Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Syifa Malu



Akhirnya, makanan yang dibeli Chen, ia habiskan bersama anak kecil yang di rawat juga di rumah sakit itu. Mereka memakannya di depan ruang tunggu khusus pasien anak-anak.


"Hey anak kecil, kau sakit apa?" tanya Chen pada anak itu. 


"Aku juga tidak tau, Kak. Tapi, Mama selalu menangis jika bicara dengan dokter soal penyakitku," jawab anak itu. 


"Kau orang china?" tanya Chen  kembali. 


"Keturunan, Kak. Kalau asli ya orang sini saja. Wah, kakak hebat! Bule tapi bisa Mandarin, keren!" puji anak itu dengan wajah semangat. 


Untung saja, makanan yang dibawa Chen tidak berpengaruh pada kesehatan penyakit apapun. Mereka mengobrol banyak malam itu. 


***


Pagi setelah semua santri membereskan dekorasi pernikahan yang gagal, mereka semua juga mempertanyakan mengapa Ustadz Khalid tidak jadi menikah. 


"Iya, padahal kalau diteruskan masih bisa, loh!" 


"Huum, apakah ini karma bagi, Mbak Syifa?"


"Karma apa?"


"Haih, kamu anak baru, ya? Dulu, tiga tahun lalu tepatnya, Mbak Syifa itu sudah mau menikah dengan Ustad Agam," 


"Wah, serius?"


"Iyalah!"


"Terus? Apa yang terjadi? Kenapa Ustadz Agam malah sekarang menikah dengan Mbak Gwen yang baik hati itu?" santri yang belum ada tiga tahun di sana menjadi ikut penasaran. 


Di saat mereka membahas tentang pernikahan Agam dan Syifa yang gagal tiga tahun lalu, Syifa mendengar ucapan mereka dari belakangnya. Kesal, Syifa pun menggertak semua santri putri yang saat itu membicarakan buruk tentangnya. 


"Diam!" sentak Syifa. 


"Kalian ini santri. Mana adab kalian, hah? Bahkan Ustadz kalian sendiri saja, kalian bicarakan begini? Benar-benar memalukan!"


"Sekali lagi kalian membicarakan masalah pernikahan yang gagal ini … Aku pastikan kalian akan di hukum, atau bisa jadi kalian dikeluarkan dari pesantren ini, paham!" gertak Syifa.


Semua santri menunduk, Syifa pun berlalu pergi tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Ia terburu-buru ingin menemui Ustadz Khalid untuk mempertanyakan kapan pernikahannya akan di lanjutkan kembali. Syifa rupanya belum mengerti mengapa orang tuanya membatalkan pernikahannya juga. Ia masih bersikeras datang ke pesantren untuk meminta kejelasan akan pernikahan paksa-nya itu. 


"Assallamu'alaikum, Ustadz Khalid, apa kamu di sini?" salam Syifa dengan datang ke ruangan kerja Ustad Khalid. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabbarokatuh. Dek Syifa, kamu ngapain datang ke sini lagi? Sudah saya katakan, 'kan? Pernikahan kita sudah saya batalkan," sejak menerima fakta dari Paman Chris, Ustadz Khalid pun tak lagi bisa mempercayai setiap ucapan yang Syifa katakan.  


"Ustadz, maksud dengan membatalkan pernikahan ini apa? Hanya di tunda, 'kan?" tanya Syifa belum mengerti.


"Tidak akan ada pernikahan di antara kita. Kamu membohongi saya, Dek!" desis Ustadz Khalid mulai emosi. 


Syifa memang pandai jika berpura-pura menjadi wanita yang polos. "Membohongi? Apa. Yang Ustadz maksud ini? Berbohong apa?" 


"Kamu bilang, setelah kita menikah, kamu akan memberikan sertifikat dan uang pembangunan itu akan sah. Kemudian akan kamu berikan kepada saya, 'kan? Lalu ini apa!" bentak Ustadz Khalid sudah tidak bisa menahan emosi nya lagi. 


"Gwen telah melunasi semuanya. Pamannya Gwen telah mengambil semuanya dari orang tua kamu. Apa kamu ingin hidup enak dengan mamaksa kehendak orang lain, Syifa?"


"Cukup!" sentak Syifa. 


"Kenapa selalu Gwen, Gwen dan Gwen terus. Bahkan dia berselingkuh dengan pria asing. Lalu main dengan om-om tua dan pergi berdua saja di hotel. Apa hebatnya dia?"


"Dia sudah berselingkuh, Ustadz!" 


Syifa sengaja bicara dengan keras agar santri yang sedang sibuk di luar dapat mendengarnya. 


"Apa yang kamu katakan ini, Syifa? Kamu ini, kenapa tidak dipikir dahulu sebelum bicara?" Ustadz Khalid bertanya. 


"Pria yang menolongnya dari lampu gantung dan terluka bersamanya. Itu selingkuhannya! Lalu, ada pria bule, yang mungkin sudah menjadi om-om, itu juga menjadi sugar daddy-nya Gwen. Aku memiliki bukti, Ustadz!" 


Ustadz Khalid menjadi bingung dengan apa yang dibicarakan oleh Syifa. Namun, ketika Syifa ingin memperlihatkan bukti tersebut, Chen dan Puspa datang menanyakan siapa pria yang menjadi selingkuhan adiknya itu. 


"Katakan, siapa yang menjadi selingkuhan adikku itu. Aku juga ingin mendengarnya!" ucap Chen tiba-tiba masuk ke kantor pesantren. 


Chen sudah bisa keluar dari rumah sakit. Ia dijemput oleh Puspa dan Tama, karena Tama masih sibuk, jadi ia hanya mengantar Puspa dan Chen ke pesantren dimana Gwen tinggal. 


"Lihatlah! Selingkuhan Gwen berani datang  kesini, Ustadz. Apa kau tau, dialah selingkuhan itu. Setiap pagi, dia selalu keluar dari rumah Ustadz Agam secara diam-diam dan terburu-buru," ungkap Syifa dengan menggebu-gebu. 


"Lalu, ada seorang pria tua yang bersama Gwen juga keluar bersama dari hotel. Ini videonya, aku memiliki bukti kebusukan dari Gwen, Ustadz!" Syifa memberikan bukti itu kepada Ustadz Khalid. 


Saat Puspa hendak membela sahabatnya yang kena fitnah, Chen mencegahnya. Chen berbisik kepada Puspa jika itu bukan urusannya. Sebab, Ustadz Khalid sudah tahu semuanya tentang siapa sugar daddy yang dimaksud oleh Syifa itu. 


"Tapi Chen, aku tidak terima jika sahabatku di fitnah seperti ini!" desis Puspa. 


"Stt, kita nikmati saja. Aku mau duduk dulu, lelah berdiri terus," ucap Chen dengan santai.


Ustadz Khalid mengambil napas dalam-dalam, kemudian menghembuskan secara perlahan. Tak mengerti lagi harus bersikap seperti apa kepada Syifa itu. 


"Dia, kakak kandung dari, Gwen. Lalu, om bule itu adalah paman dari pihak ibunya yang dari Australia, Syifa. Jika kamu mau bukti, kamu bisa bertanya kepada orangnya langsung. Dia, adalah Chen Yuan Wang, putra pesantren yang pernah hilang dan yang baru kembali," jelas Ustadz Khalid dengan lembut. 


"Biar saya yang menjelaskannya, Ustadz!" sahut Puspa. 


Puspa memberikan bukti seperti foto dan video kebersamaan Chen bersama Gwen dan Aisyah. Serta foto masa kecil Gwen ketika masih tinggal di Australia. Gwen sangat dengan Paman Chris dan Ayah angkatnya, jadi banyak momen yang bisa diabadikan saat itu. 


"Masih kurang jelas? Kakek dan Neneknya Gwen dari pihak Ibunya, mereka asli berdarah non Asia. Jika Chen memiliki mata biru, itu asli keturunan dari Ibunya. Jika Gwen memiliki rambut pirang, itu juga karena ibunya. Lalu mengapa Aisyah berbeda? Kamu kuliah sampai ke luar negri, bukan? Kuharap, kamu tidak sebodoh itu, Syifa!" tegas dan jelas Puspa. 


Syifa mengepalkan tangannya. Tanpa mengucapkan salam maupun pamit, ia pergi begitu saja. 


"Malu tuh! Makanya jangan sok tau, kampret!" teriak Puspa. 


"Astaghfirullah hal'adzim, Puspa! Sikap macam apa itu? Mengapa sifat ini keluar lagi? Bukankah kamu sekolah tata krama di luar? Kenapa sifat ini kembali lagi?" sahut Ustadz Khalid. 


"Ini sifat aslinya?" tanya Chen penasaran. 


"Mana ada! Ustadz Khalid ngadi-ngadi, jangan di dengar, oke?" Puspa melakukan pembelaan diri. 


Seperti yang banyak diketahui. Ustadz Khalid ini adalah guru bagi Aisyah dan Puspa beberapa tahun lalu. Jadi, Ustadz Khalid tahu sekali bagaimana karakter asli dari kedua muridnya itu.