Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Chen Mengetahui Fakta



Tiga hari berlalu. Selam tiga hari, Rebecca menghabiskan waktu bersama dengan Gwen dan Aisyah di rumah. Mereka juga sering berkunjung ke restoran untuk membantu pekerjaan Yusuf. Baik Aisyah maupun Gwen menginginkan orang tuanya kembali bersama, itu sebabnya mereka selalu mengusulkan untuk menyusul Yusuf ke restoran.


Sering kali, tanpa mereka sadari, mereka sering mencuri pandang ketika karyawan sedang sibuk bekerja. Yusuf semakin semangat juga dalam bekerja. Keahlian Rebecca memasak juga tidak pudar sama sekali.


Rebecca juga tidak menyangka jika menu yang dibuat oleh dirinya masih tercantum dalam daftar menu di restoran Yusuf. Sambil menunggu surat cerai datang, sesekali Willy juga mengunjungi restoran juga. Mereka sudah seperti keluarga bahagia pada umumnya.


Lain tempat, Jovan akhirnya mendapat bukti bahwa Rebecca adalah Ibu kandungnya Chen. Begitu juga dengan Chen yang mengetahui bahwa dirinya bukanlah keturunan dari keluarga Wang yang sangat terkenal itu.


Chen semakin membenci dengan identitas dirinya sebagai Tuan Muda Wang yang seharusnya tak pernah ia dapatkan. Gelar calon mafia muda juga sudah diturunkan oleh Tuan Wang kepadanya.


Di hari kedua mendapat hasil DNA terebut, Jovan memberikannya kepada Chen. Sungguh dikejutkan, puta yang di culik, yang diceritakan kepada Rebecca adalah dirinya sendiri.


"Apa ini?" tanya Chen.


"Aku sudah curiga ketika melihat kalian begitu mirip dan memiliki beberapa sifat yang sama. Maka … ini hasilnya," jelas Jovan menunjukkan hasil DNA tersebut.


"Aku senagaja melakukan ini. Chen, wanita baik hati itu adalah Ibumu. Menurut ceritanya, kau di culik usai dilahirkan. Aku jadi menduga, jika Ibumu yang sekarang yang telah menculikmu," desis Jovan.


Tak ada niat buruk dalam niatan Jovan. Ia hanya tak ingin Chen menjadi generasi Mafia selanjutnya dalam keluarga Wang. Sebab, dirinya lah yang seharusnya menjadi generasi selanjutnya.


Jovan juga terus memprovokasi Chen untuk mencari Rebecca dan kembali ke keluarga aslinya. Jovan juga mendesak Chen agar memberi Cindy pelajaran, sebab dialah semua masalah di keluarga Wang terjadi.


"Aku masih kecil untuk memberikan pelajaran untuk wanita itu, Jovan. Aku masih butuh waktu untuk membalaskan dendam kepada kepada wanita yang kusebut sebagai Ibu saat ini." dengus Chen mengepalkan tangannya.


Fakta sudah terkuat, Chen mengetahui jika dirinya adalah putra yang hilang itu. Dengan bukti DNA, Chen bisa mengatakan kepada Rebecca, bahwa dirinya adalah putranya. Namun, ketika Chen pergi ke rumah Rebecca, Rebecca sudah tidak ada di rumahnya.


Sebelumnya, Chen hendak ke rumah Rebecca untuk mengembalikan kotak bekal makannya. Tapi, hal itu tertunda karena ia harus menjalani hukuman bersama dengan Feng yang diberikan oleh guru.


"Dia sudah pergi? Aku terlambat, tapi … ini suatu kenyataan yang bagus. Aku tidak repot-repot mencari siapa orang tuaku, karena aku sudah mengetahuinya," desis Chen.


"Sekarang, aku hanya ingin membuat Ibu Cindy membayar atas perbuatannya kepadaku dan keluargaku!" sulutnya.


"Tuan Muda, ini sudah waktunya untuk kita pulang. Tuan Wang baru saja memberitahu saya untuk membawa Tuan Muda ke suatu acara yang penting." ucap Asisten pribadinya.


Luka hati Chen kepada Cindy semakin membesar. Mengingat fakta, Ibunya dan Ayahnya rela berpisah demi dirinya saat itu. Meski baru sedikit mendengar kisah dari Rebecca, Chen paham sekali apa yang dimaksud oleh Ibu Kandungnya tersebut.


"Apakah, kita bisa pergi ke luar negri?" tanya Chen kepada Asistennya.


"Maksud, Tuan Muda?"


"Aku ingin liburan setelah masa hukumanku selesai. Apa kau bisa mengantarku?" jelas Chen.


"Oh, tentu saja Tuan. Tapi, alangkah baiknya, Tuan Muda juga membawa Tuan dan Nyonya Wang." tutur Asistennya.


Chen hanya ingin pergi berdua saja. Ada keinginan untuk melihat kedua orang tuanya, melalui gelang nama ketika dirinya sedang bayi dahulu. Ada alamat rumah sakit dan juga nama Ayahnya di gelang itu.


Acara yang di selenggarakan oleh Tuan Wang sangat meriah. Penyambutan Chen sebagai calon generasinya, dan juga pengumuman bahwa ia akan menikahi Ibunya Chen juga sudah dikabarkan lewat acara tersebut.


"Apa? Jadi, selama ini mereka tidak menikah?" batin Chen.


"Aku tidak menyangka, jika anak haram bisa menjadi penerus generasi keluarga ternama ini. Apakah itu bukan penghinaan namanya?"


"Eh, jika dilihat. Tuan Muda mereka sama sekali tidak mirip dengan mereka. Apakah itu anak adopsi? Jika benar, kasihan sekali anak itu, hanya diperalat untuk membesarkan usahanya saja!"


Desas desus buruk itu membuat telinga Chen semakin panas. Dirinya kekeh memiliki orang tua yang baik, namun semua orang di sana menyebutnya dengan anak haram yang hanya diperalat saja.


"Tuan Muda juga harus ingat. Misi kita yang semula menghancurkan wanita yang anda sebut dengan Ibu, kini berubah juga dengan misi menghancurkan Klan Wang di mata dunia Mafia, bukan?" imbuhnya.


"Aku akan membuat kalian semua membayar rasa sakitku!" batin Chen. "Jika aku bisa menguasai klan ini, aku akan lebih mudah menyiksa mereka semua yang telah membuatku jauh dari keluarga kandungku!"


Harian yang di tunggu Chen akhirnya tiba. Tepat di hari ketiga Rebecca berkunjung ke rumah Yusuf dan dengan cepat juga Chen berhasil mendarat di Jogja dengan ditemani oleh Asisten pribadinya.


"Apa kau sudah memastikan dimana keluarga kandungku tinggal?" tanya Chen.


"Menurut informasi yang saya dapat, yang berada di sini adalah Ayah kandung, Tuan. Kemudian, Nyonya Rebecca berada di Australia dengan masing-masing saudari kembar Tuan Muda," jelas Asistennya.


"Gara-gara Ibu angkatku, orang tua kandungku dan kedua saudari kembarku … mereka semua juga ikut menderita, berpisah seperti ini," desis Chen.


"Aku pernah mendengar bahwa Ibu berpisah karena saudari kembarku juga merasakan hal sama sepertiku. Apa kau sudah mendapatkan tempat tinggal sementara di sini?" sambung Chen.


Asisten menemukan komplek elit cindo, Cina Indonesia yang berada dalam satu kota tersebut. Chen berharap jika dirinya bisa bertemu dengan keluarga kandungnya. Info baru yang Chen dapatkan lagi adalah, fakta Ibunya yang akan kembali ke Australia untuk sidang perceraian dengan Ayah angkat Gwen di sana.


"Mobil jenis apa yang kamu sewa ini? Kenapa mobil sampah seperti ini kamu sewa untukku, apa kau sudah tidak mau hidup lagi, hah?" bentak Chen kepada supir barunya di Jogja.


"Tuan Muda, anda harus bisa jaga sikap anda di sini. Atau Identitas kita sebagai … akan terbongkar, dan penyelidikan kita akan sia-sia," ucap Asistennya menggunakan bahasa China.


"Hah, menyusahkan sekali. Ayo cepat perbaiki mobilnya, aku lapar!" bentak Chen.


Tempramen Chen memang sama dengan Rebecca yang gampang sekali marah. Asisten pribadinya segera mencarikan makanan untuknya. Chen merasa jika suasana kita itu tidak asing baginya.


"Kenapa, aku merasa tidak asing dengan tempat ini? Apa aku pernah ke sini?" batin Chen.


Sekian lama Asistennya belum juga kembali, karena ia mengalami kebosanan, ia pun keluar dari mobil dan tidak sengaja pintu mobilnya mengenai Adam yang saat itu tengah mengendarai sepeda motor.


Bruak!


Adam terjatuh dengan sepeda motornya, supir yang sebelumnya sedang memperbaiki mesin mobil segera menolong Adam dan membantunya berdiri.


"Bapak tidak apa-apa? Maafkan anak majikan saya, ya." ucap Pak sopir tersbut.


"Alhamdulilah saya tidak apa-apa, tolong bantu saya berdiri, Pak," sahut Adam.


Chen terus memandangi Adam tanpa berkedip. Pria yang muncul dalam mimpinya saat dirinya berusia tujuh tahun adalah Adam. Ia mencoba mengingat kembali mimpinya itu.


"Pria ini … sama persis dengan pria yang muncul dalam mimpiku dua tahun lalu. Pria yang memintaku untuk tidak makan daging itu." batin Chen memandangi meski tanpa membantu.


"Nak, lain kali .. jika membuka pintu mobil, kamu harus lebih hati-hati, ya." tutur Adam dengan lembut.


Adam menepis tangan Adam dan masuk kembali ke dalam mobilnya. Pak Sopir menjelaskan jika Chen baru datang dari luar negri dan tidak bisa berbahasa Indonesia.


"Pantas saja. Ya sudah kalau begitu, saya jalan dulu, ya, Pak. Assallamu'laikum."


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh."


Ketika melihat Chen kembali, Adam menyadari bahwa di pergelangan tangannya ada liontin yang khusus ia buat untuk semua keponakan laki-laki di keluarganya. Merasa ragu, Adam kembali melihat pergelangan Chen lagi dengan teliti dan menduga jika liontin itu memang buatannya sendiri.


Apakah Adam akan paham jika itu adalah keponakannya?