Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Dua Balita Agam



"Duduklah, aku sedang masak. Jika kau lapar, aku ada roti dan selai untuk kau makan, mau?" Gwen tahu jika kakaknya tidak sarapan nasi. 


"Kau, kau, kau. Tak bisakah kau memanggilku dengan sebutan kakak saja? Atau kata kau itu diganti dengan sebutan kamu. Tak bisakah? Aku jauh lebih tua darimu, Gwen!" tegas Chen merasa menjadi seorang kakak dengan menegakkan badannya.


"Kita hanya selisih beberapa menit saja, Kak Chen. Aku sudah memanggilmu dengan sebutan kakak saja … itu sudah cukup, 'kan?" kata Gwen dengan menyipitkan matanya. 


Mereka kembar identik, jadi memiliki banyak kesamaan. Namun, keduanya jarang bisa sependapat dan sepemikiran seperti Chen dengan Aisyah, atau Gwen dengan Aisyah. Tak ingin hanya duduk manis saja, Chen membantu Gwen memasak. Berbeda dengan Gwen yang belum mahir memasak, Chen ini malah ahli dalam urusan makanan. Itu semua karena sejak bermimpi bertemu dengan Adam masalah daging, ia selalu berusaha memasak untuk dirinya sendiri. 


"Kak Chen memangnya bisa masak?" tanya Gwen meragukan. 


"Kamu meragukan kakakmu yang tampan ini? Aku serba bisa, memasak adalah hal kecil untukku!" jawab Chen dengan keangkuhannya. 


"Oh, Tuan muda Wang memang sangat angkuh. Bukan Tuan Muda Chen Yuan Wang jika tidak disertai keangkuhan dan kesombongan dalam berbicara," ejek Gwen. 


"Maksudnya apa? Kamu mau mau bilang kalau aku ini hanya membual?" sulut Chen. 


"Dih, kurangi rasa sok kamu ini, Tuan muda Wang. Jangan kira kau adalah kakak kandungku, jadi bisa seenaknya bicara padaku," sahut Gwen menepuk-nepuk bahu Chen. 


Chen menatap Gwen dengan tatapan ketidak percayaan kepada sebuah kata-kata yang keluar dari mulut saudarinya itu. "Maksudnya?" 


"Ingat, begini-begini aku masih Nona muda Lim, tau!" Gwen berusaha keras menjelaskan arti Nona muda bagian dunia hitam sebelumnya. 


Chen menyelentik kening Gwen dengan sedikit kuat. "Aduh, sakit tau!" keluh Gwen memukul kakaknya menggunakan jurus bela dirinya. 


Berkelahi lah mereka di dapur. Tangan meraka sangat jahil kala berkelahi. Bukan saking membalas dengan pukulan, mereka malah membuang beberapa peralatan masak dan makan yang terbuat dari plastik dan alumunium. Membuat seluruh dapur berantakan. 


Brak! 


Bruk! 


Trang…! 


Truang tan tan tan tan…. 


Suara gaduh itu sampai terdengar dari luar rumah. Tepat sekali Agam baru kembali dari masjid dan segera berlari kala mendengar suara perkakas rumah terbanting.


"Assalamu'alaikum, Dek, kamu kenapa, ada apa?" tanya Agam dengan dipenuhi kepanikan. Sampai sandal yang sebelah ikut terbawa masuk. 


Chen dan Gwen saling menoleh ke arah Agam. Terdengar suara jangkrik ngengkrik saat mereka bertiga saling bertatapan satu sama lain. Agam tidak menduga jika dua orang dewasa berusi 22 tahun itu berperilaku seperti anak kecil di rumah. 


Agam melihat ke sekeliling, mendapati dapurnya berantakan membuatnya kesal. "Siapa yang akan bertanggung jawab?" tanyanya, setelah itu menghela napas panjang. 


Gwen dan Chen saling menunjuk. Mereka saling melempar tuduhan tidak ada yang mau mengakui kesalahannya. Diamnya Agam membuat Chen heran, "Apa kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu terlihat begitu bahagia?" tanya Chen. 


"Apa aku terlihat bahagia, Tuan Chen?" desis Agam dengan senyum terpaksa. 


"Ya, terlihat seperti itu. Kenapa? Istrimu sudah mulai pandai memasak, bukan begitu?" sahut Chen. 


Agam menyipitkan matanya. "Huh, aku akan membuat kalian mempertanggung jawabkan apa yang kalian perbuat!" gerutu Agam dalam hati. 


Agam mendekati keduanya, mengangkat kedua tangannya dan menarik telinga Chen dan Gwen, istrinya. "Bentuk pertanggungjawaban apa yang akan kalian lakukan untuk dapur ini?" tegasnya.


Chen dan Gwen kembali menatap satu sama lain. Mereka tak tahu apa yang seharusnya mereka lakukan. 


"Siapa diantara kalian yang paling pandai memasak?" lanjut Agam. 


"Tentu saja aku!" seru Chen seolah hidungnya kini memanjang, meruncing dan menjulang tinggi ke atas. 


"Baik, kamu akan saya hukum menjadi juru masak pagi hari ini. Tidak ada protes dan tidak ada tawar menawar," perintah Agam menutup matanya, seolah dirinya paling dewasa diantara mereka. 


"Eh, betul juga," gumam Agam dalam hati. "Ah, masa bodoh. Kita lihat saja, dia mau tidak jika aku hukum," lanjutnya dengan menyeritkan alisnya. 


Agam mendehem, "Ehem, Tuan Chen. Apa Anda tak ingat? Anda adalah saudara kembar dari istri saya dan hanya selisih waktu beberapa menit. Dari mana bisa dianggap kakak ipar?" tanya Agam dengan keringat mulai bercucuran. 


"Benar juga. Kau lebih tua dariku--" gumam Chen mengangguk-angguk. 


"Eh, dia percaya?" batin Agam merasa mendekati kemenangan. 


Setelah beberapa rundingan, akhirnya Chen mau menerima perintah Agam untuk membuat sarapan pagi itu. Sementara Chen memasak, Agam meminta sangat istri, merapikan dapur seperti sedia kala. 


"Assalamu'alaikum, Zaujati ...," sapa Agam. 


"Hehe, wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, ya Zauji," jawab Gwen dengan cengegesan. 


"Berhubung Zaujati belum pandai memasak--" Agam tidak melanjutkan ucapannya. Ia berjalan mengambil sapu, kemoceng dan lap. Lalu memberikannya kepada Gwen. 


"... Zaujati bersihkan ini semua, ya. 'Kan tadi senang sekali bermain bersama kembaran. Jadi, ketika beberes juga harus dilakukan dengan senang hati," lanjut Agam memberikan sapu, kemoceng dan lap kepada istrinya. 


"Aku sendiri? Kenapa Kak Chen tidak? Ke apa dia malah di suruh masak? Yang istrimu aku atau dia?" Gwen mulai merengek memasang wajah melas. 


"Iya, aku adalah istri mudanya! Kau mau apa? Tak terima?" sahut Chen dari depan kompor. 


"Mas Agam, Mas menduakan aku?" Gwen masih bicara dengan manja. 


"Ada apa dengan ipar dan istriku ini? Mereka sepertinya sedang konslet otaknya. Sebaiknya aku menjauh dulu saja," batin Agam sembari menepuk keningnya sendiri. 


Selama menjalani hukuman, baik Chen dan Gwen telaten dalam melakukannya. Mereka begitu hening dan fokus, seolah benar-benar anak kecil yang sudah nyaman dengan mainannya. 


"MasyaAllah, pemandangan seperti apa ini? Kenapa aku merasakan jika diriku ini adalah baby sitter untuk dua balita?" gumam Agam dalam hati. 


Beberapa menit kemudian, Chen selesai memasak dengan beberapa menu yang telah tersedia di kulkas. Begitu juga dengan Gwen yang hampir selesai merapikan semua barang yang sebelumnya ia lempar bersama dengan Chen. 


"Alhamdulillah, semuanya selesai. Mari kita sarapan, dan jangan kalian ulangi pertengkaran seperti itu lagi, paham?" tutur Agam. 


"Iya, aku tau!" cetus Chen tak sabar hendak sarapan. 


"Mas, lapar ...," Gwen sangat manja terhadap suaminya. 


Merasa tak tega, Agam pun menyajikan satu porsi nasi, sayur dan lauk untuk sang istri. Hati Chen begitu tenang saat melihat suami dari adiknya begitu mencintai adik nakalnya itu. 


"Gwen menemukan orang yang menjadikannya ratu. Sama hal nya dengan Ai dan Ayah yang selalu menjadikan dirinya seorang putri. Aku khawatir apa tentangnya?" ucap Chen dalam hati. 


"Di pagi buta, aku bergegas datang ke pesantren untuk menanyakan alamat rumah Gwen dan suaminya. Aku mengkhawatirkan adik kecil ini. Tapi rupanya, suaminya begitu mencintainya, aku sudah merasa tenang sekarang."


Tak terasa, Chen mengalirkan air matanya. Segera ia hapus, takut jika adik dan iparnya melihat dirinya selemah itu. Chen berniat untuk menginap selama dua hari di rumah Agam. 


"Apa? Dua hari? Kenapa gitu, Kak?" tanya Gwen. 


"Hush, kok nanyanya begitu, sih? Mas malah seneng loh, jika kakak kamu hendak menginap, Dek," sahut Agam dengan menyentuh lembut tangan Gwen. 


"Mas, tapi dia--"


"Dek, biarkan saja. Itu akan jauh lebih baik, loh. Ayo Tuan Chen, tambah lagi sarapannya. Ayam kecap manis yang Anda buat ini, sangat lezat, terima kasih sudah memasak untuk kami," ucap Agam dengan tutur kata yang halus. 


"Tenang saja, selama aku di sini. Koki rumah ini adalah aku. Akan aku kenyangkan perut kalian berdua nantinya!" seru Chen senang iparnya menyambutnya dengan ramah. 


Bukan Gwen menolak, hanya saja, akan menimbulkan masalah jika kata-kata Syifa tahu Chen ada di rumahnya. Gwen tidak ingin Syifa tahu dulu jika Chen adalah saudara kembarnya. Terbesit dalam pikirannya, untuk menggunakan Chen sebagai bala bantuan menggagalkan pernikahan Ustadz Khalid dan Syifa yang akan diselenggarakan lusa.