Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Calon Perebut Pisang



"Masih jauh kah pasarnya? Saya lelah jalan kaki, Tuan," keluh Puspa. Ia tak lagi dapat meneruskan jalannya, karena


"Jangan mengeluh! Aku paling benci dengan wanita yang suka mengeluh!" sulut Chen. 


"Tapi saya kan bukan Aisyah maupun Gwen. Bagaimana saya bisa di bandingkan dengan mereka, Tuan? Anda kejam sekali_" Puspa mulai menangis.


Chen mempercepat langkahnya dan Puspa mengikuti. Tak lama kemudian, mereka sampai di pasar tradisional yang ada di pinggiran kota. Sebab, Tuan Wang memang meminta mereka untuk sampai ke pinggiran Kota. 


Meninggalkan kisah Puspa dan Chen yang sedang sibuk mencari bintang emas Tuan Wang, di rumah suami, perdana Gwen melayani suaminya dengan dilakukan sendirian. 


"Sebenarnya … tadi aku udah udah ukur, eh takar airnya. Dan dalam ingatanku, itu nggak banyak. Tapi ternyata malah kebanyakan, dan menjadi seperti bubur. Maafin aku ya, Mas--" sesal Gwen. 


Agam membela kepala sangat istri dengan lembut. Tak lupa dengan senyuman hangat yang terukir di bibirnya.


"Nggak apa-apa. Ini kan masih bisa dimakan. Tapi lain kali, jadi takaran yang sebelumnya kamu pakai, harus dikurangi sedikit," tutur Agam masih membelai kepala istrinya. "Itu kamu masak apa, Dek?" tanyanya. 


"Um, jangan di makan deh. Gimana kalau Mas Agam makan sayur yang dari pesantren saja?" Gwen menjadi tidak percaya diri karena insiden nasi itu.


"Aku jadi nggak pede karena baru kali ini masa untuk orang lain," imbuhnya. 


"Mas kan bukan orang lain. Mas ini kan suami kamu, Dek!" ucapan Agam benar-benar membuat Gwen ingat dengan Ayahnya. "Untuk apa kamu tidak percaya diri? Enak atau enggaknya … Mas tetap mau makan, kok. Ayo sajikan buat, Mas!" sambungnya. 


Perlahan, Gwen menyajikan sayur kuah kuning buatannya ke dalam mangkuk nasi seperti bubur tersebut. Berharap jika masakannya tidak akan mengecewakan. 


"Kalau misal nggak enak dimakan, jangan di lepeh, ya? Nggak usah terusin aja makanya nggak papa, kok," Gwen masih ragu. 


"Apapun yang kamu masak, selagi masih bisa dimakan, kenapa harus di buang? Kan kamu sudah bekerja keras, Dek. Mas makan dulu, ya …," kali itu, Agam membelai pipi Gwen dengan penuh kelembutan.


Dengan rada cemas, Gwen melihat suaminya makan dengan tenang. Kemudian, Gwen pun bertanya, "Bagaimana rasanya? Udahan aja kalau nggak enak. Aku akan siapin sarapan Mas dari pesantren," 


"Masih bisa dimakan, kok," jawab Agam mengangguk-angguk sembari mengambil sambal yang dibuat Gwen juga. "Em, garam sedang murah, ya?" goda Agam. 


"Masih bisa dimakan? Garam sedang murah?" guna. Gwen berpikir. "Wah, keasinan! Aaa … Jangan dimakan kalau nggak enak--" Gwen menahan tangan Agam mengambil sambal untuk yang kedua kali, 


"MasyaAllah, sambalnya enak meski sayur yang kamu buat rada keasinan, tapi masih bisa dimakan, kok. Terima kasih untuk usahanya, ya. Jangan kapok untuk belajar lagi, nanti malam, Mas akan ajari kamu masak, kita masak sama-sama," tutur Agam membelai pipi Gwen dengan lembut. 


Meski tangan Agam sering dipakai pekerjaan kasar, tapi ketika menyentuh pipi Gwen, ia merasakan kelembutan yang sama kala Ayahnya membelainya. Seketika, air mata Gwen pun menetes. 


"Loh, kok, nangis? Ada kata Mas yang menyinggung hati kamu, ya, Dek?" tanya Agam meletakkan sendoknya, kemudian menggenggam tangan sang istri. 


Gwen menggeleng, melepaskan genggaman tangan Agam, lalu memeluk suaminya dengan erat. "Aku belum pernah di puji, bahkan belum pernah di ajak bicara sehalus ini, kecuali dengan Ayahku. Aku jadi rindukan dia, Mas, hua…."


Pelukan itu, membuat Agam sedikit terkejut. Ia belum terbiasa dipeluk oleh Gwen meski dia adalah istrinya. Membelai, menyentuh pipi dan tangannya saja masih gemetar, apalagi di peluk. Tapi, Agam berusaha menerima pelukan Gwen dengan membalas pelukannya. 


"Kamu kangen dengan Ayah? Bagaimana kalau besok kita main ke sana? Sekalian, Mas mau kirim bibit ke pesantren," usul Agam. 


"Serius? Bukannya pengantin baru nggak boleh bepergian atau pulang ke rumah sampai 40 hari, ya?"


"Em, gimana, ya? Jika kamu ragu, ya jangan dulu nggak papa, nanti kita telpon saja, bagaimana?" Agam masih berusaha menghibur sang istri agar tidak bersedih hati. 


"Eh, apa ini?" ucap Gwen melihat ponselnya yang terdapat notif. "Wah, Mas Tama kirimi aku uang?" gumamnya dengan menunjukkan nominalnya kepada Agam. 


"MasyaAllah, alhamdulillah, banyak sekali. Siapa Mas Tama ini?" tanya Agam. 


"Dia kakak sepupu juga. Kemarin pas kita nikah, sepertinya belum sempat datang deh. Tapi, semua kakak sepupu aku, tiap bulan memang selalu kasih uang setelah mereka memiliki pekerjaan," ungkap Gwen jujur. 


"Tapi aku sudah menikah, apakah aku masih bisa menerima uang dari mereka, Mas? Atau aku kembalikan saja, ya? Aku nggak enak juga sama Mas Agam," imbuhnya. 


"Kalau dikembalikan, apa Mas kamu tidak akan kecewa? Terima saja, Mas nggak papa, kok. Lagian, itu kan dari kakak sendiri, kenapa Mas harus merasa kenapa-napa?" tutur Agam menyelesaikan sarapannya. 


Ketika Gwen hendak mencuci piring, Agam memintanya untuk mandi terlebih dahulu. Pagi itu Agam ingin mengajak Gwen belanja ke pasar dan mengajaknya jalan-jalan sebenar. 


Saat Gwen mandi, pintu rumah ada yang mengetuknya dan ada yang mengucapkan salam. Seorang perempuan muda yang tak lain adalah perempuan yang pernah menjadi calon istri Agam tiga tahun lalu. 


"Assalamu'alaikum," salam Syifa. Nama dari perempuan mantan calon istri Agam. 


"Wa'alaikumsallam, tunggu sebentar!" Agam yang tidak tahu siapa yang datang itu, terburu-buru mencuci piringnya dan segera membukakan pintu. 


Klek! 


Pintu di buka dan Agam terkejut melihat siapa yang datang. "Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, Dek Syifa?" 


"Ada perlu apa, ya? Kamu datang ke sini?" tanya Agam belum mempersilahkan Syifa masuk. 


"Kok, kamu? Biasanya juga manggil dengan sebutan Dek, Ustadz," protes Syifa. 


"Sebenarnya, saya--"


Belum juga Agam hendak menjelaskan bahwa dirinya telah menikah, Syifa sudah menyelanya dengan main masuk saja ke rumah pribadi Agam. 


"Wah, ternyata belum banyak yang berubah, ya? Masih sama dengan keadaan tiga tahun lalu, saat keluarga kita membicarakan pernikahan kita, Ustadz," celetuk Syifa dengan mengelilingi ruang tamu. 


"Akan ada waktunya perubahan itu terjadi. Saya akan memajang foto pernikahan di daerah sini," tunjuk Agam di bagian dinding kosong yang ada di atas laci kecil, dengan membayangkan betapa manisnya senyumnya Gwen saat ia membuka cadar ketika usai ijab qobul. 


"Apa? Kenapa setelah tiga tahun, Ustadz Agam begitu blak-blakan, bahkan mau memajang foto pernikahan kita yang belum terjadi ini?" batin Syifa tersipu. "Aku benar-benar sangat rugi, kenapa tiga tahun lalu, aku malah memilih pergi menolak perjodohan itu," sambungnya dalam hati. 


"Ustadz, tentang perjodohan kita ... tiga tahun lalu itu, apakah masih bisa di teruskan?" tanya Syifa memberanikan diri. 


Dari belakang gorden, Gwen mengintip. Beruntung, Agam sudah pernah menjelaskan bahwa dirinya juga pernah memiliki calon istri yang dipilih oleh Ibunya tiga tahun lalu. Namun, pernikahan itu mendadak tak terlaksana, karena Syifa kabur tepat di hari ijab qobulnya. 


"Heh, lihat saja! Aku akan buktikan siapa, Gwen Kalina Lim sebenarnya. Ratu Mafia yang ... Eits, salah dialog. Maksudku, ratunya Agam Fauzan, eh, Fauzi atau Fauzan, ya? Aku lupa, ih!" gerutu Gwen dari balik gorden. 


"Ah, aku pakai baju dulu, setelah ini beraksi menghadang perebut pisangku!" dengusnya segera pergi ke kamar mengganti pakaiannya. 


Apa yang akan Gwen lakukan?