Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Lamaran Dadakan 2



"Hah?"


"Apa?"


"Gimana-gimana?"


Puspa masih nge-lag. Namun, terlepas dari terkejutnya, sepertinya Chen mengatakan dengan keseriusan.


"Kita menikah, married, menjadi suami istri, apa masih kurang jelas?" tegas Chen. 


"Apa Tuan mengatakan ini dengan sadar sesadarnya?" tanya Puspa heran. 


"Seriuslah! Untuk apa aku main-main, aku sama sekali tidak suka bermani-main dalam segi apapun. Jika kamu mau menikah, besok aku akan antar kamu pulang, dan kita akan bicarakan dengan keluarga sekalian,"


"Masuk islam? Aku memang sudah menginginkan itu sejak lama. Hanya saja, aku butuh guru untuk mengajariku tentang itu. Dan aku rasa kamu yang paling tepat,"


Begitu mudahnya Chen mengatakan semuanya. Sedangkan Puspa masih berusaha mencerna apa yang dikatakan kakak sahabatnya itu.


"Pernikahan itu bukanlah mainan, Tuan. Masa iya langsung gitu saja, tanpa memikirkan dengan matang? Pernikahan juga cukup sekali seumur hidup. Tuan--"


"Aku mau dan aku ingin. Kenapa memangnya? Aku akan telpon Ayahku saat ini, untuk mengatakannya kepada orang tuamu,"


"Tuan tapi--"


Tanpa mendengarkan penjelasan Puspa, Chen menelpon Ayahnya yang saat itu di sana masih sangat pagi. Waktu selisih tujuh jam, Yusuf mengangkat telpon dari putranya. 


"Ada apa Chen?"


"Aku ingin menikah dengan Puspa. Kapan waktu yang tepat untuk masuk islam?" tanya Chen. 


"Oh, mau menikah. Ya kapan saja bisa asal sya … Tunggu, apa? Menikah? Kapan, dengan siapa? Kenapa mendadak?"


"Haih, aku akan menikah jika kalian sudah membicarakannya dengan baik. Nanti aku kabari lagi, Ayah tolong bicarakan hal ini dulu kepada orang tua, Puspa. Aku sedang sibuk, aku tutup dulu, salam untuk Ibu," 


Tanpa penjelasan lebih lanjut lagi, Chen langsung menutupnya. Membuat Yusuf semakin bingung dan berpikir jika anaknya berbuat sesuatu kepada Puspa. 


"Kenapa dia tiba-tiba mau menikah?"


"Astaghfirullah hal'adzim, na'udzubillah. Chen melakukan hal buruk kah dengan Puspa?"


"Aisyah! Aisyah, kemari, Nak!" 


Yusuf memanggil Aisyah dan memberitahu niat Chen akan menikahi Puspa dalam waktu dekat. Tentu saja Aisyah dan Rebecca terkejut mendengarnya. Mereka menjadi salah paham, karena Chen hanya mengatakan niatnya dengan sepenggal cerita.


"Tuan, apa ini tidak terlalu cepat?" tanya Puspa. 


"Tidak,"


"Tapi kita baru saja mengenal," sahut Puspa. 


"Aku tidak peduli,"


"Tapi saya peduli, Tuan. Ini juga masalah hati," sambung Puspa memperjelas keadaan hatinya.


"Aku tidak mau tau. Kamu harus mau menikah denganku, atau aku tidak akan membawamu kembali ke Jogja!" seru Chen kembali seperti anak kecil. 


"Hish, Tu--"  


Ucapan Puspa terhenti kala ponselnya berdering. Ia menerima panggilan dari Aisyah, yang mungkin sudah tahu tentang Chen yang ingin menikahinya. 


"Aisyah?"  batin Puspa. "Haduh, bagaimana ini? Pasti dia mau menanyakan tentang apa yang dikatakan oleh kakaknya tadi," gumamnya dalam hati. 


"Ada apa? Siapa yang menelpon? Kenapa tidak diangkat?" tanya Chen dengan ketus. 


"Anu … ini dari--"


"Halo, ada apa kamu menelponnya?" tanya Chen mengangkat telpon itu. 


"Kak Chen, kamu sedang bersama Puspa? Kalian berdua sedang apa, hah? Kenapa kamu bilang kepada Ayah kalau kamu menikahi Puspa? Apa kalian telah berbuat keburukan?"


"Hey, aku tidak akan menyakiti wanita manapun. Aku memang ingin menikahinya, karena suatu alasan. Apakah itu salah?" cetus Chen. 


"Tidak ada yang salah, kakakku yang tampan. Tapi ini … terlalu mendadak dan kalian juga baru mengenal, bukan?"


"Aku percaya padanya, memangnya kenapa?" sulut Chen. 


"Dia percaya padaku? Apa semudah itu dia mempercayai seseorang? Bahkan kita baru kenal sebentar saja," gumam Puspa dalam hati. 


Puspa langsung merebut ponselnya. Mengatakan akan menghubungi Aisyah kembali usai biara serius dengan Chen. 


"Kenapa kamu menutupnya? Berita baik, harus di sampaikan, bukan?" ujar Chen. 


Baru saja Puspa hendak menjelaskannya, telpon kembali masuk. Kali itu, telpon dari Abi-nya. "Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad. Waalihi Washahbihi Wasallim,"


"Abi?"


"Angkat saja!" Chen berusaha merebut ponsel Puspa kembali.


"Jangan! Kali ini, biarkan saya saja yang mengangkatnya. Tuan, kumohon Anda jangan bicara dulu, oke? Terima kasih mau mengerti," Puspa menolak.


Dengan berat hati, darah berdesir mengalir seperti sungai meluap kebanjiran, tubuh keluar keringat panas dingin, ia tetap berusaha tenang mengangkat telpon dari Abi-nya. 


"Assalamu'alaikum, Abi. Wonten nopo nggeh?" (Ada apa, ya?" tanya Puspa dengan lemah lembut. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Kamu sedang dimana? Dengan siapa?" tanya sang Abi. 


"Um, sendirian, kok. Ada apa, Bi?" 


"Bohong! Cepat berikan telponnya kepada Chen. Abi mau bicara dengannya!"


Puspa adalah anak yang selalu berbakti dengan Abi-nya. Ia berbohong pun, Abi-nya mengerti. Jadi, ia sulit untuk mengatakan kebohongan kepada Abi-nya. Terpaksa, Puspa memberikan ponselnya kepada Chen. 


"Abiku … ingin bicara," ucap Puspa memebeikan ponsel miliknya. 


"Oh …,"


Perasaan Chen memang belum hadir pelangi cinta untuk Puspa. Hanya saja, yang dikatakannya spontan dari hatinya yang tulus. Ia ingin belajar agama, supaya bisa menjalani hidup yang jauh lebih baik lagi. 


"Halo, selamat siang," sapa Chen. 


"Halo, di sini masih pagi. Jadi, saya akan mengucapkan selamat pagi,"


"Oh, begitu. Baiklah, ada keperluan apa sehingga Anda ingin bicara dengan saya, Tuan?" tanya Chen. 


"Lusa bawa Puspa pulang, kita akan bicarakan masalah pernikahan ini. Jaga dia selama ada di sana, jangan buat dia sakit. Puspa ada riwayat magh, pastikan apa yang dimakan aman untuk perutnya. Tolong, jaga anak saya satu-satunya. Saya tau kamu adalah pria yang bijak dan bertanggungjawab, Tuan Chen,"


Telpon itu sudah terputus, Chen baru tahu bahwa Puspa adalah anak tunggal dari seorang Ayah yang membesarkan putrinya sendirian dari Puspa lahir. Tak heran, jika Puspa begitu manja dan takut kepada Ayahnya. 


"Tuan, apa yang Abi saya katakan. Apa beliau marah karena Tuan mengatakan pernikahan itu?" tanya Puspa penasaran. 


"Tidak, tidak ada hal yang penting dikatakan. Ayahmu memintaku untuk membawamu pulang lusa jika kau mau menikah denganku. Tapi, aku tidak akan membawamu pulang jika uangmu belum cukup untuk membeli tiket," jelas Chen. 


"Yang artinya, kau menolak menikah denganku!"  Chen pergi membayar tagihan. Sementara Puspa masih dirundung kebingungan antara tetap bertahan di Tiongkok, atau menerima pernikahan itu. 


Mungkin, takdir memang tidak bisa menyatukan Puspa dengan Tama. Sesaat Chen pergi membayar tagihan, Puspa mendapat pesan dari Tama, yakni ucapan selamat karena Chen mau menikahinya. 


[Assalamu'alaikum, bagaimana kabarmu, Dek? Sudah lama tidak bertemu. Aku dengar dari Aisyah, kamu sedang berlibur ke Tiongkok dan bertemu dengan Chen. Cie, yang sudah dilamar. Selamat, ya. Aku ikut senang dengarnya. Chen pria yang baik, cuma memang dia belum menjadi mualaf, siapa tahu, kamu bisa merubahnya jauh lebih baik lagi. Selamat dariku, jangan lupa aku akan ikut andil dalam rencana pernikahan kalian] -, pesan dari Tama. 


Layar kaca ponselnya dibasahi oleh tetesan air mata Puspa usai membaca pesan dari Tama. Seseorang yang dicintainya malah ikut bahagia dirinya di lamar oleh pria lain. Apa yang akan Puspa putuskan?