
Sesegera mungkin Pak Raza berlari ke dapur. Ia mendapati Gwen yang berdiri di pojokan membawa spatula ditangannya dan juga tutup panci besar di tangan sebelahnya.
"Ada apa? Kenapa kompornya kamu tinggal dengan api sebesar itu?" Pak Raza segera mematikan kompornya.
"Aku baru tau kalau ikannya akan hidup ketika di goreng, Pak. Lihatlah! Ikannya berenang di minyak yang bahkan belum panas." tunjuk Gwen dengan mata melebar.
Pak Raza melihat kekacauan di dapur. Semuanya berantakan, minyak untuk menggoreng ikan juga hampir 1 liter yang dipakai. Padahal ikannya cuma satu. Lalu, ada telur ceplok dengan cangkangnya yang masih nempel di sana. Belum lagi, Pak Raza juga melihat tumis kacang yang kacangnya tidak ia potong dan masih sangat panjang.
"Allahu Ya Rabb … kamu ini kenapa, Gwen?" tanya Pak Raza menghela napas panjang.
"I'm oke, Pak. Tenang saja!"
"Ini apa? Kenapa tumis kacang panjang, kacangnya sepanjang ini?" tunjuk Pak Raza mengambil piring isi tumisan tersebut.
"Ya kelamaan aja kalau di potong. Namanya juga kacang panjang, kalau pendek ya jadi sayur kacang pendek dong," jawab Gwen masih ngelak.
"Astaghfirullah, lalu telur ini?" lanjut Pak Raza.
"Oh, kalau itu … tanganku tadi tak sengaja nyentuh tuh penggorengan panas. Jadi tumpah deh secangkang-cangkangnya." jawab Gwen meringis memperlihatkan giginya tanpa rasa bersalah.
Pak Raza hanya menepuk keningnya seraya beristighfar. Ia meminta Gwen untuk membereskan semuanya, lalu ia yang akan memasak untuk mereka makan.
"Ya Allah, makhluk seperti apa Gwen ini? Anak seorang chef, pemilik restoran juga, bahkan dia tidak bisa memasak?" batin Pak Raza. "Ceplok telur aja gagal, ya Allah."
Selesai dadar telur, Pak Raza meminta Gwen mengambil nasi dan menyiapkannya di meja makan. Namun, apa yang terjadi?
"Gwen, tolong ambil nasi, ya. Ini telur dadarnya sudah jadi, terima kasih," pinta Pak Raza dengan sabar.
Tak lama kemudian, Gwen mendekati Pak Raza lagi. Dia menoel lengan Pak Raza dengan manja. Kemudian memperlihatkan giginya lagi. Merasa curiga, Pak Raza memperhatikan rice cooker dan memeriksanya. Ternyata ....
"Kenapa belum matang? Seharusnya sudah dong, ini juga udah di turunin," Pak Raza menunjuk mode cook rice cooker tersebut.
Gwen mendekat dan menjawab, "Hehe, belum aku colokin rupanya, Pak. Bodohnya aku--"
Pak Raza mendatarkan pandangannya. Ia menarik lengan Gwen dan memintanya segera duduk dan makan apa yang ada. Sebab, memang Pak Raza tidak suka masak yang membuatnya lama menunggu lagi.
"Cuma dadar telur doang? Mana kenyang?" protes Gwen.
Pak Raza menyikapinya dengan dingin. Ia mengambil bagian milik Gwen dan memakannya sampai habis. Kali ini, Pak Raza benar-benar kesal buatnya.
"Loh, itu bagian aku, Pak. Kenapa Pak Raza ambil, sih? Terus aku makan apa? Aku kan jadi kelaparan ...," rengek Gwen, berharap mendapat perhatian dari Pak Raza.
"Kelaparan saja sampai malam. Kapan kau akan dewasa, Gwen!" Pak Raza benar-benar kesal. Ia dilibatkan dalam misi yang tidak ia ketahui. Lalu, di salahkan oleh Airy karena menuruti kemauan Gwen yang terbang menyusul Aisyah ke Thailand. Belum. Lagi, ia telah meninggalkan ibunya di rumah sendirian.
Gwen terus membujuk Pak Raza supaya tak matahari lagi kepadanya. Seribu kata maaf rupanya tak bisa meluluhkan hati Pak Raza dengan mudah. Pak Raza malah memberinya selembar tugas kuliah dan memintanya segera dikerjakan.
"Apa? Tugas? Pak, ini nanti saja setelah kita pulang, bagaimana?"
Pak Raza memutar matanya. Menenangkan emosinya yang seharusnya sudah meluap sejak tadi. Ia pun memikirkan cara supaya Gwen mau belajar dengan benar hari itu.
"Gwen Kalina Lim, binti bapak Yusuf Ali. Bisakah tak melakukan nego lagi? Saya pastikan kamu tidak akan wisuda tahun ini!" gertak Pak Raza dengan wajah yang menakutkan.
Perlahan, Gwen menjauhkan diri dulu dari tubuh Pak Raza yang dekat sekali dengannya. Kemudian, dengan menurut, ia mengambil kertas bersisi tugas itu secara perlahan dan mulai memahaminya.