Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Malam Bersamamu (Aisyah dan Dishi)



Sesampainya di rumah, Aisyah kembali merawat luka suaminya. Ia masih saja marah karena Dishi telah berbohong padanya.


"Aduh, kamu ini kan dokter, kenapa kasar gitu nangani pasien?" protes Dishi.


"Oh, protes? Siapa suruh kamu berbohong kepadaku? Kamu, Kak Chen, Ayden Oppa, Tuan Jin dan semua orang selalu membohongiku. Dipikir aku ini bodoh apa? Aku juga tidak pernah menyusahkan semuanya, kenapa juga harus membohongiku,"


Dishi hanya diam ketika istrinya mengomel. Ia bersyukur karena bisa melihat wajah istrinya lagi. Dishi berpikir, bahwa hidupnya akan berakhir di markas Jackson Lim dan mati sia-sia. 


Tak menyangka, istrinya yang selalu terlihat begitu tenang, malah bisa membantunya keluar dari markas tersebut. Dishi tidak menyangka jika Aisyah mampu mengeluarkannya. 


"Ai, terima kasih. Kamu telah menyelamatkan aku. Ketika aku di dalam sana, tahukah apa ketakutanku? Aku sangat takut tidak bisa melihatmu lagi," ucap Dishi. 


"Aku takut aku tidak bisa memelukmu lagi. Aku tidak pernah takut kehilangan apa yang aku miliki dalam diri aku ini, Ai. Ketakutan terbesar Aku adalah takut kehilanganmu, aku merindukan." Dishi mengucapkan itu dengan air mata yang membasahi pipinya. 


Aisyah meletakkan kotak obatnya. Kemudian meraih dan menggenggam erat tangan suaminya. "Kenapa kamu berbohong padaku?" tanyanya.


"Target mereka adalah Nona Gwen dan Nona Lin. Jika kamu mengetahui semuanya, mereka akan mudah memancingmu untuk menghancurkan Nona Gwen dan Nona Lin," jawab Dishi.


"Aku tidak maksud dengan apa yang kamu katakan. Bisakah di sederhanakan lagi kata-katanya?" tanya Aisyah.


"Jackson Lim tahu jika kamu lebih sulit diatasi dibandingkan dengan Nona Gwen dan Nona Lin. Maka dari itu, aku dan Tuan Chen tidak ingin kamu mengetahui hal ini, karena kamu harus fokus ke kuliahmu, Ai. Kamu sudah cukup berkorban untuk mereka. Tuan Chen tidak ingin kamu terlibat  semakin jauh dalam dunia hitam ini," terang Dishi. 


"Tanganmu kotor dan darah manusia. Kamu memang seorang dokter, Aku. Tanganmu kotor karena darah manusia, itu karena kamu menolongnya bukan membunuhnya," lanjut Dishi.


"Sesuai dengan pesan Ayah Yusuf. Jika kamu tidak boleh terlibat dalam suatu hal apapun yang bersangkutan dengan dunia mafia," tukas Dishi menurunkan nada bicaranya. 


Aisyah seketika diam. Memang sejak awal, Aisyah tidak tertarik dengan apapun yang bersangkutan dengan dunia Mafia. Dimana lingkaran Mafia begitu kejam dan tidak baik. Tapi, dalam darahnya mengalir darah Rebecca. Dimana memang dia adalah putri seorang Mafia. 


"Aku, Kak Chen dan juga Gwen adalah sepaket. Suatu saat, jika diantara kami terluka, itu juga karena melindungi satu sama lain. Awalnya aku takut dengan semua itu, tiba-tiba memiliki kakak dan seorang Ibu yang terjun di hal … Yang jika dipikir saja seperti hanya sebuah kisah di novel," ucap Aisyah. 


"Tapi ternyata, Mafia itu beneran ada. Huft, sudah malam. Ayo kita istirahat, sudah dua malam aku tidak ada yang menemani tidur," 


Aisyah enggan membahas apapun yang bersangkutan dengan Mafia meski dirinya tidak bisa menghindarinya. Ia pun segera menyiapkan baju ganti untuk Dishi. 


Malam itu, keduanya merebahkan diri di ranjang. Tubuh Dishi masih lemah karena penyiksaan yang dilakukan oleh Jackson Lim. Meski keduanya sudah berkumpul kembali, mereka masih saja diam.


"Kenapa diam?" tanya Aisyah dengan ketus.


"Aku nggak suka kamu dekat dengan Zhuang," jawab Dishi.


"Kamu cemburu dengan, Zhuang?" tanya Aisyah lagi.


"Iya," jawab Dishi langsung.


"Hah? Kamu cemburu dengan Zhuang juga kenapa dah? Kemarin kamu cemburu dengan Ayden Oppa, terus cemburu dengan Tuan Jin. Semua saja kamu cemburui!" kesal Aisyah.


Dishi membuang muka, kemudian menarik selimutnya dan menutupi tubuhnya menggunakan selimut tersebut. 


"Hei, aku juga mau pakai selimut, Pak Dishi!" teriak Aisyah.


"Apa? Kamu mempermasalahkan selimut? Cemburu pun bisa membuatmu seperti ini, hah? Lihat saja, aku akan membuat lukamu ini semakin bertambah. Dasar, suami cemburuan!" Aisyah mengambil selimut lain di almari.


"Dasar istri tukang buat cemburu! Aku tuh cinta tau sama kamu!" Dishi tak mau kalah.


"Aku juga cinta sama kamu! Mau apa?" sulut Aisyah. 


Keduanya berdebat tapi masih mengungkapkan isi hatinya masing-masing. Bahkan, Aisyah dan Dishi mengatakan tak bisa hidup tanpa masing-masing. Pertengkaran itu berkahir ketika mereka masih sibuk mempeributkan kasih sayang mereka. 


"Cintaku lebih besar darimu!" sambung Dishi.


"Hih, cintaku yang lebih besar darimu tau!" sahut Aisyah memanyunkan bibirnya. 


"Cintaku, sayangku, jiwa dan ragaku hanya untukmu. Kamu punya apa, hah?" Dishi sampai menarik selimut Aisyah yang baru saja ia ambil. 


"Aku tidak bisa hidup tanpamu di dunia ini jika bukan Allah yang memberiku kekuatan. Kamu, jangan coba-coba melebihi cintaku padamu, paham!" ketus Aisyah kembali merebut selimut miliknya. 


"Istriku yang cantik tapi bawel!"


"Apa suamiku yang tampan tapi mengesalkan?" 


Mereka berdua beradu mulut tiada hentinya sampai suara mereka menjadi serak. Bahkan keduanya sampai berebutan air putih di dapur. Dari kamar ke dapur, mereka berlari seolah-olah sedang berlomba hanya memperebutkan air putih. 


"Air putih ini aku dulu yang minum!" ucap Dishi meninggikan teko yang ia sudah pegang lebih dulu dari Aisyah. 


"Tapi gelasnya ada padaku, Dishi. Bagi aku minum dulu, tenggorokan aku sudah kering dan sakit," rengek Aisyah. 


"Oh tidak bisa, siapa cepat, dia dapat istriku yang cantik," sahut Dishi masih tidak mau mengalah. 


"Suamiku yang tampan, tinggi, Sholeh. Jika kamu tidak mau memberikan teko itu, maka aku akan memanggil Zhuang datang kemari untuk memberikanku minuman. Atau kalau bisa, aku ingin dia menyuapiku hanya untuk minum saja," ancam Aisyah. 


"Hish, benar-benar. Jangan sebut nama pria lain lagi!" tegas Dishi cemburu. 


"Zhuang sangat tampan. Selama kamu pergi, Zhuang yang menjagaku. Bahkan Zhuang membelikan aku makanan, menjemputku pulang pergi ke kampus dan--"


Ucapan Aisyah terhenti kala Dishi mencium bibirnya. Jantung Aisyah berdebar kencang. Mereka sudah menjadi suami istri, namu masih saja berdebat di kala berduaan dan bersentuhan secara langsung seperti itu. 


"Jangan pernah menyebut nama pria lain ketika sedang bersamaku. Bahkan ketika aku tidak ada di sisimu pun, jangan pernah menyebut nama pria lain ataupun sampai memikirkan pria lain, mengerti istriku?" bisik Dishi.


Dishi kembali mencium bibir Aisyah. Mereka berpelukan setelah berciuman dan kembali lagi berebut air putih. Kali itu, mereka sama-sama saling mengejek. Setelah puas berlarian di dapur, mereka pun kembali ke kamar dan tepar di ranjang dengan napas tersengal-sengal. 


"Bahkan lukaku saja sampai tidak terasa ketika sudah bersamamu. Apakah kamu ini adalah  sejenis obat?" Dishi mulai lagi.


"Bukan, aku adalah jantung hatimu. Dimana aku ada, pasti kamu akan merasa sehat di sisiku. Kenapa? Menyesal meninggalkanku selama dua malam?" Aisyah pun mulai menyerang kembali. 


Mereka kembali saling mengejek dan menggelitiki di atas ranjang. Indahnya hubungan pacaran setelah pernikahan. 


Pengen, ya?