Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Hal Terbaik



"Dia tidak berpamitan denganku. Apa dia marah padaku? Kejadian kemarin … apakah membuatnya menjauhiku?" batin Xia, sedih. 


Ketika sampai di mobil, Tama menghela napas panjang. Menutup matanya dan menyandarkan kepalanya di jok mobilnya. "Sebentar lagi dia masuk ke sekolah menengah atas, apakah yakin aku bisa menjadi walinya samai dia cukup umur?" gumamnya. 


"Aku mengambil keputusan yang salah sebulan lalu. Harusnya aku kirim saja dia kembali ke Amerika. Untuk apa aku repot mengurusinya?" 


"Hash, itu malah akan terlihat begitu kejam. Aghhrrr aku harus apa dan bagaimana ini?" 


Saat bingung-bingungnya dengan pikirannya, ponselnya berdering. Dengan ketus Tama pun mengangkatnya. "Apa? Aku sibuk, bisa hubungi lagi nanti, paham!" 


"Nak, kamu ini sedang ngomong dengan siapa? Coba kamu lihat, nama siapa yang tersemat di kontak ini," 


Tidak perlu melihat nama siapa yang menelponnya, Tama sudah tahu jika yang menelpon adalah Ibunya, Aminah. "Ibu, hehe. Tama pikir tadi si Lenca, Bu. Mandor pabrik di Sleman itu, maaf nggeh--" ucap Tama cengegesan. 


"Memangnya jika Ibu ini mandor kamu, kamu berhak ngomong dengan nada seperti itu? Ibu nggak suka, ya, kamu jadi orang yang arogan seperti itu. Laki-laki itu seorang pemimpin, jadilah pemimpin yang adil dan rendah hati. Orang akan di hormati, sebagaimana dilihat orang itu bisa menghormati orang lain dulu atau tidaknya, paham?"


"Iya, paham--"


"Ibu telpon hanya ingin bertanya, kapan kamu pulang? Ayahmu sudah menanyakanmu. Tadi dapat kabar dari Ayyana, jika Dishi sudah kembali. Jadi, kamu juga sudah bisa kembali, 'kan?"


"Yo ndak bisa saat ini juga to, bu, kembalinya. Tama ini masih harus mengurus perusahaan lain di sini. Masih belum stabil gini, kok. Nanti kalau Dishi sudah pulih dan perusahaan membaik, Tama langsung pulang," 


Tak ingin merusak rencana Dishi ingin mengulang semuanya dari awal bersama dengan Aisyah, Tama pun menceritakan kondisi Dishi sebagaimana breafing pagi tadi. Hilang ingatan dan duduk di kursi roda. Setelah mendengar penjelasan dari putranya, Aminah pun menutup telponnya dan akan mengabari keluarga yang lain. 


"Haduh, aku ngapusi ambek ibuku dewe, loh. Sik wes mengandung dan melahirkan aku. Dosa pekken koe kabeh, Dishi!" gumamnya. 


(Haduh, aku berbohong kepada ibuku sendiri. Yang sudah mengandung dan melahirkan aku. Dosa ambil kamu semua, Dishi)


Setelah itu, Tama pun berangkat ke kantor. 


***


Di Korea. 


Aisyah masih magang di salah satu rumah sakit besar di sana. Ayyana sengaja datang ke rumah sakit untuk memberikan kabar tersebut dengan diantar oleh Tuan Jin. 


"Kenapa aku sangat gugup? Aku seperti ingin mengungkap perasaan kepada orang yang aku cintai, Tuan Jin. Apakah sebaiknya menunggu saja sampai pengobatan Dishi selesai?" celetuk Ayyana terus menyentuh dadanya. 


Meski usia Ayyana jauh lebih tua sembilan tahun dari Aisyah. Ayyana memiliki wajah yang awet muda. Wajah yang mirip dengan Gu, adalah ciri khas orang korea dengan kulit putih dan mata sipit. (Masih ingat pas lahirnya Ayyana dan Anthea? Kasihan Gu)


Ayyana terlihat seperti gadis yang masih berusia baru 20 tahun. 


Mendengar celetukan Ayyana, membuat Tuan Jin tersenyum. "Hei, untuk apa kau begitu gugup? Ini akbar gembira, bukan? Adik iparmu sudah kembali, ya … meski tidak sesehat dulu. Tapi ini adalah kabar bahagia, bukan?" sahutnya. 


"Tapi aku masih bingung, darimana Feng dan Tama bisa menemukan Dishi? Bukankah sebelumnya kita semua kehilangan jejaknya?" lanjut Ayyana. 


"Jaman sudah canggih, mereka juga memiliki orang-orang penting. Di tambah lagi, Tuan Feng adalah orang berada. Harta yang ditinggalkan Tuan Chen juga tidak sedikit, koneksi juga luas. So … apa yang di ragukan lagi?" ungkap Tuan Jin. 


Ayyana mengangguk paham. Selama berteman, Tuan Jin juga dekat dengan Haidar. Sedikit demi sedikit, Haidar bisa bahasa Korea kosa kata sehari-hari juga dari Tuan Jin. 


Sesampainya di rumah sakit, Aisyah sedikit terkejut karena kakaknya datang. Aisyah yang masih bertugas di instalasi gawat darurat itu langsung menghampiri kakak perempuannya berkat Bora memberi tahunya. 


"Kakak, Tuan Jin, kalian kemari? Ada apa? Apakah diantara kalian ada yang sakit? Bora tadi memanggilku untuk datang kemari," raut wajah kehawatiran Aisyah terlihat jelas. 


"Kami tidak sakit. Kami datang kemari, hanya ingin memberimu kabar bahagia," ucap Ayyana menggenggam kedua tangan adiknya itu. 


"Apa itu?" tanya Aisyah. "Kakak bisa menelponku atau mengirim pesan, mengapa sampai harus datang kemari?" sambungnya. 


"Hm, ponselmu tidak aktif. Bagaimana aku bisa menghubungimu. Jadi, aku memutuskan untuk datang kemari dan mengatakan kepadamu secara langsung," sahut Ayyana. 


"Baiklah, baiklah. Katakan, apa yang ingin kak Ay katakan kepadaku, sehingga sampai membuat Tuan Jin repot mengantarmu," 


Ayyana menghela napas terlebih dahulu. Mempersiapkan diri supaya tidak membuat Aisyah salah paham. Setelah dirasa sudah siap, Ayyana pun mengungkapkan, "Dishi sudah kembali. Nomornya kembali aktif, tapi ingatannya hilang dan mengalami cacat kaki. Dia duduk di kursi roda. Tapi kau tenang saja, Tama dan Feng, akan mengobatinya sampai dia pulih kembali," 


Jantung Ayyana hampir saja berhenti karena mengungkapkan hal penting tersebut. Aisyah hanya terpaku mendengarnya. Dia bahagia Dishi kembali, tapi dengan kondisinya, Aisyah juga bersedih.


"Ai, Aisyah jangan diam saja, dong. Aisyah!" Ayyana mulai khawatir dengan diam mematungnya Aisyah. 


"Ai, kamu baik-baik saja, 'kan?" sahut Tuan Jin. 


Tiba-tiba Aisyah menangis dan duduk di bangku yang ada di sana. Dadanya kembali sakit, sesak karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan di posisi saat itu. 


"Aku harus magang selama 1 tahun, kemudian 4 tahun residen, belum lagi nanti masih mengambil ujian spesialis. Bagaimana bisa aku menemuinya ke sana, Kak. Aku harus bagaimana?" Aisyah sedih. 


"Aku sudah sejauh ini, masa iya aku harus berhenti? Apakah aku harus berhenti dan beralih profesi mengurus perusahaan? Apakah aku harus ambil kuliah bisnis dan duduk di bangku universitas lagi?" 


"Aku harus apa, kak!" 


Aisyah bimbang, posisinya memang tidak sederhana. Perjalanan menjadi dokter sudah setengah jalan. Jika dia berhenti hanya karena ingin bersama dengan sang suami, maka dirinya harus rela melepas cita-cita yang dia impikan sejak dulu kecil. 


Namun, bukan salah Dishi juga jika dia ingin bersandiwara dengan hilang ingatan dan cacatnya. Masih ada keluarga Hao, kakek dari Feng yang terus mengincar kebangkrutan usaha besar yang telah Chen dan Tuan Wang bangun selama mereka hidup. 


"Ai, aku dan kakakmu akan bicara kepada keluarga yang lain di Tiongkok. Siapa tahu, mereka mau membawa suamimu ke sini dan berobat juga di sini. Sehingga, kamu juga bisa merawatnya ketika sudah berkumpul kembali, hm?" Tuan Jin dengan lembut menghibur hati Aisyah. 


Hari itu, Ayyana juga meyakinkan Aisyah untuk tetap berjuang meraih cita-citanya. Selama ingin menjadi dokter, Aisyah selalu saja mengalami ujian yang sangat berat. Di mulai dari kecelakaan yang membuatnya menunda pendidikan dan juga selalu mendapatkan nilai yang tidak memuaskan karena fokusnya teralihkan dengan urusan pribadi keluarga.