
"Selamat berjumpa nanti malam," ucap Chen, usia mengantar Lin Aurora sampai ke depan gerbang rumahnya.
"A-apa, kau tidak mampir dulu?" tanya Lin Aurora.
"Kau masih merindukanku?" goda Chen.
Lin Aurora membuang muka. "Cih, dalam mimpimu!" Dia pun pergi begitu saja.
Tanpa menunggu Lin Aurora masuk, Chen sudah meminta supir untuk menyalakan mobilnya dan melaju cepat, segera pergi dari kediaman Tuan Besar Natt.
"Tuan, kenapa anda tidak masuk atau menunggu Nona Muda Natt masuk dulu? Bukankah, itu yang dilakukan semua pria, ketika mengantar wanitanya?" usul drivernya.
"Kau bisa bilang kepada Jovan, jika sudah lelah bekerja untukku," jawab Chen.
"Mohon maaf, Tuan Muda. Bukan maksud saya lancang, saya tidak berani," mohon driver tersebut.
"Jangan cerewet lagi. Lagi pula, siapa dia? Dia bukan wanitaku, ingat itu!" tegas Chen memalingkan pandangannya.
"Halah, dulu dengan Nona Puspa juga begitu. Nyatanya apa? Tuan Muda juga jadi bucin-nya Nona Puspa, 'kan?" gerutu driver dalam hati.
Sesampainya di rumah, Chen istirahat lebih dulu. Ia akan bertunangan dan bertemu orang banyak malam nanti. Sembari mencari informasi keberadaan orang tuanya, Chen juga belajar agama sendiri di kamarnya.
"Jadi, aku mengetuk keningnya itu, juga tidak boleh? Karena saling bersentuhan kulit?" gumam Chen.
"Kemarin Dishi mengirimku beberapa dokumen penting tentang agama Islam, dia kirim ke email yang mana, ya?" Chen mencari-cari ilmu dasar dan beberapa materi penting dadi Dishi.
"Aha! Ini dia. Belajar sendiri jauh lebih sulit, itu mengapa aku butuh Ulat ijo waktu itu. Tapi, dia malah menikah dengan orang lain," ujar Chen dengan memandang potret bersamanya kala mendapat misi dari Tuan Wang.
Chen menutup kembali potret yang telah ia bingkai dengan cantik itu. Tersadar, jika semua itu telah berlalu dan dirinya harus move on secepatnya.
Di malam harinya, Chen meminta Pelayan Mo untuk membereskan semua barang yang berkaitan dengan Puspa termasuk baju dan hoodie couple yang pernah ia pakai bersamanya.
"Chen, cepatlah ini sudah waktunya," pinta Tuan Wang.
"Baiklah!" jawab Chen.
Malam itu, adalah malam dimana Chen akan mengumumkan pertunangannya dengan Lin Aurora. Pasangan yang sudah dipilih oleh Tuan Wang sejak dirinya masih bayi. Perjanjian pertunangan itu dilandasi dengan kerja sama perusahaan dan kekuasaan wilayah yang ada di bagian selatan. Membuat Chen tak bisa lari lagi, meski dirinya sudah ingin mengakhiri perjanjian tersebut.
"Selamat tinggal, Puspa. Kuharap, keputusan yang kamu ambil adalah hal terbaik. Begitu juga denganku," hembus Chen merapikan jas hitamnya.
Chen menuruni tangga dengan pelan. Nampak sekali, seorang pria yang gagah nanti berwibawa dengan wajah tenangnya. Saat sampai di bawah, semua tamu menyambutnya dengan baik.
Jamuan makan malam juga telah disiapkan oleh pelayan rumah dengan baik. Sesuai dengan kemauan Chen, yang memperkenalkan makanan khas asalnya.
"Tuan, apakah benar, jika Tuan Muda Chen, bukanlah putra kandung Anda?" tanya salah satu pengusaha.
"Dia memang bukan putra kandungku, tapi dia adalah putraku. Sejak kecil sampai sekarang, akulah yang merawatnya, membesarkan dan memberikan pendidikan yang luas. Lantas? Apakah aku tidak pantas disebut sebagai Ayah?" jawab Tuan Wang.
"Anda tau betul jika saya tidak pernah bisa memiliki keturunan, mengapa masih menanyakan hal ini?" lanjut Tuan Wang.
"Maafkan kelancangan saya, Tuan Wang,"
Acara malam itu bukan hanya pertunangan Chen dan Lin Aurora saja. Melainkan, Tuan Wang juga menambahkan Gwen dan Aisyah sebagai dia putrinya sendiri. Tuan Wang telah mendapat persetujuan dari Gwen dan Aisyah untuk mengumumkannya.
"Malam ini, adalah malam dimana kami akan mengikat suatu hubungan putra putri kami menjadi sebuah pertunangan," ucap Tuan Besar Natt.
"Kami akan mengumumkan hubungan antara Chen Yuan Wang dengan Lin Aurora Natty, sebagai tunangan yang resmi," imbuh Tuan Wang.
"Nyonya Wang, bisakah Anda membantu saya untuk menyematkan cincin ini di jari manis, tunangan saya?" pinta Chen.
"Um, kenapa bukan kamu sendiri, Tuan Muda?" tanya Nyonya Wang bingung.
Chen tersenyum. "Saya tidak ingin menyentuhnya, sampai pernikahan itu terjadi. Ini adalah bentuk hormat saya kepada perempuan yang akan menjadi pendamping saya," ungkapnya, sembari melirik kearah Lin Aurora.
Tak disangka, ucapan Chen membuat jantung Lin Aurora berdegup kencang. Menatap Chen, seperti ada irama musik nanti syahdu mengiringi perasaannya.
"Apa yang dia katakan ini? Maksudnya apa? Apakah, dia ingin membongkar jati diriku yang sebenarnya?" gumam Lin Aurora dalam hati.
"Ada apa denganmu, Lin Aurora? Mengapa jantungku berdegup kencang? Ingat, dia memang memberikan hubungan ini, tapi ada wanita lain dalam hatinya,"
"Lin Aurora, jangan pernah menaruh hati kepada pria manapun yang belum selesai dengan masa lalunya. Atau kau akan tersakiti sendiri. Tapi, melihatnya seperti itu, apakah itu tidak keren?"
"Astaghfirullah, sadar Lin Aurora!"
Lin Aurora malah berdebat dengan hati dan perasaannya sendiri. Perasaannya menjadi campur aduk ketika melihat sisi lain dari Chen yang terkenal angkuh itu.
"Baik, sekarang, giliran Nona Lin yang memasang cincin di jari manis Tuan Muda Wang," ucap pembawa acara.
"Tidak!" tolak Chen.
"Apa lagi ini?" batin Lin Aurora.
"Jovan, tolong berikan untukku--" pinta Chen memberikan isyarat, agar Jovan memberi apa yang sudah ia siapkan.
"Ini, Tuan Muda," ucap Jovan memberikan ponsel milik Chen.
Chen mengeluarkan sebuah aksesoris ponsel genggam. Ia meminta cincin itu dari Nyonya Wang, dan melingkarkan ke aksesoris tersebut, lalu memasangnya di ponselnya.
"Aku tidak pernah akan memakai perhiasan apapun di jariku. Jadi, sebagai gantinya, aku memasang di ponselku, yang selalu aku bawa kemanapun aku pergi. Apa boleh begini, Nona Lin?" jelas Chen, menyeringai.
"Apa maksudnya? Dia tidak mau memakai cincin pertunangan, tapi membawanya kemanapun dia pergi? Wah, benar, dia sungguh menakjubkan!" gumam Lin Aurora dalam hati.
"Tuan Muda sangat jenius sekali. Ini sangat menakjubkan, saya sungguh menghormati apa yang telah menjadi keputusan Tuan Muda," ucap Lin Aurora dengan tangan di dadanya, sebagai bentuk penghormatan.
"Terima kasih," ucap Chen..
Semuanya memberikan tepuk tangan. Tak ada maksud lain yang dilakukan Chen. Hanya saja, ia memang tidak ingin memakai perhiasan apapun dalam dirinya.
Setelah pertukaran cincin, dilanjut dengan Tuan Wang yang mengumumkan dua putri yang selama ini belum pernah beliau tunjukkan. Malam itu, Tuan Wang sampai memasang potret Gwen dan Aisyah di aula, dimana mereka mengadakan acara.
"Malam ini, saya akan mengumumkan dan memberitahukan kepada hadirin semuanya, tentang siapa dan bagaimana wajah kedua putri saya,"
"Dua wanita ini," tunjuk Tuan Wang. "Mengapa saya sebut dengan kata wanita, meski keduanya baru berusia 23 tahun? Sebab masing-masing dari mereka sudah menikah,"
"Yang sebelah ini, yang wajahnya sangat mirip dengan Tuan Muda kami, namanya Gwen Kalina Lim. Wanita yang ceria, memiliki hati yang lembut dan juga pemaaf,"
"Lalu, yang sebelahnya lagi. Wanita berperwatakan lembut dan tenang ini namanya, Aisyah Adelia Putri. Dia seorang dokter, memiliki sisi lembut, yang dimana orang akan terlena dengan kelembutannya,"
"Tapi, keduanya memiliki sisi lain yang sama dengan Tuan Muda kami. Keras kepala, memiliki ambisi yang kuat, dan yang lebih memuaskan, mereka akan mengeluarkan kemampuan mereka ketika berada di titik yang paling bawah."
Tuan Wang juga tak segan memberitahu bahwa ketiganya adalah saudari kembar. Bahkan, Tuan Wang juga memuji kedua orang tua kandung si kembar tiga dengan baik. Membuat sebagian besar, iri mendapatkan putra putri seperti ketiga saudara kembar itu.
Bagaimana reaksi Lin Aurora?