lengan Chen dengan erat. 


"Heh, kau tidak akan menyebrang. Kenapa kau mencengkram lenganku? Apa kau melihat banjir?" tanya Chen menepis tangan Lin Aurora dengan pelan. 


Lin Aurora menundukkan kepalanya. Dia memang tidak bisa berbohong. Lin Aurora mengatakan jika Ayahnya lah yang telah menghukumnya dengan sepuluh kali cambukan.


"Bazhingan! Aku akan menemuinya malam ini," dengus Chen, hendak beranjak dari ranjangnya.


"Chen, kamu mau kemana?" tanya Lin Aurora menahan lengan suaminya.


"Kerumahmu lah! Apa lagi?" ketus Chen.


"Aku tidak apa-apa, sungguh. Aku akan menceritakan segalanya kepadamu, tapi tolong kamu jangan pergi, ya …," ucap Lin Aurora dengan lembut. 


Chen menepis tangan Lin Aurora dan memalingkan mukanya. Hal itu membuat Lin Aurora sedih. "Apa kamu sangat jijik padaku? Bahkan, sedikit saja kamu tidak mau menatapku, Chen?" tanya Lin Aurora. 


"Bukan masalah jijik atau tidak mau. Baju yang aku robek turun kebawah. Kau tidak memakai penutup itu, jadi aku melihat jelas kalau bukit merahmu sedang menjulang tinggi," mulut Chen memang tidak bisa berkata manis, bahkan dia juga tidak bisa memilah kata-kata yang baik ketiak menggambarkan apa yang ia lihat. 


Setelah mendengar bukit merah yang menjulang tinggi, Lin Aurora langsung paham apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Ia langsung memandangi miliknya dan segera menutup menggunakan selimut. 


"Aaaaa … Apa kau melihatnya, Chen?" tanya Lin Aurora gugup.


"Iya," jawab Chen.


"A-aku, a-aku akan … apa kau yakin melihat milikku?" tanya Lin Aurora kembali.


"Iya, gundukan putih dengan ujungnya berwarna merah muda. Ada dua pula, apa lagi?" jawab Che. Masih memalingkan pandangannya. 


PLAK!


Tamparan kecil di terima oleh Chen dari Lin Aurora. Seketika, membuat Chen terkejut dan kembali menatap Lin Aurora. "Kau menamparku?" tanya Chen, dengan memegangi pipinya. 


Chen mencengkram erat tangan Lin Aurora hingga pegangan selimutnya terlepas dan kembali terbuka bukit kembar dengan puncak berwarna merah muda. Pandangan Chen kembali menunduk ke sesuatu tersebut. Ingin sekali Lin Aurora teriak, tapi ia takut jika Chen akan marah padanya. 


Seketika, mata Chen berpaling kembali. Ia melepaskan cengkramannya dan tarik selimut segera tidur. Jantungnya berdebat kencang, napasnya tidak teratur dan perasaan aneh menghantui. 


"K-kau, obati saja lukamu. A-aku mau tidur!" 


Chen bersembunyi dalam selimutnya, sementara Lin Aurora langsung mengambil baju yang sudah di sobek oleh Chen untuk ia pakai menutupi buah kembarnya dan berjalan ke almari, berganti pakaian.


Perlahan, Lin Aurora memakai bajunya. Namun,  ia menemukan kesulitan ketika hendak memakai baju. "Haduh, tadi di rumah biasa saja pakai baju, mudah juga. Kenapa di sini jadi manja seperti ini?" gumamnya dalam hati. 


Lin merasa ketakutan kala melihat Chen berdiri dan melangkah ke arahnya. Lin menjadi gugup, ia melangkah mundur sampai tubuhnya mentok ke almari. 


"Dasar bodoh! Apa kau tidak berpikir, jika ini sudah larut malam?" desis Chen. 


"Ta-tapi, kamu yang membangunkanku_" 


Tubuh Chen semakin dekat dengan Lin Aurora. Namun, tubuh Lin Aurora sudah tak lagi dapat bergerak. "Ka-kamu mau apa?" tanya Lin Aurora lirih. 


Chen memandang istrinya dengan pandangan yang aneh. Tatapannya begitu tajam dan sedikit membuat Lin Aurora menjadi semakin gugup. Tiba-tiba, Chen mengangkat tubuh Lin Aurora dan membawanya ke sofa yang ada di kamar tersebut. 


"Chen, apa yang kamu lakukan?  Turunkan aku!" seru Lin Aurora mencoba memberontak,  namun tubuhnya masih sakit dan lukanya kembali mengeluarkan darah. 


"Aw,"


"Chen, tolong turunkan aku!" terinya lagi. 


Chen menghentakkan tubuh Lin Aurora ke sofa. Masih dengan bibirnya yang bungkam, Chen mengambil kotak p3k dan memutar tubuh Lin Aurora. 


"Jangan berisik dan nikmati saja sakitmu," ucapnya sembari menarik selimut yang menutupi punggungnya. 


"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Lin Aurora panik. 


"Membunuhmu,  apa lagi?' jawab Chen. 


Perlahan, Chen membuka beberapa kapas yang masih menempel di luka istirnya. Kemudian, menuangkan obat luka supaya cepat kering ke luka tersebut. 


"Shh  …," Lin aurora mendesis menahan sakit. 


"Kau begini sebenarnya karena melakukan kesalahan apa?" tanya Chen. 


"Aku melanggar janjiku," jawab Lin Aurora. 


Tangan Chen terhenti. Chen memang belum bisa memantapkan hati kepada Lin Aurora, hanya saja ia tidak ingin Lin Aurora menjadi korban keegoisan seorang Tuan Natt. 


"Janji apa yang kau langgar?" tanya Chen kembali.


"Menghancurkan Chen Yuan Wang dan keluarganya," jawab Lin Aurora, menahan sakit.


"Jadi semuanya demi diriku?" lanjut Chen. 


Lin Aurora mengangguk pelan. Pengobatan selesai, kini saatnya Chen membalut luka Lin Aurora menggunakan perban tempel. Chen masih tidak melanjutkan pertanyaannya. Fokus membalut luka dan memikirkan bagaimana langkah selanjutnya setelah ia menikahi Lin Aurora. 


Terdengar pesan masuk di ponsel Chen


 dari Jovan. Jovan mengatakan bahwa ia baru saja mendapat informasi dari Lin Jiang, jika Lin Aurora mendapat hukuman cambuk karena tidak mau melanjutkan rencana Ayahnya lagi. Jovan juga mengatakan, jika Lin Jiang membocorkan informasi tentang data perusahaan Tuan Natt, yang ia rebut dari Tuan Hao dulu. 


"Lin Aurora," panggil Chen.


"Iya,"


"Berhentilah bersikap bodoh. Aku tidak ingin siapapun terluka karena aku. Jika aku melihat, mendengar dan mengetahui hal seperti ini lagi, maka … aku pastikan, kalau aku akan mengirim ke Afrika, mau?" tutur Chen dengan tegas. 


"Apa? Ba-bagaimana mungkin kau lakukan itu padaku? Bukankah aku ini istrimu?" protes Lin Aurora.


"Jika kau istriku, maka kau tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini lagi," desis Chen. "Kau bisa turuti dulu kemauan Ayahmu, cerita padaku, maka aku akan membantumu cari jalan keluar," lanjutnya kembali ke ranjang. 


"Tapi kau tidak pernah mendengarkan aku bicara. Selalu saja kau angkuh, cuek dan bahkan sifatnya juga berubah setelah kita menikah," ungkap Lin Aurora.


"Apa yang kau lihat, belum tentu seperti apa yang terlihat. Tidurlah, aku lelah. Kau sudah mengganggu tidurku malam ini. Jangan lupa, besok kau bersihkan seprai ini." tukas Chen kembali memejamkan matanya.


Ucapan Chen yang terakhir membuat Lin Aurora tidak paham. Baginya, memang Chen sangat plin-plan dalam bersikap. Membuatnya harus selalu tersenyum meski hatinya terluka karena keangkuhan suaminya sendiri.