Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Keras Kepala Gwen



"Aisyah, ada dua orang yang telah menunggumu di apartemenmu. Ikutlah dengan mereka, dan jangan membiarkan Asisten itu tau, paham!"  ucap Raza. 


"Iya, aku mengerti," jawab Aisyah. 


Asisten Dishi menggeleng. "Jangan pergi sendiri, Ai. Aku mohon, aku akan mendampingimu, tunggu Tuan ngasih arahan, oke?" pintanya. 


"Aku mencintaimu, aku juga mencintai putra kita. Kamu bilang aku adalah Ibunya, maka aku harus memperjuangkan putraku. Segera lah bertindak, aku akan menunggumu di sana, assalamu'alaikum … Ayahnya Ilkay," Aisyah berangkat meninggalkan senyuman. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Ai, hati-hati. Apapun yang terjadi, tolong jangan gegabah dalam menghadapi Raza," tutur Asisten Dishi menempelkan alat pelacak dan perekam di balik jilbab Aisyah. 


Mereka terpaksa berpisah, berjuang sendiri-sendiri agar Raza tidak nekat bertindak. Chen dan Jovan juga dalam perjalanan, mereka akan bertemu di Tiongkok dan membahas rencana mereka. 


Malam telah tiba, Aisyah mengikuti semua yang diperintahkan Raza agar mau datang sendirian. Raza mengirim kapal untuk menjemput dirinya. Masih berharap Raza kembali ke jalan yang benar dan menjadi Raza yang dulu. 


"Aisyah, selamat datang di kapal pribadiku. Kita akan seger bertemu," ucap Raza melalui rekaman yang diberikan oleh anak buahnya. 


"Dimana anakku? Bagaimana keadaannya?" tanya Aisyah kembali khawatir. 


"Tenang saja, Nona. Sandera masih aman, anak kecil dan bayi itu akan tetap selamat jika Nona patuh kepada Tuan Muda kami," jawab salah satu dari orang yang suruh Raza untuk mengantarnya ke Tiongkok. 


"Bayi? Maksudnya bayi?" Aisyah belum tahu jika adiknya juga ikut ke dalam penculikan yang dilakukan Raza dan Jackson Lim. 


"Bayi itu adalah anak bungsu dari Nona pertama, Nona Becca yang saat ini entah menghilang kemana," jawabnya. 


Hati Aisyah merasa sakit. Raza tidak menyadari, jika dirinya tengah membangunkan singa betina yang tengah tertidur sejak kejadian hilang ingatan itu. 


"Menghilang entah kemana? Orang tuaku juga dalam masalah, adikku, anakku di culik oleh kalian. Kalian tidak akan pernah kuampuni!" desis Aisyah mengepalkan tangannya.


Malam itu, Gwen masih marah dengan Agam karena tidak mengizinkan dirinya membantu kedua kakaknya menyelamatkan keluarganya. Ia terus mengurung diri di kamar. 


"Dek, ayo keluar. Sejak tadi pulang dari rumah lama, kamu terus mengurung diri di kamar. Kamu belum makan juga loh," bujuk Agam. 


"Mas Agam sendiri aja yang makan!" teriak Gwen. 


"Huft, Mas juga belum makan karena kamu nggak mau makan," gumam Agam lirih. "Ayolah, Dek. Keluar, ya … kita makan bersama, bagaimana? Kalau kamu nggak makan, nanti kamu sakit," lanjut Agam dengan harap Gwen mau ikut makan bersamanya. 


Tetap saja, yang Gwen ingin saat itu adalah bisa pergi membantu keluarganya. Namun, Agam juga tidak salah dengan tidak mengizinkan Gwen, bisa mencegah Gwen terjun kembali ke dunia hitam itu lagi. 


"Baiklah, Mas juga tidak akan makan sampai kamu mau makan."


Dalam hatinya, Gwen juga tidak tega jika harus membuat suaminya tidak makan. Apalagi, Agam memiliki riwayat magg yang sewaktu-waktu bisa kambuh jika telat makan, ataupun makan tidak teratur. 


Gwen menarik napas dalam-dalam, kemudian melepasnya dengan pelan. "Apa ini! Cobaan apa ini!" kesal Gwen membanting ponselnya.


Setelah berpikir kembali, akhirnya Gwen melunak. Keegoisannya mencair dan mau membuka pintu kamarnya. Melihat suaminya nyang sibuk sendiri dengan pekerjaannya, membuat dirinya ingin membantunya. Gwen pergi ke dapur, membuatkan teh hangat untuk suaminya dan juga makanan yang sebelumnya sudah Agam siapkan untuknya juga di keluarkan. 


"Demi membujuk aku, Mas Agam sampai beli ini? Mas, sebenarnya aku ingin patuh, tapi nyawa keluargaku … Maafkan aku jika harus membuatmu tidur lebih awal malam ini,"


Gwen memasukkan bubuk supaya Agam tertidur dengan cepat. Bukan maksud dirinya bermaksud tidak bakti, tapi keluarganya sangat penting baginya. Kisah hidupnya tidak seindah keluarga lain yang bahagia berkumpul bersama. Misinya belum sepenuhnya tuntas karena ada keluarganya yang belum menemui titik kebahagiaan. 


"Teh?" Gwen menawarkan teh hangat yang ia bawa. 


Dengan senyuman manis Agam, ia menerima teh dari tangan istrinya tanpa rasa ragu. Merasa tidak tega? Iya, itu yang dirasakan Gwen saat melihat suaminya meminum tehnya tanpa rasa ragu lagi. 


Bubuk itu tidak langsung bereaksi, Gwen harus menunggu waktu sepuluh sampai lima belas menit lagi. Ia menemani suaminya dengan memakan makanan yang sengaja Agam beli untuknya. 


"Mas belum makan, 'kan? Aku suapi, ya?" ujar Gwen. 


Agam tersenyum, kemudian mengangguk. "Kamu sudah tidak marah lagi? Maaf, ya. Mas bukannya tidak peduli dengan keluargamu, tapi memang Mas hanya tidak ingin kamu kenapa-napa saja," ucap Agam makan dari suapan tangan Gwen. 


"Kamu sudah susah payah keluar dari dunia seperti itu. Jika saat ini kamu kembali lagi, kamu akan sulit untuk keluar lagi nantinya. Meskipun itu keluargamu sendiri, percayalah … kedua kakakmu, keluarganya dan juga anak buahnya yang banyak itu bisa membantu mereka," lanjut Agam kembali menyuapi Gwen. 


"Kamu cukup mendoakan mereka dari rumah. Jika kamu memiliki rencana, kamu baru beri tahu mereka tanpa harus kesana, hm?" tukas Agam mengakhiri penuturannya. 


Gwen hanya diam dan mengangguk saja. Ia sama sekali enggan bicara. Sebab, jika ia berbicara, malah akan membuatnya semakin tidak tega kabur dari Agam. 


Sekitar dua belas menit, akhirnya bubuk putih yang ditabur oleh Gwen kedalam minuman suaminya telah beraksi. "Kok, aku mengantuk, ya?" ucap Agam. 


"Baru juga jam segini. Masa sudah mengantuk, sih, Mas?" tanya Gwen, supaya Agam tidak mencurigainya. 


"Nggak tau nih, huam … alhamdulillah, Mas kok tiba-tiba mengantuk, ya?" 


Tak lama setelah itu, mata Agam terpejam. Kini, Agam benar-benar terpejam dan akan tidur nyenyak sampai pagi. Di waktu itu, Gwen sudah dalam perjalanan ke Tiongkok dan bisa membantu keluarganya yang saat itu masih dalam masalah. 


"Kalian datang kemari. Siapkan mobil dan pergi ke markas, kita pakai kendaraan kita. Kita akan melewati lintas laut dan mendarat di markas keluarga Lim di Tiongkok," perintah Gwen melalui telepon genggamnya. 


Sambil menunggu orang kepercayaannya datang, Gwen segera bergegas berkemas. Menyiapkan apa yang seharusnya ia bawa. Membawa beberapa baju, karena ia tidak mungkin beraksi mengenakan gamisnya yang selama menikah sudah menjadi pakaian sehari-harinya. 


Sekitar 30 menit, empat orang kepercayaan Gwen telah datang dengan menyamar sebagai tukang antar makanan. Tidak mungkin bagi mereka masuk di kawasan pesantren mengenakan pakaian formal serba hitam. 


Tok, tok, tok …. 


Suara pintu di ketuk, segera Gwen membukakan pintu untuk mereka. Dua diantaranya diminta memindah suaminya ke kamar. Tak lupa, ia menuliskan sesuatu di secuil kertas yang bertuliskan,


"Assalamu'alaikum, semoga Mas Agam bangun dengan tubuh yang segar dan bugar. Jika Mas sudah bangun, tidak menemukan aku di rumah, maka aku sudah ke Tiongkok. Mereka tetap keluargaku, maafkan aku yang durhaka ini. Tapi, masalah ini tak sesederhana itu. Polisi? Tidak akan membantu dalam dunia seperti ini. Maka, aku akan ikut turun tangan. Tenang, aku tidak akan membunuh orang, hanya ingin menyelamatkan keluargaku saja. Wassallam, salam Gwen, istrimu yang imut."